My Big Boss

My Big Boss
Warung bakso



Sedangkan di dalam ruang kerja,Regan dan Bintang mulai sibuk dengan pekerjaan masing-masing, tidak ada percakapan apapun disana,Regan yang tetap fokus pada laptopnya dan Bintang yang fokus merekap laporan dari beberapa devisi,pekerjaan yang menumpuk membuat mereka tak sadar bahwa langit sudah berwarna jingga tanda masuknya sore hari.


Thiing...


Suara ponsel Bintang yang mampu memecahkan keheningan yang ada.


Bintang yang duduk di kursi sofa, sedikit jauh dari meja kerja Reganpun segera membuka ponselnya,ternyata ada pesan masuk dari Rafa yang menagih janji Bintang tempo lalu yang akan mentraktirnya makan.


Bintang tersenyum sendiri saat membacanya,membuat Regan yang memperhatikan Bintang menjadi kesal sendiri karena Bintang terus saja tersenyum setelah membuka ponselnya.


Siapa sebenarnya yang menghubunginya?


Kenapa bacanya sambil senyum-senyum gitu!?


gumam Regan penasaran.


Tak terasa Pukul sudah menunjukkan jam empat sore, Bintang yang telah menyelesaikan pekerjaannya pun berencana meminta izin pada Regan.


" Tuan, pekerjaan saya sudah selesai, apa saya boleh izin keluar sebentar? " tanya Bintang yang menghampiri Regan.


" Berapa lama? " tanya balik Regan tanpa menoleh.


" Emmm... ti...ga jam? jawab Bintang Ragu.


" Terlalu lama! " ucap Regan datar tetap fokus pada laptopnya.


" Dua jam lima puluh lima menit, " ucapnya sambil tersenyum garing.


Mendengar jawaban Bintang pun Regan menatap tajam kearahnya.


" Tiga puluh menit, tidak lebih! " ucapnya ketus.


Seketika Bintang membulatkan mata dan membuka mulut lebar-lebar karena mendengar jawaban Regan.


" Yang benar saja Tuan, saya berjalan dari sini sampai depan gerbang aja butuh waktu lima belas menit,terus dengan sisa waktu lima belas menit saya bisa keluar kemana? " protes Bintang.


" Ya kau bisa dua kali bolak balik sini sampai gerbang, yang penting kau sudah keluar kan? " jawab Regan seenaknya.


Bintang pun mengerucutkan bibirnya, menyilangkan tangan di dada dan memutar tubuhnya membelakangi Regan.


" Apa sekarang kau sedang marah padaku?


Kenapa kau sekarang jadi berani menentangku! " ucap Regan kesal.


" Ya sudah, satu jam tidak lebih, " ucapnya lagi dengan ketus.


Seketika Bintang pun memutar kembali badanya,menghadap Regan dengan senyum yang mengembang di pipinya.


" Terimakasih Tuan, saya janji akan segera kembali, " mulai membereskan meja dan segera keluar dari ruangan Regan.


Ssiiit...!


Kau sekarang berhasil membuatku takut padamu!


Kenapa sekarang jadi aku yang takut kau marah padaku!


gerutu Regan pelan saat Bintang sudah keluar dari ruangannya.


Bintang pun mulai menghubungi Rafa untuk menjemputnya.


Tak lama kini mobil Rafa sudah berada tepat di depan gerbang rumah Regan.


Bintang yang sudah menunggunya pun segera masuk mobil.


" Ini rumah siapa Bi? kenapa kau menyuruhku menjemputmu di sini? " tanya Rafa bingung.


" Cepatlah jalan, waktuku tidak banyak.


Nanti aku jelaskan, " ucap Bintang ketus.


Rafa pun segera melajukan mobil sportnya.


Diperjalanan Rafa kembali meminta jawaban atas pertanyaannya tadi.


" Kau belum menjawab pertanyaan ku Bi? " ucap Rafa yang fokus mengemudi.


" Itu rumah bosku Fa, " jawab Bintang singkat.


Seketika Rafa pun menghentikan mobilnya,


menatap Bintang penuh tanda tanya,


" Kau bukan...., " tak melanjutkan ucapannya karena Bintang sudah memukul kepalanya lebih dulu.


" Kenapa kau masih saja suka memukul ku! " ucap Rafa sambil memegang kepalanya yang sedikit sakit.


" Apa kau masih mau melanjutkan ucapanmu? " tanya Bintang dengan tatapan tajamnya, Bintang mengerti apa yang akan di ucapkan sahabatnya itu.


" Tidak.. tidak, " ucap Rafa mulai melajukan mobilnya.


" Kau beberapa hari ini lolos dari pantauan ku, aku hanya takut kau termakan bujuk rayu bos Tuamu itu, " ucap Rafa lagi yang mengira bos Bintang adalah laki-laki tua ganjen.


" Kau mengenalku sudah lama, kenapa


kau berfikiran seperti itu? " ucap Bintang yang menjewer telinga Rafa.


" Awww..!! sakit Bi! Siapa tau kau kena pelet? bisa juga kan seperti itu? " ucap Rafa sambil melepas tangan Bintang dari telinganya.


" Untuk apa Bosku memeletku! asal kau tahu, ia punya ribuan wanita yang sedang mengantri jadi istrinya! aku tidak ada apa-apanya di banding wanita-wanita itu! " ucap Bintang kesal.


" Benarkah? jadi bosmu masih single. Setampan apa dia hingga banyak wanita ingin menjadi istrinya? " tanya Rafa penasaran.


" Yang jelas lebih tampan darimu!


hahahahhaha..., " jawab Bintang tertawa lepas.


" Sialan kau! " dengus Rafa kesal.


Kini wajah Rafa berubah menjadi sendu, karena mendengar jawaban Bintang tadi membuatnya menjadi resah, bagaimanapun ia takut jika Bintang tertarik dengan bosnya itu.


Bintang yang melihat perubahan wajah Rafa pun menjadi tak enak hati.


" Kenapa wajahmu jadi sendu gini?


tenanglah kau tetap jadi mas gantengku(lelaki tampan ku) , " ucap Bintang menatap ke arah Rafa sambil tersenyum garing.


" Jangan memasang wajah seperti itu! lihatlah bibirmu sudah seperti bibir Bebek, " ledek Rafa pada Bintang.


" Sialan kau, " ingin memukul Rafa tapi ia urungkan karena melihat warung bakso pinggir jalan.


" Berhenti Fa! " ucap Bintang hingga membuat Rafa mengerem mendadak.


" Kenapa kau mengerem mendadak! " gerutu Bintang kesal karena hampir saja wajahnya kepentok bagian depan mobil.


" Itu karena salahmu! kenapa kau mendadak menyuruhku berhenti! " ucap Rafa tak mau kalah.


" Cepat parkir mobilmu! ", ucap Bintang bergegas keluar dari mobil Rafa.


Rafa memasang wajah datar penuh tanda tanya,ia hanya menuruti perintah Bintang tanpa mengerti maksud sahabatnya itu.


Bintang sudah duduk di salah satu meja yang ada di warung itu sambil menunggu Rafa yang mulai berjalan kearahnya.


" Bang, bakso dua porsi plus es teh nya dua ya, " ucap Bintang pada pelayan warung.


" Baik mbk, " jawab pelayan itu yang mulai meracik bakso pesanan Bintang.


" Jadi kau mentraktir ku makan disini?


Seorang sekretaris bos besar hanya mentraktir ku makan bakso? kau pelit sekali! " ucap Rafa pura-pura kesal,padahal sejujurnya dimanapun Bintang akan mentraktirnya itu bukan masalah untuknya karena yang terpenting ia bisa bersama Bintang.


" Kalau enggak mau ya sudah! kita pulang aja!" ucap Bintang kesal.Bintang sengaja memilih warung bakso itu karena tempatnya yang tak jauh dari rumah regan.


" Tentu saja aku mau! " jawab Rafa yang bergegas duduk di bangku,tepat di depan Bintang.


Tak lama pesanan mereka datang, mereka berdua pun menikmati semangkuk Bakso yang ada di hadapannya.


Terdengar di telinga Bintang suara pengunjung lain yang sedang mengagumi ketampanan Rafa.


" Lihatlah, pria tampan di sana, wajahnya mirip banget sama Jin member BTS, sayang banget sudah punya kekasih, " suara berbisik dari salah satu pengunjung warung itu.


" Kau benar, kenapa wajahnya bisa mirip sekali?ingin sekali aku foto bersamanya, " ucap pengunjung lain yang ikut menimpali.


Sekarang semua mata yang ada di warung itu sedang memperhatikan Bintang dan Rafa.


Bintang yang mendengarnya pun mulai menggoda Rafa.


" Hai Mas ganteng(laki-laki tampan) , lihat tuh, semua orang sedang memperhatikanmu! mereka terpana dengan ketampanan mu! " ucap Bintang berbisik sambil terus tersenyum.


Rafa hanya diam tak menghiraukan ucapan Bintang, ia memilih tetap menikmati semangkuk baksonya.


" Aish... kau bahkan tak menghiraukan ku!" menendang kaki Rafa yang membuat Rafa tersedak karena terkejut.


Rafa pun segera meminum segelas es tehnya yang membuat Bintang tertawa lepas melihat nya.


" Bintang..? " Suara Livia yang menghentikan tawa Bintang.


" Kalian ? " ucap Bintang beranjak dari kursinya karena terkejut melihat Livia, rita dan Doni yang sekarang berada di hadapannya.


" Iya, kami baru saja pulang kantor,kenapa wajahmu terkejut seperti itu? " tanya Livia yang mulai menarik kursi dan duduk di sebelah Rafa.Livia melempar senyum kepada Rafa, Rafa pun membalas tersenyum ramah.


" Aku hanya terlalu merindukan kalian, " ucap Bintang tersenyum garing.


" Kau terlalu dramatis, " ucap doni yang kemudian duduk di dekat Livia.


Saat Bintang akan duduk kembali di kursinya ternyata sudah ada Rita yang sedari tadi menatap Rafa tanpa berkedip.Bintang pun memilih duduk di sebelah Doni.


" Bang Jin BTS, " ucap Rita yang terus menatap Rafa sambil senyum-senyum sendiri.


Sedangkan Livia dan Bintang yang melihat kelakuan temanya itu hanya geleng-geleng kepala.


" Awas, netes tu iler! " celetuk Doni yang kesal melihat sikap Rita.


Rita yang mendengarnya pun langsung melempar sendok ke arah Doni membuat Bintang dan Livia tertawa lepas melihat kelakuan kedua temannya.


Livia mulai memesan tiga bakso dan tiga es teh untuk dirinya dan tentunya dua teman yang datang bersamanya tadi.


Sedangkan Bintang mulai mengenalkan Rafa pada teman-teman sekantornya itu, mereka mulai bercanda gurau bersama.


Rafa yang begitu humbl dan mudah bergaul membuatnya cepat akrab dengan ketiga teman Bintang.Livia yang keasikan bercanda sampai lupa tujuan utamanya saat bertemu Bintang.


" Eh ya Bi, kau kemana saja dua hari ini?


awalnya selepas makan kita berencana kerumahmu," ucap Livia yang mulai menikmati semangkuk bakso yang ia pesan tadi.


" Aku ada tugas yang harus aku selesaikan, kalian tak perlu menghawatirkan ku, " Bintang sengaja tak menceritakan kejadian sebenarnya karena nantinya pasti akan jadi trending topik di kantor, karena kedua temannya ini bar-bar banget mulutnya.


" Apa tugas dari Tuan Regan? "tanya Livia yang masih penasaran.


" Ya, siapa lagi", ucap Bintang santai.


" Pasti Tuan Regan memberikan mu banyak pekerjaan, benar kan? " sahut Rita yang tak mengalihkan pandangannya dari wajah tampan Rafa.


Bintang hanya menjawab dengan anggukan kepala.


" Kau masih punya hutang cerita padaku Bi,sekarang kau ceritakan semua padaku tentang semua pertanyaan ku kemarin-kemarin, " sahut Livia yang memang Bintang belum pernah bercerita apapun.


Bukanya bercerita, Bintang malah melihat jam pada ponselnya, ia sudah melewati batas waktu yang di berikan Regan karena ke asikan bersama teman-teman nya.


" Gawat, " ucap Bintang pelan.


Bintang bergegas pergi sambil menarik tangan Rafa, ia meninggalkan sejumlah uang di meja untuk membayar semua pesanan tadi.


" Aku duluan ya..., " teriak Bintang yang terus menarik tangan Rafa menuju mobilnya.


" Kau akan membawa kemana pangeran ku!" teriak Rita kesal karena dari tadi ia hanya sibuk melihat wajah tampan Rafa yang sekarang di bawa pergi Bintang.


Sedangkan Livia membuang nafasnya kasar, ia harus kembali menyimpan rasa penasarannya.


Bintang yang sudah berada di mobil Rafa pun menyuruh Rafa untuk melajukan mobilnya dengan cepat, membuat banyak pertanyaan tumbuh di otak Rafa.


" Antar aku ke alamat tadi ya Fa, " ucap Bintang yang fokus pada ponselnya.


"Sebenarnya ada apa sih Bi, " tanya Rafa yang bingung dengan sikap bintang.


Bintang yang panik sama sekali tak mendengar pertanyaan Rafa, ia menggigit kuku tangannya sendiri dan sesekali melihat ponselnya, dalam benaknya ia ingin menghubungi Regan tapi di sisi lain ia merasa takut untuk menghubungi Regan,ia pun memilih memasukan ponselnya kedalam tas, yang jelas sekarang fikiran Bintang menjadi kacau,tidak bisa berfikir jernih, itulah kelemahan Bintang selama ini.


Sedangkan Rafa yang melihat Bintang hanya membuang nafasnya kasar, banyak pertanyaan yang ingin ia tanyakan pada Bintang tapi percuma saja karena di saat panik Bintang tak akan meresponnya. Rafa pun hanya fokus mengemudi dan mengantar Bintang kembali ke rumah Regan, jujur Rafa pun masih penasaran kenapa Bintang harus berada di rumah bosnya itu.