My Big Boss

My Big Boss
senyuman yang kembali



Regan tak menghiraukan Bintang, ia menyuruh Davit untuk segera melajukan mobilnya.


" Jalan! "


ucap Regan singkat.


" Baik Tuan, "


jawab Davit mulai melajukan mobil.


Sedangkan Bintang yang tak di hiraukan tetap berdiri di tepi jalan ia baru masuk rumah setelah mobil Regan tak terlihat lagi.


Di sisi lain Regan masih dalam perjalanan pulang.


Regan masih terus menatap tangan yang ia pakai untuk menggenggam tangan Bintang tadi, ia terus senyum-senyum sendiri entah apa yang sedang ia fikirkan.


Tak berapa lama pun Regan sampai di kediamannya.


Davit mulai membukakan pintu dan terus mengekori Regan masuk.


" Sore Tuan, "


sapa bi inah asisten rumah tangga yang membukakan pintu untuk Regan.


Regan hanya menjawab dengan tersenyum ramah.


Davit yang masih mengekori Regan pun tersenyum ramah pada bi inah.


Apa tidak salah! tadi Tuan tersenyum?


lama sekali saya tidak melihat senyum mu Tuan.


ucap bi inah pelan sambil menutup pintu.


" Kau sudah pulang sayang? "


tanya Mama Nita pada Regan


" Iya Ma, "


ucap Regan yang berlalu dengan senyumannya.


Mama Nita yang melihat senyuman anaknya hanya diam terpaku.


ia tak percaya kini Regan bisa kembali tersenyum setelah sekian lama selalu murung dan bersikap dingin.


Regan adalah anak dari pasangan Williams Atmaja dan Nita Amalia. Regan adalah anak tunggal dari keluarga Atmaja.


" Dav, apa kau melihat itu? ".


tanya Mama Nita pada Davit yang sedari tadi berdiri menunggu tuanya kembali dari kamarnya.


" Iya Nyonya, "


jawab Davit singkat.


" Kau masih saja memanggil nyonya? panggil saja tante ! ayo kau hutang penjelasan pada tantetante, "


ucap Mama Nita sambil menarik Davit duduk di sofa bersamanya.


Kedua orang tua Regan sangat ramah dengan siapapun walaupun mereka dari golongan orang kaya mereka tak pernah membeda-bedakan status.


" Ma'af Nyonya rasanya kurang sopan jika saya memanggil Tante, "


ucap Davit yang tak enak hati.


" Ya sudah, terserah kau sajalah! yang jelas kau sekarang jelaskan padaku kenapa Regan bisa berubah? apa dia mulai membuka hatinya? atau dia sudah punya kekasih baru?"


tanya Mama Nita panjang lebar karena ia begitu penasaran apa yang membuat senyum anaknya kembali.


" Ma'af Nyonya saya kurang tau kenapa Tuan bisa tersenyum seperti tadi, "


ucap Davit berbohong, karena sebenarnya ia tahu bahwa kejadian bersama Bintang lah yang membuat suasana hati Tuannya berubah.


" Benar kau tidak tahu? kau kan selalu bersamanya, mana mungkin kau tak tahu? "


ucap Mama Nita tak percaya.


" Benar Nyonya, sikap Tuan sering berubah - ubah jadi saya tidak bisa memastikannya, "


ucap Davit seadanya, Davit tak berani menceritakan kejadian tadi karena dia sendiri juga belum yakin apa Tuanya itu benar-benar tertarik pada Bintang atau tidak karena sikap Regan yang berubah-ubah.


" Sudahlah Ma, kau jangan menghakimi Davit seperti itu, "


ucap Tuan Williams yang baru datang.


" Pa,senyum anak kita sudah kembali.. Mama sangat merindukan Regan yang seperti dulu.. Mama yakin kalau Regan sudah mulai membuka hatinya Pa, senyuman itu sama persis saat ia mulai mengenal Tania, mungkin saja saat ini Regan sudah menemukan pengganti Tania, "


ucap Mama Nita penuh harap.


" Mama jangan terlalu berharap,Regan sangat mencintai Tania tak semudah itu ia melupakanya, apa Mama lupa Regan selama ini menghindari Papa hanya karena Papa menyuruhnya melupakan Tania, "


ucap Tuan Williams yang kini sudah duduk bersama Davit dan mama Nita.


" Itu karena Papa terlalu memaksa Regan, Papa selalu ingin menjodohkan Regan dengan anak rekan bisnis Papa jadinya sekarang Regan selalu menghindari Papa, "


ucap Mama Nita kesal.


Itulah alasan Regan yang selama ini memilih sarapan di kantor dan menghabiskan waktunya di kantor dan di luar rumah.


Regan selalu menghindari papanya karena setiap bertemu, papanya hanya akan memaksa menjodohkan Regan dengan anak rekan bisnisnya. sekalinya pulang Regan hanya akan masuk kamar dan keluar lagi saat dia akan berangkat kerja. begitulah setiap hari.


" Regan itu sudah dewasa Ma, sepantasnya dia sudah menikah, apa Mama tak ingin menimang cucu? "


ucap Tuan Williams tak mau kalah.


" Biarkan Regan mencari pendamping hidupnya sendiri Pa , Mama yakin secepatnya kita akan menimang cucu, "


ucap Mama Nita penuh keyakinan karena filling seorang ibu itu tidak bisa di ganggu gugat.


" Dua tahun sudah Tania pergi untuk selama-lamanya dan selama itu pula Regan tak pernah dekat dengan wanita manapun. wajar kan jika Papa mencoba untuk menjodohkan Regan? "


ucap Tuan Williams yang tak mau di salahkan.


Tania adalah wanita yang selama ini ada di hati Regan. Mereka hampir saja bertunangan tapi takdir berkata lain. Tania meninggal karena kecelakaan motor satu hari sebelum hari pertunangan mereka.


" Eheemm.., "


suara batuk Davit yang sengaja di buat-buat agar pertempuran dua manusia di dekatnya ini berhenti.


Oh.. Tuhaaan.. pantas saja anaknya juga tak mau kalah dan di salahkan ternyata ini bakat turunan.


gumam Davit dalam hati.


" Nak Davit ma'af kan kami yang tak menghiraukan mu dari tadi, kau pasti sangat tidak nyaman, "


ucap Mama Nita tak enak hati.


" Tidak Nyonya, itu bukan masalah bagi saya, "


ucap Davit berbohong, tak mungkin kan ia mengatakan yang sejujurnya.


" Mungkin Regan sudah tertidur, kau pulanglah Dav biar nanti saya yang memberitahu Regan, "


ucap Tuan Williams tenang.


" Baik Tuan, saya permisi, "


pamit Davit undur diri.


" Anak itu, semakin lama semakin seenaknya sendiri! "


gerutu Tuan Williams yang tak suka sikap Regan yang tak bisa menghargai orang lain.


" Sudahlah Pa, "


ucap Mama Nita menenangkan suaminya.


Di kamarnya Regan benar-benar lupa jika Davit menunggu nya , sedari tadi Regan hanya sibuk memikirkan Bintang dan memandangi tangan yang telah ia pakai untuk menggenggam tangan Bintang.


Gila..! aku sudah benar-benar gila!


kenapa bisa-bisanya aku memikirkan gadis bodoh itu...


arrrggghhh...


gerutu Regan mengutuki dirinya sendiri.Regan pun mulai tiduran di ranjang nya yang empuk hingga ia tertidur pulas.


Sedangkan di tempat lain Bintang sedang sibuk dengan jas milik Regan.


" Ini pasti jas mahal,gajiku satu bulan takan cukup untuk membelinya.bukan orangnya saja yang menyusahkan! ternyata bajunya juga sangat menyusahkanku! "


gerutu Bintang yang berjalan menuju laundry yang tak jauh dari kontrakannya.


" Permisi.. , "


sapa Bintang di tempat laundry


" Iya Nona, ada yang bisa kami bantu, "


jawab pegawai laundry.


" Bisakah ini saya ambil besok pagi? "


tanya Bintang sambil menyerahkan jas yang akan ia laundry.


" Bisa Nona, biar saya buatkan nota dulu. Ma'af dengan Nona siapa?"


jawab Pegawai laundry mengambil jas milik Bintang dan mulai membuatkan nota.


" Bintang, "


jawab Bintang singkat.


" Ini notanya Nona, "


ucap pegawai laundry sambil menyerahkan nota kepada Bintang.


" Terima kasih, "


ucap Bintang menerima nota dan berjalan keluar .


Di perjalanan pulang Bintang mengirim pesan pada ibunya bahwa dia sudah sampai dengan selamat, ia tak mau membuat ibunya khawatir.


Tak butuh waktu lama kini Bintang sudah sampai di rumah kontrakannya.


Drrtt... Drrrtt..


suara getar ponsel Bintang tanda ada panggilan masuk.


" Iya Fa,ada apa ? "


ucap Bintang karena Rafa lah yang menelfon.


" Apa kau sudah berangkat Bi? "


tanya Rafa yang tak tau bahwa Bintang sudah sampai di kota.


" Aku sudah sampai di kota Fa, "


jawab Bintang sambil menyiram bunga yang ada di taman rumahnya.


" Benarkah? bukannya kau akan berangkat jam lima sore ini? "


tanya Rafa yang masih sibuk di bengkel miliknya.


" Tadi Mama memaksaku berangkat jam dua siang, aku sudah sampai dari jam empat tadi Fa, "


jawab Bintang yang masih sibuk di taman.


" Syukurlah kau sudah sampai dengan selamat, aku sangat mencemaskan mu karena aku tak bisa menjemputmu, "


ucap Regan merasa bersalah.


" Sudahlah,aku sudah besar jadi lain kali kau tak usah mengkhawatirkan ku.. disana berisik sekali kau pasti sedang ada di bengkel, kau lanjutkan saja pekerjaan mu, "


ucap Bintang yang masih ada di taman.


" Siap bu bos! "


jawab Rafa di seberang sana.


Rafa pun mengakhiri panggilannya.


Tak terasa sekarang pukul sudah menunjukkan jam tujuh malam.