My Big Boss

My Big Boss
Kembali



Tak terasa hari mulai gelap,Regan yang masih berada di kediaman Bintang menikmati langit malam yang bertabur Bintang di teras depan rumah.Bu Dewi menghampiri dengan secangkir teh ditangannya,


" Ini nak, di minum, " ucap Bu Dewi ramah.


" Bibi harusnya tidak perlu repot-repot, " ucap Regan tak enak hati.


" Kenapa masih bibi? panggil saja mama, "


" Emm.. ya maksud saya mama tidak perlu repot-repot, " ucapnya yang masih kikuk.


Sedang kan Bintang keluar dari dalam rumah dengan penampilan yang sudah rapi, ia bersiap untuk kembali ke kota, namun Regan yang melihatnya memicingkan matanya.


" Mau kemana? " tanya Regan.


" Kembali ke kota kan? "


" Kita kembali besok, " jawabannya datar, " boleh kan ma Regan menginap semalam? " ucapnya lagi yang meminta persetujuan bu dewi.


" Tentu saja boleh,nanti Bintang biar tidur di kamar mama, " jawab bu Dewi.


" Tapi Tuan, Besok pagi kita ada meeting,itu artinya kita harus kembali sekarang! " sahut Bintang.


" Siapa Bosnya! " ucap Regan ketus.


" Hmmm...iya..,iya..., " ucap Bintang malas, karena kalau sudah menyangkut jabatan pasti dia kalah.


" Kita kembali besok pagi, "


" Tapi kita belum menyiapkan bahan persentasi untuk meeting besok, "


" Tenanglah, David dan Kevin akan mengurusnya,kau nikmati saja waktu mu yang sedikit ini bersama mama, karena setelah ini kita akan sibuk dan itu akan menyita banyak waktumu, "


" Hmmmm.. baiklah, " jawabannya yang kini mulai memeluk bu Dewi dari belakang. Tampak Bintang memang sangat merindukan ibunya itu.


" Mama siapkan makan malam untuk kalian dulu, " ucap bu Dewi yang mulai beranjak dari kursinya.


" Bintang bantu ya ma, " ucap Bintang yang terus nemplok di tubuh mamanya itu.


Regan yang melihat nya pun tersenyum tipis, ia bisa melihat raut wajah yang begitu bahagia dari dua wanita yang kini melewatinya itu. Kini Regan pun mulai menghubungi kedua orang tuanya dan menceritakan tentang niat baiknya tadi,ia pun juga meminta agar orang tuanya segera mengadakan pertemuan keluarga bersama keluarga Bintang.


Sedangkan di tempat lain Mama Nita yang berada di rumah begitu bahagia setelah mendengar kabar dari Regan.


" Benar kan Pa yang Mama bilang dulu kalau kita itu akan segera punya mantu, firasat ibu itu tidak pernah salah, " ucapnya senang.


" Iya... iya..., firasat mama memang selalu benar, " jawab tuan Williams yang sengaja membuat istrinya bertambah senang.


" Kalau seperti itu kita harus segera mencari waktu yang tepat untuk menemui keluarga Bintang Pa, kita harus bawa bingkisan yang banyak, "


" Iya, mama atur aja dah, " ucap tuan Williams pasrah karena urusan seperti itu memang wanita yang paling handal.


Malam berlalu begitu cepat kini Bintang dan Regan sudah bersiap untuk kembali ke kota.Tak lupa mereka berpamitan kepada bu Dewi.


" Bintang berangkat ya ma, mama jaga kesehatan,kalau ada apa-apa mama langsung hubungi Bintang, " ucap Bintang sambil memeluk bu Dewi.


" Iya, kamu juga jaga kesehatan,dari kemarin perasaan mama selalu tidak tenang, mama fikir kamu sakit atau kenapa- kenapa tapi syukurlah kamu baik-baik saja, " ucap bu Dewi yang memang tidak tau jika Bintang baru saja keluar dari rumah sakit.


Bintang yang mendengar ucapan mamanya itu pun tersenyum getir, Bintang memang sengaja tidak menceritakan bahwa dirinya baru saja keluar dari rumah sakit karena itu akan membuat mamanya khawatir.


" Mama tenang saja, Regan akan pastikan Bintang baik-baik saja, " sahut Regan.


" Baiklah,mama percayakan padamu, kalian cepatlah berangkat nanti kesiangan, " ucap bu Dewi sambil mendorong tubuh Bintang dan Regan untuk masuk mobil.


Kini Regan dan Bintang pun mulai masuk mobil, terlihat raut wajah Bintang yang mulai tampak sedih, ada rasa tak tega harus meninggalkan ibunya sendiri.


" Bintang jalan ya ma, " ucap Bintang sambil melambaikan tangan ke arah bu Dewi.Regan pun mulai melajukan mobilnya.


" Iya, hati-hati.., jangan lupa langsung hubungi Mama kalau sudah sampai, " teriak bu Dewi karena kini mobil Regan sudah sedikit jauh.


Bu Dewi berdiri dan tetap melihat mobil Regan hingga benar-benar tak bisa ia lihat.Kini beliau pun mulai memasuki rumah.


Sedangkan Bintang masih saja tampak sedih membuat Regan yang melihatnya menjadi khawatir.


" Apa perlu kita kembali? " ucapnya.


" Tidak, " ucap Bintang yang mulai memandang keluar jendela menyembunyikan kesedihannya dari Regan.Walaupun Bintang sudah terbiasa meninggalkan ibunya tapi tetap saja ada rasa sedih saat ia harus berpisah dan kembali meninggalkan ibunya sendiri.


Regan pun mengenggam tangan Bintang membuat Bintang seketika menatapnya.


" Tersenyumlah, " ucap Regan dengan senyum manisnya.


Bintang pun mulai tersenyum tipis, entah kenapa senyuman Regan membuat hatinya begitu tenang saat ini.Kini mereka pun saling


megeratkan genggamannya.


Dua jam berlalu, kini mobil Regan berhenti tepat di depan kantor Atmaja Grup, Regan ke kantor masih menggunakan kaos pendek berwarna putih hingga tubuhnya yang kekar nampak jelas. Bintang yang masih di dalam mobil memicingkan matanya saat calon suaminya itu akan keluar dari mobil. Ia pun buru-buru menarik tangan Regan hingga Regan kembali lagi duduk di bangku kemudi.


" Ada apa? " tanya Regan.


" Tuan mau masuk cuma make kaos dalam sengaja mau pamer otot tuan! sengaja mau buat kaum ciwi-ciwi penyuka cowo bening di dalam histeris terus manggil-manggil Tuan, hah! " ucap Bintang kesal,entah kenapa ia tak rela jika wanita lain melihat tubuh kekar calon suaminya itu.


" Kui ini kenapa mikirnya jauh banget? baju gantiku ada di dalam ruangan, yang di mobil sudah ku pakai waktu di rumahmu, sekarang semua kotor, kalau tadi kita mampir dulu kerumah nanti kita telat meetingnya, " sambil menoyor kepala Bintang namun ia elus-elus lagi.


Regan adalah tipe orang yang tidak betah jika berkeringat, dia langsung mandi jika tubuhnya mulai lengket karena itulah dia selalu menyiapkan baju ganti di mobil dan di ruangan kerjanya.


" Alasan! " ucap Bintang kesal yang kemudian beranjak keluar dari mobil.


Regan yang masih di dalam mobil pun membuang nafasnya kasar,


" Wanita memang makhluk Tuhan yang paling susah di pahami, " gumam Regan yang kemudian keluar dari mobilnya dan mengejar Bintang yang sudah berjalan jauh di depannya.


Bintang yang berjalan menuju lift pun heran karena melihat semua karyawan wanita bengong dan senyum-senyum sendiri melihatnya,ia pun membalas dengan senyuman tipis yang di paksakan karena ia merasa janggal dengan sikap mereka.Bintang melihat pandangan karyawan itu tidak tertuju padanya melainkan pada seseorang yang mungkin sedang berjalan di belakangnya, akhirnya Bintang pun menoleh ke belakang. Ternyata Regan yang berjalan di belakangnya lah yang menjadi sorotan para kaum hawa itu.Bintang pun kini buru-buru membuang mukanya karena kesal.Regan yang melihat itu pun mulai mensejajarkan jalanya, kini ia pun berjalan tepat di samping Bintang dan merangkul bahu Bintang hingga membuat karyawan lain cemburu melihatnya.


" Tenanglah mereka hanya bisa melihat ku tanpa bisa memilikiku karena aku sudah menjadi milikmu, " ucap Regan yang tetap fokus berjalan dengan tangan yang masih merangkul bahu Bintang.


" Tetap saja tuan tebar pesona di depan mereka, " ucap Bintang kesal yang kemudian melepas tangan Regan dari bahunya dan mempercepat langkahnya meninggalkan Regan.


Regan yang melihat sikap Bintang pun menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia bingung harus bersikap seperti apa sekarang.


Bintang yang sudah sampai lebih dulu mulai duduk di mejanya, ia mulai membuka berkas-berkas yang harus ia kerjaan hari ini.


" Kita rapat intern sekarang,hubungi David dan juga Kevin,setelah itu cepat keruangan ku, " ucap Regan yang berlaku begitu saja di depan meja Bintang dan kemudian masuk kedalam ruangannya.


Bintang pun mulai menghubungi David dan Kevin setelah itu ia pun bergegas masuk kedalam ruangan Regan.


Tidak ada siapapun yang ia lihat di sana hingga suara orang mengunci pintu mengagetkannya.


Bintang pun menoleh dan mendapati Regan tengah mengunci pintu ruangan itu.


Tanpa Bintang sadari bahwa Regan dari tadi berdiri di belakang pintu.


" Tuan,kenapa kau mengunci pintunya? " tanya Bintang bingung karena Regan selama ini tidak pernah mengunci pintu ruangannya.


" Agar kita bisa berdua,tidak ada yang mengganggu, "


" Ya itu alasan ku saja biar kau segera masuk ke ruanganku, "


" Lalu bagaimana kalau mereka kesini? "


" Biarkan mereka menunggu di depan," ucap Regan yang kini mulai berdiri di hadapan Bintang," apa kau masih marah padaku? " ucapnya lagi.


" Sedikit, " ucap Bintang berbohong, padahal ia sudah melupakan hal sepele tadi, ia saja bingung kenapa harus marah hanya karena hal sekecil itu.


" Percayalah, aku tadi tidak tebar pesona, mereka saja yang terpesona dengan ketampanan ku, "


" Tapi tuan senang kan di liatin mereka, "


" Aku lebih suka jika kau yang melihatku, " ucapnya sambil memegang wajah Bintang dengan kedua tangannya,namun jawaban Regan tidak mampu membuat Bintang tersenyum.


" Baiklah kalau kau tidak suka mereka melihat ku,aku akan memecat semua karyawan wanita di sini, "


" Ja.. jangan,saya tidak marah, " Bintang terkejut dengan ucapan Regan yang akan memecat semua karyawan wanita.


" Kalau seperti itu, tersenyumlah, "


Bintang pun kini tersenyum tipis membuat Regan yang melihat bibir mungil Bintang ingin sekali mengecupnya.Regan mulai sedikit membungkuk dan mendekatkan wajahnya,membuat jantung Bintang mulai bergemuruh.


" Tu... tuan mau apa? " suara Bintang yang seketika membuat wajah Regan datar. Reganpun membuang nafasnya kasar dan kembali berdiri tegap membuat Bintang yang dari tadi sport jantung bisa bernafas lega.


" Kenapa terus memanggilku seperti itu? " ucap Regan yang sebenarnya menahan kekesalannya karena niatnya mencium Bintang gagal.


" Emmm...,lalu saya harus memanggil apa? " ucap Bintang ragu-ragu,entah kenapa Bintang sampai sekarang masih canggung jika bersama Regan, ia pun masih malu jika harus menunjukkan rasa sayangnya pada Regan.


" Sayang, " ucap Regan dengan senyuman genitnya.


" Tidak.. tidak, menggelikan sekali, "


" Jadi kau benar-benar ingin aku cium! " mulai mendekat lagi.


" Tidak..tidak...yasudah.. iya! " ucapnya gugup.


" Gitu dong, " ucap Regan dengan wajah berseri, " sekarang duduk manis di sini, " ucapnya lagi menuntun Bintang untuk duduk di kursi yang ada di depan mejanya.Bintang pun hanya bisa menerut saja.


Kini Regan pun mulai membuka laptopnya dan mulai fokus dengan pekerjaannya sedangkan Bintang hanya duduk manis di depan Regan, ia tak tau harus melakukan apa, karena Regan tidak memerintahnya sama sekali.


" Kenapa nyuruh aku duduk di sini kalau tidak ada yang bisa aku kerjakan? " batin Bintang.


" Tuan, kalau tidak ada yang bisa saya bantu saya kembali ke meja saya saja, masih ada yang harus saya kerjakan, "


" Kok masih manggil seperti itu ? " ucap Regan tak suka.


" Maksud saya kalau tidak ada yang perlu saya lakukan saya keluar saja, " ucap Bintang yang masih enggan memanggil sayang.


"Tugas mu menemaniku disini, kau cukup duduk manis di situ melihat ku bekerja, " ucapnya tersenyum tipis.


" Tapi pekerjaan saya masih belum selesai, " protesnya.


" Kau mau membantah perintah atasan mu? "


" Hmmm.. iya.. iya, " kalau sudah menyangkut jabatan Bintang tidak akan bisa menolak.


Regan pun kembali fokus pada laptopnya dan sesekali melihat wajah Bintang yang duduk manyun di depannya.


Sedangkan di luar, David dan kevin benar-benar sedang menunggu.


" Dav, sampai kapan kita menunggu di sini! kakiku sampai keram kelamaan berdiri, kau ketuk saja pintunya, " ucap Kevin kesal karena dari tadi David tidak berani mengetuk pintu dan tetap memilih menunggu di luar, David juga melarang Kevin mengetuk pintu.


" Selama saya menjadi asistennya belum pernah tuan Regan sampai mengunci pintu ruangannya dari dalam,saya tidak mau kehilangan tangan saya karena berani mengganggu beliau, " jawab David yang tadi sempat memutar handle pintu tapi terkunci.


" Aish! mereka menganggap kantor sudah seperti istana mereka, " ucap Kevin yang lupa siapa pemilik perusahaan.


Sedangkan di dalam bintang bisa mendengar suara ribut di balik pintu.


" Tuan, sepertinya Tuan David dan Tuan Kevin ada di luar, " ucap Bintang sambil melihat kearah pintu.


" Owh.. jadi benar-benar mau di cium, mau di cium berapa kali hari ini? " ucap Regan yang tak suka Bintang masih memanggilnya Tuan.


Bintang yang mengerti arah pembicaraan Regan pun meralat ucapannya.


" Tuan David dan Tuan Kevin sepertinya ada di luar, saya buka ya pintunya, " ucapnya datar.


" Mana kata sayangnya? "


Bintang yang mendengarnya pun mengerucut kan bibirnya.


Dengan terpaksa ia pun mengucapkan kata yang menurutnya sangat sakral itu.


" Sayang, saya buka ya pintunya, " ucap Bintang pelan.


" Apa? " tanya Regan yang pura-pura tidak mendengar.


" Sayang..., aku buka ya pintunya, " ucap Bintang keras.


" Satu lagi? " ucap Regan yang mulai genitnya,namun Bintang tidak menggubris dan langsung berjalan membuka pintu.


" Lama-lama aku bisa tidak waras karena terus menuruti kemauannya, " gerutu Bintang kesal.


Pintu Ruangan Regan puun terbuka, dua laki-laki yang sedang memijat kakinya sendiri lagsung berdiri tegap saat melihat Bintang berdiri di hadapan mereka.


" Kenapa lama sekali ! " ucap Kevin yang bergegas masuk.


Bintang pun hanya diam tak menjawab.


Kini David dan Kevin pun sudah berada di dalam raungan Regan.Kevin yang masih kesal pun mulai mengomel.


" Sayang sih sayang tapi jangan pacaran di kantor juga dong! " ucapnya kesal.


" Kita tidak pacaran kok,cuma ada hal penting saja yang harus di bicarakan, " sahut Bintang yang tidak mau jika mereka berfikir yang tidak-tidak.


" Membicarakan apa sampai selama itu, " ucap Kevin pelan yang masih saja menggerutu.


" Ayo keruangan meeting, " ucap Regan yang mulia beranjak dari kursinya.


" Katanya kita rapat intern dulu, kenapa sekarang ke ruangan meeting, " ucap Kevin yang baru saja duduk.


" Kita langsung meeting saja dengan para investor, " jawabannya tanpa dosa.


" Lalu untuk apa aku menunggu mu di luar berjam-jam, sialan! " ucap Kevin membanting beberapa map yang ada di tangannya kemeja karena kesal.


" Sudah jangan ngambek, mana aku tahu kalau kau ada di luar, salahmu sendiri kenapa nggak ketuk pintu, " ucap Regan yang mulai melangkah keluar.


Kevin pun langsung melirik David dengan tatapan membunuh.


David yang tau kekesalan Kevin akibat ulahnya tadi pun mulai berjalan mundur.


" Woles boss....santai....," ucapnya sambil mengangkat dua jarinya.