My Big Boss

My Big Boss
Teman terbaik



Bintang dan Rafa pun duduk di tempat masing-masing. Rafa yang duduk di kursi kemudi pun melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.Rafa memasang earphone di telinganya dan tetap fokus mengemudi sedangkan Bintang mulai sibuk dengan ponselnya.


Lima belas menit berlalu kini mobil Rafa berhenti tepat di halaman kantor tempat Bintang bekerja.Rafa membantu Bintang turun dari mobil dan memapahnya hingga depan kantor.


" Sudah sampai sini saja Fa, aku bisa sendiri!"


ucap Bintang yang tak mau Rafa memapahnya hingga dalam.


" Kau benar bisa sendiri? "


ucap Rafa yang tak percaya.


" Iya aku bisa sendiri! kau pergilah, "


ucap Bintang sambil merapikan pakainya.


" Kau mengusir ku! "


ucap Rafa kesal.


" Bukan seperti itu, kau pergilah ke bengkelmu! terimakasih sudah mengantarku "


ucap Bintang semanis mungkin.


" Oke! baiklah, kau hati-hati . Telfon aku saat kau sudah selesai aku akan menjemputmu "


ucap Rafa yang mulai meninggalkan Bintang.


" Siap! "


ucap Bintang sambil melambaikan tangan ke arah Rafa.


Rafa hanya membalasnya dengan senyuman manis.


Saat berjalan menuju mobil Rafa berpapasan dengan Doni dan Rita yang baru datang.


Rafa pun tersenyum ramah dan berlalu menuju mobilnya.


sedangkan Rita masih saja bengong melihat ketampanan Rafa.


*S*ungguh maha karya Tuhan yang begitu indah


gumam Rita dalam hati.


Sedangkan Doni yang tau Rita masih saja bengong pun mulai iseng,ia menjambak rambut Rita lalu berlari meninggalkan Rita menghampiri Bintang sambil tertawa lepas.


" Sialan...!


Dasar tikus got ! "


teriak Rita kesal.Rita pun berlari menyusul Doni.


Sedangkan Doni yang sudah berada di samping Bintang pun menawarkan bantuan.


" Apa kau butuh bantuan ? "


tanya Doni yang berjalan di samping Bintang.


" Tidak, ini tidak menyulitkan ku, "


ucap Bintang tersenyum manis.


Rita yang baru sampai pun memukul kepala Rafa, ia begitu kesal dengan kelakuan Rafa.


" Kenapa kau memukul ku! "


ucap Rafa kesal.


" Itu balasan karena kau menjambak ku! "


ucap Rita dengan tatapan tajam.


" Please! sadar umur dong,apa masa kecil kalian kurang bahagia? "


ucap Bintang yang kesal melihat kelakuan temannya yang selalu bertengkar.


" Doni yang mulai duluan, "


ucap Rita dengan wajah datar.


Doni yang mendengar ingin sekali memukul Rita tapi ia tahan karena Bintang meliriknya tajam.


" Kenapa dengan kakimu Bi? "


Tanya Rita yang melihat Bintang berjalan tertatih.


" Semalam kakiku terkilir, "


jawab Bintang yang terus berjalan.


" Apa kau mau aku bantu? "


ucap Rita yang kasihan saat melihat Bintang berjalan tertatih.


" Makasih Rit, aku bisa sendiri, "


jawab Bintang dengan tersenyum manis.


" Bi .., "


pangil Rita pelan.


" Hmmmm..., "


jawab Bintang sambil berjalan.


" Siapa tadi yang mengantarmu? "


tanya Rita dengan senyum yang tak dapat di artikan.


" Temen, "


jawab Bintang yang masih terus berjalan.


" Cuma sekedar teman? "


tanya Rita tak percaya karena yang ia lihat tadi Bintang begitu dekat dengan Rafa.


" Iya.... dia sahabatku dari SMA, "


jawab Bintang penuh penekanan.


" Benarkah? "


ucap Rita dengan senyuman yang mengembang di pipinya.


" Kenapa kau tak pernah cerita jika kau punya sahabat setampan itu, wajahnya hanya beda sebelas dua belas dengan Tuan Regan, kenapa kau tak mengenalkanku dengannya? "


ucap Rita manja.


" Kenapa kau mudah sekali berpaling jika melihat laki-laki tampan? sebenarnya Tuan Regan atau laki-laki itu yang kau inginkan? "


sahut Doni yang kesal dengan sikap Rita yang mudah berpaling kelain hati.


" Bukan urusan mu! "


ucap Rita penuh penekanan.


Rita dan Doni masih saja berdebat, sedangkan Bintang memilih untuk meninggalkan mereka.


Kini Bintang sudah sampai di mejanya dan mulai sibuk dengan berkas-berkas yang sudah bertumpukan di hadapannya.


Tak lama Regan pun datang bersama Davit, seperti biasa Regan hanya berlalu melewati semua karyawan yang menyapanya.


Regan melirik ke arah Bintang yang menunduk hormat padanya, namun tak ada satu kata pun yang keluar dari mulut Regan ia langsung memasuki ruangannya bersama Davit yang terus mengekorinya.


Bintangpun memulai tugas pertamanya,ia berjalan tertatih menuju pantry untuk menyiapkan Kopi dan sarapan untuk Regan, Livia yang melihat kondisi Bintang pun tak tega, ia pun menyusul Bintang ke pantry.


" Biar aku aja yang buat, kau duduk manis saja disini, "


ucap Livia sambil memaksa Bintang duduk.


" Tapi ini tugasku Vi! bagaimana kalau Tuan Regan tau ? "


" Sudah, kau tenang saja! aku pastikan Tuan tidak akan tau, kau katakan saja berapa takarannya, "


ucap Livia yang mulai mengambil cangkir.


Bintang pun mulai memberikan intruksi kepada Livia, sedangkan Livia melakukannya dengan sempurna.Livia pun membantu membawakan sampai ruangan Regan.


" Kau kembali saja ke mejamu biar aku yang mengantarnya, "


ucap Livia dengan senyum manisnya.


" Tapi Vi, nanti Tuan marah, "


ucap Bintang yang takut jika Regan marah.


" Kau tenang saja! semua sudah ku atur! "


ucap Livia yang terus berjalan memasuki ruangan Regan.


Bintang pun hanya pasrah, kini ia hanya bisa berdo'a di meja kerjanya berharap Regan tak akan marah.


Livia kini sudah berada di ruangan Regan.


saat ini Livia hanya menahan ketakutannya.


" Permisi Tuan, ini kopi dan sarapan Tuan, "


ucap Livia yang menaruh nampan yang berisi kopi dan sarapan Regan ke atas meja.


" Kenapa kau yang mengatarnya! "


ucap Regan yang masih fokus pada laptopnya.


" Ma'af Tuan, kaki Nona Bintang sakit jadi tidak mungkin ia bisa membawanya kesini, "


jawab Livia sambil menundukkan kepalanya.


*G*adis itu! apa dia belum mengobati kakinya.


gumam Regan dalam hati.


" Suruh dia menghadap ku! "


perintah Regan dengan sorot mata yang tajam.


" Baik Tuan, "


ucap Livia yang bergegas keluar.


Di luar Livia bergegas memberitahu Bintang,


" Bi, Tuan menyuruhmu menghadap sekarang, "


ucap Livia dengan tenang.


" Benarkah! apa Tuan marah? "


jawab Bintang panik.


" Tidak, kurasa Tuan hanya ingin melihat kondisimu, "


jawab Livia dengan tersenyum.


" Tidak mungkin ia hanya ingin melihat kondisi ku, pasti iblis itu akan memarahiku habis-habisan, "


ucap Bintang yang mulai berjalan masuk ke ruangan Regan.


" Bi, ma'af,aku menyusahkanmu, "


ucap Livia yang tak enak hati pada Bintang.


" Tenanglah, kau tak pernah menyusahkanku, kau teman terbaik ".


jawab Bintang dengan senyum simpulnya.


Livia hanya membalas dengan senyuman dan mengangkat kepalan tangannya tanda bahwa ia memberi semangat pada Bintang.


Bintang pun membalas dengan mengangkat kepalan tangannya bahwa ia sekarang sedang bersemangat.


Kini Bintang sudah berada di ruangan Regan.


Bintang berjalan tertatih menghadap Regan.


" Permisi Tuan, saya kesini untuk menghadap Tuan! "


ucap Bintang yang berusaha setenang mungkin.


Regan tak menjawab, ia hanya memperhatikan Bintang dan berjalan mendekati Bintang dengan tatapanya yang tajam. Regan berdiri tepat di hadapan Bintang dengan memasukkan kedua tanganya kedalam saku celana.


" Lepas sepatumu! "


ucap Regan yang menatap Bintang lekat.


Bintang menatap heran pada Regan, tetapi ia tetap melakukan apa yang di perintah Regan. Bintang pun melepas kedua high heels nya dan menaruhnya disamping kakinya.


" Dav, kau buang sepatu itu sejauh mungkin! "


ucap Regan yang menatap Bintang dengan tajam.


Bintang pun tak mengerti, ia hanya melotot kan matanya kearah Regan.


" Kenapa kau melototi ku! "


ucap Regan dengan nada kesal.


" Ma'af Tuan saya tidak bermaksud seperti itu, saya hanya terkejut kenapa Tuan ingin membuang sepatu saya, "


ucap Bintang dengan menundukkan kepala.


" Bukanya tadi malam aku sudah membuang sepatu mu! kenapa sekarang kau masih memakai sepatu yang serupa! "


ucap Regan dengan nada kesal.


" Ma'af Tuan saya hanya mengikuti peraturan yang ada di kantor ini, "


ucap Bintang masih menundukkan kepala.


" Siapa bos disini ! "


ucap Regan dengan tatapan tajam.


" Tuan Regan Atmaja, "


ucap Bintang yang mulai kesal.


" Kenapa kau tak mengikuti perintah ku! "


ucap Regan marah.


" Ma'af Tuan, saya salah, "


ucap Bintang yang malas meladeni Regan , karena bagaimanapun ia tak kan pernah menang melawan Regan.


Sedangkan Davit sedari tadi hanya menjadi penonton di ruangan itu.


" Kenapa kau hanya diam ! cepat buang sepatu itu dan bawa semua berkas ini ke ruanganmu! "


ucap Regan yang menatap Davit tajam.


" Baik Tuan, "


jawab Davit dengan tenang.


Davit pun membawa semua berkas yang ia kerjakan di meja Regan tadi, sekarang Davit mulai mengambil sepatu Bintang.


" Ma'af Nona, "


ucap Davit pelan sambil mengambil High heels Bintang.


Bintang hanya menjawab dengan anggukan Kepala.


Davit pun langsung bergegas keluar dari ruangan Regan.