My Big Boss

My Big Boss
Hadiah



Malam semakin larut, kini Regan dan Bintang pun bersiap untuk tidur.


Mereka yang menghabiskan malam di teras depan itu pun mulai menaiki tangga menuju kamarnya.


" Sayang, jangan lupa ya nanti pintunya di kunci dulu, " celetuk mama Nita.


Bintangpun mengangguk tersipu malu karena mengingat kejadian tadi.


Kini Bintang dan Regan pun kembali melangkah menaiki tangga.


" Wajah mu merah, kenapa? " tanya Regan yang mendapati wajah Bintang masih merah merona.


" Malu tau sama mama, " gerutunya pelan.


" Sudah,abaikan saja jangan di ingat-ingat, " Reganpun merangkul bahu istrinya itu.


" Tidak bisa semudah itu! " gerutunya pelan.


Kini Regan dan Bintang pun sudah berada di dalam kamar mereka.


" Aku ada hadiah untukmu, " ucap Regan yang kini tengah duduk di hadapan Bintang.


" Hadiah? sungguh?" wajah Bintang pun seketika berbinar mendengar kata hadiah.


" Iya,sekarang pejamkan matamu, " suruh Regan.


" Tunggu tunggu, aku tidak sedang ulang tahun, kenapa kau memberikanku hadiah? ah! pasti mau ngerjain aku kan? " ucap Bintang curiga.


" Memangnya kalau suami mau ngasih hadiah istrinya harus nunggu ulang tahun dulu? "


" Tidak juga sih, tapi kan wajar kalau aku curiga, jangan-jangan kau habis ngelakuin kesalahan ya, terus ngasih aku hadiah biar aku enggak marah! ngaku! " Bintang pun mulai menyelidik.


" Ini nih akibat kebanyakan nonton drama ikan terbang! " menoyor kepala Bintang, " kalau enggak mau ya sudah, aku tidur! " ucapnya lagi yang mulia membaringkan tubuhnya di ranjang.


" Hih! nyebelin, iya, iya aku mau! " ucapnya penuh harap.


" Tapi untuk mendapatkan hadiah itu, kau harus membuka kuncinya dulu, " mulai tersenyum licik.


" Baiklah, mana kuncinya aku akan membukanya, " mulai bersemangat.


Regan pun menunjuk bibirnya,pertanda bahwa Bintang harus menciumnya sebagai kunci untuk mendapatkan hadiah yang di janjikan.


Bintang yang melihat pun mengerucut kan bibirnya.


" Tuh kan cuma mau modus! " ucapnya kesal.


" Ya sudah kalau tidak mau! " jawabnya cuek.


" Iya, iya! " Bintang yang merasa penasaran dengan hadiah yang akan di berikan Regan pun langsung mencium bibir suaminya itu dengan lembut.


Regan pun kini tersenyum menang.


" Sekarang mana hadiahnya! " ucapnya menagih.


" Merem dulu, " Regan pun tersenyum tipis melihat Bintang yang mulai menutup kelopak matanya itu.Ia pun mengambil map dari tas kerjanya.


" Awas ya ngerjain? jeck puasa setahun! " ancamannya yang takut jika Regan hanya akan mengerjai nya.


" Sekarang bukalah matamu! "


Bintang pun kini membuka matanya, ia yang mendapati Regan menyodorkan map padanya pun meresa bingung.


" Ini bukan berkas yang harus aku kerjakan kan? " masih curiga.


" Kenapa kau masih berfikiran buruk! bukalah, itu hadiah pernikahan kita dariku, " ucapnya sambil mengacak-acak rambut Bintang.


" Benarkah? apa itu perlu?tapi aku belum menyiapkan hadiah untuk mu?aku akan membukanya setelah aku sudah menyiapkan hadiah untuk mu."


" Kau adalah hadiah terindah untukku, jadi kau tidak perlu memberikan ku hadiah apapun lagi, sekarang bukalah, " ucap Regan yang menyuruh Bintang untuk segera membuka map yang ia berikan.


" Kenapa sikapmu manis sekali, " ucapnya pelan sambil membuka map yang Regan berikan.


Bintang yang mendapati isi map itu pun kini menatap Regan penuh arti.


" Bukankah ini surat-surat perkebunan ayah yang sudah di jual? kenapa sekarang atas namaku? " ucapnya tak percaya.


" Apa kau membeli dari pemilik sebelumnya?Kenapa kau harus membelinya!harusnya kau tidak perlu melakukan itu" ucapnya lagi tak suka.


Regan pun tersenyum tipis melihat kekesalan istrinya itu.


" Apa kau lupa jika pemilik kebun itu tidak ingin menjual kebunnya! " ucapnya.


Bintang pun diam mengingat-ingat ucapan Regan tempo dulu.


" Lalu bagaimana kau bisa mendapatkan nya? bukankah pemilik kebun itu tidak ingin menjualnya karena akan di hadiah kan pada istrinya? " Bintang pun kini diam mencerna ucapanya sendiri, kini ia pun menatap lekat suaminya itu.


Regan pun hanya tersenyum mendengar ucapan Bintang.


" Harusnya kau tidak perlu melakukanya,aku rela perkebunan itu menjadi milikmu, " ucapnya pelan.


" Tapi aku lebih suka jika perkebunan itu menjadi milikmu, " ucapnya yang kini mulai memeluk tubuh Bintang, " bukankah istri ku ingin bekerja hanya untuk membeli kembali perkebunan itu? " ucapnya lagi.


" Kenapa kau bisa tau? "


" Aku tau segalanya, " ucapnya yang kemudian mencium bibir mungil Bintang.


Bintang pun tersenyum tipis, tampak raut bahagia terpancar dari wajahnya.


" Terimakasih, " ucapnya yang kini menatap lekat wajah suami tampannya itu.


" Untuk apa? "


" Semuanya, " jawab Bintang dengan senyuman hangat nya.


Regan pun tersenyum bahagia, kini ia mulai mencium kening istrinya itu dengan penuh kasih sayang.


" Tidurlah, aku mencintaimu, " ucapnya pelan sambil membelai lembut rambut Bintang yang terurai.


Bintang pun tampak begitu bahagia dengan perlakuan suaminya itu.Ia pun kini memberikan satu kecupan di bibir manis suaminya itu.


" Aku juga mencintai mu, " bisiknya yang kini mulai tidur di dalam dekapan suami tampanya itu.


Kini mereka pun sama-sama tertidur dengan pulsanya, tidak terjadi apa-apa malam ini, karena mereka menghabiskan malam hanya untuk tidur.


Tak terasa malam berlalu begitu cepat, kini sinar mentari pun mulai menyapa.


Bintang yang lebih dulu bangun pun tersenyum tipis melihat suaminya yang masih memeluknya itu.


Ia pun menatap lekat wajah suami tampannya yang masih tertidur pulas itu.


" Tidur saja dia bisa setampan ini," ucapnya mengagumi ketampanan suaminya yang paripurna itu.


Dengan perlahan Bintang pun kini mulai beranjak dari ranjangnya, ia pun mulai mencuci muka dan kemudian melangkah keluar menuju dapur. Sesampainya di dapur ia pun mulai membantu mama Nita yang tengah sibuk memasak.


Sedangkan di kamarnya,Regan yang baru saja bangun pun mulai mencari keberadaan istrinya.Ia pun kini mulai berjalan menuju dapur di mana istrinya berada.


" Pagi ma, " sapanya yang kini sudah berada di dapur.


" Pagi sayang, " ucap mama Nita yang tengah sibuk menggoreng ayam itu.


" Bi inah sama neni mana ma? " tanyanya yang membuat mama Nita mengerutkan dahinya.


" Tumben nanyain bi Inah sama Neni, ada apa? " ucapnya heran.


" Kenapa mereka tidak membantu disini? " ucapnya yang memang tak mendapati bi inah atau Neni membantu di dapur.


" Bi inah lagi bersihin halaman depan, kalau Neni,tuh! lagi nyapu di ruang tamu. "


" Owh, " ucapnya yang kini mulai menghampiri istri tercintanya yang juga tengah sibuk memasak itu.


" Pagi sayang, " ucapnya sambil memeluk tubuh ramping Bintang dari belakang.


" Sayang, jangan gini ah! " protes Bintang tak suka Regan memeluk nya.


" Memangnya kenapa? "


" Malu di lihat mama, " ucapnya masam.


" Tenang, mama enggak lihat, " ucapnya santai.


" Ya! mama kan tomat,mana bisa liat! " celetuk mama Nita yang membuat wajah Bintang kini merah merona.


" Tuh kan! sana gih! " Bintang pun menatap tajam Regan.


" Iya, iya, " Regan pun kini duduk memperhatikan istri cantiknya itu memasak.


" Ngapain di situ, mandi sana! " suruh Bintang.


" Nanti, " jawabannya masih terus menatap wajah cantik istrinya.


" Kau akan telat ke kantor nanti. "


" Memangnya kenapa? tidak akan ada yang berani memarahiku bukan? "


" Hemmmm... iya, iya. "


Bintang pun tak lagi bisa berkata-kata, mengingat Reganlah yang memang menjadi pimpinan perusahaan.