My Big Boss

My Big Boss
Salah minum



Di dalam ruangan Regan mulai menjelaskan semua tugas Kevin di perusahaan itu,namun kevin dari tadi berusaha untuk menanyakan apa rencana Regan yang membuatnya merasa penasaran,hingga membuat Regan menghembuskan nafasnya kasar.


" Kau diamlah, dengarkan aku dulu, " ucap Regan kesal.


Kevin pun hanya memasang wajah malas, ia terpaksa mendengarkan semua intruksi Regan yang sebenarnya ia sudah tau, karena pamanya,Tuan Williams sudah lebih dulu menjelaskannya.


Di tempat lain,


Bintang masih sibuk di mejanya, datanglah Doni yang menghampirinya.


" Sudah jam makan siang, kita makan siang dulu Bi, " ajak Doni.


" Hmmmm... ok! " meregangkan otot dan memutar pinggangnya ke kanan dan kiri. Membuat Doni yang melihatnya miris.


" Kau sungguh pekerja keras Bi, "


"Tak usah memujiku, aku tak punya uang receh, " berlalu di hadapan Doni.


" Aku tak butuh uang recehmu itu! "


" Ha..... ha.... ha, " tertawa (mode slow motion) dengan tersenyum garing.


Doni hanya mengerutkan wajahnya hingga tampak menakutkan, membuat Bintang malah tertawa lepas.Kini mereka berdua berjalan menuju kantin.


Di sisi lain Regan teringat ucapan Bintang bahwa laki-laki yang selama ini bersamanya adalah sahabatnya, membuat Regan tanpa sadar tersenyum kecil mengingatnya, ada rasa yang tak dapat ia gambarkan yang jelas sekarang ia ingin sekali melihat wajah Bintang. Kini regan pun beranjak dari kursi kebesarannya, ia berjalan keluar menuju meja Bintang namun tak ada seorang pun disana.


" Dimana gadis itu? " ucap Regan sambil melihat jam tangannya, " bisa-bisanya dia melupakan ku! " gerutu Regan saat tau waktu sudah menunjukkan jam makan siang, itu tandanya Bintang meninggalkannya dan beristirahat tanpa menunggunya terlebih dulu. Regan pun kembali dengan wajah yang murung membuat Kevin yang melihatnya menjadi bingung sendiri.


" Kenapa? " tanya Kevin bingung karena baru saja ia melihat Regan senyum-senyum sendiri tapi sekarang mendadak murung.


" Tidak, " jawaban yang begitu nanggung.


" Jawaban apa seperti itu! harusnya kau..., "


" Aish...! sudahlah, pergi sana keruangan mu! " ucap Regan yang menyela omongan Kevin.


" Apa perlu aku mengantarmu ke Pesekiater?" dengan senyum menyeringai.


" Apa kau fikir aku sudah gila!"


" Kelihatannya beban hidupmu terlalu berat, kau jangan sungkan kepadaku, " ucapnya lagi tersenyum tipis.


" Aiishhh....? " melempar keranjang pensil ke arah Kevin yang kini sudah berdiri di dekat pintu.Kevin pun tertawa lepas dan beranjak keluar ruangan.


Di tempat lain,


" Kau mau makan apa Bi? " tanya Doni pada Bintang yang kini sudah duduk di meja kantin.


Makan...?


gumam Bintang yang mulai mengingat sesuatu.


" Kau makan saja dulu Don, aku ada yang lupa! " berlari meninggalkan Doni.


Doni yang melihatnya pun geleng-geleng kepala.


Kenapa kau bisa lupa Bintang...


Bodoh... bodoh... bodoh..


berlalu begitu saja melewati Kevin yang dari tadi melihatnya.


Bukanya itu gadis yang tadi?


Ada apa dengannya?


gumam Kevin yang melihat Bintang begitu panik dan berlalu begitu saja saat mereka berpapasan.


Kini Bintang kembali lagi ke lantai atas, tepatnya dimana ruangannya berada. Bintang berjalan menuju Ruangan Regan.


Tok...tok... tok


Suara ketukan pintu Bintang.


" Ma'af Tuan, apa saya boleh masuk? " ucap Bintang di balik pintu.


" Hmmmm, " jawab Regan dari meja kerjanya.


Akhirnya Bintang pun masuk dan berjalan ke arah Rega menahan kegugupannya.


" Ma'af Tuan,Tuan ingin saya pesan kan makan apa? "


" Saya belum lapar, " fokus pada laptopnya.


" Ini sudah jam makan siang,Tuan tidak boleh telat makan, saya akan pesan kan makanan untuk Tuan, " bergegas keluar.


Regan hanya menatap punggung Bintang yang mulai keluar dari rungannya dengan wajah datarnya.


Di tempat lain,


Bintang sudah sampai di kantin dengan nafas ngos-ngosan, ia berlari menuju meja Doni,meneguk segelas Es jeruk yang ada di meja Doni tanpa permisi.


" Ponselku ketinggalan Don, mana sekarang ponselku, " dengan nafas yang masih ngos-ngosan.


Doni memberikan ponsel dengan wajah datar tanpa ekspresi karena tercengang melihat Bintang, ia pun juga tak sanggup berkata-kata.


" Itu bukan milikku! " suara Doni yang menghentikan langkah kaki Bintang.


Bintang pun membalikan badannya,


Aishhh... kenapa tadi gak kelihatan ada manusia tampan ini disini!


gerutu Bintang saat melihat es jeruk yang ia minum adalah milik Kevin.


Penyakit Bintang kalau lagi panik selain gak bisa mikir penglihatannya jadi abu-abu😂😂


" Ma'af Tuan, saya benar-benar tidak tau,saya akan menggantinya, " ucapnya sambil membukukan badan berkali-kali.


" Tidak perlu di ganti,kelihatannya tadi kau benar-benar haus setelah berlarian, " ucap Kevin tersenyum tipis.


Bintang pun tersenyum garing menahan rasa malunya.


"Terimakasih Tuan, sekali lagi saya minta ma'af, " ucapnya kembali membungkukkan badan.


Kini Bintang pun bergegas memesan makanan untuk Regan,dan membawanya ke ruangan Regan bersama berkas Doni yang ada di tangannya.


" Permisi Tuan, ini makanan untuk Tuan, "


ucapnya dengan senyum garingnya, ia sadar bahwa dia sudah melakukan kesalahan karena istirahat tanpa menunggu Tuanya terlebih dulu.


Regan pun menatap wajah Bintang, wajah yang dari tadi ingin sekali ia lihat, tatapannya begitu hangat hingga membuat Bintang salah tingkah.


" Tuan, " suara Bintang yang membuyarkan angan Regan.


" Bawa kesini, " ucapnya yang kembali dengan ekspresi dinginnya.


Bintang pun mendekat ke arah Regan.


" Suapi aku, " ucap Regan.


Bintang menaikan sudut bibirnya,namun tidak ada penolakan di sini, ia tetap menuruti perintah Tuanya walaupun dengan hati dongkol.


Kini Bintang pun mulai menarik kursi dan duduk di samping Regan, ia mulai menyuapi Regan yang tetap fokus pada laptopnya.Setelah beberapa suapan Regan mulai menyudahi aktivitas jarinya yang tadi ada di atas keyboard, kini ia mulai memutar kursinya, memangku tangan dan menatap Bintang yang masih menyuapi nya. Karena posisi mereka sekarang berhadapan membuat Regan bisa menatap wajah Bintang dengan sangat dekat.


Ni orang kenapa liatin aku terus sih!


Woii jantung... berdetaklah seperti biasa!


gerutu Bintang dalam hati.


" Ma'af Tuan, apa ada yang aneh? " tanya Bintang mulai salah tingkah.


" Cantik, " satu kata yang begitu saja terucap dari mulut Regan dengan senyum manisnya.


Bintang pun tersipu malu.


" Terimakasih Tuan, " ucap Bintang pelan.


" Untuk apa! " tanya Regan dingin.


" Tuan bilang saya cantik, jadi saya berterimakasih atas pujiannya, "


" Kapan saya mengatakannya, " ucap Regan yang memang tak sadar bahwa dirinya tadi sudah memuji Bintang.


Hah! (seketika wajah Bintang datar tanpa ekspresi)


Ni orang otaknya bener-bener konslet!


" Baru saja Tuan, " ucapnya malas.


" Mungkin kau salah dengar, " masih tidak mau mengakui.


" Iya, mungkin saya yang salah dengar,"memutar bola matanya,Bintang memilih mengalah karena jika di terusin sampai lebaran monyet juga ga bakalan ngaku.


" Apa pekerjaan mu sudah selesai? " tanya Regan yang tak mengalihkan pandangannya dari wajah Bintang.


" Belum Tuan, sedikit lagi, " ucap Bintang yang memilih mengalihkan pandangannya.


" Apa wajahku begitu mengerikan hingga kau tak mau menatapku! "


Asal kau tau! aku bisa kena serangan jantung jika terus menatapmu!


" Tidak,Tuan,bukan seperti itu, saya hanya.. emmmm..., " mencoba mencari alasan dengan terus mengalihkan pandangannya namun Regan terus saja mengikuti kemana arah matanya hingga membuat Bintang menyerah dan menghembuskan nafasnya.


" Saya menjadi gerogi jika bertatap muka dengan Tuan,jantung saya berdetak seakan saya sedang lari maraton, jadi tolong jangan paksa saya untuk menatap Tuan,karena itu sangat tidak baik untuk kelangsungan hidup saya," ucapnya sambil memejamkan mata rapat-rapat menahan rasa malunya,kini wajah Bintang merah merona bak udang rebus.


Regan tersenyum tipis mendengarnya, ia merasa bahwa Bintang memang memiliki perasaan yang sama dengannya.


Regan pun mengangkat dagu Bintang yang masih memejamkan matanya.


" Aku akan membuat jantungmu mulai bersahabat saat menatap ku! " ucap Regan yang mulai mendekatkan wajahnya.


huuuuuuhffff...


suara Regan meniup ubun-ubun Bintang, seketika membuat Bintang membuka matanya lebar-lebar.


Nih orang nagapain niup ubun-ubun aku, apa dia pikir aku bayi yang lagi keselek asi..


gumam Bintang dengan wajah datar tanpa ekspresi.