My Big Boss

My Big Boss
pertemuan yang mengejutkan



Davit yang mendengar penjelasan Bintang pun langsung melihat ke arah laki-laki disamping Bintang dengan penuh tanda tanya.


" Hei! kenapa kau diam saja cepat jelaskan! "


ucap Bintang pelan dengan memukul perut laki-laki disampingnya menggunakan siku.


" Awww.. beraninya kau!"


ringis laki-laki itu memegangi perutnya.


Davit yang melihat sikap Bintang pun tak percaya.


Kenapa gadis ini berani sekali?


oh Tuhaan.. jangan biarkan aku menyesal karena sudah menerimanya sebagai sekretaris presdir.


gumam Davit dalam hati.


"Tuan, tolong ma'af kan Nona ini ,keterlambatannya hari ini sepenuhnya kesalahan saya. Tolong Tuan jangan memarahinya! "


ucap laki-laki itu dengan tatapan membunuh.


Davit tak bisa bersuara, bibirnya serasa kaku tak bisa digerakan setelah mendengar suara laki-laki itu dengan tatapannya yang membunuh.


Mungkin ini akhir dari hidupku .


gumam Davit dalam hati.


" Apa saya perlu menjelaskannya secara detail Tuan? "


ucap laki-laki itu menyadarkan Davit dari ketakutannya.


"Ti..tidak Tuan , tidak perlu, " ucap Davit terbata-bata.


" Baiklah kalau begitu saya pamit undur diri Tuan, silahkan Tuan urus karyawan baru ini! pastikan dai tidak akan melakukan kesalahan lagi!"


ucap laki-laki itu sambil menepuk-nepuk bahu Davit.


Davit tak menjawab ia hanya memandang laki-laki itu yang mulai keluar dari ruangannya.


Berani-beraninya ia bersikap seperti itu terhadap Tuan Davit.. apa dia tak tahu kalau dihadapannya itu Harimau berselimut manusia.


gumam Bintang dalam hati


Kenapa Bintang bisa mengatakan bahwa Davit adalah harimau berselimut manusia karena ia pernah memergoki Davit memarahi bawahannya seperti hariamau yang akan menerkam mangsanya.


"Nona Bintang mari saya antar ke ruangan Nona"


ucap Davit datar tanpa ekspresi.


Orang ini sudah seperti mayat hidup, apa dia tak bisa mengubah wajah datarnya itu, sungguh mengerikan. gumam Bintang dalam hati


" Terimakasih Tuan, " ucap Bintang sambil mengikuti langkah Davit.


" Ini ruanganmu Nona, dan ini buku yang harus anda hafalkan, " ucap Davit dengan tatapan dingin.


" Ma.. maksud Tuan saya harus menghafal buku setebal ini? "


tanya Bintang terbata karena ia tak percaya bisa menghafal buku setebal itu.


" Apa ucapan saya tadi kurang jelas Nona?saya harap Nona tidak melewatkan tugas pertama Nona, " ucap Davit penuh penekanan.


"Tidak.. tidak Tuan, saya sudah mengerti, " ucap Bintang sedikit kesal.


Dasar laki-laki peot,


gerutu Bintang dalam hati.


" Bekerjalah dengan baik Nona, jangan pernah membuat kesalahan sekecil apapun, " ucap davit melangkah keluar.


" Baik Tuan, Tuan bolehkah saya bertanya? " tanya Bintang menghampiri davit.


"katakan! "


jawab davit dingin.


" Apa Tuan mau menjelaskan ke Tuan Presdir atas keterlambatan saya hari ini? "


ucap Bintang ragu-ragu.


" Apa kau sedang menerintahku Nona?"


ucap davit dengan wajah menyeringai.


"Ti.. Tidak Tuan, ma'af atas kelancangan saya tadi, " suara Bintang sedikit ketakutan.


" Tuan sudah tau semuanya, lakukan sajalah tugas pertama Nona dengan baik, Tuan akan sangat marah jika Nona melalaikan Tugas pertama Nona! "


ucap Davit sambil terus berjalan.


Ishh.. dasar laki-laki peot,muka mayat ! kau mau membodohi ku? dari mana Tuanmu itu bisa tau jika kau belum memberitahunya? jika saja kau bukan atasan ku sudah ku cakar-cakar wajahmu! gerutu Bintang pelan dengan jari-jari tangannya yang siap mencakar.


Davit Bagaskara adalah asisten pribadi Presdir dia juga orang kepercayaan Atmaja grup jadi posisinya lebih tinggi dari Bintang.


"Astaga... bahkan aku lupa dengan tugas pertama ku, " ucap Bintang berlari ke pantry.


Bintang sudah membaca semua isi buku yang diberikan asisten Davit tadi,hingga ia lupa dengan tugas pertamanya.


Di tempat lain,


semoga tanganmu itu masih utuh saat kau menemui Tuan Nona. dalam Hati Davit.


Di pantry Bintang sibuk menyiapkan sarapan untuk Presdir, itulah tugas pertama Bintang.Tuan Presdir tidak pernah sarapan di rumah ia selalu sarapan di kantornya.Bintang sangat cekatan , ia membuatkan kopi hitam dan roti bakar sesuai catatan yang ada di buku tadi.


" Semoga Tuan suka dan tidak marah, " Ucap Bintang pelan sambil berjalan ke ruangan Presdir.


Tok.. tok.. tok..


"Permisi Tuan, bolehkah saya masuk, " ucap Bintang dari luar pintu.


" Masuklah! "


suara laki-laki dari dalam ruangan.


Cekreeeek...


Bintang membuka pintu dengan sangat hati-hati, rasanya sekarang nyawanya sudah di ujung tanduk.


"Ma'af Tuan, ini sarapan Tuan, " ucap Bintang menaruh nampan berisi kopi dan roti bakar dengan gemetaran.


" Jam berapa ini? "


Tanya laki-laki itu tetap fokus menghadap laptopnya.


" Ma'af Tuan jam 10," jawab Bintang sambil terus menundukan kepala karena ketakutannya.


Kenapa orang ini lebih menyeramkan dari Tuan Davit.


Ucap Bintang dalam hati.


"Kau tau kesalahanmu?"


laki-laki itu mulai memandang ke arah Bintang.


" Saya tak butuh penjelasanmu,dan saya paling tidak suka dengan orang yang tidak di disiplin! "


ucap laki-laki itu marah.


" Ma'af kan saya Tuan, " ucap Bintang pelan.


" Apa iti cara mu meminta ma'af tanpa kau memandang orangnya? "


Jawab laki-laki itu kesal karena Bintang dari tadi menunduk an kepalanya.


" Ma'....., " Bintang tak melanjutkan kata-katanya karena jantungnya serasa berhenti berdetak dan mulutnya tak bisa ia gerakan setelah tau wajah laki-laki itu.


Bukanya dia laki-laki gila tadi, apa benar itu dia? habislah aku, tamat riwayat ku hari ini! ucap Bintang dalam hati sambil terus memukul-mukul dadanya berharap jantungnya bisa berdetak normal. Bintang terus mencoba menenangkan dirinya dengan mengambil nafas dalam-dalam dan membuangnya pelan.


Laki-laki gila yang di sebut Bintang adalah Regan Atmaja, Presdir di Atmaja grup yang otomatis sekarang menjadi atasan Bintang, karena itulah Bintang begitu terkejut melihat sosok laki-laki di depannya.


" Kenapa? apa tidak cukup oksigen disini untuk mu bernafas? "


tanya laki-laki itu dengan senyum yang tak dapat di artiakan.


" Ti.. Tidak Tuan, ma'af atas kesalahan yang saya perbuat,saya sungguh menyesal Tuan,tolong jangan pecat saya, " ucap Bintang sungguh-sungguh.


Jika saya tidak membutuhkan pekerjaan ini saya tidak akan sudi mengucapkan Ma'af untukmu!


gerutu Bintang dalam hati.


" Di hari pertamamu saja kau sudah melakukan kesalahan fatal, jadi untuk apa saya masih memperkerjakan gadis bodoh sepertimu! ".


ucap Regan dengan tatapan tajam.


Hei! apa kau lupa? aku telat karena ulahmu, dasar iblis tak punya hati! tenang Bintang... tenang.. kau harus mengalah untuk bisa tetap bekerja disini.


gumam Bintang dalam hati.


" Ma'af kan saya Tuan , saya pastikan saya tidak akan melakukan kesalahan sekecil apapun.saya orang yang sangat di siplin Tuan hanya saja tadi saat perjalanan ke kantor ada **** hutan yang tak sengaja menabrak saya. sehingga membuat saya terlambat datang, " ucap Bintang sedikit menyindir Tuannya yang tetap kekeh tak mau mengakui bahwa ia yang salah.


Kenapa mulutku seberani ini.?? hei kau mulut sedikit lah kompromi dengan Tuan mu ini.. kau boleh jengkel tapi jangan mengatai iblis ini di hadapannya,cukup di dalam hati saja. gumam Bintang mengutuki dirinya sendiri


" Beraninya kau mengataiku **** hutan! "


ucap Regan memukul meja dengan keras, saat ini amarahnya sudah di ubun-ubun karena selama ini tidak ada siapapun yang berani terhadapnya.


"Ma'af Tu.. Tuan, saya tidak seberani itu. saya tak bermaksud mengatai Tuan ".


ucap Bintang terbata karena sadar ucapannya tadi begitu saja keluar dari mulutnya tanpa berfikir panjang.


Kalau saja aku bilang kalau kau yang menabrak ku bisa-bisa kau langsung memenggal kepalaku saat ini juga.gerutu Bintang dalam hati.


Regan hanya diam, menatap Bintang tajam.


pantas saja gadis ini marah dan mengataiku , karena memang semua ini murni bukan kesalahannya.


ucap Regan dalam hati.


"Cepat bawa kesini kopinya! "


perintah laki-laki itu datar tanpa ekspresi.


Eits.. apa dia sudah tak marah lagi? secepat itu? syukurlah aku bisa sedikit bernafas lega. ucap Bintang dalam hati.


" Ini Tuan ".


Ucap Bintang menyerahkan secangkir kopi dan meletakan di meja Regan.


Regan segera meminumnya,


" Ini terlalu manis, buatkan lagi!"


perintah Regan tanpa menoleh.


" Baik Tuan, " ucap Bintang langsung mengambil cangkir kopi tadi.


Saat di luar pintu Bintang pun merasa penasaran dengan kopi buatanya, ia pun lansung meminumnya.


"kurasa ini sudah pas, kenapa Tuan bilang ini terlalu manis? "


ucap Bintang sambil terus berjalan kearah pantry.


Di ruangan, Regan sedang menghubungi Asisten Davit.


"Cepat datang ke ruangan ku sekarang! "


ucap Regan dengan emosi.


Davit yang masih berada di ruangannya pun menghela nafas.


" Ba...".


belum selesai Davit menjawab tapi Regan sudah menutup telfon secara sepihak.


Ya,kau bosnya! jadi sesuka-suka hatimu Tuan!


gerutu Davit kesal dengan tingkah Tuannya yang memutuskan telfon secara sepihak.


_


_


_


_


_


_


_


_


_


_


_


_


_


_


_


Hallo guys..


Ini novel pertamaku ya...


pertamakalinya aku menulis jadi mohon Ma'af kalau masih banyak kekurangan🙏