My Big Boss

My Big Boss
Pulang



Waktu terus berjalan kini malam semakin larut,Bintang tinggal sendiri menemani Regan yang sudah tertidur pulas karena David yang sudah meninggalkannya pulang lebih dulu.


Bintang yang tak dapat tidur berjalan menuju jendela sambil meregangkan otot-otot tubuhnya, ia memilih menikmati pemandangan malam yang begitu indah,tampak langit malam yang bertabur Bintang di tambah dengan lampu yang tampak kerlap-kerlip memenuhi sudut kota melengkapi keindahan malam ini.


Bintang mulai menikmati angin sepoi-sepoi yang menerpanya, membuat rambutnya yang terurai menutupi wajah cantiknya.


" Kenapa belum tidur? "


Suara yang mengagetkan Bintang.


" Saya belum mengantuk Tuan, "


menoleh ke arah Regan.


" Cepatlah tidur, jangan sampai aku sembuh berganti kau yang jatuh sakit, "


menatap hangat sambil menyelipkan rambut bintang yang menutupi wajah cantiknya ke telinga.


Dug_dug_dug


kembali jantung Bintang berdetak pada mode tak beraturan yang membuatnya salah tingkah.


" Baik Tuan, "


bergegas pergi karena takut Regan tau dirinya mulai salah tingkah.


Regan tersenyum tipis melihat sikap Bintang yang menurutnya sangat menggemaskan, ia memperhatikan Bintang yang mulai bersiap tidur di sofa.


Regan menghampiri Bintang yang sudah memejamkan mata,


" Cepat sekali kau tidur, "


menatap lekat wajah Bintang dan mulai mengambil selimutnya untuk menyelimuti tubuh Bintang.


Kini Regan pun kembali tiduran di ranjangnya sambil terus menatap wajah cantik Bintang hingga terlelap tidur.


Waktu berjalan begitu cepat kini sinar mentari mulai menyapa.


Regan lebih dulu bangun dari pada Bintang,ia sengaja tak membangunkan Bintang dari tidurnya karena merasa tak tega.


Dokter yang sedang melakukan visit pun masuk kedalam ruangan ragan bersama dua perawat.


" Permisi Tuan,kelihatannya Tuan nampak lebih sehat sekarang,bagaimana apa masih ada keluhan yang dirasakan Tuan? " tanya dokter itu seramah mungkin.


" Tidak, "


jawab Regan singkat.


" Syukurlah, karena kondisi Tuan yang sudah sangat membaik Tuan bisa pulang pagi ini, kita lepas jarum infusnya dulu, " ucap dokter itu.


Perawat pun segera melepas jarum infus yang masih menempel pada tangan Regan dan menutup luka bekas jarum dengan plester.Setelah selesai dokter itupun pamit undur diri.


" Jaga kesehatan baik-baik Tuan, saya permisi, " ucap dokter itu menunduk hormat dan melangkah keluar dengan perawat yang selalu mengekori.


Regan pun hanya memasang wajah datarnya, setelah dokter keluar ia berjalan menuju kamar mandi.


Bintang mulai mengerjapkan matanya, ia mulai menggeliat dan memutar pinggangnya kekanan dan kekiri, ia merasa pegal karena posisi tidurnya yang kurang nyaman,dengan mata yang masih enggan di buka Bintang mulai menurunkan kakinya dari atas sofa,ia melihat sosok laki-laki yang sudah berdiri di hadapannya karena mata yang masih mengantuk ia pun tak bisa melihat jelas,ia pun mengucek kedua matanya dan menatap laki-laki itu,betapa terkejutnya Bintang saat yang ia lihat adalah Regan,bintang pun membuka matanya lebar-lebar dan beranjak dari sofa nya.


" Nyenyak sekali tidurmu Tuan Putri, "


ucap Regan dengan senyum menyeringai.


" Ma'af kan saya Tuan, kenapa Tuan tidak membangunkan saya? " ucap Bintang menundukkan kepala.


" Aku sudah membangunkanmu seribu kali, tidur mu saja yang seperti kerbau, "


jawabnya berbohong.


Memang kau pernah lihat kerbau tidur!


Seenaknya ngatain tidurku seperti kerbau!


gerutu Bintang dalam hati.


" Ayo! " imbuhnya lagi.


" Kemana Tuan? " tanya Bintang tak mengerti.


" Pulang, " jawab Regan singkat.


" Bukankah kita harus menunggu persetujuan dokter terlebih dulu Tuan ? "


" Tidak perlu, " jawabannya singkat berjalan menuju pintu.


Nih orang kenapa seenaknya sendiri!


gerutu Bintang pelan.


" Aku tidak akan pulang sebelum dokter kesini! " ucap Bintang menyilangkan tangan ke dada.


" Terserah!, " ucap Regan tak menghiraukan.


Bintang yang merasa tak di hiraukanpun kesal, ia bergegas menghadang Regan yang akan membuka pintu dengan merentangkan kedua tangannya di hadapan Regan.


" Kita tidak akan pulang sebelum dokter memberi persetujuan, " ucap Bintang penuh penekanan.


Regan menghela nafasnya, menatap Bintang dengan senyum menyeringai,Reganpun menyandarkan kedua tangannya di pintu, disebalah kanan Bintang dan kiri Bintang,hingga Bintang terkunci di tengah-tegah.


Dug_dug_dug


jantung Bintang kembali berdetak kencang.


Bisakah kau tak berdetak sekencang ini!


Bisa-bisa aku mati muda jika kau terus berdetak seperti ini!


gerutu Bintang yang mengutuki dirinya sendiri.


Regan semakin gemas melihat ekspresi Bintang yang panik, ia mulai mendekatkan wajahnya, sedangkan Bintang yang panik memilih memejamkan matanya rapat-rapat ia tak tau apa yang akan di lakukan Regan padanya.


" Kenapa kau memejamkan matamu! apa kau berharap aku akan mencium mu lagi! " ucap Regan sambil mencubit hidung Bintang.


Bintang yang mendengar pun membuka matanya lebar-lebar wajahnya merah merona karena malu, walaupun yang tadi ia fikirkan bukan seperti itu tetap saja ia malu saat Regan mengatakan itu.Bintang yang merasa kehabisan nafas melepas tangan Regan yang masih mencubit hidungnya.


" Ini sakit Tuan, " ucapnya sambil memegang hidungnya.


"Itu hukuman mu karena berani menghalau jalanku! " ucap Regan tersenyum senang.


" Kita tunggu dokter sebentar Tuan, "ucap Bintang memelas.


" Dokter sudah berkunjung jadi untuk apa kita menunggunya lagi?, " ucap Regan menggeser tubuh Bintang dan membuka pintu.


Bintang membulatkan matanya saat mendengar ucapan Regan,Banyak hal yang terlintas di otaknya hingga membuatnya berdiri diam mematung.


Kenapa kau tak katakan dari tadi!


jerit Bintang dalam hati.


" Tuan tunggu, " ucapnya sambil menarik tangan Regan yang hendak keluar ruangan.


" Ma'af Tuan, reflek, "


tersenyum garing.


" Boleh saya bertanya? " ucapnya lagi sambil tersenyum.


" Katakan, " ucap Regan singkat.


" Jam berapa dokter berkunjung? "


" Aku tak mengingatnya, "jawabnya berbohong.


" Tuuuuuaan, " ucap Bintang memohon dengan manjanya.


" Jam tujuh, kenapa? " ucap Regan tanpa menoleh.


Bintang hanya merespon dengan menutup mulutnya,


Jam tujuh?


berarti dia bangun sudah dari tadi, kenapa tak membangunkanku?


Pasti dia sudah memperhatikan aku tidur dari tadi, oh Tuhaaan...semoga wajahku saat tidur tidak memalukan.


" Aaisshh...! kau hanya membuang waktu ku! "


gerutu Regan kesal karena Bintang tak menghiraukan pertanyaannya. Regan pun melangkah pergi.


" Tuan tunggu! " ucap Bintang lagi.


" Apa lagi!


kau mau menginap lagi disini! "


ucap Regan kesal.


" Saya cuci muka dulu baru pulang,enggak mungkin saya pulang dengan wajah bantal seperti ini, "


meninggalkan Regan dan berjalan menuju kamar mandi.


Kau tak lagi hormat padaku,bahkan sekarang kau tak menakutiku!


gerutu Regan pelan karena sikap Bintang yang sedikit berani padanya.


" Cepatlah! aku sudah lama menunggumu! "


ucap Regan saat melihat Bintang keluar kamar mandi.


Bintang pun mempercepat langkahnya, ia mulai mengekori Regan yang mulai melangkah pergi.


Sedangkan di kantor David sedang melihat kinerja bawahannya,


" Bagaimana?


apa ada kendala dalam menghandle pekerjaan Bintang? "


tanya David menghampiri meja Livia yang juga bersebelahan dengan meja Rita.


" Tidak Tuan, " Jawab Livia sopan.


" Jika ada yang kalian tidak mengerti tanyakan, aku tidak keberatan untuk membantu, " ucap David yang kemudian berlalu memasuki ruangannya.


" Baik Tuan, terimakasih, " ucap Livia sambil tersenyum ramah.


" Vi, sebenarnya Bintang kemana sih!


kenapa kita harus menghandle pekerjaannya?


apa dia menghubungi mu?, " tanya Rita pada Livia.


" Aku enggak tau Rit, terakhir Bintang menghubungi ku dia bilang sedang di rumah sakit menemani Tuan Regan, "


" Kenapa dia sulit sekali di hubungi, pesanku juga tidak di balas, apa sepulang kerja kita ke rumahnya saja? " ucap Rita mulai khawatir.


" Ide bagus, aku takut dia kenapa-kenapa, "


jawab Livia yang juga mencemaskan Bintang.


****


Di tempat lain Regan dan Bintang sudah berada di dalam mobil mewah Regan yang di kemudikan oleh pak Jang, David sebelumnya menyuruh pak Jang ke rumah sakit untuk standbye di mobil Regan yang sudah terparkir di sana.


" Tuan, " panggil Bintang yang duduk di samping pak Jang.


" Hmmmm.., "jawab Regan yang fokus pada ponselnya.


" Ini, " menyerahkan kunci mobil Regan yang ia bawa dari kemarin.


Regan pun melihat ke arah Bintang,


" Berikan saja pada pak Jang, " ucapnya cuek.


Bintang pun memberikan kunci itu pada pak Jang.


Kini suasana dalam mobil menjadi hening, pak Jang yang tetap fokus menyetir, Regan yang fokus dengan ponselnya dan Bintang yang masih bergelut dengan fikirannya sendiri.


_


_


_


_


_


_


_


_


_


_


Ma'af sedikit typo๐Ÿ˜


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya๐Ÿ˜Š


Beri Vote, Like, dan Saran kalian...


jangan Lupa klik Favorit๐Ÿ˜˜๐Ÿค—


Jejak kalian semangat ku๐Ÿ’ช๐Ÿ˜


Happy Reading ๐Ÿ˜Š