
" Kau boleh pulang sekarang, " ucap Regan yang mulai melepas tangannya dari kain yang telah selesai ia eratkan ikatannya.
Oke, jantung masih aman,
gumam Bintang memegang dadanya sambil membuang nafas pelan, ia merasa lebih tenang karena dari tadi di buat sport jantung dengan sikap Regan. Bintang pun bergegas pamit undur diri sebelum Regan berubah fikiran.
" Saya permisi Tuan, " ucap Bintang menunduk hormat, dan bergegas keluar dari kamar Regan dengan langkahnya yang begitu cepat.
Sedangkan Regan yang melihat tingkah Bintang pun tersenyum tipis.
Bintang yang sudah berada di lantai bawah pun menghampiri mama Nita yang sedang menemani Cello main.
" Tan, Bintang pamit pulang dulu ya, makasih untuk kuenya tadi, " ucap Bintang dengan senyum manis di bibirnya sambil menundukkan kepala tanda hormat.
" Yah, padahal tante belum sempat ngobrol sama kamu, ini semua gara-gara si manusia dingin itu ngambil kamu dari tante,jadi tante nggak bisa habisin waktu bersama kamu, padahal tante pingin banget ngobrol lama sama kamu, " ucap mama Nita kecewa.
" Ma'af ya tan,Bintang nggak bisa nemenin tante ngobrol sekarang karena hari sudah sore jadi Bintang harus pulang sebelum kemaleman, " ucap Bintang sambil melirik Cello yang mulai merangkul kedua kakinya.
" Yah gak papa, tapi lain kali sempetin waktu ya buat main kesini, pintu tante selalu terbuka lebar untukmu, " ucap mama Nita dengan senyum hangatnya.
" Iya tan pasti Bintang usahain," jawab Bintang dengan senyum tipis di bibirnya.
Bintang yang ingin berjalan keluar pun terhambat karena Cello yang terus merangkul kedua kakinya.Cello sengaja melakukannya karena tak rela jika Bintang harus pulang.
Sedangkan Mama Nita yang melihat kelakuan Cello pun geleng-geleng kepala.
" Sayang,nggak boleh gitu, cepat lepasin gih! kasian kakak cantik nanti kemaleman sampai rumah, " ucap mama Nita mencoba membujuk Cello.
" Nggak mau,Kaka cantik gak boleh pulang! " ucap Cello mengeratkan rangkulannya yang hampir saja membuat Bintang jatuh kebelakang karena tubuhnya yang mulai tak seimbang.Bintang yang sudah tampak panik mampu menyeimbangkan tubuhnya lagi.
" Tuh kan,Cello hampir saja buat kakak jatuh," ucap mama Nita memegangi tubuh Bintang.
" Udah tante nggak papa, " ucap Bintang sambil memikirkan cara untuk membujuk Cello.
Sedangkan Regan yang dari tadi memperhatikan Bintang dari atas pun juga reflek mengangkat kedua tangannya saat melihat Bintang hampir jatuh kebelakang.
Aish!
bayi ini mulai meresahkan.
Gerutu Regan yang mulai turun ke bawah.
Regan pun kini berdiri di samping Bintang dengan wajah dinginnya. Bintang yang sadar dengan kehadiran Regan hanya meliriknya sekilas,Bintang pun mulai membujuk Cello.
" Cello masih mau kan, kakak jadi istri Cello? "
Cello yang dari tadi duduk bersimpah di lantai pun mendongakkan wajah imutnya menatap wajah Bintang dengan menganggukkan kepala.
" Kalau gitu,biarkan kakak pulang ya, "
" Tapi kakak cantik harus janji dulu sama Cello, "
" Siap, janji apa? "
" Kakak harus bantu Cello buat musnahin manusia berdarah dingin ini! " ucap Cello menunjuk Regan tanpa menoleh.
Seketika Bintang pun menatap Regan,ia menutup mulutnya sendiri karena tak bisa menahan tawa saat mendengar ucapan Cello.
" Oke, kita jadi tim sekarang, " ucap Bintang tersenyum manis.
" Benarkah? " ucap Cello yang seketika melepas rangkulannya dengan wajah yang begitu semringah.
Bintang pun menganggukan kepala dengan senyum di bibirnya, membuat Cello yang melihat bersorak girang.
" Lihat,aku dan kakak cantik akan memusnahkanmu Deddy, " ucap Cello dengan wajah songongnya.
" Bagaimana kau akan memusnahkanku jika tubuhmu sekecil ini, " menarik kerah belakang Cello hingga tubuh Cello terangkat ke atas.
" Deddy kedua jangan meremehkan ku ! " ucap Cello menyilangkan tangan di dadanya dengan wajah datar.
Sedangkan Bintang yang melihat sikap Regan pun mengerutkan dahinya.
"Tuan turunkan Cello, " sahut Bintang yang tak suka melihat Regan bersikap seperti itu pada Cello.
Regan pun menurunkan tubuh Cello dan berlalu begitu saja di depan Bintang dan mama Nita.
" Kita akan menjadi tim yang sangat kompak bukan? "
" Tentu saja, " jawab Bintang fist bump dengan Cello. ( Fist bump: Tos menggunakan kepalan tangan).
" Kakak cantik tenang saja, mulai sekarang Cello akan melindungi kakak dari apapun itu! " ucap Cello dengan lagaknya menjadi jagoan.
Bintang dan mama Nita pun tertawa kecil melihat tingkah Cello.
Bagaimana kau bisa melindungiku?
Gumam Bintang tersenyum tipis mengingat Cello yang tak bisa apa-apa saat Regan mengangkat tubuh Cello dengan menarik kerah bajunya.
Sedangkan Cello yang melihat Bintang hanya tertawa pun mengerutkan dahinya.
" Apa kakak cantik meremehkan ku? "
" Tentu saja tidak, Cello kan anak yang sangat kuat dan pemberani," ucap Bintang sengaja melebih-lebihkan, " sekarang kakak pulang dulu ya, tapi sebelum kakak pulang Cello harus janji sama kakak nggak boleh nakal dan harus jadi anak yang baik, " ucapnya lagi sambil memegang pipi Cello.
" Baiklah Cello janji, "
" Anak pintar, " ucap Bintang tersenyum manis. Bintang pun kini mulai berpamitan dengan Mama Nita.
" Bintang pamit ya tan, " ucap Bintang menunduk hormat.
" Baiklah,hati-hati di jalan, " ucap Mama Nita dengan senyum hangatnya.
Bintang pun membalas dengan hal yang sama, kini Bintang mulai berjalan menuju garasi untuk mengambil motornya.
" Kakak cantik, bukankah kita satu tim harus sering bertemu? " suara teriakan Cello yang menghentikan langkah Bintang.Bintang yang mengerti maksud Cello pun tersenyum tipis dan menoleh kearah Cello.
" Berjanjilah, " teriak Cello lagi.
" Iya kakak janji, " jawab Bintang sambil melambaikan tangan dan kembali berjalan menuju garasi. Bintang yang mulai masuk ke garasi pun terkejut melihat Regan yang sedang berdiri di dekat mobil mewah miliknya yang sedang terparkir.
" Masuklah, aku akan mengantarkanmu, " ucap Regan dengan wajah datarnya.
" Tidak Tuan, terimakasih, " jawab Bintang yang mulai menaiki motornya.
" Kau sudah cukup kelelahan, bagaimana jika kau jatuh saat mengendarai motor? " ucap Regan khawatir.
" Apa tuan sedang menghawatirkan ku? " ucap Bintang yang mulai menggoda Regan.
Regan hanya diam menatap Bintang tajam.Sedangkan Bintang pun hanya tersenyum getir melihatnya.
Bener-bener nggak bisa di ajak becanda,hati-hati bentar lagi keluar tu bola mata.
gerutu Bintang dalam hati dan mulai menyalakan mesin motornya.
" Kenapa kau keras kepala sekali, " mematikan mesin motor Bintang dan mengambil kunci motornya.Bintang yang melihat sikap Regan pun menjadi kesal.
" Apa yang Tuan lakukan, "
" Sudah ku bilang aku akan mengantarmu, jadi cepatlah masuk, "
" Sudah saya bilang,SAYA TIDAK MAU, " jawab Bintang penuh penekanan.
" Aku paling tidak suka jika kau menolak perintah ku, jadi jangan salahkan aku jika aku memaksamu, "
Bintang yang mendengar ucapan Regan pun seketika memeluk erat stang motornya, ia tau jika Regan pasti berniat menggendongnya ke mobil.Regan yang melihatnya pun membuang nafasnya kasar, ia pun mulai mengambil jaket dan topi yang berada di dalam mobilnya .Bintang yang melihat Regan mulai mengenakan jaket dan topi pun bertanya-tanya dalam benaknya.
Apa lagi yang akan dia lakukan?
tanya Bintang dalam hati.
" Turun, " ucap Regan dengan tatapan tajamnya.
Bintang pun menggelengkan kepala dan semakin mengeratkan pelukanya pada Stang motornya, membuat Regan yang melihat bertambah kesal.
" Baiklah jika kau ingin terus menempel pada motormu itu,aku akan menyuruh pak Jang mengunci garasi ini dan kau bermalam lah disini, " ucap Regan yang kemudian melangkah pergi.
Bintang yang mendengarnya pun membulatkan mata dan bergegas turun dari motornya.
" Tuan tunggu," suara Bintang yang menghentikan langkah Regan," Baiklah,saya akan pulang bersama Tuan, tapi Tuan harus berjanji jangan buang motor saya, " ucapnya lagi.
Regan pun berbalik arah dan kembali berjalan mendekati Bintang.
" Cepatlah naik, " ucap Regan yang kini sudah berada di atas motor Bintang.
Bintang yang dari tadi menunduk pun kini melihat Regan tanpa berkedip, ia mengira Regan akan menaiki mobil miliknya.
" Jangan terus menatapku,cepatlah naik! " suara Regan yang menyadarkan Bintang yang dari tadi hanya bengong melihatnya, " jika kau ingin pulang bersama motormu ini,biarkan aku yang menyetirnya, " ucapnya lagi.
" Baiklah, saya setuju.
Bintang pun mulai naik dan duduk di jok belakang,Regan yang merasa Bintang sudah berada di posisinya pun segera melajukan motor milik Bintang.Kini mereka berdua sudah keluar dari pintu gerbang, sedangkan satpam yang membukakan pintu gerbang masih tercengang melihat Tuan mudanya yang sedang membonceng sekretaris nya itu.
Selama perjalanan, Regan mengendarai motor dengan sangat hati-hati, ia bahkan hanya melajukan motornya dengan kecepatan duapuluh kilo meter per jam,membuat Bintang yang Melihatnya kesal sendiri.
" Tuan, apa tuan benar-benar bisa mengendarai motor? "
" Apa kau meragukanku! "
"Tidak Tuan, Bukan seperti itu, tapi jika Tuan terus melajukannya seperti ini bisa-bisa kita sampai rumah besok pagi, "
" Tidak masalah, asal kita sampai dengan selamat, " ucap Regan yang sengaja mengendarai motor nya dengan pelan karena ia benar-benar trauma dengan kejadian dua tahun lalu yang membuatnya kehilangan orang yang benar-benar ia cintai,ia hanya tidak ingin kejadian itu terjadi lagi dan membuatnya kehilangan Bintang.
Kenapa dia melakukan ini semua?
Apa dia benar-benar mengkhawatirkan ku?
gumam Bintang dalam hati.
" Apa Tuan melakukan ini semua karena mengkhawatirkan ku?"
" Apa kau berharap aku benar-benar mengkhawatirkan mu? "
" Tentu saja, " kata-kata yang begitu saja terlontar dari mulut Bintang.
Aish!
Kenapa kau katakan itu!
gerutu Bintang yang memukul mulutnya sendiri.
" Emmmmmm...ma..maksud saya, sebagai karyawan tentu saja saya berharap di khawatirkan oleh Bos saya sendiri,semua karyawan pasti juga mengharapkan itu, "
ucap Bintang lagi mencari alasan.
Regan yang fokus menyetir pun tersenyum tipis saat mendengar Bintang yang berusaha mencari alasan.
" Baiklah anggap saja sekarang aku sedang mengabulkan harapanmu, "
Ekspresi wajah Bintang pun berubah datar saat mendengar jawaban dari Regan.
" Bagaimana, apa kau senang? " ucap Regan lagi.
" Tentu saja saya senang, " ucap Bintang tersenyum getir.
Regan kalo lagi kesel sama Bintang.