My Big Boss

My Big Boss
Salah faham



Bintang yang sudah menyelesaikan tugasnya sedari tadi mulai bosan di tempatnya karena tidak ada yang ia kerjakan, ia memilih memainkan ponselnya sambil menunggu jam makan siang.


saat sedang asik-asiknya main game Bintang mendapat telfon dari Regan.


☎ "Ke ruangan ku sekarang! "


ucap Regan lewat telepon


☎ " Baik Tuan, "


ucap Bintang singkat.


Bintang yang sudah menutup telponnya pun bergegas menuju ruangan Regan.


" Permisi Tuan, ada yang bisa saya bantu?"


ucap Bintang ramah.


" Duduklah, "


ucap Regan dengan sorot matanya yang tajam.


Tumben nih orang nyuruh duduk.


gerutu Bintang dalam hati.


Bintang pun duduk tepat di hadapan Regan.


" Aku akan memberimu cuti selama tiga hari,gunakan waktu itu sebaik mungkin! "


ucap Regan datar tanpa ekspresi.


" Tuan serius? "


ucap Bintang yang tak percaya.


" Apa wajahku tampak sedang bercanda? "


ucap Regan menatap Bintang tajam.


" Ma'af Tuan, tidak, " ucap Bintang menundukkan kepala untuk menghindari tatapan Regan.


Akhirnya.... aku punya waktu tiga hari untuk tidak melihat wajah iblis ini!


gumam Bintang yang bahagia telah mendapatkan cuti.


" Ini obat yang harus kau minum, "


ucap Regan sambil menggeser obat yang ada di hadapannya tepat di hadapan Bintang.


" Terimakasih Tuan, "


ucap Bintang sambil menundukkan kepala.


" Kembalilah ke mejamu! "


ucap Regan yang mulai fokus pada laptopnya.


Bintang pun berdiri dan mulai berjalan keluar, Belum sampai Bintang membuka pintu ia sudah di kagetkan dengan suara ringisan Regan.


" Awww.., "


Ringis Regan yang memegangi perutnya.


Bintang pun kembali menghampiri Regan.


" Apa Tuan baik-baik saja? "


tanya Bintang khawatir yang melihat Regan memegangi perutnya dengan wajah sedikit pucat.


" Jangan pedulikan aku! kembalilah ke mejamu, "


ucap Regan menahan sakit.


Bintang pun tak berani membantah,saat ia mulai melangkah kan kakinya untuk keluar dari ruangan itu Davit masuk dengan raut wajah yang lusuh dan rambut yang acak-acakan.


Bintang dan Regan yang menatapnya pun heran karena biasanya Davit selalu tampak bugar dan selalu rapi tak seperti sekarang.


" Apa ada masalah denganmu! "


tanya Regan ketus.


" Tidak Tuan, saya hanya ingin meminta Tuan untuk menandatangani laporan keuangan ini, " ucap Davit yang menahan rasa kesalnya.


saat ini Davit benar-benar di buat sibuk oleh pekerjaannya yang menumpuk.


Regan pun menerima laporan itu,ia mengeceknya terlebih dulu sebelum menandatangani laporan itu, sedangkan Bintang mulai melangkah kan kakinya kembali untuk keluar, sebelum Bintang membuka pintu ia di kejutkan lagi oleh ucapan Regan.


" Jika kau tak merawat kakimu aku akan benar-benar memotongnya! "


ucap Regan yang masih fokus pada laporan Davit.


Aishh..!


dia selalu saja mengancamku!


gerutu Bintang kesal.


" Saya akan benar-benar merawat kaki saya Tuan, saya pastikan saya akan teratur meminum obatnya dan menggunakan waktu cuti saya untuk beristirahat, "


ucap Bintang yang berusaha tetap tenang.


" Kau harus cepat sembuh Nona !"


sahut Davit dengan ketus tanpa menoleh ke arah Bintang, ia mengucapkannya karena ia ingin segera lepas dari semua pekerjaan Bintang yang harus ia handel.


Bintang tak menjawab,ia langsung berjalan keluar ruangan.


sedangkan Davit masih tetap berada di ruangan menunggu Regan menandatangani laporannya.


" Apa Tuan sedang sakit? "


tanya Davit yang melihat wajah Regan masih sedikit pucat.


" Tidak, "


jawab Regan singkat.


" Wajah Tuan sedikit pucat, apa Tuan benar baik-baik saja? "


ucap Davit yang tak percaya.


" Kau tak perlu menghawatirkan ku! "


ucap Regan datar.


Kini Davit hanya bisa diam, ia tau jika Tuanya sedang menutupi sesuatu darinya.


" Aku sudah menyelesaikannya, kau kembalilah keruangan mu! "


ucap Regan datar.


" Baik Tuan,terimakasih, "


ucap Davit sambil membawa kembali laporannya.


Kini Regan hanya sendiri di ruanganya, ia duduk termenung dengan wajah pucat nya, ia sengaja menahan rasa sakit pada perutnya karena tak mau orang lain mengkhawatirkannya.


Waktu berjalan begitu cepat, kini sudah menunjukan jam makan siang, Regan yang keluar dari ruanganya berlalu begitu saja di hadapan Bintang.


sedangkan Livia yang melihatnya pun segera menghampiri Bintang yang masih ada di Mejanya.


ucap Livia datar.


" kita makan di kantin aja ya, "


ucap Bintang yang mulai berdiri dari kursinya.


" Terserah kau saja, "


ucap Livia yang mulai berjalan.


" Rita mana Vi? "


tanya Bintang yang berjalan di samping Livia.


" Dia tadi udah keluar duluan, "


ucap Livia sambil memainkan ponselnya.


" Kelihatannya Rita marah sama aku soal kejadian tadi pagi, "


ucap Bintang sambil berjalan.


" Kau tak perlu memikirkannya, sebentar lagi juga dia baik sendiri, "


ucap Livia masih sibuk dengan ponselnya.


" Aku gak enak Vi, pasti Rita sudah salah faham, "


ucap Bintang yang tak enak hati.


Livia pun mulai mencerna ucapan Bintang, ia yang tadi sibuk dengan ponselnya pun seketika berhenti.Livia mulai mengingat kejadian tadi pagi antara Bintang dan Regan.


" Ku rasa Tuan Regan mulai tertarik padamu, "


ucap Livia memegang kedua bahu Bintang dan menatapnya lekat.


" Kau gak usah ngacau Vi!


mana mungkin ia tertarik padaku!


aku bukan tipenya, sekarang lebih baik kau fikirkan bagaimana aku menjelaskannya pada Rita, "


ucap Bintang sambil melepas tangan Livia.


" Kau tenang saja soal Rita kau serahkan saja padaku, sekarang kau ceritakan padaku kenapa Tuan bisa menggendongmu! "


ucap Livia yang terus memaksa Bintang.


"Karena jalanku terlalu lama jadi dia menggendong ku, "


ucap Bintang malas.


" Benarkah?


Tuan Regan benar-benar so sweet, "


ucap Livia sambil senyum-senyum.


" So sweet dari mananya?


dia melakukan itu karena tak tahan menungguku lama, "


ucap Bintang dengan wajah masamnya.


" Kau bodoh sekali sih Bi!


Tuan menggendong mu karena ia tak sanggup melihatmu tetap berjalan dengan kondisi kakimu yang sakit, "


ucap Livia yang kesal dengan Bintang yang kurang peka.


" Sudahlah aku tak mau membahasnya ! "


ucap Bintang kesal.


Akhirnya mereka berdua pun sampai di kantin yang ada di kantor.


Bintang dan Livia melihat Rita yang sudah berada di kantin, mereka pun mulai menghampiri Rita.


" Kenapa kau tak menunggu kami! "


ucap Livia yang langsung duduk di samping Rita.


" Aku tadi sangat lapar jadi aku duluan, "


ucap Rita yang terus mengaduk minumanya tanpa melihat ke arah Bintang dan Livia.


" Apa kau sengaja menghindar dariku Rit? "


ucap Bintang yang sudah duduk tepat di hadapan Rita.


Rita hanya diam tak menjawab, ia tetap fokus pada minumanya dan terus mengaduknya.


" Aku mohon kau jangan salah paham tentang kejadian tadi pagi, itu semua tak seperti yang kau lihat, aku dan Tuan Regan tak ada hubungan sepesial seperti yang orang-orang katakan, "


ucap Bintang menatap Rita lekat.


" Kau tahu jika aku sangat menyukai Tuan Regan tapi kenapa kau malah mendekatinya?"


ucap Rita kesal.


" Aku tak pernah sekalipun berniat untuk mendekati Tuan Regan Rit? "


Ucap Bintang penuh penekanan.


" Apa kau fikir aku akan percaya dengan semua ucapanmu! "


ucap Rita tersenyum sinis lalu pergi meninggalkan Bintang dan Livia.


Bintang hanya diam membisu, ia tak menyangka jika Rita akan semarah itu padanya.


Sedangkan Livia yang ada disitu hanya menyaksikan kedua temanya.


" Aishh...!!


kau bilang akan membantuku!


kenapa kau malah diam aja Vi? "


ucap Bintang kesal sambil mendorong kursi Livia dengan kakinya.


Livia pun tertawa karena melihat wajah Bintang.


" Kau tenang aja Bi!


Rita masih emosi, jadi biarkan saja dulu ia sendiri,nanti saat emosinya mereda aku akan berusaha bicara padanya ".


ucap Livia sambil berjalan meninggalkan Bintang untuk memesan makanan.


" Berjanjilah padaku! "


ucap Bintang masih dengan nada kesal.


" Iya...


aku berjanji padamu! "


Teriak Livia yang sudah berada sedikit jauh dari Bintang.


Bintang pun sedikit merasa tenang, ia sekarang mulai sibuk dengan ponselnya sambil menunggu Livia yang sedang memesan makanan untuk mereka berdua.