
Setelah bi Inah membuka pintu utama kini Tania masuk dengan senyuman yang mengembang di pipinya.Dia yang duduk di kursi roda di dorong oleh seorang laki-laki yang sepertinya adalah sopir pribadinya.
" Siang bik, " sapa tania dengan ramah.
" Siang Nona. " Bi inah pun menjawab sembari sedikit menundukkan kepalanya.
" Bagaimana kabar bibik? " Tania sedikit basa-basi.
" Alhamdulillah, saya sehat non. " Bi inah hanya menjawab seperlunya saja.
" Oh ya ini bik, saya punya
sesuatu untuk bibik, di terima ya.Nanti makan bareng-bareng sama yang lain, " Tania memberikan bingkisan yang sepertinya berisikan kue pada bik inah.Ya sesungguhnya Tania adalah gadis yang memiliki kepribadian baik.
" Terimakasih non. " Bi inah pun menerima bingkisan dari tania, " mari non, silahkan masuk, " Kini bi inah menggiring Tania menuju ruang keluarga menemui semua orang yang sudah berkumpul di sana.
" Siang ma, siang pa,siang Rey, " sapa Tania.Dari dulu Tania memang sudah terbiasa memanggil kedua orang tua Regan dengan sebutan mama dan papa,semua itu juga karena keinginan dari mama Nita sendiri,beliau begitu bahagia saat Tania memanggilnya seperti itu. Tapi itu dulu kini panggilan itu membuat mama Nita merasa bersalah, beliau sangat tidak enak hati dengan anak mantunya.Mama Nita pun sekilas melirik Bintang yang duduk di samping Regan. Terlihat Bintang yang sedikit terkejut dengan panggilan Tania terhadap mertuanya, ternyata hubungan mereka dulu sangat dekat, ya tentu saja dulu kan Tania adalah calon mantu mertuanya? Pikiran bintang mulai keman-mana.
Dengan sedikit canggung mama Nita menghampiri Tania.
" Siang juga Tania, bagaimana kondisi mu,ayo mama bantu, " Mama Nita pun membantu mendorong kursi roda Tania agar lebih dekat dengan posisi duduk mereka.
" Terimakasih ma, kondisi Tania sudah sangat membaik,banyak sekali kemajuan setelah Tania bertemu kalian. "
" Wah, syukurlah. "
" Oh ya ma ini ada kue buatan mama, " ucap Tania sembari memeberikan bingkisan kue yang ia bawa pada mama Nita.
" Haduh sayang kenapa repot-repot, terimakasih ya, ucapkan salam mama nanti untuk mama mu. " Mama Nita pun menerimanya dengan senang hati, Tania pun tersenyum puas.
" Iya ma, " jawabnya manis," dan ini khusus untuk mu Rey,aku yang membuatnya sendiri,dulu kau paling suka dengan kue buatan ku," sambungnya sambil memberikan satu bingkisan kue pada Regan.
" Oh,ya terimkasih. " Regan menerimanya dengan ekpresi yang masih begitu dingin.Ia pun menaruh kue itu di atas meja begitu saja.
Tania yang melihat ekspresi Regan begitu kecewa, namun ia tetap berusaha tersenyum.
" Bagaimana kesehatan mu?Apa benar-benar sudah lebih baik? " tannya nya.
" Seperti yang kau lihat, sudah cukup baik. "
Jujur saja Regan begitu tidak nyaman dengan kedatangan Tania,sungguh dia tidak berharap Tania datang.Tania tau itu, kehadirannya memang tak di harapkan Regan, namun itu tidak menyurutkan niatnya untuk kembali mengambil apa yang dulu pernah menjadi miliknya.Dia akan berjuang. Tania kini melirik ke arah Bintang yang sedari tadi hanya diam dan menjadi penonton yang baik.
" Eh, ada sekretaris Bintang juga di sini, ma'af aku mengabaikan mu dan tidak menyapamu.Kau terlihat begitu bahagia,pasti itu karena kau sebentar lagi akan menjadi ibu bukan?Aura kebahagiaanmu begitu terpancar. "
" Ah,benarkah?nona memang benar, saya memang sangat bahagia. " Bintang menjawab dengan begitu tenang.
Kau sungguh gadis yang baik, pikir Tania dalam hati. Tapi ma'af aku tidak mau mengalah dan membiarkanmu terus memiliki Regan.
" Hei! Kau juga tidak menyapa ku! Apa kau tidak tau ada manusia tampan disini! " celetuk kevin yang tampak kesal karena Tania juga tak menyapanya bahkan menganggap nya tidak ada.
Tania pun terkekeh.
" Aku takut jika kau ku sapa kau akan lari, " jawabnya masih dengan tawanya yang manis.
" Bukannya sedari tadi kau meragukanku? " imbuhnya lagi.
" Hahaha.., kau benar. Sekarang aku yakin kau bukan hantu. " Kevin pun tertawa mendengar sindiran Tania.Hubungan Tania dengan Kevin cukup dekat, mereka berteman dekat.
" Kita ngobrol nya sambil makan, mama siapkan dulu kuenya di piring, " ucap mama Nita yt mulai meraih bingkisan itu di atas meja.
" Biar saya bantu nyonya, " Bintang secepat kilat mengambil bingkisan kue itu dari tangan mama Nita dan kini tersenyum manis di hadapan mama Nita yang diam membisu. Suasana tentu menjadi canggung, mama Nita tau betul bagaimana perasaan Bintang saat ini.Walaupun semua ini kemauan Bintang sendiri untuk menutupi setatusnya tapi mama Nita yakin pasti ada rasa sesak di dada Bintang. Mama Nita pun kini tersenyum tipis mengikuti permainan kedua anaknya.
" Terimakasih sayang, " ucapnya sembari merangkul bahu Bintang dan kini berjalan kedapur bersama.
Sementara Tuan Williams yang dari tadi duduk tampak memijat keningnya, suasana sudah tidak kondusif membuatnya tidak nyaman.
" Papa mau istirahat dulu, kalian berbincanglah, " ucapnya yang langsung beranjak dari kursinya.
" Papa kurang sehat? " Seketika Tania bertanya.
" Kondisi papa sudah tidak sebugar dulu, papa semakin tua,butuh banyak istirahat saja.Nanti salamkan salam papa untuk mama mu. "
" Ya pa. "
Tuan Williams pun berjalan menuju kamarnya,dalam fikirnya ia harus segera bicara dengan Regan.
Sementara Tania, ia tau tuan Williams hanya ingin menghindari situasi canggung ini, lalu yang ada di benaknya kali ini adalah Bintang,kenapa harus menutupi setatusnya?kenapa harus berpura-pura di hadapannya?Apa mungkin Bintang mengkhawatirkan kesehatannya?entahlah, Tania tak mau memikirkan nya, yang harus ia fikirkan adalah bagaimana mendapatkan hati Regan.
Sedangkan Kevin yang ada di sana membuang nafasnya kasar, suasana ini begitu tidak menyenangkan,melihat Regan diam dengan tatapan dinginnya begitu membuatnya bergidik ngeri,dia harus segera membuat rencana agar Tania pergi.
Sementara di sisi lain mama Nita sedang memandangi wajah menantunya yang manis sedang sibuk menata kue di atas piring.
" Sayang apapun alasanmu mama mendukungmu,tapi ma'af tidak ada alasan untuk mama membenci Tania.Jangan paksakan dirimu jika sudah tidak mampu,terkadang kita memang harus egois untuk menjaga sumber kebahagiaan kita. " ucapnya sambil mengelus bahu Bintang.
Bintang pun tersenyum, ia tau kekhawatiran ibu mertuanya itu.
" Mama tenang saja,Bintang mempunyai hati sekuat baja, jika tidak mana mungkin dulu Bintang bisa bertahan menjadi sekretaris manusia dingin itu,mama jangan khawatir Bintang dan Regan bisa mengatasi masalah ini. " Bintang berkata sembari meraup tangan ibu mertuanya itu.
" Baiklah mama percaya. " Senyuman tipis terlihat dari wajah mama Nita, beliau begitu lega mendengar penuturan menantunya itu.
" Ya sudah ayo kita bawa kedepan, " ajaknya sembari membawa dua piring kue.
Bintang dan mama Nita pun kini berjalan beriringan menuju ruang keluarga.
" Hmmmm, harum sekali bi, " ucap Kevin sambil mengendus kue yang di bawa mama Nita.
" Tentu saja,tante Nia sangat pintar membuat kue. " Mama Nita berkata sambil menaruh kue itu diatas piring.
Kevin pun mulai menikmati kue itu,begitu juga dengan mama Nita.Di sana hanya Kevin lah yang tampak begitu lahap dan sangat menikmati kue pemberian Tania, sedangkan mama Nita makan hanya karena menghargai Tania, sesekali beliau memperhatikan menantu kesayangannya yang kini duduk di sebelah Regan.
" Hai boy! Don't you want? This is so delicious,(Hai nak, apa kamu tidak mau? Ini sangat enak)," ucap Kevin pada cello yang sedari tadi terus menempel pada Bintang.
" No dad,i'm not interested! " ( tidak ayah,aku tidak tertarik! )
"Pfffft..., "Bintang pun tertawa dalam hati, ia tak Bisa menahan kejulitan anak itu.Mulutnya begitu tajam.
" Dia benar-benar keponakan ku! " bisiknya pada Kevin dengan penuh kebanggaan.
" Cih! Dia seperti itu karena mewarisi mulutmu yang pedas! " gerutu Kevin kesal.Seakan tidak ikhlas anaknya. menuruni sikap Regan.
Sementara Tania tampak begitu kesal dengan sikap Cello.
" Dasar bocah nakal! " gumamnya.
Suasanapun kembali canggung, Regan memilih diam seribu bahasa sedangkan Bintang duduk dengan begitu tenang, mereka tidak ada yang memakan kue pemberian Tania dengan alasan yang sama.KENYANG.
" Tania, bagaimana kalau kita pergi ke taman belakang, aku akan membawamu, " ucap Kevin yang memecah keheningan.
" Oh tapi, aku_ "
" Sudah, orang yang kau jenguk sudah sangat sehat, jangan kau terlalu pedulikan dia, kau berhutang banyak penjelasan padaku, ayo kita cari udara segar di luar, di sini udaranya begitu buruk, " potong Kevin yang langsung memutar kursi roda Tania.Tania pun terperanjat.
" Eh, ta..tapi_, "
" Sudah ayo! " Kevin pun mendorong kursi roda Tania tanpa menunggu persetujuan Tania, ia pun kini menoleh kebelakang sambil mengerlingkan sebelah matanya pada Regan.
Regan pun tersenyum puas.
" Sayang sepertinya Kevin sengaja menjauhkan Tania dari kita, " ucap Bintang yang belum melepaskan pandangannya pada Tania dan Kevin.
" Ya memang, dia tau apa yang harus dia lakukan, " bisiknya ke telinga Bintang sembari meniup lembut benda sensitif itu hingga membuat tubuh Bintang seketika meremang.
" Sayang kamu apaan sih! " gerutu Bintang kesal.
" Ayo kita lanjutkan yang tadi, " bisiknya lagi yang membuat tubuh Bintang semakin meremang karena merasakan deru nafas Regan yang seketika membuat tubuhnya memanas.
" Yang tadi apa? " Bintang pun pura-pura pilon, jelas dia tau apa yang di maksud suami mesumnya itu.
" Ehem! " suara batuk mama Nita yang mengagetkan Bintang. Bisa-bisanya dia lupa masih ada ibu mertuanya di sana.
" Ya! Anggap saja mama ini angin, meja, kursi atau pajangan! Pergi kalian jangan mengotori pikiran mama! " ucap mama nita yang pura-pura kesal.Tanpa sepengetahuan Bintang mama Nita pun mengerlingkan sebelah matanya pada Regan, seakan memberikan lampu hijau untuk putranya menjalankan aksinya.
" Ah mama pengertian sekali, tanks Mom, " gumam Regan sembari memberikan satu acungan jempol pada mama Nita.Tentunya tanpa sepengetahuan Bintang.
Sementara Bintang masih merasa bersalah, dia benar-benar percaya jika mama Nita marah.
" Ma, ma'afin Bintang. Bintang tidak bermaksud tidak sopan, Bin_"
" Sudah sayang, ayo! Mama menyuruh kita pergi, " Regan pun langsung memotong ucapan Bintang dan kini merangkulnya untuk meninggalkan ruang keluarga.
" Ta, tapi sayang, mama_"
" Sudah, mama akan baik-baik saja nanti. " Regan terus mendorong tubuh Bintang menuju kamar mereka.
Sementara Cello yang kalah kuat dengan daddy keduanya itu sangat kesal, dari tadi Regan terus menghalangi Cello agar tidak lagi menempel pada Bintang.Ia pun kesal dan berteriak sangat keras.
" Daddy jangan ambil kakak cantikku! "
Regan pun menoleh dengan senyum kemenangan.
" Dia milikku," Regan pun menjulurkan lidahnya mengejek.
" Daddy! " teriak Cello tidak terima.
" Sudah sayang, bantu oma kasih makan ikan yuk, " bujuk mama Nita.
" Oma punya ikan? " Seketika perhatian Cello taleralihkan.
" Iya, ada banyak sekali di kolam, warna warni lagi. "
" Benarkah? " Mata Cello begitu berbinar seakan menemukan mainan baru,perhatianya sudah benar-benar teralihkan.
" Cello boleh menagkpnya ya Oma, " pintanya manja.
" Tentu saja! "
" Lest go! Oma " Bocah itu dengan penuh semangat menggandeng tangan mama Nita.
" Pffffttt...,mudah sekali mengalihkan perhatian anak kecil ini," pikir mama Nita.
Sementara di sisi lain Regan yang sudah membawa Bintang ke kamar langsung menarik tubuh istrinya ke pelukannya, menutup pintu dan tak lupa menekan kunci nya.
" Sayang kamu sudah seperti harimau kelaparan tau gak sih! " Protes Bintang karena Regan begitu bersemangat seperti harimau yang ingin cepat-cepat memangsa buruannya.
" Aku benar-benar kelaparan sayang,beberapa hari aku tidak mendapatkan makanan ku, " bisiknya sembari mencium telinga belakang Bintang, area sensitif wanita yang bisa membuat tubuh seketika meremang.
" Sayang jangan sekarang, mama_"
" Emmmmmh, " tiba-tiba Regan mencium bibir Bintang agar berhenti membahas mamanya.
" Sayang, " ucap Bintang saat Regan melepas ciumannya, ia berusaha untuk menghentikan aksi suaminya itu, rasa bersalah nya terhadap ibu mertuanya masih sangat mendominasi.
" Kita ke_" Lagi-lagi Regan tak membiarkan istrinya bicara, ia kembali menghentikan bibir ranum itu untuk bicara dengan ciuman lembutnya, begitu lembut hingga membuat Bintang hanyut dalam permainan suaminya itu.Bintang pun mulai mengalungkan tangannya ke leher Regan, ciuman yang tadinya begitu lembut kini semakin panas, terdengar suara saling hisap mulai mendominasi, lidah pun mulai memainkan perannya dengan saling belit.Dengan perlahan ciuman Regan berpindah tempat, kini ciumannya turun menyusuri leher jenjang, putih dan mulus milik istrinya, meninggalkan jejak-jejak kecil di sana hingga membuat Bintang melenguh,suara yang begitu merdu di telinga Regan yang semakin membangkitkan gairah harimau kecil di bawah sana untuk segera melahap mangsanya.
Regan pun kini menggendong tubuh Bintang, dengan perlahan menaruhnya diatas ranjang,kini ia kembali mencium bibir ranum itu, seakan tak rela untuk meninggalkannya barang sejenak. Tangan terampilnya perlahan bekerja, membuka satu persatu kancing baju Bintang dan secepat kilat melucuti semua kain yang menempel hingga tubuh putih mulus istrinya itu sudah terpampang jelas.Reganpun terus memberikan rangasangan hingga membuat yang di bawah sana semakin basah dan siap untuk di jelajahi.
" Sayang, aku akan memulainya, jika aku membuat baby kita tidak nyaman katakanlah, aku akan berhenti saat itu juga, " bisiknya lembut di telinga Bintang.
Bintang pun mengangguk dengan malu, jujur saja dia juga sangat merindukan sentuhan suaminya, aktivitas panas yang di ciptakan suaminya sepertinya sudah membuatnya begitu candu.
Othor: Jeck akhirnya kamu buka puasa, selamat 🤩🤩🥳🥳🥳🥳🥳🥳
Jeck : Terimakasih othorku tercantik, terimut, terbaik,tersolehah, aku padamu 😘😘😘😘
Othor : 🤮🤮
tolong ma'afkan othor yang banyak dosa ini🙏🙏🙏
yang menghilang tanpa kabar dan kembali seenak jidat✌