
Tampak Regan yang kini mulai memimpin jalannya meeting dan setelah satu jam berlalu akhirnya meeting itupun selesai.
Regan pun kini berjalan kembali ke ruangannya.Wajahnya yang masih tampak gelisah membuat David yang dari tadi memperhatikannya kini memberanikan diri bertanya.
" Ma'af tuan,dari tadi saya perhatikan tuan tampak gelisah,apa ada yang sedang mengganggu fikirkan tuan? " tannya nya.
" Iya." Regan hanya menjawab dengan singkat, ia pun kini mulai memasuki ruangan nya.Sementara David terus mengekorinya di belakang.
" Kalau boleh saya tau, apa yang sedang menganggu fikiran tuan? "
" Mangga muda. "
" Hah! " David pun mengangkat kedua alisnya,
" mangga muda? maksud tuan bagaimana? " tannya nya kini.
" Aku ingin makan mangga muda Dav. " Regan tampak begitu putus asa.
" Jadi tuan dari tadi gelisah hanya karena ingin makan mangga muda? " Seketika Regan pun menatap tajam David.
" Kau bilang hanya! kau tau! aku semalaman tidak bisa tidur karena berjuang agar tidak menginginkan buah yang tidak boleh aku makan itu! Sekarang kau seenaknya saja bilang hanya! kau tau tidak bagaimana tersiksanya aku! " Regan pun kini memukul mejanya hingga membuat nyali David kini menciut.
" Ma.. ma'afkan saya tuan." David pun kini diam, ia bingung kenapa mangga muda bisa membuat tuannya itu uring-uringan.Kenapa juga tuannya itu ingin makan mangga muda pikirnya saat ini.
" Apa tuan benar-benar ingin makan mangga muda? " tanya David kini.
" Iya.Tapi kau tau kan aku tidak boleh
memakannya! " Regan pun terlihat kesal sendiri.
" Kurasa kalau hanya sedikit tidak papa tuan. "
Regan pun kini menatap David penuh arti.Pikirnya benar juga yang di katakan David. Jika hanya sedikit mungkin tidak papa, rasa mual yang dari tadi pagi ia rasakan rasanya juga bukan karena penyakit lambungnya yang kambuh bisa saja karena hal lain karena ia saat ini tidak merasakan sakit pada ulu hatinya seperti dulu.
Dalam otak Regan kini di penuhi mangga muda yang mulai melayang-layang,air liur nya pun kini memenuhi mulutnya,entah kenapa setiap kali membayangkan mangga muda air liur nya ingin sekali menetes,rasanya sudah tak sabar ingin memakan buah itu.Hemmm.. sepertinya segar sekali.
" Baiklah sekarang bantu aku mendapatkan buah itu Dav. " Regan pun terlihat begitu antusias.
" Baik,tapi tuan berjanjilah kalau tuan nanti hanya akan memakannya sedikit. "
" Iya aku berjanji. "
David pun kini bergegas keluar setelah mendengar janji tuannya itu.
" Dav tunggu! " suara Regan yang kini menghentikan langkah kaki manusia serba guna itu.
" Ada apa tuan? "
" Kau mau kemana? "
" Bukannya tadi tuan meminta agar saya membantu tuan mendapatkan mangga muda? Sekarang saya ingin membelikannya untuk tuan. "
" Aku ingin mangga muda yang kau petik langsung dari sana, kau lihat kan pohon mangga yang ada di halaman rumah itu? aku ingin memakan buah mangga dari sana, " tutur Regan sembari menunjuk rumah yang berada di samping kantornya.
Tampak pohon mangga berdiri kokoh di halaman belakang dengan mangga mudanya yang bergelayut manja pada setiap tangkainya.
" Kau bisa melihatnya kan Dav? " ucapnya lagi yang kini berdiri di dekat jendela kaca.
" Iya tuan,tapi kenapa harus repot-repot memetik,di sebelah kantor kita ada toko buah, kita bisa memilih buah mangga sesuai keinginan tuan ? "
Regan pun kini memandang David tak suka,tatapannya begitu tajam dengan kedua alisnya yang menyatu,terlihat jelas ia tidak setuju dengan ucapan David barusan.
Sementara David kini tertunduk lesu, ia mengerti tanpa harus mendapat jawaban dari tuannya itu.
" Sssaya langsung kesana tuan, " ucapnya kini yang tampak gugup.
" Aku ikut. " Regan pun kini berjalan mengikuti David.Manusia tampan itupun keluar dari sarangnya membuatnya kini tak luput dari pandangan Maura,Doni, Livia dan Rita.
" Mau kemana mereka? " gumam Maura dari meja kerjanya. Sementara Doni dan Rita terlihat senang melihat dua manusia yang selalu membuat suasana tegang itu keluar kantor.
" Huuuft.. bisa sedikit santai hari ini, " ucap mereka kompak.Kini Rita pun keluar dari meja kerjanya dan menghampiri Livia.
" Vi,aku dengar Bintang hamil.Benar gak sih? " tanya Rita yang kini sudah berdiri di hadapan Livia.
" Yang aku dengar juga gitu,tapi gak tau deh benar atau tidak. "
Rita pun kini membuang nafasnya kasar.
" Eh Maura, kau tau tentang berita kehamilan Bintang tidak? " tanya Rita kini pada Maura.
" Iya tau,kenapa? "
" Itu beneran Bintang hamil? " tanya Rita kini.
" Iya beneran. "
" Beneran? waaaah... anak itu mulai lupa dengan kita,berita menggembirakan gini kita tidak di kasih tau! awas saja akan ku makan kau! " Rita pun mulai mencari nama Bintang di kontak ponselnya.Dan kini acara camah mencamah pun dimulai, tampak Rita yang kini sedang mengomel panjang lebar saat Bintang mulai mengangkat telfonnya.
Sementara Livia yang melihat tingah temannya itu hanya menggelengkan kepala.
Di sisi lain tampak Regan dan juga David yang kini sudah berada di depan rumah si pemilik pohon mangga.
David pun kini mulai mengetuk pintu rumah, sementara Regan berdiri tak jauh dari sisinya.
" Permisi,ma'af apa ada orang di rumah? "
Tak lama pintu rumah itupun terbuka.
" Ma'af siapa ya? " ucap seorang wanita yang baru saja membuka pintu.
" Saya David nona, saya bekerja di kantor sebelah. Saya kesini ingin membeli mangga muda,saya lihat nona punya pohon mangga yang berbuah lebat di halaman belakang,berapa nona ingin menjualnya? " David pun langsung berbicara pada intinya.
" Owh,saya tidak menjualnya,tapi jika tuan mau tuan bisa mengambil beberapa, " tutur wanita itu.
" Terimakasih banyak nona, bisakah saya mengambilnya sekarang? "
" Tentu saja, mari saya antar ambil galahnya. " Wanita itupun berjalan kebelakang di ikuti David dan juga Regan.
" Ma'af tuan, istrinya lagi ngidam ya? " tanya wanita itu.
" Maksudnya ngidam? " David pun tak mengerti.
" Masak gak ngerti ngidam, ngidam itu kondisi yang menggambarkan wanita hamil yang sedang ingin melakukan sesuatu atau memakan makanan tertentu.Ya misalnya ingin makan buah yang masam-masam gini, " jelas wanita itu yang membuat David kini menatap tuannya penuh arti.
" Apa sekarang tuan Regan lagi ngidam? Tapi kan yang hamil istrinya ? " gumam nya dalam hati.
" Ini tuan galahnya.Oh ya sudah berapa bulan tuan? " tanya wanita itu seraya memberikan galah pada David.
" Apanya? " David pun kembali tak mengerti.
" Istrinya sudah berapa bulan hamil nya? "
" Saya belum mempunyai istri. "
Wanita itupun mengernyitkan dahinya setelah mendengar pengakuan David,
" lalu untuk siapa mangga mudanya ? " tannya nya kini.
" Untuk tuan saya, dia ingin sekali makan mangga muda, apa tuan saya ini lagi ngidam? tapi kan dia enggak hamil? "
Wanita di dekat David pun terkekeh mendengar ucapan David barusan.
" Tuan ini lucu.Ya enggak mungkin lah tuan anda hamil.Yang sedang hamil istrinya mungkin? " wanita itupun masih terus tertawa.
" Iya, istrinya lagi hamil muda. "
" Nah berarti tuan anda memang lagi ngidam, banyak kok kasus seperti ini, istri yang hamil tapi yang ngidam suaminya.Ya sudah saya masuk dulu ya tuan, silahkan tuan ambil mangga nya, " ujar wanita itu.
" Terimakasih nona. "
" Sama-sama. "
Kini David pun berjalan menghampiri Regan yang dari tadi sudah berada di bawah pohon mangga.
" Iya ma'af tuan, saya harus mengambil galah dulu. " David pun kini mulai mengangkat galahnya.
" Eh eh! mau ngapain! " David pun sontak menatap tuannya.
" Ambil mangga kan tuan? " ucapnya yang tampak menahan kekesalannya.
" Kau lupa tadi aku bilang apa! aku ingin makan mangga yang kau petik langsung bukan pakai galah! "
" Emang apa bedanya? " pikir David.
" Pakai galah atau memetik langsung bukannya sama saja ya tuan, namanya tetap mangga muda kan? rasanya juga pasti sama. Asem juga, " ucapnya kini.
" Iya nama sama rasanya sama tapi sensasinya beda.Cepat kau naik keatas! " perintah Regan yang membuat David kini melongo.
" Naik keatas maksudnya saya harus manjat pohon ini tuan? " ucapnya tak percaya.
" Iya. bagaimana kau bisa memetiknya jika tidak memanjat! "
David pun kini tersenyum kecut.Kenapa harus memilih cara yang susah jika ada cara yang lebih mudah? Sialan! David pun mengutuki dalam hati.Ia pun kini mulai melepas sepatu dan mulai menyingsingkan kemeja beserta celananya.
Kini David pun benar-benar memanjat pohon mangga itu.Banyaknya kerangga tak menyurutkan niatnya, dia harus cepat mendapatkan mangga muda dan cepat pergi dari tempat itu.Bos tampannya itu benar-benar menyusahkan nya.
" Ini tuan, " ucapnya yang kini memberikan satu buah mangga muda untuk Regan.
" Kenapa cuma satu! " protes Regan tanpa dosa.
" Tuan kan hanya akan mencicipi sedikit jadi untuk apa mengambil lebih? "
" Iya aku tau, tapi aku ingin kau memetikknya tiga buah untuk ku, " ucapnya lagi tanpa dosa.
" Lalu untuk apa tuan? "
" Entahlah aku juga tidak tau, yang jelas sekarang aku ingin kau memetikan ku tiga buah. "
David pun kini tersenyum masam menahan kekesalannya, ia harus bersabar menghadapi bos sialannya itu.
" Kenapa tidak bilang tadi waktu aku masih ada di atas! Dasar bos durjana! " gerutunya sambil memanjat pohon.
" Tuan benar hanya ingin tiga buah? " teriaknya dari atas pohon.
" Iya. "
" Tuan mau buah yang mana? biar saya ambilkan, " ucapnya lagi dari atas pohon.
" Mana saja terserah kau. "
" Tuan yakin? "
" Iya, kenapa kau cerewet sekali sih Dav! "
" Saya hanya tidak mau nanti manjat pohon lagi. " David pun kini turun setelah mengambil dua buah mangga muda.
" Ini tuan, " ucapnya seraya memberikan mangga muda pada bos durjananya itu.
" Ayo kembali ke kantor. " Wajah Regan pun kini tampak berseri setelah mendapatkan tiga buah mangga.Ia berjalan riang gembira seperti anak kecil yang baru mendapatkan mainan dan tanpa dosa ia meninggalkan David yang masih sibuk berperang dengan kerangga-kerangga kecil yang menempel pada tubuhnya.
" Ssshiiit! jika kalian berani mengigit ku lagi akan ku makan kalian satu persatu! " David pun tampak begitu murka.Dengan wajah kesalnya ia kembali ke kantor menyusul Regan.
Dengan wajah dan tangan yang bentol-bentol David kini berjalan menuju sarang bos durjananya itu.Maura yang tak sengaja berpapasan pun tertawa cekikikan melihatnya.
" Tuan kenapa? " ucapnya seraya menutup mulut, ia tak tahan ingin tertawa karena melihat wajah David yang bentol-bentol segede jempol kakinya.Lucu sekali pikirnya.
" Kau harusnya iba bukan malah mentertawakan ku! " David pun tampak begitu kesal.
" Iya, iyaa ma'af, sebenarnya apa yang terjadi?kenapa tuan bisa seperti ini? "
" Ini semua ulah kerangga sialan yang sudah berani menjajah tubuhku!Berani sekali mereka mengigit ku sebanyak ini. " David pun tampak menggaruk sisa gigitan kerangga tadi.Dari wajah,tangan,kaki dan sekujur tubuhnya rasanya gatal semua.
" Enak ya jadi kerangga, " celetuk Maura yang membuat David memicingkan matanya.
" Enak gimana? "
" Enak bisa menjelajahi tubuh tuan, jadi pingin jadi kerangga, " goda Maura yang membuat David kini meninggalkan nya.
" Dasar wanita sableng! bisa-bisannya semalam aku tidak tidur hanya karena memikirkannya. " Kecupan kecil Maura benar-benar membuat David tidak bisa tidur semalam.
" Tuan, " panggil Maura yang kini membuntutinya.
" Jangan mengangguku,pergilah selesaikan pekerjaan mu! " David pun berjalan tanpa menghiraukan Maura yang kini berjalan di sampingnya.
" Tuan benar tidak ingin aku ganggu, nanti rindu lo. "
David pun kini menatap tajam Maura sementara Maura kini hanya bisa tersenyum garing di hadapannya.
" Ya sudah aku pergi. " Maura pun berlalu pergi dengan senyuman genitnya membuat David menyunggingkan senyuman di sudut bibirnya.Wanita sableng ternyata bisa membuat hatinya bergejolak.
" Kalian kelihatannya semakin dekat, " suara Regan yang berhasil mengejutkan David.David pun buru-buru merubah mimik wajahnya menjadi biasa saja.
" Itu menurut penglihatan tuan saja. "
" Benarkah? tapi sepertinya kau menyukainya. Selama ini kau tidak pernah berbicara dengan wanita selama itu. " Regan pun menatap David penuh selidik karena selama ini David tidak pernah bicara dengan wanita jika itu bukan hal penting.
" Itu karena kita sedang membicarakan masalah pekerjaan saja, " dalih David yang membuat Regan tersenyum sinis.
" Dia pikir aku tidak mendengar pembicaraan mereka, " gumamnya dalam hati.
" Ya sudah ikut aku, kau sudah membuatku menunggu lama. " Regan pun kini berjalan menuju pantry.
" Tuan menunggu ku, ada apa? " pikirnya yang kini mulai mengekori tuannya.
Sesampainya di pantry Regan memberikan pisau dan mangga muda tadi pada David.
" Kupas Dav! " perintah nya yang kini duduk di kursi yang ada disana.
" Jadi tuan belum memakannya? " tanya David.
" Belum, aku ingin makan mangga muda kupasan mu. "
David pun tersenyum kecut,kelakuan tuannya hari ini benar-benar membuatnya harus ekstra sabar.Banyak office boy dan office girl di sana tapi kenapa harus menunggu nya? Apa bedanya jika mangga muda itu di kupas olehnya?apa rasanya akan menjadi manis?
David pun mulai mengupas mangga itu, walau hatinya menggerutu tetap saja dia tidak bisa menolak. Semua ucapan Regan sudah seperti perintah baginya.
" Kau bisa ngupas enggak sih Dav! " Regan pun merasa kesal karena menunggu David yang terlalu lama.
" Ma'af tuan ini pertama kalinya saya mengupas mangga. " Dengan tenang David menjawabnya.
Sementara Maura yang baru saja masuk pantry tersentum lebar melihat laki-laki idaman nya ternyata ada di sana.
" Hai tuan kita ketemu lagi, sepertinya kita berjodoh, " bisiknya saat melalui David.
" Kita masih ada di kantor jelas saja kita masih bisa bertemu. " Maura pun tersenyum garing mendengar jawaban David.
Sementara Maura yang dari tadi di perhatikan Regan pun kini menunduk hormat.
" Siang tuan, " sapanya.
Regan pun hanya mengangguk dan kini kembali fokus pada ponselnya.
Sementara Maura kini kembali mendekati David yang masih sibuk mengupas mangga.
" Tuan ngupas mangga muda untuk siapa?Enggak mungkin kan untuk tuan makan sendiri? " tannya nya.
" Ini untuk tuan Regan. "
" Owh,tuan Regan lagi ngidam? " Maura pun mulai berasumsi sambil menggut-manggut memperhatikan bos besarnya yang tengah sibuk main game di ponselnya.
" Iya!Sekarang aku sudah seperti mengurus istri ku yang tengah hamil muda! " David pun tampak begitu kesal karena harus menuruti kemauan Regan.Kenapa juga dia yang harus jadi korban dari proses ngidam tuannya itu.Menjengkelkan sekali.
" Sabar tuan, anggap saja ini proses belajar agar tuan menjadi suami siap siaga.Besok kalau saya ngidam kan tuan enggak kaget lagi hhee. "
David pun tersenyum tipis, jujur saja dia senang mendengar ucapan Maura, namun karena gengsinya yang terlalu tinggi ia mencoba menyembunyikan senyumannya itu.