My Big Boss

My Big Boss
hukuman



Rita memang sangat tergila-gila pada Regan entah itu cinta atau hanya terobsesi, yang jelas semua sikap Regan itu tampak manis di matanya.


Sedangkan di dalam ruangan Bintang masih berdiri mendengar ocehan Regan.


" Hukuman apa yang pantas untukmu? "


tanya Regan dengan tatapan tajam.


" Apapun itu pantas untuk menebus kesalahan saya Tuan, "


ucap Bintang degan tenang.


Dasar iblis! hanya karena telat 5 menit saja kau marah-marah, kau lebih pantas jadi penunggu gerbang sekolah!


gerutu Bintang dalam hati.


" Jadi kau akan menerima apapun hukumannya? "


tanya Regan dengan senyum menyeringai.


" Iya Tuan, " jawab Bintang tenang.


Jika aku menjawab tidak itu sama saja aku bunuh diri,


benak Bintang dalam hati.


" Sebelum pulang kau bersihkan semua toilet yang ada di lantai ini !"


perintah Regan datar tanpa ekspresi.


" Baik Tuan, " jawab Bintang masih dengan tenang.


Kenapa dia begitu tenang sekarang?


tanya Regan dalam hati , karena sebelumnya Bintang selalu gugup dan ketakutan saat berhadapan dengan Regan.


" Pergilah! aku sudah muak melihatmu! "


ucap Regan ketus.


" Permisi Tuan, "


ucap Bintang undur diri.


Gadis itu sungguh menarik, hanya dia yang tak tertarik untuk mendekatiku.


ucap Regan dengan tersenyum tipis.


Sedangkan di luar ruangan Bintang sedang menepuk-nepuk dadanya.


" Jadi ini rasanya menahan emosi, dadaku begitu sesak rasanya seperti sedang menahan nafas.


oh Tuhaaan.. aku bisa mati muda jika terus menahan emosi setiap bersamanya. "


ucap Bintang sambil mengatur nafasnya.


" Kau tak apa Bi? "


tanya Livia menghampiri Bintang.


" Aku tak apa, ayo kembali ke meja jangan sampai iblis itu melihat kita mengobrol, "


ucap Bintang sedikit berbisik.


" Iblis? maksudmu siapa bi? "


tanya Livia bingung.


" Siapa lagi kalau bukan Tuan Regan, hihihihihi.., "


jawab Bintang sambil tertawa pelan.


" Kau berani sekali mengatainya bi ? "


ucap Livia tertawa pelan.


" Yang penting dia tak mendengar, itu tak kan jadi masalah, "


jawab Bintang nyengir.


" Kau hutang cerita padaku bi, "


ucap Livia masih dengan suara berbisik.


" Nanti akan ku ceritakan, sekarang kita selesaikan dulu pekerjaan kita, "


ucap Bintang pelan.


Mereka pun mulai di sibukan dengan pekerjaan masing-masing hingga jam kantor selesai.


Jam menunjukkan pukul 16.00 WIB.


" Kita pulang bareng ya,kita semua mau tau dimana kau tinggal, "


ucap Rita bersemangat.


" Lain kali saja ya,masih ada yang harus aku lakukan, jadi kalian pulang saja duluan ".


jawab Bintang sambil mendorong teman-temannya pergi.


" Kau mau apa? kau juga belum cerita soal tadi siang, "


ucap Livia menanyakan kejadian saat Bintang bersama Tuan Regan di ruangan.


" Aku masih harus ..., "


belum sempat melanjutkan omonganya Bintang terkejut saat melihat Regan keluar dari ruangan.


" Kenapa kalian masih ada di sini?


dan kau ! mana peralatan mu? "


tanya Regan menunjuk Bintang.


" Iya Tuan saya baru akan mengambilnya, "


ucap Bintang smbil berlari keluar.


" Saya masih ada urusan dengan Bintang jadi kalian pulang saja! "


ucap Regan ketus.


" Baik Tuan permisi, "


ucap Livia pamit undur diri bersama teman-temannya.


" Sebenarnya apa yang akan di lakukan Tuan Regan dan Bintang? terus kemana Bintang sekarang? apa perlu kita menunggu Bintang sampai pulang? "


tanya Rita pada kedua temannya.


" Sudahlah kita pulang saja! apa kau mau menginap jika Tuan tau kita masih ada di sini? jangan khawatir Bintang aman bersama Tuan Regan, walaupun Tuan galak tapi sebenarnya dia baik, "


Ucap Doni berjalan keluar.


Akhirnya Livia dan Rita pun pulang walau dalam hati Rita ia sungguh ingin tau apa yang akan di lakukan Tuannya dengan Bintang.


Beberapa menit kemudian,


" Hanya untuk mengambil peralatan saja kau lama sekali! "


Bentak Regan keras, karena Bintang memang sedikit lama saat mengambil peralatan kebersihan.


" Ma'af Tuan ,saya tidak tau tempat alat-alat kebersihan ini di simpan, "


jawab Bintang berusaha tenang.


" Cepat bersihkan! "


ucap Regan ketus.


" Baik Tuan, "


Bintang pun mulai mbersihkan satu persatu toilet yang ada di lantai atas itu,kini hanya tinggal satu toilet lagi yaitu toilet di ruangan Regan.


Sebelum Bintang masuk ke ruangan Regan ia harus mengumpulkan tenaga dan mentalnya,tubuhnya saat ini benar-benar capek.


Bintang memilih duduk di lantai dan menyelonjorkan kakinya untuk beristirahat sejenak.


Dasar iblis!kau sengaja ingin melihat ku mati muda! awas saja kau!aku akan menguliti wajah jelekmu itu!


gerutu Bintang dengan wajah kesal.


Dari sisi lain ada sepasang mata memperhatikan Bintang dan menghampirinya.


" Kenapa kau masih ada disini Nona?


ini sudah jam 7 malam kenapa kau belum pulang? "


tanya asisten Davit yang sekarang berdiri di sebelah Bintang.


" Tu.. Tuan Davit ?


iya ada yang harus saya selesaikan dulu Tuan, "


ucap Bintang beranjak bangun karena terkejut melihat Davit sudah ada di sampingnya.


Davit hanya melihat Bintang dengan semua peralatan kebersihan yang ada di sampingnya. dia pun mulai mengerti tanpa bertanya.


Pasti kau sudah melakukan kesalahan lagi Nona, hingga Tuan menghukum mu.


gumam Davit dalam hati.


" Bersabarlah Tuan Regan sebenarnya orang baik, "


ucap Davit berlalu melewati Bintang.


Apa kau fikir aku kurang sabar selama ini! kau tau aku hampir mati karena kesabaranku ini !


gerutu Bintang dengan menghentakkan kakinya ingin menendang Davit yang sudah berjalan jauh dari sisinya.


Bintang pun mulai berjalan menuju ruangan Regan mengikuti Davit yang sudah lebih dulu sampai. ia berjalan dengan lesu karena tubuhnya sudah benar-benar capek.


" Ma'af Tuan, apa Tuan akan pulang sekarang? "


Tanya Davit sopan.


" Tidak, kau pulanglah dulu aku akan pulang sendiri, "


jawab Regan sibuk memainkan ponselnya.


" Baik Tuan, permisi, "


ucap Davit pamit undur diri.


Regan tak menghiraukan Davit, ia masih sibuk dengan ponselnya.


saat Davit akan keluar Bintang sudah berada di luar pintu.


Davit hanya berlalu tanpa menyapa Bintang.


Kenapa Tuhan harus menciptakan dua manusia ini!


gerutu Bintang dalam hati yang kesal melihat sikap Davit yang hampir sama dengan Regan.


" Permisi Tuan saya akan membersihkan toilet di ruangan ini, "


ucap Bintang dengan malas.


" Hmmmm..., "


Jawab Regan Singkat tetap fokus dengan ponselnya.


Bintang pun mulai mengerjakan tugasnya.


Siaaall....!


kenapa nasib ku buruk sekali Tuhan?


kenapa kau harus mempertemukanku dengan makhluk sepertinya?


gerutu Bintang sambil mengepel lantai toilet.


30 menit pun berlalu kini Bintang sudah menyelesaikan hukumannya.


Akhirnya selesai juga..


ucap Bintang yang masih berada di dalam toilet.


"Permisi Tuan, saya sudah menyelesaikan hukuman yang Anda berikan ! ".


ucap Bintang dengan tenang.


" Hmmmm.. ".


jawab Regan masih fokus dengan ponselnya.


Pasti dari tadi dia hanya main game.


semoga saja Jari-jari mu itu berubah jadi keriting!


gumam Bintang kesal karena Regan sedari tadi hanya sibuk memainkan ponselnya.


" Apa saya sudah boleh pulang Tuan? "


tanya Bintang ragu.


" Pulanglah! "


jawab Regan tanpa menoleh.


Dasar manusia tak punya hati!


gerutu Bintang dalam hati.


" Saya permisi Tuan, "


pamit Bintang yang sama sekali tak di hiraukan Regan.


Bintang pun langsung bergegas keluar, ia mengambil tasnya dan mengembalikan semua alat kebersihan yang ia bawa kembali ke tempatnya.


Kini Bintang sudah berada di pinggir jalan sedang menunggu taxi ia mulai membuka ponselnya yang sedari tadi ia taruh di dalam tas, ternyata sudah banyak pesan dan panggilan masuk.


Bintang pun memilih untuk membalas semua pesan yang masuk karena dia malas untuk menelfon balik.


Dari sisi lain sepasang mata memperhatikan Bintang dari dalam mobil.


Wajahnya begitu layu,apa dia sangat kecapean?


apa tadi aku sudah keterlaluan padanya?


apa aku beri saja dia tumpangan ?


tanya Regan pada dirinya sendiri.


Ahh..!pasti kekasih nya akan datang menjemputnya.


ucap Regan dalam mobil.


Aish..!kau ini kenapa Regan? biasanya kau tak pernah peduli dengan siapapun itu! dan tak pernah menyesali semua yang sudah kau perbuat! sadar Regan.. sadar!


ucap regan lagi memukul kepalanya sendiri.


akhirnya mobil Regan pun hanya berlalu di hadapan Bintang.


Bintang yang melihat mobil Regan pun membuang muka pura-pura tak tahu.