
Sementara wanita yang berada di atas kursi roda itu pun bergegas memutar roda kursi nya secepat mungkin untuk segera menjauh dari sana, seperti nya wanita itu juga tak kalah terkejutnya dengan Regan,kini ia mencoba untuk menjauh sejauh mungkin sampai Regan tak bisa menemukan nya lagi.
" Tunggu! " teriak Regan yang berusaha menghentikan wanita itu, namun wanita itu tak menghiraukan Regan dan terus memutar kursi rodanya secepat mungkin.
" Tunggu Tania! " teriak Regan lagi yang kali ini memanggil wanita itu dengan nama Tania. Regan pun mengejar wanita yang kini mengabaikan nya itu.Tidak sulit bagi Regan untuk mengejarnya dan kini Regan pun berhasil menghentikan wanita itu.
" Apa kau tidak ingin menjelaskan nya! " ucapnya menatap wanita yang kini memilih membuang muka itu.
Tampak wajah yang begitu rapuh, dengan mata yang ingin menangis.
" Kenapa kau terus diam Tania! apa kau tak bisa mendengar ku! " suara Regan pun sedikit meninggi karena wanita di hadapan nya itu hanya diam tak menanggapi nya.
" Ma'af saya bukan Tania,saya tidak mengenal anda, jadi tolong biarkan saya pergi, " suara lirih wanita itu yang tetap memalingkan wajahnya.
" Kau fikir aku tidak bisa mengenalimu karena kondisi mu yang seperti ini!kau sudah membuatku tersiksa bertaun-bertaun dan sekarang kau bilang kau tidak mengenaliku!katakan!katakan jika kau tidak mengenaliku! " Regan yang mulai emosi pun mencengkeram erat kursi roda yang kini ia pegang.
" Aku tidak mengenalmu! pergilah! " suara wanita itu pun meninggi, suara yang mulai serak seakan menahan tangis.
Regan pun kini menarik dagu wanita yang dari tadi mengacuhkannya itu untuk menatap nya lekat-lekat.
" Katakan jika kau tak mengenaliku! " ucapnya dengan tatapan yang penuh arti.
Wanita yang bernama Tania itupun tak lagi bisa mengelak untuk tak menatap wajah Regan,wajah yang sejujurnya sangat ia rindukan.
Wanita itupun menatap lekat wajah Regan,tatapanya begitu kuat seakan menahan tangis,tapi apalah daya hatinya rapuh setiap melihat wajah laki-laki yang selama ini masih ia cintai,kini tatapanya pun nanar karena airmata yang tiba-tiba memenuhi kelompok matanya,dan tanpa di minta airmata itu pun mengalir dengan sendirinya,air mata yang tidak diinginkan itu mulai membasahi wajah pucatnya.Mulut yang ingin mengelak pun rasanya tak lagi sanggup untuk bicara,suaranya serasa terhenti di tenggorokan.
Tak perlu lagi Regan mencari jawaban karena airmata itu sudah membuatnya yakin bahwa wanita di hadapannya itu tak mungkin benar-benar melupakan nya,dia Tania mantan kekasihnya dulu.
Kini Regan pun sedikit menekuk lututnya untuk mensejajarkan tubuhnya dengan Tania.
" Jelaskan padaku, kenapa kau melakukan ini! " ucapnya dengan suara yang mulai melembut.
" Tidak ada yang perlu di jelaskan, pergilah! aku tidak ingin melihatmu! " Tania pun tetap berusaha untuk menjauh dari Regan.
" Aku butuh penjelasan darimu! kenapa kau melakukan semua ini padaku! "
" Aku tidak ingin menjelaskan apapun padamu! ku mohon pergilah Regan! aku tidak ingin melihatmu! " suara Tania pun kembali meninggi, suara yang penuh amarah itu pun kini menumbangkan tubuhnya hingga kini jatuh tepat kepelukan Regan.
Mata layu itupun kini terpejam,wajahnya semakin tampak putih pucat membuat Regan kini mulai panik.
" Tania, tania, " panggil nya seraya menggoyang tubuh Tania yang tak sadarkan diri.
Wanita paruh baya yang dari tadi hanya memperhatikan dari jauh pun berlari menghampiri.
" Tolong Rey, tolong bawa Tania ke ruangan tadi, " ucap wanita itu yang tampak sangat panik.
Kini Regan pun mengangkat tubuh Tania, ia pun menggendongnya dan berjalan secepat mungkin untuk sampai ke ruangan di mana tadi Tania berada.
Kini tampak Regan dan wanita paruh baya yang di panggil tante Nia itu tengah menunggu di luar karena dokter sedang mengambil tindakan.
Tampak Regan yang kini tengah duduk menunduk memijat keningnya sendiri.
Ada rasa khawatir yang terbesit di hatinya.
" Apa dia akan baik-baik saja? " tanyanya pada tante Nia.
" Dia sudah biasa seperti ini, kau tidak perlu khawatir,dia pasti bisa melewatinya, " tutur tante Nia.
" Biasa? " Regan pun mengernyit kan dahinya mendengar kata biasa dari tante Nia.
" Benturan keras pada kepalanya membuatnya gagar otak,setiap kali dia tertekan ya inilah yang terjadi,dia akan pingsan dan jika vatal itu akan membuatnya kehilangan nyawanya, tapi kau tidak perlu khawatir Tania sosok yang sangat kuat, dia bisa melewati ini semua, " ucapan yang sebenarnya hanya untuk menguatkan dirinya,hatinya tetap takut jika putrinya itu akan pergi meninggalkan nya, ketakutan yang selalu ia rasakan sepanjang hari.
" Kau tidak salah Rey, kau berhak tau semuanya, ma'af kan tante sudah membohongi mu selama ini. "
Regan pun kini tampak tertunduk lemah.
" Jika Tania masih hidup, jadi siapa yang ada di makam itu? " tannya Regan kini.
" Dia korban kecelakaan yang tidak mempunyai identitas. " Jawaban tante Nia yang membuat Regan kini tersenyum kecut, ia pun kini menyandarkan tubuhnya ke kursi,raut wajahnya pun kini tampak sangat kecewa.
Sementara di tempat lain, mama Nita,Bintang dan tuan Williams pun merasa kesal karena terlalu lama menunggu Regan.
" Sayang, kau hubungi gih suamimu, kenapa lama sekali, jangan-jangan dia ketiduran lagi di toilet, " gerutu mama Nita.
" Mama ini bisa saja, masak iya ketiduran di toilet. " Tuan Williams pun tertawa pelan mendengar ucapan istrinya itu.
" Ya kan bisa jadi pa, semalaman mama lihat dia itu sibuk dengan laptopnya,sepertinya sedang banyak pekerjaan di kantor nya, bisa jadi kan dia kurang tidur dan sekarang ketiduran di toilet, " tutur mama Nita.
Sementara Bintang yang sudah beberapa kali menghubungi suaminya tetap juga tidak mendapat jawaban.Kini ia pun merasa khawatir apa lagi setelah mendengar ucapan mertuanya tadi.
" Ma,Bintang susul mas Regan dulu ya, soalnya dari tadi panggilan ku tidak di jawab, " ucapnya.
" Iya sayang. "
Kini Bintang pun beranjak keluar dari mobil dan mulai kembali masuk kedalam rumah sakit,sambil berjalan ia pun masih mencoba menelfon suaminya namun kenyataan nya nihil panggilannya pun tidak mendapat jawaban.Namun Bintang terus melakukan panggilan itu karena dirinya yang kini benar-bebar khawatir.
Saat menuju toilet Bintang tak sengaja melihat suaminya yang tengah duduk bersama wanita paruh baya, ia pun tersenyum lega mendapati suaminya ternyata baik-baik saja, kini Bintang pun mulai berjalan menghampiri suaminya, namun langkah nya terhenti saat melihat suaminya mengangkat panggilan nya.
" Kau lama sekali! " protes Bintang.
" Iya, ma'af sayang,David tadi menelfon ku, dia meminta ku untuk segera datang ke kantor, sekarang aku dalam perjalanan ke kantor,ma'af baru menghubungi mu, sekarang pulanglah bersama mama dan papa, setelah urusan ku selesai aku akan segera pulang, " jawaban Regan yang membuat Bintang kini diam terpaku.
Kenapa kau harus berbohong padahal jelas-jelas kau masih berada di rumah sakit dan sekarang tak jauh dari tempat ku berdiri,siapa wanita paruh baya yang berada di samping mu? apa yang ingin kau sembunyikan dariku? pertanyaan-pertanyaan yang kini bergelut di fikiran nya.Rasa kecewa pun terlihat jelas dari raut wajah Bintang.
" Baiklah, " kata yang kini terucap begitu saja dari mulutnya.Dan kini sambungan telepon itu pun berakhir.
Bintang pun kini dengan perlahan melangkahkan kakinya meninggalkan tempat itu,ia mencoba mengerti mungkin ada sesuatu yang belum ingin suaminya ceritakan padanya,tapi kenapa harus berbohong?dengan perasaan yang begitu kecewa kini Bintang pun kembali menyusul mama Nita.
" Ada apa sayang? kenapa wajahmu kau tekuk seperti itu? mana suamimu? " tanya mama Nita yang kini mendapati Bintang sudah berada di hadapannya.
" Mas Regan ada urusan di kantor ma, kita pulang saja. " Suara yang keluar dari tatapan yang begitu kosong.
" Dasar anak kurang ajar! sudah di tungguin lama malah pergi seenaknya! " gerutu tuan Williams.
" Papa ini apa sih! pak Jang kita pulang ya! " uacap mama Nita yang kini berbicara pada pak Jang.
" Baik nyonya. "
Kini pak jang pun mulai melajukan mobilnya,di dalam perjalanan Bintang terus diam terpaku dengan tatapannya yang begitu kosong.
" Ternyata rasanya begitu sakit saat mengetahui pasangan kita berbohong, " gumamnya dalam hati.
Sementara mama Nita yang dari tadi melihat sikap anak mantunya itu pun merasa heran,Bintang yang selama ini selalu tampak ceria kenapa kini tampak begitu murung.
" Sayang, apa terjadi sesuatu? ceritalah pada mama, " ucap mama Nita kini seraya mengusap lembut rambut Bintang.
Bintang pun kini tersenyum walau ia paksakan.
" Tidak terjadi apa-apa kok ma,Bintang hanya lelah, " ucapnya kini.
Mama Nita pun tersenyum, ia tau jika anak mantunya itu pasti memiliki masalah, namun ia mencoba mengerti mungkin Bintang tidak ingin menceritakan padanya.