
Di sisi lain Bintang mulai duduk di meja kerja nya bebarengan dengan Regan yang berlalu di depannya.
" Ke ruangan ku sekarang, " ucap Regan yang kemudian memasuki ruangannya.
Bintang pun bergegas mengekori Regan.
Di dalam ruangan Regan duduk di tepian mejanya menatap Bintang yang berdiri menunduk di hadapannya.Regan tersenyum tipis melihat ketegangan wajah calon istrinya itu.
" Kau sudah makan sayang, " ucapnya datar.
" Eh,dia tanya gitu apa dia gak marah ? " gumam Bintang yang terkejut dengan pertanyaan Regan.
" Belum, eh maksud saya sudah, " jawab Bintang gugup,lidah Bintang memang susah di ajak berbohong.
Regan yang melihat kegugupan calon istrinya itu menjadi gemas.
" Nona Regan mau makan apa? biar OB yang beliin, " ucap Regan yang tau jika calon istrinya itu sebenarnya belum makan.
" Saya kenyang Tuan, "
" Nona Regan sekarang pintar sekali berbohong, mana ada orang kenyang hanya dengan minum coklat panas? oh ya tadi panggil aku apa? Tuan ya? berarti Nona Regan hutang satu ciuman padaku, " ucap Regan yang pintar sekali mencari kesempatan.
" Tidak, tidak, peraturan macam apa seperti itu! dari mana Tuan tau saya hanya minum coklat panas? "
" Dua ciuman, " ucap Regan yang mulai mendekatkan pipinya.
Bintang pun mendengus kesal karena Regan mengabaikan pertanyaannya.
" Baiklah, tapi merem jangan ngintip, " ucap Bintang kesal dengan kelakuan calon imamnya itu.
" Kenapa harus merem? aku nggak bisa lihat wajah jelekmu nanti, "
" Tuh kan ngatain, " mulai memunggungi Regan.
Regan pun membalikkan badan Bintang hingga kini mereka kembali berhadapan.
" Aku nggak mau waktu ku hari ini berkurang untuk melihat mu, " ucapnya sambil memegang kedua pipi Bintang, " okey,sekarang aku merem tapi awas kalau kau kabur! " ucapnya lagi yang mulai mengancam.
" Tidak, mana berani saya kabur, cepatlah pejamkan matamu sayaaang, " sambil ketawa cekikikan melihat Regan yang mulai memejamkan matanya.
" Dia berharap sekali ingin aku cium, " mulai berjalan ke arah meja Regan dan mencari sesuatu di sana.Entah apa yang akan Bintang lakukan pada Regan.
" Kenapa lama sekali, tinggal cium doang ribet sekali, " ucap Regan yang mulai curiga.
" Ya kan saya perlu mengatur nafas dulu dan mengumpulkan energi saya, " jawab Bintang yang sudah membawa sesuatu di tangannya.
" Kau sudah seperti ingin lari maraton saja, " gerutu Regan kesal.
" Mau di cium nggak? " ucapnya kesal karena mulut lemes Regan.
" Hmm... iya, iya, " mulai diam menunggu bibir mungil Bintang mendarat di pipinya.
Tok.. tok.. dua cap stempel mendarat di kedua pipi Regan, membuat Regan seketika menatap Bintang tajam sambil mengelap pipinya sendiri.
" Kau berani mengerjai atasnmu! " ucapnya kesal.
" Sekarang saya sedang mengerjai calon suami saya yang selalu mencari kesempatan dalam kesempitan, " ucapnya kesal yang kemudian melangkah pergi.
" Mau kemana kita belum selesai, " menarik tangan Bintang.
" Jangan harap saya mau mencium pipi bekas tu nenek sihir, "
" Nenek sihir ?siapa maksud mu? " tanya Regan yang tidak mengerti maksud Bintang.
" Tadi yang kau ajak keruangan mu! " jawab Bintang yang semakin kesal karena teringat wajah Stella yang menurutnya mirip nenek sihir.
" Owh..., Stella..., " Regan pun tersenyum tipis, " cemburu ya.., " ucapnya lagi.
" Ti... tidak, aku hanya tidak suka melihatnya, "
" Bisa membesar tu kepala kalau aku bilang cemburu! " batin Bintang.
" Bilang saja kalau cemburu, susah banget! " Regan yang terus saja menggoda Bintang yang kini wajahnya mulai memerah.
" Saya bilang saya hanya tidak suka,harusnya Tuan tidak membiarkan wanita lain menyentuh pipi Tuan, apa lagi sampai menciumnya.Bagaimana jika saya yang ada di posisi itu, di cium laki-laki di depan Tuan,apa tuan akan baik-baik saja! " mulai mengoceh dan lupa dengan niatnya yang ingin melupakan hal itu dan meminta ma'af pada Regan atas kesalahannya saat meeting.
" Jika ada laki-laki yang berani menyentuh mu, aku pastikan laki-laki itu tidak akan bisa bernafas lagi, aku tidak akan membiarkan laki-laki lain menyentuh wanita yang sudah menjadi milikku, ma'af aku tidak mengira kau akan semarah ini hanya karena Stella mencium pipi ku, ini kan sudah hal biasa di negeri kita, "
" HANYA..! " kalimat hanya yang membuat Bintang kembali murka,dan membuat Regan bergidik ngeri melihat Bintang yang mulai marah.
" Tidak..., tidak, iya aku minta ma'af , aku pastikan tidak akan ada lagi wanita yang berani menyentuh ku, kita duduk ya sayang, " menuntun Bintang ke kursi sofa yang ada di ruangannya.Regan pun mengelus dadanya, ia tak menyangka wanita yang ia cintai begitu menyeramkan saat marah.
" Harusnya aku yang memarahimu karena kau tadi mengacaukan meeting, kenapa sekarang malah kau yang memarahiku? " gumam Regan yang menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Bintang masih tampak kesal,membuat Regan bingung harus bagaimana,hingga suara ketukkan pintu menghilangkan suasana tegang di ruangan itu, seorang OB masuk dan membawa makanan yang sudah tersaji di piring.Tanpa sepengetahuan Bintang Regan sudah memesan makanan sebelum Regan menyuruh Bintang masuk kedalam ruangannya.
" Ma'af Tuan, ini makanan yang Tuan pesan, " ucap OB itu.
" Kau datang tepat waktu, terimakasih, " ucap Regan dengan wajah berseri.Membuat otak OB itu seketika penuh tanda tanya melihat nya, karena pasalnya Regan selama ini terkenal dingin, jarang senyum apa lagi sampai mau ngucapin kata terimakasih yang sangat sakral baginya.Kini OB itupun keluar dengan wajah yang juga berseri karena mendapatkan kata sakral dari Regan yang jarang-jarang orang lain akan mendapatkannya.
Kini sepiring nasi beserta lauknya yang akan menjadi malaikat penolong Regan sudah ada ditangannya.
" Sayang, makan dulu gih, aku sudah memesankan makanan untukmu, " ucapnya semanis mungkin agar kemarahan Bintang mereda.
" Dari mana kau tau aku belum makan? " tanya Bintang menyelidik.Entah apa yang membuatnya kini bicara tidak formal pada atasan yang juga calon suaminya itu.
" Aku bisa melihat apapun yang kau lakukan,jadi jangan pernah berbohong padaku, " ucapnya sambil menyuapi Bintang.
" Benarkah? " menyilangkan tangan ke dada sambil menerima suapan dari Regan.
" Kenapa kau menutupi dadamu? " tanya Regan heran dengan kelakuan calon istrinya.
" Jangan bilang kau juga bisa melihat ku saat di kamar mandi, " ucap Bintang yang ingin memukul Regan dengan map yang ada di meja.
Regan pun menoyor kepala calon istrinya itu.
" Jangan berfikir yang macem-macem, aku akan melihat mu di kamar mandi setelah kita menikah, " ucapnya yang terus menyuapi Bintang.
" Dasar otak mesum! " mulai memalingkan wajah.
" Sudah jangan marah terus cepat habiskan makanan mu, " masih menyuapi Bintang.Bintang pun makan sambil menanyakan kenapa Regan menyuruhnya ke ruangan.
" Sebenarnya ada apa kau menyuruhku ke ruangan mu? " mulai beralibi,pura-pura tidak tahu padahal ia sudah mengira pasti Regan ingin memarahinya karena kesalahannya saat meeting.
" Untuk makan, karena aku tau kau belum makan dan karena aku rindu melihat wajah jelekmu ini, " mencubit hidung bintang.
" Apa kau tidak marah padaku? "
" Marah, kenapa harus marah? " tetap fokus menyuapi Bintang.
" Karena tadi waktu meeting, " ucapnya ragu-ragu.
Regan yang mendengar kata-kata Bintang pun mulai tersenyum licik.
" Tentu saja aku marah, aku akan memikirkan hukuman yang pas untukmu, " ucapnya yang padahal sudah melupakan kesalahan Bintang saat meeting tadi.
" Aish! aku fikir dia tidak mempermasalahkan hal itu karena sikapnya yang baik ini! "
" Tapi itu bukan murni kesalahan ku, " ucap Bintang memelas berharap Regan tak menghukumnya.
" Maksud mu? "
" Si nenek sihir itu sengaja menyenggol ku! "
" Maksud mu, Stella? "
" Iya siapa lagi, sepertinya dia sangat dekat dengan mu, "
Regan yang mendengar jawaban Bintang mulai mengepalkan tangannya.
" Sudah kuduga! Stella tidak mungkin semudah itu berubah," gumam Regan yang dari awal memang belum percaya jika Stella benar-benar berubah dan melupakannya.
" Kenapa diam? " tanya Bintang yang melihat Regan dari tadi diam dan tak kunjung menjawab pertanyaannya.
" Emmm.. iya, kenapa? " ucap Regan yang malah balik bertanya.
" Siapa Stella? " tanya Bintang lagi.
" Dia teman kecilku, " jawab Regan yang kini wajahnya tak se sumringah tadi.
" Owh.., sepertinya dia sangat menyukaimu, " pura-pura bertanya padahal sudah tau jawabannya.
" Dia hanya terobsesi padaku, kenapa kau bisa tau? apa kau pernah bertemu dia sebelumnya? " tanya Regan mulai khawatir jika Stella melukai Bintang, karena Regan hafal betul sifat Stella.
" Belum, aku bertemu dengannya baru tadi, " ucap Bintang berbohong.
" Apa dia mengancammu? " memegang kedua bahu Bintang.
" Tidak, dia tidak mengancamku, " ucapnya lagi berbohong, tampak Regan sangat khawatir karena itu Bintang tidak menceritakan yang sebenarnya, ia tidak mau Regan terlalu mengkhawatirkannya.
" Segeralah menjauh jika melihat Stella, jangan pernah kontak mata atau bahkan sampai bersentuhan dengannya, "
" Memangnya kenapa? "
" Bukankah kau tadi bilang kalau dia nenek sihir, aku takut kau di sihir jadi putri kodok dan aku akan berpaling padanya, "
" Awas saja jika kau sampai berpaling padanya! " ucap Bintang kesal.
" Maka berjanjilah kau akan menjauh setiap melihat Stella, " ucap Regan yang sebenarnya sangat takut jika Bintang akan di sakiti oleh Stella.
" Hmmm.... iya, iya,aku janji akan sosial distancing saat bertemu dengannya, " ucapnya malas.
Regan pun di buat tersenyum mendengar jawaban Bintang,ia pun mengacak-acak rambut Bintang karena jawaban nyelenehnya.
Sedangkan Bintang juga ikut tersenyum, ia bisa melihat ketulusan hati Regan padanya,tampak Regan sangat menyanyangi dan sangat mengkhawatirkannya,karena itu ia sengaja menuruti ucapan Regan padahal ia tak tau bisa menepatinya atau tidak,karena setiap melihat Stella Bintang ingin sekali menjambaknya.Bintang pun kini mendapatkan jawaban dari semua pertanyaan yang ada di otaknya tadi.
Bintang yang sudah menyelesaikan makannya pun mulai beranjak dari kursinya membuat Regan memicingkan matanya.
" Mau kemana? " tannya nya.
" Kembali ke meja ku, kan makan nya udah selesai, kau juga sudah memandang wajah ku kan dari tadi, "
" Enak aja kembali, kau bantu aku dulu bersihin hasil karya mu ini! " ucap Regan sambil menunjuk kedua pipinya yang ber tuliskan Atmaja Grup akibat stempel yang Bintang buat.
Bintang pun meringis dan kembali duduk, ia mulai menghapus stempel itu sambil ketawa cekikikan.
" Ini itu tanda kalau kau benar-benar presdir di Atmaja Grup sayaaang..., " alibi Bintang yang sengaja memanggil sayang agar Regan tak memarahinya.
" Tunggu saja sampai kita menikah,aku akan membalas perbuatan mu ini dengan membuat stempel kepemilikan di seluruh tubuhmu, "
Pleeetak...., satu pukulan mendarat di kepala Regan.
" Dasar mesum! " ucap Bintang yang mengerti arah pembicaraan Regan, kini ia pun berlari menjauh dari Regan setelah memukul kepala Regan dengan map yang ada di meja.
" Ibu sekretaris sudah berani ya memukul kepala atasan,kemari,aku akan menghukummu sekarang! " ucapnya yang mulai mendekati Bintang, Bintang pun terus berlari hingga mereka seperti anak TK yang sedang main kejar-kejaran di kelas.
Bintang yang terpeleset membuatnya hampir saja jatuh, untung saja Regan bisa menggapai tubuhnya, hingga kini tubuhnya berada di pelukan Regan, tak ada jarak di antara mereka,hingga suara detakan jantung yang sama-sama bergemuruh bisa mereka rasakan satu sama lain,tatapan hangat yang saling beradu membuat mereka semakin nyaman pada posisi ini,mata Regan kini mulai menatap bibir mungil Bintang yang selalu menjadi magnet baginya,kini iapun mulai mendekatkan wajahnya, Bintang yang gugup mencoba lepas dari pelukan Regan,tapi Regan malah semakin mengeratkan pelukannya,Bintang pun kini memilih menutup matanya rapat-rapat membuat Regan yang melihat tersenyum tipis dan semakin ingin menciumnya, Regan pun semakin mendekatkan wajahnya hingga kini ' kreeeeeeek.....' suara David membuka pintu membuyarkan dua ingsan yang memadu kasih.
Wajah Bintang dan Regan pun kini sama-sama datar tanpa ekspresi, Regan pun kini menoleh ke arah pintu dengan tatapan membunuh.
" Ma'af, saya akan menutup kembali pintunya, " dengan nyawa yang terasa sudah di ubun-ubun David bergegas menutup pintu.
" Dosa apa yang kau lakukan Dav,semoga setelah ini kau bisa pulang hidup-hidup, " do'a David di balik pintu.
Flashback,
Saat kembali dari meninjau proyek Regan langsung mencari Bintang, ia yang tak mendapati Bintang di ruangannya mulai mencari ke kantin, di sana ia mendapati Bintang sedang bersama kedua temannya, akhirnya Regan pun memilih memperhatikan mereka dari kejauhan tanpa mereka sadari.
_
_
_
_
Author mah nggak pernah pelit upnya, semoga para readers juga nggak pelit jempol yah😅
jangan lupa ritualnya
Vote
Like
Favorit
Happy Reading 😊