
Davit mulai keluar dari ruangannya , ia mulai mencari sepatu Bintang yang ia buang di tempat sampah yang berada di depan ruangannya.
Kenapa tempat sampah ini kosong?
gumam Davit yang tidak melihat apapun disitu.
Akhirnya Davit pun mencari di sekeliling tempat sampah itu, ia mulai mengedarkan pandangannya ke semua arah namun tak ia temukan.
Livia yang melihat Davit pun mulai menghampiri.
" Permisi Tuan, apa Tuan sedang mencari sesuatu? "
tanya Livia yang bingung melihat Davit dari tadi mondar-mandir di sekitar tempat sampah.
" Kau tau kenapa tempat sampah ini kosong?"
tanya Davit menatap Livia.
Haduh Tuan... kenapa hal seperti itu kau tanyakan?
gumam Livia yang tak habis fikir.
" Tadi saya melihat cleaning servis mengangkutnya Tuan, "
jawab Livia dengan sopan.
" Baiklah, kau suruh cleaning servis itu menghadap keruangan ku, "
ucap Davit yang mulai meninggalkan Livia.
" Baik Tuan, "
ucap Livia dengan wajah kesalnya.
Kenapa Bos dan asisten bisa memiliki sifat yang sama?
gumam Livia yang berjalan ke ruangannya.
Saat tiba di mejanya,Livia mulai menghubungi kepala cleaning servis untuk menyuruh bawahannya yang tadi mengangkut sampah untuk menghadap Davit.
Tak butuh waktu lama untuk Davit menunggu, sekarang cleaning servis itupun sudah berdiri tepat di hadapan Davit.
" Permisi Tuan, saya kesini untuk menghadap Tuan, "
ucap cleaning servis itu menunduk hormat.
" Terimakasih kau tak membuatku menunggu lama, apa benar kau yang mengangkut sampah di depan? "
Tanya Davit yang duduk di kursi kebesarannya.
" Iya Tuan, "
jawab cleaning servis itu pelan.
" Apa kau tadi melihat sepasang sepatu wanita di sana? "
Tanya Davit dengan sorot matanya yang tajam.
" Iya Tuan saya melihatnya, "
ucap cleaning servis itu yang mulai takut.
" Apa kau membuangnya? "
tanya Davit lagi.
" Tidak Tuan, saya menyimpannya, "
Jawab cleaning servis itu dengan suara pelan.
" Itu milikku! apa aku bisa memintanya kembali? "
ucap Davit tetap dengan sorot matanya yang tajam.
" Tentu Tuan, Ma'af atas kelancangan saya yang sudah berani mengambilnya, "
ucap cleaning servis dengan tubuh yang mulai gemetar.
" Hmmmm...
cepat kau ambil dan antar kesini, "
ucap Davit dengan datar.
" Baik Tuan, "
ucap cleaning servis itu yang langsung bergegas mengambil sepatu Bintang.
Cleaning servis itu berlari sekencang mungkin ke lantai paling bawah untuk mengambil sepatu yang di minta Davit dan kembali lagi ke ruangan Davit dengan berlari sekencang mungkin.
" Permisi Tuan, ini sepatu milik Tuan, "
ucap cleaning servis itu dengan nafas ngos-ngosan.
Davit pun hanya memandang kearah cleaning servis itu dan ia mulai melihat jam tangannya,
" Apa kau berlari untuk sampai disini !"
ucap Davit heran kenapa cleaning servis itu bisa kembali ke ruangannya secepat itu.
" Iya Tuan, saya berusaha agar Tuan tidak menunggu lama, "
ucap cleaning servis itu sambil mengatur nafasnya,ia sangat takut jika Davit marah.
" Taruh sepatu itu disana dan kau kembalilah bekerja, "
ucap Davit sambil menunjuk sudut ruangannya.
" Baik Tuan, " ucap cleaning servis itu yang bergegas keluar.
Syukurlah Tuan Davit tak marah... jika Tuan marah bisa rubuh bangunan ini.
gumam cleaning servis itu yang sudah berada di luar.
Davit memiliki sifat yang hampir sama dengan Regan, hanya saja ia masih bisa berperilaku ramah dan menghargai orang lain yang berbanding terbalik dengan sifat Regan, namun di saat Davit benar-benar marah ia bisa lebih kejam dari pada Regan.
Sedangkan di tempat lain Regan dan Bintang sudah sampai di rumah sakit yang mereka tuju.
Pak Jang pun membukakan pintu untuk Regan, sedangkan Bintang mulai membuka pintu mobil sendiri dan turun dengan perlahan karena kakinya yang sakit.
Regan yang lebih dulu keluar pun sudah berdiri di depan Bintang dengan memasukan kedua tangannya kedalam saku celana.
Regan membiarkan Bintang berjalan lebih dulu, dan ia memilih berjalan mengekori Bintang.
" Apa kau tidak bisa berjalan lebih cepat !"
ucap Regan yang tak sabar harus menunggu Bintang berjalan.
" Apa Tuan lupa jika kakiku sedang terkilir !"
Bentak Bintang tanpa menoleh, kini ia sudah tak bisa lagi menahan kekesalannya.
Regan yang mendengarnya pun langsung menggendong Bintang dengan raut wajahnya yang kesal,ia menggendong Bintang dengan terus berjalan memasuki rumah sakit.
" Beraninya kau membentak ku! "
ucap Regan yang tetap fokus melihat depan.
Bintang yang tak menyangka jika Regan akan menggendongnya pun membulatkan matanya sempurna.
" Ma'af kan saya Tuan, "
ucap Bintang dengan pelan.
Kau bodoh sekali Bintang...
kenapa kau berani sekali membentak nya...
gumam Bintang yang mulai menyesali perkataannya.
Regan hanya diam tak menjawab ucapan Bintang,ia masih fokus berjalan dengan raut wajah yang masih kesal.Regan pun tak menghiraukan semua mata yang kini memandangnya.
Kini Regan langsung memasuki IGD,ia membaringkan Bintang di salah satu bed yang ada.
" Cepat periksa kaki gadis ini! "
ucap Regan pada salah satu dokter yang sedang bertugas.
" Baik Tuan, "
ucap Dokter itu dengan ramah.
Dokter pun menghampiri Bintang dan langsung memeriksa kaki Bintang.
" Apa terjadi sesuatu dengan kakinya dok? "
" Tuan tidak perlu khawatir, istri Tuan hanya terkilir, saya akan menyuruh perawat untuk memberikan perban elastis pada kakinya yang terkilir, "
ucap dokter itu yang berfikir bahwa Bintang adalah istrinya.
Regan yang mendengar ucapan dokter pun menatap Bintang, begitu pula dengan Bintang,tatapan mereka bertemu seperkian detik karena Bintang yang buru-buru membuang muka.
Cih..!!
amit-amit jadi istrinya, baru jadi sekertaris saja kakiku hampir patah! apa lagi jadi istri? bisa remuk tulangku karenanya.
gerutu Bintang dalam hati.
Regan pun seketika merubah sikapnya yang tadinya begitu khawatir menjadi begitu dingin.
" Lakukan yang terbaik untuknya, "
ucap Regan datar.
" Itu sudah tugas kami Tuan, "
ucap dokter itu yang mulai meninggalkan Regan.
Kini datang seorang perawat laki-laki yang menghampiri Bintang, ia sudah membawa semua peralatannya untuk memasang perban elastis pada kaki Bintang.
Sedangkan Regan masih menemani Bintang,ia berdiri tak jauh dari Bintang.
" Permisi Nona, saya akan memasang perban ke kaki nona, " ucap perawat itu yang meminta izin sebelum memegang kaki Bintang.
Bintang hanya menjawab dengan anggukan kepala.
Perawat itupun melakukan tugasnya,Bintang yang terus mengeluh sakit saat kakinya mulai di perban membuat Regan naik darah.
" Hei! kau bisa melakukannya atau tidak! "
ucap Regan membentak perawat itu.
" Saya sudah melakukanya sesuai prosedur Tuan, ini memang akan terasa sedikit sakit, Nona harus bisa sedikit menahannya, "
ucap perawat itu dengan sopan.
" Lakukanlah dengan Hati-hati !"
ucap Regan dengan tatapan mautnya.
Perawat itu hanya tersenyum tipis, ia pun mulai melakukan dengan sangat pelan dan Hati-hati,namun itu masih saja salah di mata Regan.
" Kapan selesainya jika kau melakukannya sepelan itu! apa kau sengaja ingin memegang kaki istriku lama-lama! "
ucap Regan yang tak sadar ia telah mengucapkan kata istriku di hadapan Bintang.
Seketika Bintang pun menatap ke arah Regan, ia tak mengerti kenapa Regan bisa mengucapkan kata-kata itu.
" Ma'af Tuan, tadi Tuan menyuruh saya untuk Hati-hati,saya hanya melakukan seperti yang Tuan inginkan, "
ucap perawat itu yang menahan kekesalannya.
" Sudahlah! kau pergi sana! panggil perawat perempuan untuk menggantikan mu! "
ucap Regan dengan kesalnya.
" Tuan Biarkan perawat ini menyelesaikan tugasnya, "
ucap Bintang yang tak enak hati.
" Jadi kau suka jika dia terus memegang kakimu! "
ucap Regan tanpa menoleh.
" Ma'af Tuan, tidak, "
ucap Bintang yang kini serba salah.
Akhirnya perawat laki-laki itupun memanggil salah satu perawat perempuan untuk menggantikannya.
Regan yang melihatnya pun menjadi sedikit lebih tenang.
"Kau jangan kepedean karena tadi ku bilang kau istriku,kau sama sekali bukan tipeku!aku hanya terbawa oleh kata-kata dokter tadi! "
ucap Regan yang mulai sadar dengan kata-katanya tadi.
Wahai raja iblis...
siapa juga yang mau jadi istrimu?
mengenalmu saja sudah menjadi takdir terburuk ku..
gerutu Bintang dalam hati.
" Saya tidak berani berfikir sejauh itu Tuan, "
ucap Bintang menahan kekesalannya.
Perawat itupun selesai memasang perban pada kaki Bintang.ia pun mulai membereskan semua peralatannya.
" Permisi Tuan, saya sudah selesai.Silahkan Tuan bantu istri Tuan untuk turun dan segera temui dokter untuk mengambil resep yang harus di tebus, "
ucap perawat itu ramah.
Regan hanya menjawab dengan anggukan,ia mulai menatap Bintang,begitu juga dengan Bintang.Reganpun mulai membantu Bintang untuk turun dari bed.
" Kau jangan anggap aku peduli padamu,ini hanya bentuk tanggung jawabku karena sudah membuat kakimu terkilir, "
ucap Regan datar tanpa ekspresi.
Bintang hanya diam tak menjawab.
Sudah ku duga! mana bisa iblis sepertimu peduli dengan orang lain.
gumam Bintang dalam hati.
" Kau tunggu disini aku akan mengambilkan kursi roda untukmu, "
ucap Regan yang bergegas mengambil kursi roda.
Bintang pun hanya mengikuti setiap ucapan Regan.
tak lama Regan kembali dengan kursi roda, ia mulai membantu Bintang untuk duduk.
Aishh...!
aku nampak seperti orang yang sedang sakit parah..
aku hanya terkilir Tuan... kenapa kau harus memperlakukan ku seperti ini...
gerutu Bintang yang tak suka dengan sikap Regan yang di anggapnya berlebihan.
Regan mulai menghubungi Davit untuk mengurus semua termasuk menemui dokter untuk mengambil resep.
Kini Regan berjalan sambil mendorong kursi roda yang di duduki Bintang menuju mobil miliknya.Bintang hanya pasrah dengan wajah masamnya.Setelah sampai Reganpun pun membantu Bintang untuk masuk dalam mobil.
Pak jang yang melihat raut wajah Bintang pun tersenyum tipis, ia tahu bahwa Bintang sedang menahan kekesalannya karena sikap Regan yang berlebihan.
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
Jangan lupa dukung novel ini ya😁
beri Vote, Like, dan saran kalian ...
dan jangan lupa klik favorit😉
Terimakasih buat yang udah dukung dan setia ngikutin novel aku selama ini😇
Happy Reading😊