
Bintang pun melanjutkan acara masak-memasaknya bersama mama Nita.
Sedangkan Bi inah dan Neni memilih meninggalkan dapur untuk mengerjakan pekerjaan rumah yang lain.
Sementara Regan,ia sengaja duduk di dekat istrinya dan terus menatap istri cantiknya itu yang sedang memasak.
" Sayang sudah selesai belum? " ucap Regan yang mulai bosen menunggu istrinya yang sedang memasak itu.
" Belum, kau sudah lapar? " tanya Bintang.
" Tidak juga, kita ke kamar aja yuk, biar mama saja yang masak, " bisiknya berharap Bintang mau kembali ke kamar bersamanya, tau dong mau ngapain??
" Enggak bisa, tadi aku yang nawarin mau bantu mama masak, masak ia sekarang aku udahan, " ucap Bintang pelan.
Regan yang mendengar jawaban Bintang pun membuang nafasnya kasar.Kini ia pun mendekati mamanya.
" Masih mau masak apa lagi ma? sini biar Regan bantu, " ucapnya agar acara masak memasak cepat selesai.
" Hah! mimpi apa mama semalam sampai-sampai Tuan Presdir mau bantu mama masak? " ucap mama Nita terkejut atas tawaran anak laki-laki nya itu karena selama ini masuk dapur pun tidak pernah.
" Hari ini Regan lagi baik hati ma, ayo mau di bantu apa! sebelum Regan berubah fikiran nih!"
" Mama tidak membutuhkan bantuan mu, sudah ada istrimu yang cantik itu yang membantu mama, " ucap mama Nita yang tetap fokus memasak.
" Regan bantu aja biar cepet selesai, " memaksa.
" Apa sih Rey? emang kau bisa bantu mama apa? " mulai kesal.
" Apa saja Regan bisa, " ucap nya meyakinkan.
" Lagak mu Rey,tau bentuk tomat aja baru tadi! ya sudah potongin bawang merah nih! " ucap mama Nita sambil menyodorkan bawang merah dihadapan Regan.
" Tidak.. tidak, Regan tau itu yang buat mata perih kan? " tolaknya.
" Ya sudah kalau enggak mau, jangan gangguin mama, " ucap mama Nita kesal.
" Kenapa harus masak sendiri sih ma, kan ada Neni sama bi Inah, kenapa tidak mereka saja yang masak! " protesnya berharap sang istri bisa ia bawa kembali ke kamar.
" Jangan bebankan semua pekerjaan rumah pada mereka,selama kita masih bisa melakukannya sendiri ya kita lakukan.
Kau ini sebenarnya kenapa sih Rey? biasanya juga mama masak sendiri, kenapa baru protes sekarang? " tanya Mama Nita menyelidik.
" Ya enggak papa,Regan kasihan saja sama Mama, " jawabnya beralasan.
Bintang yang mendengar jawaban suaminya itu pun tertawa cekikikan karena ia tau niat licik yang sebenarnya ada di otak suaminya itu.
" Kalau kasihan sama mama, kau duduk manis saja di situ, jangan gangguin mama terus nanti mama enggak selesai-selesai masaknya, " sambil menunjuk kursi yang tadi di tempati Regan.
" Emang masih lama ya ma, " tanya Regan lagi.
" Masih! " jawab mama Nita kesal.
Regan pun kini hanya bisa menatap Bintang kesal karena terus mentertawakannya itu.
" Kalau kau memang mau bantu, sana susul papa sama pak Jang di belakang, mereka sedang membersihkan taman belakang, " ucap mama Nita lagi.
" Hah! tidak.. tidak.. emmm maksud Regan, Regan ada telfon dari David,Regan angkat dulu, " ucapnya sambil menaruh ponselnya di telinga, " iya Dav, ada apa! oh berkas itu, ya.. ya..sebentar aku cek dulu email dari tuan Andrew, " ucapnya seakan berbicara pada David padahal tak ada satu orang pun yang menghubunginya.
Regan pun kini memilih ke ruang kerjanya dari pada harus membantu pak Jang dan papanya di taman.
Sementara Bintang yang melihat layar ponsel suaminya itu tidak menyala pun membuang nafasnya kasar.
" Dasar! tukang kibul! " gerutunya pelan.
Setelah beberapa menit,kini semua masakan pun sudah siap, Bintang pun kini mulai menatanya di meja makan.
" Sayang,sudah biar mama saja yang lanjutin, kau panggil saja suami mu untuk makan siang, " ucap mama Nita.
" Baik ma, " ucap Bintang yang kini mulai menyusul Regan ke ruangan kerjanya,namun saat ia masuk tidak ada siapa pun di sana. Kini Bintang pun memilih menuju kamar mereka siapa tau Regan sekarang ada di sana.
Saat memasuki kamar Bintang mendapati Regan tengah tertidur pulas.
" Tidur lagi?apa ini kerjaanya kalau tidak ke kantor? " ucapnya pelan.
Kini Bintang pun mulai mengguncang tubuh suaminya pelan.
" Sayang,bangun gih,tidur mulu! " ucapnya.
" Hmmmm... sini temani aku tidur, " jawab Regan sambil menarik tangan Bintang hingga kini tubuh Bintang berada di pelukannya.
" Mama menyuruh ku memanggilmu untuk makan siang, "
" Nanti saja, " ucapnya dengan suara serak khas orang baru bangun tidur.
" Nanti mama nungguin, kan enggak enak, " ucap Bintang yang mencoba lepas dari pelukan suaminya itu.
" Ya sudah cium dulu, " ucap Regan yang masih memeluk tubuh istrinya itu.
" Sudah kan, ayo! " ucapnya yang kini mencoba bangun dan lepas dari jeratan suaminya itu, namun usahanya gagal karena Regan semakin mempererat pelukannya, " sayang, kan udah aku cium, ayo sekarang kita bangun! " protesnya.
" Kau sudah membuat Jeck bangun, jadi sekarang kau harus bertanggung jawab, " ucap Regan dengan senyuman liciknya.
" Dasar! manusia licik, " ucap Bintang dengan senyuman tipisnya mencubit hidung suami liciknya itu hingga kesulitan bernafas.
Regan yang merasa kesulitan bernafas pun melepaskan tangan Bintang dari hidungnya.
" Kau membuat ku tidak bisa bernafas! " ucapnya kesal.
" Biarin! " ucap Bintang sambil menjulurkan lidahnya membuat Regan semakin kesal dengan istrinya itu, tanpa ba bi bu Regan pun mulai mencium bibir manis istrinya yang menjengkelkan itu,hingga kini ciuman itupun semakin liar dan memanas.
" Sayang,pintunya tidak di kunci, " ucap Bintang yang melepaskan ciuman maut suaminya itu.
" Baiklah, aku kunci dulu pintunya, " jawab Regan bersemangat.
Setelah mengunci pintu Regan pun kembali naik ke atas ranjangnya dengan penuh semangat,akhirnya aktivitas panas itupun kembali berlanjut hingga menciptakan
suara desahan dan erangan yang memenuhi ruangan.
pakaian yang tadinya menutupi tubuh mereka pun kini tampak berserakan di lantai.
Tegangan Jeck yang semakin tinggi membuatnya tak tahan lagi untuk keluar dari sarangnya,kini Jeck pun berusaha masuk kedalam hunian barunya dengan perlahan,tak ada suara rintihan lagi yang terdengar karena sepertinya si pemilik hunian baru kini begitu menikmati pergerakan Jeck,akhirnya untuk pertama kalinya Jeck bisa merasakan nikmatnya berada dalam hunian barunya itu, hingga kini Jeck pun mengeluarkan lava panasnya.
Pertarungan siang hari membuat tubuh mereka begitu berkeringat,aktivitas yang mengeluarkan banyak energi itu membuat dinginnya AC tak mampu mendigingkan tubuh mereka yang memanas.
Tampak Regan yang kini tengah terduduk lemas memeluk tubuh istrinya,dengan senyuman tipisnya ia pun menghadiahkan satu kecupan di kening istrinya itu.
" Makasih sayang, " ucapnya yang membuat wajah bintang merah merona, Bintang pun hanya menganggukkan kepala sebagai jawabanya.
" Gimana? enak kan? " ucapnya lagi.
" Apaan sih! " jawab Bintang dengan wajah yang semakin memerah.
" Kau ini,masih saja malu-malu," ucap Regan sambil mencubit hidung Bintang.
Sementara di meja makan, Tuan Williams, mama Nita dan Kevin sudah menunggu Regan dan Bintang dari tadi.
" Regan mana sih ma? " tanya tuan Williams.
" Bintang tadi sudah manggil kok pa, sebentar lagi, " ucap mama Nita santai.
" Bi, kapan kita makanya?cacing-cacing di perut Kevin udah pada demo ini! " protes Kevin karena dari tadi dia di larang makan sebelum Bintang dan Regan datang.
" Sebentar lagi, " ucap mama Nita yang terus bilang sebentar lagi dari tadi.
" Ah! bibi dari tadi juga bilang gitu! biar Kevin panggil saja mereka! " mulai beranjak dari kursinya.
" Jangan! " bentak mama Nita yang membuat Kevin yang tadinya berdiri kini kembali duduk lagi dengan wajah datar tanpa ekspresi.
" Maksud bibi kau duduk saja dulu, " ucap mama Nita lagi dengan senyuman hangat nya karena tanpa sadar sudah membentak Kevin.
Mama Nita sengaja tak mengizinkan Kevin karena takut jika mengganggu aktivitas Regan dan Bintang yang kemungkinan sedang mencetak junior untuknya.
" Kenapa sih ma? biar Kevin panggil saja mereka, siapa tau mereka ketiduran, mama enggak inget kalau Regan punya masalah di lambungnya, dia enggak boleh telat makan, " sahut tuan Williams.
" Benar juga kata papa, bisa jadi kan mereka ketiduran setelah nyetakin aku junior? " gumam mama Nita dalam hati.
" Ma? " panggil tuan Williams karena mama Nita terus diam.
" I..iya, ya sudah kau panggil saja deh Vin, " jawab mama Nita.
Kevin pun kini mulai beranjak dari kursinya dan berjalan menuju kamar pengantin baru itu.
" Wahai pengantin baru cepatlah keluar! jangan membuatku mati kelaparan! " teriak Kevin dari luar pintu.
" Sayang tuh kan Tuan Kevin manggil,pasti nanti mama marah deh sama aku," ucap Bintang yang masih di dalam kamar itu.
" Tidak mungkin mama marah, sudah abaikan saja manusia di luar itu, " jawab Regan santai.
" Jangan mengabaikan ku! aku tau kalian mendengar ku bukan? cepatlah keluar!kalau tidak kalian akan membuat semua yang ada di rumah ini kelaparan! " teriak Kevin lagi seakan tau jika Regan memang sengaja mengabaikan nya.
" Dasar burung beo! " dengus Regan kesal karena Kevin begitu banyak bersuara.Kini Regan pun turun dari ranjangnya dengan melilitkan handuk di pinggangnya.
Regan pun keluar menemui Kevin yang masih berdiri di depan kamarnya itu.
" Aku akan makan nanti, kalain makanlah dulu! " ucapnya ketus.
" Apa-apaan kau ini! kenapa tidak bilang dari tadi! " ucap Kevin emosi.
" Aku sibuk! " ucap Regan yang kemudian menutup pintu kamarnya,Kevin pun kini diam mematung dengan otak yang mulai travelling.
" Apa mereka sedang melakukan pertempuran panas?sialan! bisa-bisa aku panas dingin sendiri jika terus disini! " gerutu Kevin yang kemudian meninggalkan kamar Regan.