
Waktu berjalan begitu cepat, kini jam pun sudah menunjukkan waktunya makan siang.
Regan pun kini mulai bersiap pulang, ia begitu tak sabar ingin bertemu dengan istri cantiknya.Sebelum pulang ia memanggil David untuk ke ruangannya.
Tak butuh waktu lama,David pun kini sudah berdiri di hadapan nya.
" Dav apa masih ada jadwal meeting hari ini? " tanya nya.
" Masih tuan, setelah jam makan siang ini kita ada meeting di salah satu resto yang ada di pusat pembelanjaan yang ada di tepian kota, " jelas David.
" Baiklah,aku ingin makan siang dirumah,kita pulang dulu setelah itu kita berangkat. "
" Baik tuan. "
Kini Regan pun keluar ruangan di ikuti David yang kini mengekorinya.
David pun kini mengantarkan Regan pulang.
Sesampainya di rumah David pun bergegas membukakan pintu mobil untuk tuannya itu.
" Ayo! kau juga harus ikut makan, " ucap Regan saat keluar dari mobil,Regan pun kini berjalan memasuki rumah.
Sementara David masih diam membisu, tak ada pergerakan sama sekali dari tubuhnya,ia begitu tak menyangka jika tuanya itu akan menawarinya makan karena seumur-umur baru kali ini ia mendengarnya.
Sedangkan Regan yang melihat David tetap diam di tempatnya pun mengerutkan dahinya.
" Dav! " panggil Regan yang menyadarkan lamunan David.
" I..iya, baik Tuan, " dengan gelagapan David pun bergegas mengikuti Regan.
Seampainya di meja makan,Regan pun di suguhkan dengan berbagai macam hidangan yang sangat menggugah selera.Ia pun di buat menelan ludahnya sendiri.
" Sayang kau memasak sebanyak ini? " tanyanya pada Bintang yang masih menata piring itu.
" Hmmmm, " Bintang pun menjawab dengan cueknya.
" Aku sudah tak sabar ingin menikmatinya." Regan pun kini mulai menarik kursi dan mulai duduk,ia pun kini menatap David yang masih berdiri di dekatnya itu.
" Duduk Dav, " ucapnya kemudian.
" Terimakasih tuan, " David pun duduk di sebelah Regan.
Sementara di sisi lain Bintang masih tampak begitu kesal dengan suaminya itu,entah kenapa Bintang begitu sensitif hari ini, ia pun kini menatap David dengan senyuman yang tak dapat di artikan.
" Tuan David mau makan sama apa,sini biar saya ambilkan, " ucapnya menawarkan diri.
" Terimakasih,saya bisa sendiri Nona. " David pun menolaknya dengan sopan.
" Tidak papa, sini saya ambilkan. " Bintang tetap memaksa dan mulai menyiapkan makanan untuk David.
Sementara Regan ya melihatnya pun mengerutkan dahinya.
" Sayang, kau tidak salah? " ucapnya heran karena dia lah yang seharusnya di layani oleh Bintang.
" Tidak, kau ambil sendiri ya, bisa kan? " Bintang pun menjawab dengan santainya.
" Hah! " Tampak Regan yang begitu terkejut dengan jawaban istrinya itu.
Kini wajah Regan pun begitu tampak kesal karena harus melihat istrinya terus melayani asisten pribadinya.
" Bukankah dia harus melayani ku sebagai suaminya?" Regan pun menatap tajam David yang sekarang menempati posisinya itu.
Sementara David mulai tidak nyaman dengan tatapan tuannya itu, ia tau betul jika sekarang Regan pasti sangat marah.
" Tolong jangan seperti ini Nona,bisa-bisa setelah ini saya pulang tanpa nyawa, " bisiknya pelan karena Bintang terus sibuk melayaninya.
" Tenanglah aku akan pastikan keslamatan mu! " Bintang pun tersenyum senang melihat kekesalan di wajah suaminya saat ini.
" Oh Tuhan, kenapa aku yang tidak tau apa-apa harus terlibat dengan masalah mereka, " batin David meratapi nasib.
Kini David pun mulai menatap tuannya itu.
" Tu.. tuan, apa tuan ingin saya ambilkan ? " ucapnya mulai menawarkan diri.
" Tidak! " jawab Regan tajam yang membuat wajah David seketika pucat.
Regan pun kini mulai mengambil makanan sendiri.
Sementara wajah David kini tampak putih pucat.
" Tamat Dav!tamat kau sekarang! " batinnya ketakutan.
Kini mereka pun mulai menikmati makanan mereka,walaupun kesal Regan tampak begitu menikmati makanannya karena memang masakan Bintang yang begitu enak, berbeda dengan David yang tampak kesusahan menelan makanannya karena Regan terus menatap nya tajam.
" Hah! emmm, i.. iya tuan, saya sudah selesai, terimakasih untuk makan siangnya, " ucapnya yang langsung beranjak dari kursinya, David mengerti betul apa maksud dari ucapan tuannya itu.
Sementara Bintang yang tau David belum menyelesaikan makannya pun menatap tajam suaminya.
" David belum menyelesaikan makannya, kenapa kau bilang seperti itu! " protesnya tak suka.
" Jika aku memanggilnya kembali apa kau akan menyuapi nya! " jawabnya tajam.
" Tidak gitu juga, " Bintang pun menjawab nya dengan suara pelan.
Kini Regan pun menatap Bintang lekat.
" Nona Regan dari tadi sengaja ingin membuat ku kesal, kenapa? " ucapnya sambil memegang dagu Bintang.
" Kau tanya kenapa! " ucap Bintang dengan kesalnya.
" Aku tidak tau salahku apa jika kau tidak mengatakannya, sekarang katakan apa yang membuat mu seperti ini, hemmm. " Regan pun nencubit kedua pipi Bintang yang tengah cemberut itu.
" Kenapa kau bisa bilang mereka lebih pintar dariku? " ucapnya kesal.
Regan yang mengerti maksud Bintang pun terkekeh.
" Jadi kau marah karena itu,aku bicara seperti itu karena realita nya memang seperti itu,mereka lulusan luar negeri dari universitas ternama di sana, mereka berpengalaman, mereka juga mempunyai nilai IPK yang lebih tinggi darimu,aku hanya mengatakan yang sejujurnya kalau kelebihan mereka ya memang lebih pintar darimu, " jelasnya.
" Tapi kan tadi kau bisa sedikit berbohong! "
" Hemmm...baiklah,istriku yang lebih pintar, " ucapnya mulai merayu.
" Telat! " Bintang pun kini menyilangkan tangan di dada karena kesal.
Sementara Regan yang melihatnya pun tersenyum tipis.Kini ia pun membelai lembut rambut Bintang yang terurai.
" Mau aku nyanyiin Bintang kecil? " ucapnya kemudian.
" Hah! " Bintang pun tertawa kecil mendengar nya, ia tak bisa menyembunyikan tawanya saat mendengar tawaran konyol dari suaminya itu, " apaan sih,enggak lucu tau! " ucapnya kembali pada mode ketus.
" Tuh tadi ketawa, ya sudah aku nyanyiin ya, " Regan pun mulai bernyanyi.
"Bintang sayang,di langit yang tinggi...
eh, jangan di langit deh kejauhan, " Regan mulai mengintrupsi dirinya sendiri, membuat Bintang tak bisa menahan tawa mendengar suaminya yang sedang menyanyi itu.
" Sudah jangan di terusin,kau akan membuat ku pipis disini nanti, " ucapnya menutup mulut suaminya.
Regan pun kini melepas tangan Bintang dan menggenggamnya, " jangan bersikap seperti itu lagi pada laki-laki lain, aku tidak suka, " ucapnya kemudian yang membuat Bintang kini tampak menyesal.
" Iya, ma'af, " suara Bintang lirih.
Regan pun tersenyum dan kini mengacak-acak rambut istrinya yang sengaja menunjukkan wajah memelas di hadapannya itu, " oh ya, setelah ini aku ada meeting di luar, kau mau ikut? " ucapnya kemudian.
" Benar aku boleh ikut? " tanya Bintang memastikan.
Regan pun menganggukan kepala, Bintang yang melihat nya pun begitu sumringah karena ia begitu bosan di rumah karena tidak ada yang bisa di kerjakan.
" Tunggu lima menit, aku ganti baju dulu, " ucapnya bersemangat yang kemudian berlari ke kamar.
Regan yang melihatnya tingkah istrinya itu pun ikut tersenyum, ia sengaja mengajak Bintang untuk mengurangi kejenuhan istrinya itu selama di rumah.
Selang lima menit kini Bintang benar-benar keluar dengan anggunnya, ia mengenakan dress pendek dengan rambut yang sengaja ia ikat.
Namun Regan yang melihatnya tampak tak suka.
" Lepas ikatan rambutmu, aku tidak suka! " ucapnya tidak suka jika bintang mengikat rambutnya ke atas.
Bintang pun kini mengerucutkan bibirnya.
" Memangnya kenapa? ada yang salah? " tanyanya bingung.
" Kau ingin memperlihatkan lehermu pada siapa? "
" Sayaaang.. aku tidak bermaksud seperti itu! " protesnya.
Regan pun kini mendekat ke arah Bintang, ia menarik pinggang Bintang hingga tak ada jarak lagi di antara mereka, kini ia pun mulai mendekatkan wajahnya, dengan sedikit menundukkan kepala kini wajahnya bersarang di leher jenjang istrinya itu, ia pun mulai mencium leher Bintang dan meninggalkan jejak di sana.
" Apa kau masih ingin mengikat rambutmu? " ucapnya kemudian dengan senyuman liciknya.
" Ah! kau menyebalkan, " Bintang pun langsung melepas ikatan rambutnya, ia pun mulai menata rambutnya untuk menutupi tanda yang baru saja suaminya buat itu.
" Sudah jangan cemberut, ayo! " Regan pun menggandeng tangan Bintang menuju mobil.