
Pagi yang begitu cerah menjadi awal yang begitu indah untuk memulai kehidupan hari ini.
Terpaan angin pagi yang begitu sejuk,udara yang masih segar dan suara burung yang berkicau menambah kesahduan pagi ini.
Ini adalah hari pertama di mana Kevin akan kembali tinggal di Indonesia setelah sekian lama ia tinggal di Australia.Pamannya yang tak lain adalah Tuan Williams mengutusnya kembali untuk mengelola usaha baru di kota B.Sejujurnya itu hanya alasan Tuan Williams saja agar Kevin bisa kembali berkumpul dengan keluarganya namun Kevin yang di minta untuk tinggal bersama malah memilih untuk membeli rumah sendiri.Menurutnya sangat tidak nyaman jika harus tinggal bersama,itu semua karena status Regan yang sudah menikah beda cerita jika Regan belum menikah mungkin dia akan senang hati tinggal bersama keluarga besarnya itu.
Hari ini Kevin sedang jalan-jalan di taman tak jauh dari rumah barunya,memakai t-shirt berwarna putih dan celana pendeknya menikmati udara pagi yang begitu segar.
Usianya tak lagi muda,namun wajah dan penampilannya seperti anak muda yang baru berusia 25 tahunan,banyak Abg yang sengaja mencari perhatiannya,bahkan banyak yang langsung terang-terangan meminta foto dan nomor whatsappnya.Kevin hanya menggelengkan kepala melihat tingkah anak muda jaman sekarang.
Kevin melanjutkan jalan-jalan paginya, menyusuri taman yang kini sudah di penuhi oleh lautan manusia,ada yang jalan-jalan bersama pasangan mereka,ada yang bersama teman-teman mereka ada juga yang bersama keluarga mereka dan momen ini di manfaatkan oleh para pedagang untuk menjajakan dagangan mereka.Wajar saja ini adalah akhir pekan,banyak yang menghabiskan pagi ini untuk jalan-jakan bersama keluarga, teman ataupun pasangan mereka.
Sudah cukup lama Kevin berada di taman,matahari juga semakin terik.Kini ia berniat untuk pulang,namun di perjalanan ia bertemu seorang gadis yang tengah duduk di taman menekuk wajahnya.Terlihat jelas gadis itu begitu murung,di antara lautan manusia yang sedang berbahagia hanya dia yg terlihat begitu menyedihkan.Kevin pun berjalan menghampiri nya.
" Hay girl? Area you okey? " tanyanya.
Gadis itupun mendongakkan wajahnya, menatap Kevin dengan begitu menyedihkan. Gadis yang sepertinya baru menginjak delapan belas tahun itu kini menagis sesenggukan di hadapannya.
" Huuuuuaaaa...paman tolong aku... Hiks.. Hikss.., " tangisnya kencang yang membuat Kevin sontak terkejut.
Eh! Tunggu.. Tunggu..
dia panggil aku apa tadi?
Paman?
Apa aku setua itu?
Kevin mulai menatap gadis itu.
" Tolong aku paman, hiks..hiks.., " gadis itu mulai bicara lagi dengan tangisnya yang cukup keras hingga membuat mereka kini jadi pusat perhatian.Kevin menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Kenapa jadi begini? pikirnya.
" Okey girl, tenanglah dulu.Jangan nangis lagi okey... " Kevin mulai bingung.Pasti orang di sekitarnya menganggap dia lah yang membuat gadis di hadapannya ini menangis.Dia harus mencari akal agar gadis ini cepat diam.
" Oh ya girl,bagaimana dengan eskrim? Kamu mau es krim? Setelah makan es krim kamu bisa ceritakan semua padaku apa yang terjadi, " tawaranya.
Gadis itu pun langsung diam menatap Kevin dengan mata yang masih penuh airmata.
" Baiklah,aku mau satu rasa coklat, " ucapnya dengan suaranya sedikit serak.
" Okey akan aku belikan untuk mu.Kau tunggu di sini, okey? " Kevin pun berlari ke arah tukang es krim yang ada tak jauh dari tempatnya.Otaknya benar-benar bisa di andalkan.Dia berhasil membuat gadis itu diam.
" Bang es krim rasa coklat satu ya? " Pintanya pada abang tukang es krim.
" Oke bos, buat pacarnya ya? "
Kevin sedikit bingung mendapat pertanyaan dari abang es krim itu.
" Ah! Bukan.Ini buat adik saya, " elanya.
" Owh. " Abang es krim pun hanya ber'ohria sambil menyiapkan satu cup es krim rasa coklat pesanannya.
Kevin yang sudah mendapatkan pesanannya pun merasa bingung. Kenapa ia benar-benar membelikan gadis itu es krim? Bisa saja kan tadi dia langsung pergi meninggalkan gadis itu? Ah dia terjebak dalam situasi ini.
Kevin pun berjalan menghampiri gadis kecil yang memiliki wajah cantik dan manis itu.
" Hay girl, ini es krim mu, " ucapnya yang membuat gadis itu melongo,dia benar-bena tak menyangka laki-laki yang ia panggil paman itu benar membelikannya es krim.Fikirnya laki-laki itu pasti sudah pergi meninggalkannya.Mana ada orang yang benar-benar mau membantunya, kalaupun ada pasti punya niat lain padanya.
" Paman benar membelikanku es krim? Aku fikir paman sudah pergi, " ucapnya yang terlihat sedikit takut sekarang.
" Mana mungkin aku meninggalkan mu yang sedang kesusahan. Ini ambilah, " Kevin mulai menyodorkan es krim pada gadis itu.
Namun gadis itu hanya diam. Dia terlihat ragu.
" Ini tidak ada racunya." Gadis itupun tersenyum garing mendengar ucapan Kevin.Kenapa laki-laki yang dia panggil paman itu bisa tau isi otaknya.
" Tidak percaya? Biar aku yang makan duluan. " Kevin pun mulai memakan es krim itu dengan nikmatnya yang berhasil membuat gadis belia di hadapannya menelan ludahnya sendiri.
" Paman jangan di habiskan! " Dengan cepat gadis itupun merebut satu cup es krim itu dari tangan Kevin, membuat Kevin tersenyum kecil.
Dasar bocah!
Gumamnya pelan.
" Paman kenapa baik padaku? Paman tidak ada niat jahat pada ku kan? " ucap gadis itu sembari menikmati es krim pemberian Kevin.
" Jangan bicara di saat makan.Selsaikan dulu makanmu baru bicara. "
Gadis itu hanya memanyunkan bibirnya dan kembali malahap es krimnya hingga tak tersisa.
" Sekarang ceritakan, apa masalah mu? " tanya Kevin sambil menatap gadis belia di hadapannya yang sedang sibuk membersihkan sisa es krim di sekitar mulutnya.
" Jadi aku tuh dari kota yang jauuuuuuuuh banget dari sini paman, aku sudah tidak punya siapa-siapa. Aku kesini ingin ke rumah bibiku, tapi semua harta benda ku hilang di curi paman,termasuk ponselku yang menyimpan alamat dan nomor bibiku.Huuuuuaaaaa... hiks.. hiks.. " Gadis itu kembali menangis membuat Kevin kalang kabut.
" Eh,eh jangan nangis lagi dong, " ucapnya sembari menutup mulut gadis itu erat-erat.Gadis itu yang merasa tidak bisa bernafas pun menggigit tangan Kevin.
" Aaaaw.. Kenapa kau menggigit ku! " Kevin pun meringis kesakitan.
" Iya ma'af paman, aku gak bisa nafas. " Gadis itu pun meminta maaf dengan wajah memelas nya membuat Kevin tak tega melihat nya.
" Okey,okey, baiklah lalu apa rencana mu? "
" Aku tidak tau paman,aku juga bingung. Aku gak mau jadi gelandangan disini. "
Nasib gadis itu sangat menyedihkan membuat Kevin tak tega melihatnya.
" Kamu ingat di mana bibi mu tinggal? Aku akan membantu mu mencarinya. "
Gadis itu hanya diam sambil menggelengkan kepalanya.Kevin pun membuang nafasnya dengan kasar.
" Okey,bagaimana kalau kamu ikut denganku?sambil kamu ingat-ingat di mana almat bibi mu, kalau kamu sudah ingat aku akan mengantrmu ke sana. "
Gadis itu pun menatap Kevin curiga.
" Tenang aku bukan mafia yang memperdagangkan manusia,aku juga normal,aku bukan pedofilia, " tutur Kevin yang tau jika gadis di hadapannya meragukan kebaikannya.
" Emmmm, baiklah. Terimakasih paman. "
Ya sudah ayo ikut aku. Rumahku tidak jauh dari sini.
Kini Kevin pun berjalan di ikuti gadis itu di belakangnya.Sesampainya di rumah gadis itu tampak celingak-celinguk, rumah itu sepi sekali.
" Paman sendirian di rumah ini? " tannya nya sedikit takut. Wajar saja mereka baru kenal bisa saja laki-laki yang ia panggil paman itu ingin berbuat jahat padanya kan?
" Tidak, aku tinggal bersama anakku. "
Owh, jadi sudah punya anak toh
Ah sayang banget!
Eh apa sih yang aku fikirkan.
Gadis itu mulai menggeleng-gekengkan kepalanya agar otaknya tidak berfikir yang bukan-bukan.
" Di sini ada empat kamar.Di sana kamar ku dan yang ada di sana itu kamar anak ku,yang satu lagi itu tempat fitnes,kamu bisa istirahat di kamar yang ada di sebelah sana, " Kevin menerangkan sambil menujuk satu persatu kamar yang ada di rumahnya.
Gadis itu pun hanya mengangguk ria mendengarkan penjelasan Kevin.
" Kamu bisa mulai istirahat sekarang. "
Gadis itu hanya diam sambil meringis kuda.
" Kenapa? " tanya Kevin.
" Ma'af paman, aku akan sedikit merepotkan paman lagi, " ucapnya sedikit ragu.
" Ya, katakan.Apa yang bisa aku bantu? "
Kriiuuuuk... Kriiuuuuk...
Suara dari perut gadis itu sudah cukup menjadi jawaban untuk Kevin.
" Kamu lapar? " tannya nya.
Gadis itupun mengangguk.
" Apa paman punya makanan yang bisa mengganjal perutku? " tannya nya malu-malu.
" Aku baru saja pindah kesini.Jadi aku tidak punya makanan yang bisa kamu makan.Tapi sepertinya ada mie instan di almari dapur,itupun sisa dari pemilik rumah ini sebelumnya.Kalau kamu mau kamu bisa membuatnya.Tapi kalau kamu mau menunggu aku pesankan makanan untuk mu."
Gadis itu tampak berfikir.Jika harus menunggu mungkin dia akan mati kelaparan.Ah sudahlah,makan mie instan tidak masalah baginya yang sudah kelaparan tingkat dewa.Tapi masalah nya mi instan itu sisa dari pemilik rumah sebelumnya? Apa masih bisa di makan?
" Emmmm,saya buat mi instan saja paman.Tapi apa masih bisa di makan? "
" Ya sudah kita cek dulu. "
Kevin pun berjalan ke dapur di ikuti gadis belia nan cantik itu di belakangnya.
" Owh, paman bisa bantu menyiapkannya? " gadis itu tersenyum garing sambil menujukkan bahwa dirinya begitu lemah.
" Okey." Kevin yang tak tega pun terperangkap lagi.
Dia mulai merebus air,menyiapkan mangkuk,mengambil dua butir telur peninggalan pemilik rumah sebelumnya di dalam kulkas.Setelah beberapa menit akhirnya satu mangkuk mi instan rebus di tambah dua butir telur siap di makan.Gadis belia tadi begitu antusias mencium aromanya.
" Ini makanlah. " Kevin pun menaruh mi rebus buatannya di hadapan gadis cantik itu.
" Terimakasih pamann, aku makan ya. "
"Hmmm." Kevin hanya diam menatap gadis yang belum ia ketahui asal usulnya itu jangankan asal usul,namanya saja Kevin belum tau.
" Berapa hari kamu gak makan? " tanyanya saat melihat gadis itu makan dengan lahap mie buatannya hingga habis tak tersisa.
" Dari semalam aku belum makan.Ma'af ya aku merepotkan paman." Gadis itu menjawab sambil tersenyum canggung.
Kevin prihatin,dia membayangkan jika itu terjadi pada anaknya.Untuk itulah dia membantu gadis di hadapannya ini.Perbuatan baik akan mendapatkan balasan yang baik juga kan?Itulah yang ia harapkan.Semoga apa yang di alami gadis di hadapannya tidak terjadi pada Cello anaknya.
" Istirahatlah,istirahat mu pasti tidak nyaman semalam. " Kevin mulai beranjak dari kursinya.
" Paman,tidak kah paman curiga padaku?apa paman tidak takut jika aku akan mengambil barang berharga di rumah paman? " gadis itu bertanya-tanya. Kenapa ada manusia sebaik paman barunya ini.Mau menerima orang asing sepertinya.
Kevin pun tersenyum.
" Jika memang kau menemukan barangku yang menurutmu berharga ambilah sesukamu.Jika masih kurang masuklah ke kamar ku, di sana ada brangkas kecil isinya cukup untuk memenuhi kehidupanmu,kau bisa mengambilnya, " tutur Kevin yang kemudian berjalan menuju kamarnya.
Gadis itu pun terdiam.Laki-laki di hadapannya ini benar-benar langka. Ini pertama kalinya dia menemukan orang yang benar-benar baik,kehidupannya yang lalu selalu di penuhi oleh para penjilat,bersikap baik padanya hanya karena punya niat sesuatu.
Gadis itupun masuk kedalam kamarnya. Merebahkan tubuhnya sembari menatap langit-langit.Dia tidak tau apa yang akan terjadi besok, ini seperti awal kehidupannya.Di dalam hatinya hanya ada kata ma'af yang bisa ia ucapkan untuk keluarganya.
Tak berapa lama kini terdengar suara ketukan pintu. Begitu juga suara Cello yang berteriak dengan kerasnya di luar.
Kevin yang mendengarnya pun langsung keluar dari kamarnya,membuka pintu untuk tamu sudah menjadi hal biasa baginya,ya karena dia memang
tidak mempunyai asisten rumah tangga.
" Hay boy, kemana saja kamu! " ucapnya sembari mengacak-acak rambut Cello yang kini sudah ada di hadapannya.
" Grandma and grandpa mengajakku belanja mainan, nih! " Cello dengan bangganya memperlihatkan hasil petualangannya di toko mainan.
" Kamu merampok kakek dan nenek tua ini! " Kevin sedikit melotot.
" No dad! Ini semua grandma and grandpa yang mau, " bela Cello yang tidak mau di salahkan.
" Jangan marahi Cello,ini semua aku yang mau! " Sahut tuan Williams.
" Paman jangan terlalu memanjakannya. " Kevin tampak tidak suka.
" Dia cucuku,semua terserah padaku! " Tuan Williams pun berlalu begitu saja masuk kedalam rumah menggandeng Cello yang tersenyum penuh kemenangan.Kevin hanya bisa mendengus kesal.
" Kamu gak mau ajak bibi masuk? " Celetuk mama Nita.
" Ah ya, ayo bi masuk. " Kevin pun segera menggiring bibinya itu masuk kedalam rumah.
Tuan Williams dan mama Nita sengaja mengantar kepindahan Kevin ke rumah barunya.Mereka sampai pagi sekali dan memutuskan untuk jalan-jalan bersama Cello.Sebenarnya Regan dan Bintang pun ingin ikut mengantar kepindahan Kevin, namun karena kesibukan Regan terpaksa mereka harus tetap tinggal.
" Oh ya Vin,bibi udah belanja banyak buat isi kulkas mu.Ini cukup untuk persediaan mu selama satu minggu. " Mama Nita mulai membawa belanjaannya masuk kedalam dapur. Merombaknya di atas meja dan mulai menatanya di dalam kulkas.
" Kenapa bibi repot sekali sih? Siapa yang mau masak? "
" Kamu tuh jangan terlalu sering pesan makanan online gitu.Sekali-kali kamu harus masak sendiri. Makanan sendiri itu lebih sehat, " tutur mama Nita.
"Hmmmm, iya iya. " Kevin malas berdebat.
" Permisi, ada yang bisa saya bantu? " Suara kecil nan imut itu membuat mama Nita,Kevin,Cello dan tuan Williams seketika menoleh.
" Eh, dia siapa Vin? " tanya mama Nita yang tampak curiga dengan Kevin.Kevin sedikit gugup.
Kenapa dia harus nongol sekarang sih!
gerutunya dalam hati.
" Emmmm,dia pengasuh nya Cello bi, " elanya.Tidak mungkin dia mengatakan jika dia adalah gadis yang ia temukan di taman, bisa semakin ribet nanti urusannya.
" Owh,berapa usia mu nak? Kamu sepertinya masih kecil?Vin kamu tidak memperkerjakan anak di bawah umur kan? " Mama Nita berjalan mendekati gadis itu.
" Tenang saja tante,saya bulan depan masuk delapan belas tahun. " gadis itu menjawab dengan senyuman manisnya.
" Kamu masih belia sekali,baru lulus sekolah ya? "
" Iya tante. "
" Kamu nanti yang sabar ya ngurus Cello, anaknya memang sedikit pintar, " bisiknya pada gadis di hadapannya itu.
Gadis itupun tersenyum,jujur saja dia tidak mengerti dengan ucapan mama Nita.
Sedikit pintar apa maksudnya?
" Ya sudah Vin, semua kebutuhan mu sudah pak jang taruh di ruang tamu.Bibi sudah membelikan semua untuk mu.Sekarang bibi dan paman pulang dulu ya.Kamu beresin sendiri, " tutur mama Nita.
" Iya bi, makasih. Salam untuk Regan dan Bintang. "
"Siap! "Mama Nita pun kini memeluk Cello sebelum ia pergi, " Grandma pulang ya sayang, jangan nakal.okey! "
" Okey grandma! "
" Nurut sama daddy sama kakak cantik ini ya? "
" Iya grandma," serunya sambil melirik sekilas wanita yang belum ia kenal itu.
Mama Nita dan tuan Williams pun kini berjalan ke luar,di ikuti kevin yang mengantarkannya.Kevin menganntar kepergian dua manusia yang sudah ia anggap sebagai orang tuanya sendiri itu, ia kembali masuk ke dalam rumah setelah mobil yang membawa tuan Williams dan mama Nita tak terlihat lagi.
Dia yang sudah di dalam menghampiri gadis temuannya tadi.
" Ma'af ya, aku bilang kamu pengasuh Cello, " ucapnya pelan.
" Ya tidak papa kok. "
Cello yang asik memainkan mainan barunya pun mulai menghampiri daddy nya.
" Dad,dia benar pengasuh Cello? " tannya nya.
" Bu_"
" Iya, kenalin aku pengasuh barumu? " sahut gadis itu dengan tawa riangnya.
" Eh! " Kevin pun terkejut. Sedangkan Cello menatap gadis itu begitu intens.
" Biarkan aku membalas budi mu paman. "
" Tapi_"
" Aku hanya tidak mau berhutang padamu paman,biarkan aku membalas nya dengan menjaga anakmu," gadis itu kembali memotong ucapan Kevin.Memohon dengan sangat agar Kevin menyetujui niatnya.
Kevin pun kembali luluh,hatinya selembut salju,mudah luluh.Eh, mudah leleh kali😏
" Ya sudah baiklah,tapi kau yakin bisa? " Kevin mulai meragukannya.
" Iya aku yakin.Aku bisa segalanya."
" Tapi aku membantu mu bukan untuk ini. "
" Iya aku tau,paman ini adalah orang yang benar-benar baik. "
" Ya kau harus tau itu! "
Gadis itupun tersenyum masam.
Narsis juga orang di hadapannya ini?
" Oh ya,siapa namamu? "
Gadis yang memiliki nama asli Qiara itu pun bingung.
" Emmmm, paman bisa panggil aku kiki, " jawabnya.
" Oke baiklah kiki. Bisakah kamu tidak memanggil ku paman? "
" Lalu paman mau aku panggil apa? Kakek?opung?atau oppa?"
" Apa aku terlihat begitu tua di matamu? " Kevin sedikit melotot.
" Hehehe..ma'af pak bos. Aku cuma bercanda. " Qiara pun mengangkat dua jarinya.
" Nah itu lebih baik! " Kevin terlihat setuju dengan panggilan Qiara padanya. Dari pada di panggil paman ya kan?