
Regan kini sudah di dalam perjalanan menuju kantornya bersama David.
Tampak ia sedang memikirkan ucapan istrinya tadi.
" Apa yang sebenarnya ingin dia beli dengan uangnya sendiri? " gumamnya dalam hati sambil terus berfikir apa yang sebenarnya di inginkan istrinya itu.
Setelah berfikir keras kini tampak senyuman yang mengembang di pipinya.Seakan Regan sudah mendapatkan jawaban dari pertnyaan yang ada di dalam otaknya itu.
" Harusnya kau manfaatkan kekayaan suami mu ini untuk mendapatkan apa yang kau mau, bukan memilih berjuang sendiri untuk bisa membelinya kembali, " benaknya dalam hati.
Tak terasa kini mobil yang di tumpangi Regan sudah berhenti tepat di depan kantornya. Regan yang kini sudah memasuki kantor pun menjadi pusat perhatian para karyawannya.
" Pagi Tuan, " sapa Rita yang tengah berpapasan dengannya.
" Pagi, " jawaban Regan yang mampu membuat semua mata yang ada di sana membelalakan matanya.
"Hah!serius Tuan Regan menjawab sapaan ku! " ucap Rita tak percaya karena selama ini Regan tak pernah sekalipun menghiraukan siapapun yang menyapanya.
" Apa telingamu tidak berfungsi dengan baik? " celetuk Doni.
" Ah! sialan kau! " decak Rita kesal.
" Habis ini syukuran Rit,jarang-jarang kan tuan Regan menjawab sapaan karyawan nya? " sahut Livia dengan senyuman liciknya.
" Kau benar Liv, aku beruntung banget kan? nanti kita syukuran di kantin, ku traktir kalian makan siang, " jawab Rita.
Livia pun tertawa cekikikan mendengar jawaban Rita.
" Sering-sering deh kaya gini, " batinnya dalam hati.
Sementara Doni kini menatap Rita lekat-lekat,ia pun memegang kedua bahu Rita hingga membuat jantung Rita berdetak pada mode tak beraturan.
" Aku do'a kan semoga tuan Regan sering-sering menjawab saapaan mu, " ucapnya tulus.
" Ah! bilang saja jika kau ingin aku sering-sering mentraktirmu! dasar tikus got! " Rita pun melepas kasar tangan doni dari bahunya.
" Sial! kenapa jantungku jadi gak karuan gini! " gumam Rita kesal.
Kini Rita pun pergi meninggalkan dua temannya itu.
Sementara Livia dan Doni terkekeh melihat tingkah Rita.
" Menurut mu kenapa tuan Regan mau menjawab sapaan Rita? " ucap Livia.
" Itu karena energi positif dari Bintang, lihatlah,nanti sikap tuan Regan pasti akan berubah walau sedikit, " jawab Doni.
" Apa kau seyakin itu? "
" Hmmmm. "
Kini Livia dan Doni pun bergegas ke meja mereka masing-masing.
Sementara Regan yang sudah berada di ruang meeting pun mulai membahas kerja samanya dengan perusahaan ternama asal Jepang itu.
Selama satu jam lebih kini meeting itupun selesai,meeting berjalan sangat lancar dan hasilnya pun sesuai dengan yang diharapkan.
Regan yang kini sudah berada di ruangannya pun mulai menghubungi Bintang dengan ponselnya.
" Hallo sayang, " ucapnya.
" Iya,bagaimana meeting nya? " tanya Bintang dari seberang sana.
" Semua berjalan dengan lancar. "
" Syukurlah,aku senang mendengar nya. "
" Aku telat menghubungi mu? apa kau akan menghukumku? "
" Mana mungkin aku berani menghukum tuan Presdir. "
Regan pun tersenyum tipis mendengar jawaban istrinya itu.
" Tunggu sampai satu jam lagi,aku akan menghubungimu, " ucapnya yang mulia membuka berkas-berkas yang ada di hadapannya.
" Kau tidak perlu terus menghubungiku, fokuslah dengan pekerjaan mu. "
" Aku selalu merindukan mu, jadi biarlah seperti ini. "
Bintang pun membuang nafasnya kasar.
" Hmmm... baiklah, selamat bekerja sayang aku tunggu satu jam lagi, love you, " ucapnya yang kemudian mematikan sambungan telepon nya.
" Love you too, " ucap Regan pelan sambil menaruh ponselnya di atas meja, kini ia pun mulai fokus dengan pekerjaan nya.
Sementara Bintang yang ada di rumah sibuk membereskan kamar yang mereka tempati.
Bintang mulai merubah kamar Regan yang bernuansa kelabu itu menjadi tampak lebih cerah.
Kini Bintang pun tersenyum puas.
" Akhirnya kamar ini tampak hidup! " ucapnya pelan yang mendapati kamar mereka terlihat lebih fresh.
" Terimakasih ya Nen bantuannya, kau boleh lanjutin pekerjaan mu di bawah, " ucap Bintang yang kini berbicara pada Neni.
" Tapi Non,barang-barang ini belum di bereskan, biar saya bantu dulu membereskannya, " ucap Neni yang mendapati barang-barang di kamar itu sedikit berantakan.
" Tida perlu,biar aku saja.
Kau lanjutkan saja pekerjaan mu di bawah."
" Baiklah Non, saya kebawah dulu, " jawab Neni yang kemudian melangkah keluar.
Kini Bintang pun mulai menata barang-barang itu di atas nakas, ia pun juga menata kembali buku-buku regan yang sedikit berantakan.
Saat ia menata buku di rak, ia melihat satu kotak hitam berukuran kecil di pojokan, karena merasa penasaran Bintang pun mulai mengambilnya.
" Kotak apa ini? " Bintang pun mulai membuka kotak itu.
Saat Bintang mendapati isinya, ia pun diam termenung menatap kertas kecil dan kotak kecil berwarna merah yang kini ada di tangannya.
" Siapa wanita ini? kenapa aku tidak asing dengan wajahnya? apa dia saudaranya? tapi aku tidak pernah mendengar regan punya saudara perempuan,apa mungkin ini sahabatnya? tapi kenapa foto mereka mesra sekali? aku sama Rafa yang bersahabat tidak pernah foto sedekat ini! apa mungkin dia kekasihnya dulu? " gumamnya yang melihat foto regan bersama wanita cantik dengan pose yang sadikit mesra.
Kini Bintang pun mulai membuka kotak kecil berwarna merah itu.
" Cincin? " gumam Bintang saat melihat dua cincin yang ada di dalam kotak itu.
" Ini mirip sekali cicin tunangan,apa mungkin benar dia wanita di masa lalunya? kenapa Regan masih menyimpan ini semua? " Bintang pun mulai bertanya-tanya kini otaknya pun mulai bergelut dengan asumsinya sendiri.
Tok.. tok.. tok..
" Sayang, mama mau pergi arisan, apa kau mau ikut? " suara mama Nita dari luar pintu yang mengejutkan Bintang.
" Ti.. tidak ma, Bintang di rumah saja, " jawab Bintang.
" Ya sudah, nanti kalau mau makan enggak usah nunggu mama ya,mama mungkin pulang malam. "
" Iya ma. "
Mama Nita pun kini mulai meninggalkan kamar anaknya itu.
Sementara Bintang yang masih berada di dalam kamar mulai menyimpan kembali foto beserta kotak merah yang berisikan cincin itu ke dalam kotak hitam, ia pun menaruhnya di dalam laci.
" Aish! bukankah ini ponsel ku dulu yang tertinggal? jadi dia tidak membuangnya? " gumamnya tersenyum tipis saat mendapati ponselnya yang pernah tertinggal dulu tersimpan rapi di laci kamar regan.
Kini Bintang pun mulai keluar dari kamarnya, ia berjalan menuju dapur dengan otak yang masih memikirkan foto regan bersama wanita cantik tadi.
" Apa Regan masih menyukai wanita itu? apa alasannya masih menyimpan foto mereka berdua kalau tidak karena dia masih menyukainya,huh! kenapa rasanya sakit! " gumamnya sambil memukul-mukul dadanya sendiri.
Drttt. drrttt..
suara getar ponsel Bintang.
Bintang pun menatap layar ponselnya,satu panggilan masuk siapa lagi kalau bukan dari suami tampannya itu.Bintang pun menggeser tombol hijau di ponselnya.
" Hai sayang, " sapa Regan dari seberang sana.
" Hmmmm, " jawabnya malas.
" Kog gitu jawabnya?apa terjadi sesuatu? "
" Tidak. "
" Apa kau sedang merindukan ku? "
" Iya. " jawab Bintang tanpa sadar.
" Baiklah, aku pulang sekarang! "
" Hah! tidak tidak, kau tidak perlu pulang! "
" Masak iya dia pulang hanya karena aku merindukannya, " batinnya tak habis fikir.
" Sungguh kau tidak ingin aku pulang? " tanya Regan dari seberang sana.
" Iya, kau kan baru saja sampai kantor,masak iya mau pulang lagi.
Sekarang fokuslah dengan pekerjaan mu dan jangan menelfon ku lagi! " Bintang pun berbicara penuh penekanan, ia tak habis fikir dengan kelakuan suaminya yang benar-benar menelfonnya setiap satu jam sekali itu.
" Tidak tidak,bagaimana kalau aku merindukanmu! " protes Regan.
" Sayang, nanti kita bisa bertemu di rumah, sudah ya aku mau masak, jangan menelfon lagi! " ucap Bintang yang kemudian memutuskan panggilan secara sepihak.
" Kalau melihat sikapnya yang seperti ini,sepertinya dia sangat mencintai ku, tapi kenapa dia masih menyimpan foto itu? ah! mungkin dia hanya lupa belum membuang barang kenangannya itu, sekarang lebih baik aku masak untuk makan siangnya nanti, " gumam Bintang yang kemudian melangkah kedapur dengan senyuman yang merekah dari bibirnya.