My Big Boss

My Big Boss
Regan sakit part II



Akhirnya dua pelayan laki-laki memapah Regan sampai ke mobilnya.


salah satu pelayan itu duduk di bangku kemudi sedangkan Bintang menemani Regan


di bangku belakang.


mobilpun melaju cepat.


Bintang semakin panik saat melihat Regan yang kesulitan untuk bernafas.


" Bisakah kau lebih cepat lagi!"


ucap bintang panik.


" Ma'af Nona, jalanan di depan macet, "


ucap pelayan itu.


Bintang yang mendengarnya pun membuang nafas kasar, ia tak tahu lagi harus berbuat apa agar bisa lebih cepat sampai rumah sakit.


Tuan kau harus kuat,


Bintang yang mulai meneteskan airmata menggenggam erat tangan Regan yang sedang memejamkan mata menahan rasa sakitnya.


Tuan apa dadamu begitu sakit hingga membuatmu sulit bernafas?


Tuan tolong katakan padaku apa yang harus aku lakukan agar bisa mengurangi rasa sakitmu!


ucap Bintang panik yang tak di jawab oleh Regan,ia terus menangis karena tak kuasa melihat kondisi Regan.


Regan yang masih bisa mendengar sayup-sayup suara Bintang pun hanya tersenyum tipis karena ia kini tak mampu lagi untuk bersuara.Regan begitu bahagia melihat Bintang yang begitu menghawatirkannya.


Mobil yang tadinya terjebak macet kini mulai melaju kencang dan berhenti tepat di depan rumah sakit. Bintang pun bergegas turun dan memanggil perawat untuk membawa Regan masuk.


dua orang perawat pun datang membawa kereta dorong, mereka menurunkan Regan dari mobil dan membaringkanya di kereta dorong kemudian dengan cepat Perawat membawa Regan menuju IGD.


Bintang terus menggengam tangan Regan dengan deraian air mata, ia terus berlari mengikuti langkah dua perawat itu hingga sampai di IGD.


" Ma'af Nona, anda tidak di izinkan masuk.Dokter akan mengambil tindakan, silahkan tunggu di luar, "


ucap salah satu perawat IGD.


Bintang pun melepas tangan Regan yang mulai tak sadarkan diri.


kini Bintang hanya mondar-mandir dan terus berdo'a di depan pintu IGD dengan panik dan cemas.


Entah kenapa ia begitu mencemaskan orang yang paling ia benci. Bukankah seharusnya ia senang karena tak kan ada lagi yang menindas nya?


" Ma'af Nona saya harus kembali kerja, ini kunci mobil Tuan Regan, "


suara pelayan yang mengagetkan Bintang.


" Terimakasih atas bantuannya, ini terimalah untuk ongkosmu naik taxi, " ucap Bintang sambil memberi beberpa lembar uang seratus ribuan sebagai ucapan terimakasih.


" Terimakasih Nona, simpan saja uang Nona, saya ikhlas membantu, " ucap pelayan itu menunduk hormat dan berlalu pergi.


Bintang pun tersenyum dan membalas menunduk hormat.


Tiga puluh menit berlalu, Bintang yang sedari tadi masih mondar-mandir di depan pintu menghampiri dokter yang keluar dari ruangan itu,


" Ma'af Dok, bagaimana kondisi Tuan Regan?"


tanya Bintang cemas.


" Apa anda keluarga Tuan Regan? "


tanya dokter itu.


Astaga..


kenapa aku tak menghubungi Tuan Davit?


gumam Bintang dalam hati.


" Bukan Dok, saya sekertarisnya.Apa terjadi sesuatu pada Tuan Regan? "


tanya Bintang yang semakin cemas.


" Sekarang kondisi Tuan Regan sudah membaik, perawat akan segera memindahkannya ke ruang perawatan.Tolong segera hubungi keluarga Tuan Regan agar segera menemui saya, " ucap dokter itu menjelaskan dan berlalu meninggalkan Bintang.


" Syukurlah..


Baik Dok, " ucap Bintang bernafas lega.


Bintang pun mulai menghubungi Davit,


📞 Selamat Siang Tuan..


ucap Bintang dalam panggilannya.


📞 Emmmm...


jawab Davit singkat.


Manusia ini tak kalah menyebalkan!


gerutu Bintang yang tak sadar Davit sudah berada di belakangnya.


📞 Ma'af Tuan saya mengganggu, saya hanya ingin memberi tahu,sekarang Tuan Regan sedang di rawat di rumah sakit.


ucap Bintang menjelaskan.


📞 Kenapa kau tak mengabari aku sejak awal!"


ucap Davit penuh penekanan.


Kenapa suaranya begitu dekat?


Bintang pun menoleh dan betapa terkejutnya ia melihat Davit yang sudah berdiri di belakangnya dengan tatapan tajam.


" Tu.. Tuan Davit? "


dengan ekspresi terkejut.


******... sejak kapan dia disini?


apa dia tadi mendengar ucapanku ?


gumam Bintang dalam hati.


" Ma..Ma'af tadi saya begitu panik jadi tidak bisa berfikir jernih, Bagaimana Tuan bisa sampai disini ? "


imbuhnya lagi dengan gelagapan.


" Apa kau lupa siapaTuan Regan?


sekarang saja beritanya sudah tersebar di semua media, " ucap Davit yang berlalu menemui Regan di dalam ruangan petawatan.Davit datang dengan informasi yang ia dapat dari manager restaurant.


Benarkah?


apakah secepat itu?


se terkenal apa sih Dia?


gumam Bintang dalam hati.


Bintang pun menyusul Davit masuk keruangan di mana sekarang Regan di rawat.


Regan masih belum membuka matanya, ia masih terbaring lemas dengan selang infus yang melekat di tangannya.


Davit yang ada di dalam berdiri memperhatikan kondisi Tuanya yang terbaring lemas.


Selama kepergian Nona Tania kau mengacuhkan kesehatanmu Tuan.


kau seperti kehilangan semangat hidupmu.


gumam Davit dalam hati.


" Ma'af Tuan, dokter ingin keluarga Tuan Regan segera menemuinya, " suara Bintang yang mengagetkan Davit.


" Baiklah, kau Temani Tuan disini, "


ucap Davit mulai melangkah pergi.


" Baik Tuan, " jawab Bintang menunduk hormat.


Bintang pun duduk di dekat Regan, ia menatap lekat wajah Regan yang masih tampak pucat.


Kau tampak manis jika seperti ini, tak ada aura-aura iblis yang selama ini melekat di wajahmu.


memegang pipi regan sambil senyum-senyum sendiri.


Regan yang merasakan sentuhannya pun seketika mengenggam tangan Bintang yang membuat Bintang membulatkan matanya karena terkejut.


ucap Regan dengan lirikan matanya yang tajam.


" Ti... tidak Tuan, ma.. maksud saya..


emmm... ma'af kan saya Tuan, " ucap Bintang yang bingung untuk mencari alasan.


" Kau harus di hukum, " ucap Regan tanpa menoleh.


Mulai mencari akal untuk mengerjai Bintang.


" Tapi Tuan..


baiklah Tuan, saya memang pantas di hukum, " mulai pasrah.


" Bagus! kau mengakui kesalahanmu!


aku akan memikirkan hukuman yang pas untuk mu nanti, sekarang ambilkan aku minum, "


ucap Regan datar tanpa ekspresi.


Di saat sakit pun kau masih menindas ku!


gerutu Bintang kesal.


Walau dengan hati kesal Bintang tetap mengambilkan segelas air putih untuk Regan.


" Ini Tuan, " ucap Bintang yang menyodorkan segelas air putih pada Regan.


" Apa kau menyuruhku untuk minum sendiri?"


ucap Regan kesal yang menatap Bintang tajam.


Bukankah yang sakit itu dadamu?


tanganmu masih berfungsi dengan baik bukan?


gerutu Bintang kesal.


Akhirnya Bintang pun membantu Regan minum dengan memegang gelasnya.


setelah Regan selesai Bintang pun kembali menaruh gelas itu di meja.


" Tuan, bisakah Tuan melepas tangan saya, "


ucap Bintang yang mulai tak nyaman karena Regan masih mengenggam tangannya.


" Aku tidak akan melepas tangan orang yang sudah berani memegang wajahku!


bukankah kau tadi yang ingin terus mengenggam tanganku?"


ucap Regan dengan senyum menyeringai.


Bintang hanya tersipu malu,kini wajahnya pun mulai memerah seperti udang rebus.


Kenapa tadi aku harus memegang tangannya?


manusia super pede ini pasti besar kepala!


gumam Bintang dalam hati.


Regan yang melihat ekspresi Bintang pun tersenyum tipis.


" Bukankah kau tadi sangat mengkhawatirkan ku, bahkan kau sampai menangis. Apa kau begitu takut kehilanganku? "


ucap Regan dengan tingkat kepedean di atas rata-rata.


" Emmm....


itu... itu karena aku mudah terenyuh Tuan, aku sangat mudah menangis ketika melihat orang sakit, " ucap Bintang mencari alasan.


Tak mungkin aku mengatakan yang sejujurnya bisa-bisa tambah besar kepala tu orang.


gumam Bintang dalam hati.


Regan yang mendengar jawaban Bintang pun kesal,seketika ia pun melepas kasar tangan Bintang.


Bisa-bisanya aku berharap gadis bodoh ini mengkhawatirkan ku!


gumam Regan dalam hati.


Sedangkan Bintang hanya bengong melihat perubahan sikap Regan.


" Untuk masalah kemarin,lupakan! anggap saja itu tak pernah terjadi, " sikap Regan yang kembali dingin bicara tanpa menoleh dengan wajah datarnya tanpa ekspresi.


Bagaimana aku bisa melupakan itu!


kau kemarin mengambil ciuman pertamaku!


dan sekarang kau menyuruhku melupakannya!


dasar mesum! kau pasti sering melakukannya dengan wanita-wanita di luar sana.


ingin sekali memukul kepala Regan.


Regan yang sadar dengan gelagat Bintang pun menoleh,


" Apa!


kau ingin memukul ku! "


ucap Regan ketus.


" Tidak Tuan, mana mungkin saya berani melakukannya.


Tuan tenang saja! aku sudah melupakannya!"


ucap Bintang dengan menahan kekesalannya.


Dasar gadis murahan! mudah sekali kau melupakannya! kau pasti sudah sering melakukannya!


Gerutu Regan yang sebenarnya dirinya sendiri tak bisa melupakan dan berharap Bintang juga masih mengingat kejadian itu.


Kini mereka pun saling membuang muka, seperti anak kecil yang sedang bertengkar.


mereka sibuk dengan fikiran masing-masing.


Sedangkan David sudah berada di ruangan dokter yang menangani Regan.


" Tuan David, mari silahkan duduk, " ucap dokter itu ramah.


David dan Regan adalah donatur terbesar di rumah sakit itu sehingga semua petugas di rumah sakit itu sangat menghormati mereka berdua.


David pun duduk tepat di hadapan dokter,


" sebenarnya apa yang terjadi dengan Tuan Regan, " tanya David dengan sorot matanya yang tajam.


Dokter itupun mulai menjelaskan,


" Tuan Regan mengidap penyakit Gastro Esofageal Reflux Disease atau yang biasa di sebut GERD.GERD adalah penyakit yang di sebabkan karena kadar asam lambung yang terlalu tinggi dan yang di alami tuan Regan sekarang adalah gejala paling utama penyakit GERD,asam lambung yang naik keatas yang membuat dada tuan Regan terasa terbakar dan kesulitan untuk bernafas.Tuan Regan harus benar-benar istirahat dalam satu minggu ini,menjaga pola makan dan pola hidupnya itu akan membuatnya cepat pulih, "


Ucap dokter itu yang sedikit tegang karena David terus menatap nya tajam.


" Apa penyakit itu berbahaya? "


tanya David tetap dengan sorot matanya yang tajam.


" Tidak,tapi jika Tuan Regan mengabaikannya maka akan mengancam nyawanya, "


ucap dokter itu menjelaskan.


Tuan Regan sangat keras kepala, bagaimana jika dia mengabaikan penyakitnya?


gumam David dalam hati.


" Apa yang menyebabkan Tuan Regan bisa terjangkit GERD ?"


tanya David lagi.


" Penyebabnya sangat banyak, salah satunya bisa karena terlalu setres,pola makan yang tidak teratur, dan terlalu banyak mengkonsumsi minuman yang mengandung kafaein, " jelas dokter itu lagi.


David yang sudah mendengar semua penjelasan dokter pun beranjak dari kursinya dan berlalu pergi.


Sedangakan dokter yang berada di hadapannya pun mulai bernafas lega.


Syukurlah Tuan David cepat pergi!


bisa-bisa setelah ini aku yang akan masuk ruang jenasah karena gagal nafas.


gerutu dokter itu pelan.