
Jam istirahat akan segera berakhir, kini Bintang dan Livia berjalan kembali ke ruangannya.
" Vi! "
panggil Bintang pada Livia.
" Hmmmm.., "
jawab Livia yang sibuk dengan ponselnya.
" Apa kau tak bisa satu menit saja tak memegang ponselmu! "
ucap Bintang yang kesal karena Livia yang terus sibuk dengan ponselnya.
Livia tak menjawab ia hanya menoleh dan menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum.
" Aishhh..! kau ini! "
ucap Bintang sambil mendorong Livia.
" Kau ini kenapa sih Bi!
apa ada yang ingin kau katakan padaku! "
ucap Livia yang masih fokus pada ponselnya.
" Besok aku cuti, Tuan memberikan aku cuti selama tiga hari, " ucap Bintang datar.
" Apa! Tuan memberikanmu cuti selama tiga hari? kau gak lagi bercanda kan Bi? "
ucap Livia membulatkan matanya sempurna karena ia tak percaya jika Regan benar-benar memberikan cuti pada Bintang.
" Apa wajahku tampak lagi bercanda! "
ucap Bintang dengan wajah serius.
Livia pun mulai percaya pada ucapan Bintang.
" Apa alasan Tuan memberikanmu cuti! "
ucap Livia dengan serius.
" Ya karena kaki ku sakit, aku rasa sedikit berlebihan sih sampai harus ngasih aku cuti cuma gara-gara kakiku yang terkilir, kau bisa lihat sendiri kan kalau aku gak papa, "
ucap Bintang sambil terus berjalan.
Livia mulai mencerna ucapan Bintang.
" Fixs! Tuan benar-benar menyukaimu! "
ucap Rita yang menatap Bintang tajam.
" Kau jangan mulai lagi Vi, "
ucap Bintang sambil mengusap wajah Livia dengan telapak tangannya.
" Aishh...! kau ini! "
ucap Livia menghalau tangan Bintang.
" Asal kau tau Bi! Tuan Davit aja yang sudah mengabdi lama tu ga pernah di kasih cuti, sedangkan kau yang baru saja satu bulan bekerja,udah di kasih cuti langsung oleh Tuan tanpa kau harus melakukan pengajuan,itu salah satu bentuk perhatian Tuan padamu karena ia mulai menyukaimu, " imbuhnya lagi.
" Itu bukan karena ia menyukaiku tapi karena nasib Tuan Davit yang begitu buruk, "
jawab Bintang santai,ia tak mempercayai semua ucapan Livia dan mulai berlalu meninggalkan Livia.
Livia yang mendengarnya pun hanya menggeleng-gelengkan kepala, ia tak habis fikir kenapa temanya tak sepeka itu.
Kini semua sudah kembali bergelut dengan pekerjaan masing-masing, namun berbeda dengan Bintang yang bingung harus melakukan apa karena tak ada satu pekerjaan pun yang harus ia kerjakan.
Bintang pun kini hanya sibuk dengan ponsel dan laptopnya.
tak berapa lama Davit datang dengan beberapa dokumen ditangannya.
" Apa Tuan ada di tempat? "
tanya Davit pada Bintang.
" Tuan Regan belum kembali dari jam istirahat tadi Tuan, "
ucap Bintang sopan.
Davit pun mengurungkan niatnya untuk masuk kedalam ruangan Regan.
ia kembali berputar arah untuk kembali menuju ruangannya.
" Ma'af Tuan, kelihatanya pekerjaan Tuan hari ini sangat banyak,apa ada yang bisa saya bantu ? kebetulan saya tidak ada pekerjaan yang harus saya kerjakan, "
ucap Bintang yang menghentikan langkah Davit.
" Kau tak perlu melakukan apapun, tetaplah duduk di tempatmu dan jangan melakukan apapun yang akan membuat kakimu tidak nyaman!"
ucap Davit dengan tatapan tajamnya.
Davit tak ingin Bintang melakukan apapun karena itu akan membuat kakinya tak kunjung sembuh dan itu artinya Regan akan memperpanjang masa cutinya yang akan membuat Davit semakin lama menghandel pekerjaan Bintang.
Davit pun melangkah pergi meninggalkan Bintang.
Kenapa dua manusia itu bisa memiliki sifat yang sama.
gumam Bintang saat Davit sudah berada jauh darinya.
Di tempat lain Regan sedang berada di sebuah makam,ia membaca do'a,zikir dan beberapa surat pendek.Regan begitu khusuk melakukanya setelah itu ia menaburkan bunga dan menaruh satu buket bunga di atas makam.Disana tampak seorang Regan yang begitu rapuh bukan Regan yang selalu tampak angkuh dan selalu berkuasa.
" Aku sangat merindukanmu...
jika kutuliskan ukuran rinduku padamu,maka akan menghabiskan banyak kertas dan tinta.Ma'af kan aku yang belum pernah membuatmu bahagia.Kini,selalu kusempatkan untuk berdo'a semoga kau bahagia disana, "
ucap Regan sambil menghapus airmatanya yang hampir jatuh.Regan pun mulai berdiri dan melangkahkan kakinya menuju mobil.
Sedangkan disisi lain,seorang wanita yang duduk di sebuah kursi roda memperhatikan Regan dari tadi dengan deraian air mata yang membasahi pipinya.
" Kita kembali ke mobil pak! "
ucap wanita itu yang menyuruh supirnya.
" Baik Nona, "
ucap Supir itu yang mulai mendorong kursi roda yang di duduki majikannya.
Sedangkan di kantor Bintang sedang cemas dengan fikiran nya sendiri.
Kenapa Tuan belum kembali sampai jam segini?
Bukanya hari ini dia tidak ada janji di luar kantor?
Apa dia keluar karena ada urusan lain?
Tapi kenapa Tuan Davit tidak tahu?
bukanya dia itu soulmate nya...
Emmmmm...
Apa Jangan-jangan sakit perutnya kambuh lagi! terus dia pingsan di jalanan dan tak ada satu orang pun yang mau menolong!
kenapa kau harus menjadi orang yang kejam sih!
kalau sudah begitu siapa juga yang mau menolongmu?
Aku telfon ga ya...
Atau aku kirim pesan saja...
Haduh Bintang kenapa kau jadi mengkhawatirkannya..
Seharusnya kau senang jika dia tidak lagi kemabali ke kantor ini...
gumam Bintang sambil memukul keningnya sendiri.
Sudahlah aku kirim pesan saja!
Akhirnya setelah pergulatan batin yang sangat panjang Bintang pun mengirim pesan untuk Regan.
๐ฒ " Ma'af Tuan, apa Tuan baik-baik saja?
Tulis Bintang pada pesan singkatnya untuk Regan.
Eits..!
Kenapa aku benar-benar mengirimnya!
pasti dia akan besar kepala
Kau ini kenapa Bintang?
Bodoh... bodoh.. bodoh..
gerutu Bintang yang mengutuki dirinya sendiri.
Sedangkan Regan yang sudah berjalan menuju lantai atas pun tersenyum tipis saat melihat pesan dari Bintang.
"Apa kau benar-benar mengkhawatirkan ku!"
ucap Regan dengan senyum yang tak dapat diartikan tepat di hadapan Bintang.
Sedangkan Bintang yang sedari tadi pura-pura menyibukan diri di laci bawahnya pun mulai menegakkan punggungnya dan menatap Regan.
" Maksud Tuan? "
ucap Bintang pura-pura tidak mengerti.
" Apa aku perlu membaca pesanmu disini? "
ucap Regan yang sudah mulai membuka ponselnya dengan senyum menyeringai.
" Jangan Tuan, "
ucap Bintang dengan panik.
" Jadi sekarang katakan, apa kau benar menghawatirkanku ? "
ucap Regan pelan tapi penuh penekanan.
" Iya Tuan, wajar bukan jika sekertaris menghawatirkan Tuannya, "
ucap Bintang yang mulai mencari alasan.
Regan tak menjawab, ia hanya tersenyum pada Bintang dengan senyum yang tak dapat di artikan,Regan pun berjalan masuk ke dalam ruangannya.
Aishh..!
kenapa dia selalu berhasil menggertakku!
pasti sekarang udah kepedean tuh!
jadi besar kepala dah tuh iblis!
gerutu Bintang dalam hati.
Waktu berjalan begitu cepat kini sudah memasuki jam pulang kantor.
" Kau pulang bersama kami ya Bi ?
kami akan mengantarkanmu, " ucap Livia yang sudah berdiri bersama doni dan Rita.
Baru juga Bintang akan menjawab tapi Regan yang baru keluar sudah menjawab duluan.
" Kalian pulang saja!
Dia akan pulang bersamaku! "
ucap Regan datar tanpa ekspresi yang terus berjalan berlalu di hadapan Bintang dan teman-temannya.
Sekarang semua mata tertuju pada Bintang.
Sedangkan Bintang masih diam terpaku di tempatnya, ia tak tau harus berbuat apa sekarang,jika dia mengikuti Regan pasti Rita akan bertambah marah padanya tapi jika dia tak mengikuti Regan dia akan mendapatkan masalah yang lebih besar lagi.
" Jangan membuat ku menunggu! "
ucap Regan yang sadar bahwa Bintang tak kunjung berjalan mengikutinya.
" Cepatlah Bi, kau akan mendapat masalah jika kau tak segera mengikuti Tuan Regan ".
ucap Livia datar.
" Tapi Vi ..., "
belum sempat Bintang melanjutkan ucapannya,Doni sudah terlebih dulu memotongnya.
" Sudahlah, kau cepat sana susul Tuan Regan, jika kau tetap disini bukan kau saja yang kena masalah tapi kami juga akan kena imbasnya nanti, "
sahut Doni dengan wajah santainya.
Bintang pun mulai mencerna ucapan Doni.
" Kau benar Don!
aku duluan ya,kalian hati-hati, "
ucap Bintang yang bergegas mengejar Regan.
Sedangkan Rita hanya diam dengan wajah datarnya.
" Kau lihat kan Rit?
Bintang tak pernah sekalipun mencoba untuk mendekati Tuan Regan,Bahkan sebaliknya Tuan Regan lah yang selalu berusaha mencari kesempatan untuk bersama Bintang. Seharusnya kau sadar diri dan tak perlu semarah itu dengan Bintang, "
ucap Livia yang berlalu di hadapan Rita.
" Jadi kau selama ini cemburu dengan Bintang?
hahahhaaha...
untuk apa kau cemburu dengan Bintang,apa kau tak tau bagaimana wanita-wanita cantik di luar sana yang selalu berusaha mendapatkan hati Tuan Regan? kau hanya akan sakit hati jika terus berharap padanya, "
ucap Doni dengan tawanya yang terbahak-bahak.
Rita hanya diam mencerna semua ucapan temannya.Kini ia sadar bahwa ia sudah salah menilai Bintang, Rita pun mulai menyusul kedua temannya yang sudah berjalan lebih dulu.
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
Mohon ma'af belum bisa Up banyak๐๐
tolong jangan bosan dukung Author๐
agar terus semangat menulis..๐ช๐
jangan lupa tinggalkan jejak kalian๐
beri vote, like dan saran kalian..
dan jangan lupa klik favorit
Terimakasih untuk kalian yang udah setia membaca novel ku๐๐ค
Happy Reading ๐