
Hari sudah berganti, semua sudah mulai beraktivitas, termasuk Bintang yang kini tengah sibuk di dapur.
Kehamilannya memang tidak rewel sama sekali, dia bisa melakukan kegiatan seperti biasanya tanpa keluhan,hanya sesekali memang emosinya yang naik turun.
Bintang yang sudah selesai menyiapkan sarapan pun mulai naik ke lantai atas untuk membangunkan suami tercintanya, yang entah tadi malam tidur jam berapa, tau sendiri kan ya semalam jeck berulah.
" Sayang, bangun gih!Udah siang lo ini, kamu gak ke kantor? " ucap Bintang seraya mengusap lembut wajah Regan.
" Emmmm, lima menit lagi yank, " jawabnya yang kemudian menutup tubuhnya dengan selimut.
" Ya udah, aku mandi dulu. "
Bintang pun meninggalkan Regan dan mulai menuju kamar mandi.Lima belasbmenit berlalu Bintang yang sudah selesai mandi dan berbenah pun menghampiri Regan lagi.
" Sayang ini sudah lebih dari lima menit lo,bangun gih!tuh abdi setiamu nunggu di bawah! " Bintang pun membuka selimut suaminya dan mulai menggoyang pelan tubuh Regan.
" Bilang aja aku gak ke kantor yank, " dengan suara serak khas bangun tidur Regan bicara.
" Eh,kenapa gak ke kantor? "
" Emmmmmm..., sakit yank. "
" Sakit?tapi sepertinya kamu baik-baik aja semalem? " Bintang mulai mengernyitkan dahinya curiga.
" Iya kan semalem,sekarang sakit! "
Bintang pun langsung menempelkan punggung tangannya ke kening Regan.
Dingin, pikirnya.
" Emang yang sakit mana sih? "
" Nih, kepala aku pusing. "
" Ya udah kita ke dokter yuk! "
" Aku gak butuh dokter, aku cuma butuh kamu, " Regan pun bergeser dan mulai menaruh kepalanya di pangkuan Bintang.Merangkul pinggang ramping itu dan mulai mencium perut rata Bintang.
" Sayang, aku tau ya kamu lagi drama.Udah deh gak usah drama-dramaan,ayo bangun!cariin aku duit yang banyak! "
" Eh! Sejak kapan nona Regan jadi matre gini? " Regan pun seketika mendongakkan wajahnya menatap Bintang.
" Sejak hari ini! Ayo bangun!kerja! Kerja! Kerja! Aku gak mau ya kamu jatuh miskin! " Bintang pun berusaha mengangkat tubuh suaminya yang terus menempel itu.
" Aku lagi enggak mau ke kantor yank,aku cuma pingin sama kamu,kamu jangan khawatir aku enggak bakal jatuh miskin hanya karena enggak ke kantor hari ini, oke? " Regan pun menatap dalam Bintang,sementara tangannya semakin mengeratkan pelukannya.Entahlah sikapnya semakin hari semakin manja.
" Tapi sayang,kamu harus ke kantor ada rapat penting tuh kata si abdi setiamu."
Regan pun menghembuskan nafasnya kasar, niatnya hari ini dia hanya ingin bermanjaan dengan istrinya namun sepertinya situasi tidak mendukungnya.Tangung jawabnya sebagai pimpinan perusahaan memang tidak bisa ia tinggalkan begitu saja.
" Oke,baiklah.Tapi kamu ikut ke kantor ya? " ucapnya lesu.
Bintang pun membuang nafasnya pelan.
" Hmmm,baiklah, " jawabnya yang membuat Regan semangat empat lima.
" Ya sudah, ayo temani aku mandi. " Regan yang sudah turun dari ranjang pun segera menarik pergelangan tangan istrinya.
" Tuan Regan,mandi sendiri bisa ya? " Bintang yang menolak pun kembali menarik tangannya.
" Ya sudah, gak jadi ke kantor. " Dengan wajah tanpa dosanya Regan kembali menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang.
" Sayaaang! " Bintang yang kesal pun berteriak keras, " ya sudah ayo! " ajaknya dengan kesal.Ia pun mulai menjulurkan tangannya untuk menarik tubuh Regan.
" Gitu dong. " Senyuman jumbawa pun terbit dari wajah tampan itu.
Dan akhirnya apa yang ada di fikiran Bintang pun terjadi, peristiwa semalam yang sempat tertunda kini berlanjut di kamar mandi.Suara erotis bertambah dengan suara gemercik air memenuhi ruangan itu,rasa panas dan dingin menjadi satu hingga menciptakan kenikmatan yang tiada tara.Membuat jeck kini tertawa puas.
Jeck: makacih othorku yang cantik 😘😘
Othor:🤮
Setelah beberapa menit di kamar mandi kini pengantin basi itu mulai keluar.
Terlihat Regan yang membantu mengeringkan rambut Bintang.
" Oh ya sayang, Cello di mana? " tanya Regan karena tak mendapati Cello di sana.
" Dia udah bangun dari tadi pagi,ikut aku masak juga di dapur. Sekarang mungkin lagi mandi, " jawab Bintang sembari menaburkan bedak ke wajah cantiknya.
" Owh," Reganpun mulai ber'oh ria.
Setelah selesai berbenah mereka pun kini turun untuk sarapan bersama.
Tampak tuan Williams,mama Nita,Cello, David sudah menunggu di meja makan.Regan yang sudah bergabung pun menarik satu kursi untuk di duduki istri tercintanya.
" Silahkan sayang, " ucapnya.
" Makasih suamiku. " Bintang pun duduk dengan senyuman manisnya.
" Eh,Kevin mana ma? " tanya Regan saat tak melihat Kevin ada di meja makan.
" Tadi mama panggil masih mandi, coba deh kamu panggil lagi. "
" Owh,baik ma. " Regan pun berjalan meninggalkan meja makan.
" Kamu benar pergi hari ini? " tanya Regan saat melihat Kevin menata sedikit pakainya ke dalam koper.
" Iya kenapa? Kamu masih merindukan ku? Jika kamu menahanku aku akan bertahan untukmu, " godanya namun tetap fokus menata pakaiannya.
" Cih!Untuk apa menahan mu! Cepat kembali ke alam mu! "
" Hahahaha..., " Kevin pun tertawa lepas melihat kekesalan Regan, " ya sudah ayo sarapan,lambung ku butuh asupan, " ucapnya sembari merangkul bahu Regan.
" Sebentar,ada yang ingin aku bicarakan denganmu, " Regan pun menahan langkah Kevin.
" Soal apa? Tania? "
" Bukan,ini soal dirimu. "
" Aku percaya kamu bisa menyelesaikan masalah mu dengan Tania, " Kevin pun mulai manggut-manggut," eh, tapi kenapa denganku? " dia yang sadar mulai bertanya-tanya.
" Kau sudah lama menduda,enggak ada rencana nikah lagi? "
" Emang kau berniat cerai? " Kevin malah balik tanya,membuat Regan mengerutkan dahinya mendengar pertanyaan nyleneh sepupunya itu.
" Maksudmu apa? "
" Ya kali kau mau cerai, aku siap menampung jandamu, " jawabnya dengan senyum kudanya.Ehe....
" Jadi selama ini kau do'ain aku cerai hah! " Regan pun langsung memiting kepala Kevin.
" Aku cuma menjawab pertanyaan mu, siapa yang do'ain kamu cerai! " jawabnya dengan nafas tersengal-sengal, " aku gak bisa nafas nih! " lanjutnya sembari berusaha melepas pitingan Regan.
" Berani macam-macam aku akan membuatmu benar-benar tidak bisa bernafas lagi! " Dengan kasar Regan melepas pitingannya.
" Huh!dasar manusia kasar! " gerutunya kesal sambil menepuk-nepuk dadanya.
Sementara Regan masih menatapnya dengan sinis.
" Cepatlah menikah,Cello juga butuh sosok ibu, " ucapnya kembali.
" Iya aku tau, tapi masalahnya gak mudah cari wanita yang cocok dengan ku dan juga Cello, sekalinya ada dia sudah jadi milikmu.Gak adil banget kan? "
" Jadi kau berniat merebut milikku? "
" Kalau aku mau sudah dari dulu aku merebutnya," jawabnya sembari menarik koper kecilnya," sudah jangan bahas ini lagi.Ayo sarapan cacing di perut ku mulai gelarb demo! " Imbuhnya sembari merangkul bahu Regan.
Jujur saja Regan mengkhawatirkan keponakannya, dia bisa merasakan bagaimana Cello begitu merindukan kasih sayang seorang ibu.
Mereka pun kini mulai sarapan bersama, suasana yang begitu hangat menyelimuti kebersamaan mereka.Setelah sesi sarapan selesai kini Kevin dan Cello pun bersiap untuk berangkat ke Bandara, tuan Williams dan mama Nita pun sudah siap mengantarkan mereka.
" Ma'af aku tidak bisa ikut mengantarmu ke Bandara, " ucap Regan sembari menepuk bahu Kevin.
" Ya aku tau, kau manusia super sibuk. " Kevin menjawab seadanya sambil terus berjalan keluar.
" Jaga kesehatan mu, " imbuhnya lagi.
" Tenang saja.Oh ya segera selesaikan masalah mu dengan Tania, " pesannya sebelum masuk ke dalam mobil.
" Aku mengerti jangan khawatir. "
" Oh ya, ada satu lagi.Jangan merindukan ku, " bisiknya yang kemudian masuk kedalam mobil dengan tawa garingnya.
" Cih! " Regan pun menatapnya masam.
Kini Kevin, mama Nita tuan Williams dan juga Cello yang sebenarnya enggan melepas pelukan Bintang sudah berada di dalam mobil yang akan di kemudikan pak Jang.Tak lama mobil mereka pun kini mulai melaju.
" Kakak cantik jangan lupa hubungi Cello ya, " teriak Cello yang menyembulkan kepalanya dari kaca mobil.
" Ya sayang, " Bintang pun tersenyum senang sembari melambaikan tangannya.
Setelah mobil yang di kemudikan oleh pak Jang mulai tak tampak,kini Regan dan Bintang mulai memasuki mobil yang akan di kemudikan oleh David.
" Dav, " panggil Regan pada David yang sudah siap mengemudi mobilnya.
" Iya tuan. "
" Ganti kemejamu! Nanti kita mampir dulu ke toko baju. "
" Eh! Ma'af tuan ada yang salah dengan kemeja saya? " David pun kebingungan, dirasanya pakaian yang ia kenakan pagi ini sudah cukup sempurna.
" Aku tidak suka, " jawabnya enteng.
" Owh, ya baik tuan. " David membuang nafasnya kasar, ia hanya bisa mengiyakan.Mau gimana lagi? Dia tidak mungkin bisa menolak.
" Sayang, jangan mulai deh! " ucapnya ketus.
" Ini bawaan bayi sayang, bukan aku yang mau. " Regan pun membela diri.
Setelah sampai di sebuah toko pakaian mereka pun kini mulai turun dari mobil dan mulai memasuki toko tersebut.
Reganpun mulai memilah-milah kemeja untuk David.Sementara Bintang dan David hanya menjadi penonton setia.
" Ini,ganti pakaian mu. Aku tunggu di mobil, " ucap Regan sembari memberikan satu buah kemeja dengan brand ternama dengan harga yang pastinya cukup fantastis.
" Yang ini tuan? " tanya David memastikan. Apa dia benar-benar harus memakainya? David tampak gelisah.
" Iya.Kenapa? Tidak mau! " tanyanya tajam.
" Ti_tidak tuan, saya ganti sekarang. " Dengan gelagapan David mulai berjalan menuju ruang ganti.
Kenapa harus pink?
Kenapa dari sekian banyak warna harus pilih warna pink?
Aaaarrrrgh...
Aku taruh mana muka ku!
David yang kesehariannya selalu berpenampilan manly ingin sekali sekarang menangis sekencang-kencangnya.
Di sisi lain Regan sudah menyelesaikan pembayaran atas kemeja yang ia beli. Kini ia pun berjalan menuju mobil di ikuti oleh Bintang.
" Sayang kamu tuh keterlaluan banget,kenapa harus pink dari sekian banyak warna? Kamu tau kan kepribadian David?pasti dia kepaksa banget pakainya.Kamu tuh pasti sengaja banget kan? " gerutu Bintang.
" Ini bukan kemauan ku yank, ini bawaan bayi. "
" Bilang gitu lagi aku pindahin nih bayinya ke perut kamu. Yang hamil itu aku gak usah deh bilang bawaan bayi terus.Bilang aja kalau kamu mau ngerjain David. "
" Siapa yang mau ngerjain David, aku cuma mau lihat David pakai baju pink, " jelas Regan.
Bintang hanya bisa memanyunkan bibirnya, percuma saja dia berdebat dengan suami resenya itu.
Tak lama menunggu kini David sudah keluar dengan kemeja warna pink pilihan Regan. Sungguh ini hal yang sangat memalukan baginya.Mungkin untuk sebagian laki-laki warna pink sah-sah saja digunakan namun tidak bagi David. Ini sama saja membunuh karakternya.
David yang sudah masuk kedalam mobil pun langsung melajukan mobilnya menuju kantor. Sesampainya di kantor Regan langsung di arahkan menuju ruang meeting.
" Sayang, kamu tunggu aku di dalam ruangan ku dulu ya, kamu istirahat di sana, " ucap Regan sembari merangkul dan memberikan satu kecupan manis di kening Bintang.
" Iya, tapi gak usah pake cium,malu di lihatin karyawan mu, " protes Bintang yang masih saja malu saat Regan menunjukkan kasih sayangnya di hadapan orang lain.
" Kamu istriku,aku akan menciumu di manapun aku suka, " ucapnya yang kemudian memberikan satu kecupan di bibir manis Bintang hingga membuat David dan karyawan yang sudah menunggu di dalam ruangan meeting menoleh membuang muka. Sungguh pemandangan pagi yang luar biasa.
" Sayang! " Bintang pun mencubit pinggang suaminya yang tidak tau malu itu.Wajahnya merona menahan malu membuat Regan tersenyum gemas.
" Aku masuk dulu ya, kamu tunggu aku di ruangan, " ucapnya sembari mengusap lembut rambut Bintang.
" Hmmm, " Bintang pun hanya mengangguk ria.
Regan yang kini sudah berada di ruang meeting pun mulai mendengarkan satu persatu persentasi dari bawahannya.Dia yang biasanya begitu rewel kali ini berbeda jauh, dia langsung menyetujui semua persentasi yang di bawakan bawahannya hanya karena ingin rapat agar cepat selesai.Dia hanya ingin kembali bermanjaan dengan Bintang.
Sikap Regan kali ini tentu saja menjadi bahan perbincangan para peserta meeting namun ini juga menjadi berkah tersendiri bagi mereka.Mereka tidak perlu merevisi lagi persentasi mereka atau memikirkan ulang persentasi yang akan mereka ajukan lagi seperti sebelum-sebelumnya.Kehamilan Bintang sungguh membawa berkah untuk banyak orang, terutama para karyawan Atmaja grup.Saking senangnya sebagai rasa syukur tuan Williams sampai menaikan gaji semua karyawannya dan memberikan tunjangan tersendiri bagi karyawati yang tengah hamil dan karyawan yang memiliki istri yang tengah hamil.Beliau berharap kebahagiaannya ini juga dirasakan juga oleh orang lain.
Regan yang sudah keluar dari ruang meeting pun menghampiri istrinya yang ternyata tengah temu kangen dengan teman-teman lamanya,Doni,Rita dan Livia. Mereka tampak asik berbincang hingga tak menyadari Regan sudah berada diantara mereka.
" Ehem, " suara batuk Regan yang seketika membuat suasana menjadi hening.Doni, Rita dan Livia yang tengah berkumpul pun langsung berdiri memberi hormat.
" Pagi tuan," dan dengan langkah cepat mereka kembali bekerja di meja masing-masing.
" Sayang kamu jangan killer-killer kenapa sih! " protes Bintang melihat temannya pergi kocar-kacir karena melihat suaminya.
" Emang aku killer? Killer gimana? " Regan tetap acuh tak merasa.
" Gak ngerasa killer? Kalau kamu gak killer tuh temen-temen aku gak mungkin sampai lari gugup gitu! "
" Itu karena mereka tau kalau mereka salah sayang,mereka ngobrol di jam kerja, " jelas Regan sembari merangkul bahu Bintang dan menuntunya masuk kedalam ruangannya.
" Tapi itu aku yang ngajak tadi, " bela Bintang.
" Owh,kamu mau aku panggilin mereka lagi ? "
" Udah gak perlu! "
Mana asik kalau ngobrol ada kamu! gerutu Bintang dalam hati.
Bintang pun kini memilih tiduran di sofa panjang yang ada di depan meja kerja suaminya. Sementara Regan mulai sibuk dengan berkas-berkasnya.Niat hati selesai meeting hanya ingin bermanja dengan istrinya namun kenyataannya memang tidak bisa.Sekalinya masuk kedalam gedung menjulang tinggi itu sama saja dia masuk kedalam tumpukan berkas.Itulah yang membuatnya malas sekali ke kantor.
" Sayang aku boleh gak ke toko? " pinta Bintang dengan suara manjanya.
" Tidak boleh. " Jawaban Regan yang membuat Bintang seketika mengalihkan pandangannya dari layar ponselnya.
" Aku cuma mau lihat-lihat aja! "
" Nanti sore aku temani," jawab Regan yang tetap fokus dengan laptopnya itu.
" Huuuuuh, " Bintang pun membuang nafasnya kasar. Jujur saja dia sudah rindu dengan pekerjaan di tokonya namun karena kehamilannya Regan tak mengijinkannya pergi ke toko.Alhasil dia hanya bisa meng-handle tokonya melalui ponsel,mempercayakan tokonya pada karyawan kepercayaannya.
Waktu berjalan terasa begitu cepat,jam sudah menunjukkan waktunya makan siang, Regan yang melihat istrinya yang sedari tadi hanya bermain ponsel tengah tertidur pulas pun segera menghampirinya. Memberikan satu kecupan lembut di kening dan kemudian menggendongnya menuju ruangan istirahatnya.
Tak lama setelah itu terdengar suara Maura yang tengah mengetuk pintu, Regan pun segera meninggalkan Bintang yang tengah tertidur pulas.
" Masuk, " ucapnya saat Maura meminta izin untuk memasuki ruangannya.
" Ada apa? " tanyanya kini.
" Ma'af tuan, ada nona Tania di luar, beliau memaksa untuk masuk. "
Regan tampak terdiam, entah apa yang tengah ia fikirkan, mungkinkah ini waktu yang tepat untuknya menjelaskan semuanya pada Tania? Entahlah Regan belum punya rencana untuk itu.
" Biarkan dia masuk, " ucapnya kini.
" Baik tuan, " Maura pun bergegas keluar menemui Tania yang sudah sedari tadi menunggu.
" Siang Rey, " sapa Tania saat ia memasuki ruangan Regan.
Namun sapaan hangat itu tak mendapatkan jawaban.Regan tetap diam dan hanya meliriknya sekilas.Ia pun memilih kembali melanjutkan pekerjaannya yang tadi ia tinggalkan.
" Sibuk banget ya? " tanya Tania sembari memutar roda pada kursi rodanya untuk mendekat ke arah meja kerja Regan.
" Seperti yang kau lihat.Jika tidak ada yang penting lebih baik kamu pulang saja, " jawabnya begitu ketus.
" Galak banget sih Rey, aku mau ajak kamu makan siang, ada hal penting yang ingin aku bicarakan, " Tania pun mulai mencari akal agar Regan mau bersamanya, ya walaupun sejujurnya tidak ada hal penting yang mau ia bicarakan.Ini hanya akal-akalannya saja.
" Aku tidak bisa.Bicarakan saja di sini! "
" Aku sengaja tidak makan lo dari rumah hanya karena ingin makan siang bersama mu, jika ini permintaan terakhir ku, apa kamu tidak mau mengabulkannya? Bisa saja Tuhan besok mengambil nyawaku, penderita gagar otak yang parah seperti ku bisa mati kapan saja. " Ucapan Tania jelas membuat Regan tak bisa berkutik.Dia tak bisa lagi menolak, jika saja Regan tau bahwa kondisi Tania sekarang jauh lebih baik.
" Hmmmm baiklah,tapi biarkan aku yang menentukan tempatnya. "
" Oke.Setuju! " Tania pun tersenyum senang.
" Kamu bisa tunggu aku di mobil. "
" Oke. " Tania pun kini berjalam keluar menggunakan kursi rodanya, sementara Regan kini mulai masuk kedalam ruang istirahatnya.
" Sudah bangun? " ucap Regan saat melihat istri tercintanya sudah duduk termenung di atas ranjang.Regan pun menghampirinya dan duduk di hadapannya.
" Hmmmm,kenapa di tinggal mantan calon istri mu? " ucap Bintang dengan ketusnya.
" Kamu mendengarnya? " Regan pun sedikit tersentak.
" Telingaku masih normal. " Bintang tampak begitu acuh,dia sudah bangun sedari tadi jadi bisa mendengar semua percakapan suaminya,jelas saja sekarang dia kesal mendengar suaminya bersedia makan bersama dengan mantan tunangannya dulu.
Regan pun langsung memeluk tubuh mungil itu.Di peluknya dengan erat-erat.
" Aku tidak ada maksud lain, izinkan aku untuk menyelesaikan masalah ini.Aku tidak mau menyembunyikan status kita terus menerus dari Tania, " ucapnya lembut.
Bintang pun kini menatap mata suaminya,mencari sebuah kebenaran dari sana.
" Kamu yakin? Kamu tau kan resikonya? " Bintang sedikit tak percaya dengan keputusan suaminya itu.
" Aku sudah memikirkannya,mungkin ini waktu yang tepat." Mata itupun kini saling beradu.
" Baiklah.Kamu boleh pergi. "
" Terimakasih sayang." Regan pun memberikan satu kecupan di bibir ranum itu, " aku akan menyuruh David mengantar mu pulang," imbuhnya sembari mengusap lembut rambut Bintang.
" Tidak perlu,aku ingin makan siang bersama Rita dan Livia."
" Baiklah,jangan makan yang aneh-aneh ya."
" Ya. " Bintang masih sedikit dingin,jelas itu bisa dirasakan oleh Regan.
" Ayo aku antar menemui teman-teman mu. "
" Tidak perlu aku sendiri saja. "
" Sayang, kamu marah? " tanya Regan dengan kedua tangannya yang menangkup wajah cantik istrinya itu.Jujur saja ia khawatir, keputusannya mungkin membuat Bintang meragukannya.
" Tidak.Aku hanya sedikit kesal.Mungkin ini bawaan bayi." Bintang pun mulai menggunakan jargoan suaminya itu.
" Sayang jangan gitu, kalau kamu tidak mengizinkanku,aku tidak akan pergi. " Regan pun kemabali memeluk erat tubuh Bintang.
" Pergilah,tapi ingat kau laki-laki yang sudah beristri, jika kau berani macam-macam aku akan membunuhmu! kamu tau kan orang Indonesia terkenal bisa membunuh tanpa menyentuh! "ancamannya yang membuat Regan tersenyum tipis.
" Percayalah,aku bisa menyelesaikannya, " ucapnya dengan ciuman bertubi-tubi ia berikan di kening Bintang.