My Big Boss

My Big Boss
Kediaman Regan



Kini suasana dalam mobil menjadi hening, pak Jang yang tetap fokus menyetir, Regan yang fokus dengan ponselnya dan Bintang yang masih bergelut dengan fikirannya sendiri.


Empat puluh lima menit berlalu, waktu yang begitu lama untuk menempuh jarak yang tidak terlalu jauh. Kini mobil Regan berhenti tepat di depan gerbang yang menjulang tinggi,seorang satpam yang berjaga segera membuka pintu gerbang lebar-lebar.Satpam itu membungkukan badan,menunduk hormat saat mobil mewah milik Regan mulai masuk dan melintasinya.


Tampak sebuah bangunan rumah yang begitu megah bak istana, rumah yang bergaya Eropa Klasik yang memiliki halaman yang begitu luas.



Bintang yang turun dari mobil pun di buat takjub dengan apa yang ia lihat sekarang, ia mengedarkan pandanganya ke segala penjuru.


Subhanallah.....


Ini rumah atau istana?


gumam Bintang dalam hati.


" Apa kau akan terus berdiri di situ! " ucap Regan berlalu di hadapan Bintang.


Bintang pun mengerucutkan bibirnya dan segera mengekori Regan.


" Selamat pagi Tuan, "


ucap bi Inah yang membukakan pintu.


" Hmmm.., antar sekretaris saya ke kamar tamu bik, "


ucapnya yang terus berjalan menuju kamarnya.


" Baik Tuan, "


jawab bi Inah singkat.


Bi Inah memperhatikan Bintang yang berdiri di hadapannya,banyak pertanyaan yang terlintas di otaknya.


" Mari Nona, " mempersilahkan Bintang masuk dengan tersenyum ramah.


" Terimakasih bik, " jawabnya sambil mengikuti kemana bi inah melangkah.


Bintang terus berjalan mengikuti Bi inah yang berjalan lebih dulu di hadapannya, ia berjalan sambil mengedarkan pandangannya ke semua sudut rumah,Bintang di buat menganga melihat betapa megahnya rumah itu.


" Silahkan Nona, " ucap bi inah mempersilahkan Bintang masuk ke kamar tamu.


" Terimakasih bik, " jawab Bintang tersenyum ramah.


" Sama-sama Non, kalau perlu apa-apa panggil bibik,bibik ada di belakang, " ucap Bi Inah ramah.


" Iya bik, terimakasih, " ucapnya yang kemudian masuk ke kamar setelah bi Inah meninggalkannya.


Neni,janda anak satu yang juga sebagai asisten rumah tangga di rumah Regan segera menghampiri bi Inah yang sedang berjalan menuju dapur.


" Bik, siapa wanita cantik yang pulang bersama Tuan muda tadi ? " tanya Neni menyelidik.


" Sekretaris Tuan muda, " jawab bi Inah yang mulai sibuk beberes di dapur.


" Kenapa Tuan muda membawanya kesini?Tuan muda juga menyuruhnya beristirahat di kamar tamu, apa dia akan menginap di sini ? " tanya Neni yang benar-benar kepo, karena ini pertama kalinya Regan membawa wanita ke rumahnya setelah sepeninggalanya Tania.


" Sudah jangan banyak nannya,cepat selesaikan tugasmu! " ucap bi Inah yang kesal karena Neni terus mengoceh.


Neni menaikan sebelah sudut bibirnya, ia kesal karena bi Inah tak menjawab pertanyaannya, Neni pun pergi meninggalkan bi Inah dengan wajah kesal.


Sedangkan Bintang yang berada di kamar tamu langsung menjatuhkan tubuhnya di atas ranjangnya yang super empuk,Bintang membenamkan wajahnya di kasur, dan merentangkan kedua tangannya kesamping.


Akhirnya... bisa juga meluruskan tulang-tulangku...


gumam Bintang senang karena dari tadi malam dia harus tidur meringkuk semalaman karena ukuran sofa yang kecil,alhasil sekarang tubuhnya sakit semua,kini Bintang begitu menikmati kasur empuknya hingga tak menyadari seseorang sudah berdiri di sampingnya.


" Ehemm, " suara batuk Regan yang sengaja di buat-buat membuat Bintang beranjak dari kasurnya dan hampir membuatnya terjungkal, untung dengan gesit Regan menangkapnya walaupun ia sendiri harus mengorbankan punggung mulusnya terbentur lantai karena menangkap Bintang.


" Sekarang kau hobi sekali menindihku! " ucap Regan yang sekarang berada di bawah tindihan Bintang.


" Ma'afkan saya Tuan, " jawab Bintang yang mulai salah tingkah.Bintang pun langsung beranjak dari tubuh Regan.


" Apa Tuan baik-baik saja? " imbuhnya lagi sambil membantu Regan bangun.


" Kau tidak melihat punggung ku terbentur lantai! tentu saja ini sakit! apa kau tidak bisa sedikit berhati-hati! " ucap Regan sambil berdiri.


" Ma'afkan saya Tuan, " Kata-kata yang terucap dari mulut Bintang.


" Ini, cepatlah mandi! " memberikan perlengkapan mandi dan baju ganti pada Bintang lalu berlalu pergi.


Kalu tadi kau tak mengagetkan ku, aku juga takkan jatuh terjungkal!


mendekap peralatan mandi yang di berikan Regan.


Lima belas menit berlalu, Bintang yang sudah selesai mandi dan berbenah memilih tetap di kamarnya, ia mulai sibuk dengan ponselnya yang sudah terdapat banyak pesan dan panggilan dari Rita. Bintang hanya tersenyum saat melihat isi pesan yang di kirim oleh Rita untuknya.


Tak terasa Bintang sudah cukup lama sibuk dengan ponselnya,kini sudah waktunya Bintang menyiapkan makan siang untuk Regan.Bintangpun langsung bergegas ke dapur yang letaknya dapat terlihat jelas dari kamarnya.Bintang pun mulai sibuk memasak untuk Regan, sedangkan bi Inah yang melihat Bintang di dapur pun segera menghampiri.


" Nona sedang apa? biar bibik saja yang melakukannya, Nona duduk manis saja di sini, " ucap bi Inah ramah sambil menggeser kursi untuk Bintang duduk.


Bintang pun tersenyum ramah,


" Bibik lanjutkan saja pekerjaan bibik, ini sudah jadi tugas saya, " ucapnya sambil terus memasak.


" Tapi Non, nanti Tuan Muda marah sama bibik karena membiarkan sekretarisnya memasak, " ucap bik Inah.


" Tidak akan bik,tuan Regan menyuruh saya kesini bukan untuk menjadi sekretarisnya melainkan menjadi perawatnya, jadi wajar bukan jika perawat menyiapkan makanan untuk orang yang sedang di rawatnya, jadi bibik tidak usah khawatir, tuan Regan tidak akan marah sama bibik, " ucap Bintang tersenyum ramah.


Bik Inah mulai mengerti dan tersenyum ramah,


" Apa nona benar-benar tidak membutuhkan bantuan bibik? " tanya bi Inah memastikan.


" Tidak bik, bibik lanjutkan saja pekerjaan bibik, " jawab bintang ramah.


" Baiklah Nona, kalau begitu bibik kembali ke belakang, " ucap bi Inah yang kembali berjalan ke belakang.


" Eh! Tunggu bik, " ucap Bintang yang menghentikan langkah bi Inah.


" Iya Non, ada apa? " tanya bi Inah.


" Boleh saya tahu, dimana Kamar Tuan Regan bik? " tanya Bintang sopan.


" Di lantai atas Non, " jawab bi Inah.


" Ooh, ya sudah,Makasih ya bik, " ucap Bintang tersenyum ramah.


Bintang yang memang pintar dalam memasak tak butuh waktu lama untuk menyelesaikan masakannya.Kini Bintang pun berjalan membawa nampan yang berisi makanan untuk Regan.Bintang yang sudah menanyakan kamar Regan pada bi Inah pun segera naik ke lantai dua.


Kenapa bibik tidak bilang kalu disini ternyata ada tiga ruangan?


ucap Bintang pelan.


Akhirnya Bintang pun mencoba mengetuk salah satu kamar,


Tok... tok... tok


" Permisi Tuan, waktunya makan siang, "


ucap Bintang namun tak ada jawaban.


Coba satu kali lagi kalau tidak ada jawaban aku buka pintunya.


ucap Bintang yang berbicara sendiri.


" Ma'af Tuan, apa Tuan ada di dalam? " ucap Bintang sedikit berteriak, namun masih tidak ada jawaban, akhirnya Bintang pun mulai memegang handle pintu dan memutarnya,


Eh..! pintunya terkunci,tidak ada jawaban, mungkin ini bukan kamarnya.


gumam Bintang pelan, akhirnya Bintang pun berjalan ke arah ruangan yang ada di sebelahnya.


Bintang langsung memutar Hadle pintu karena di rasa tidak terkunci Bintang pun membuka pintu itu penuh tenaga,


" Permisi Tuan, waktunya makan siang, " ucapnya sambil membuka pintu.


Duuuuuk...


Suara pintu membentur wajah Regan yang juga hendak membuka pintu.


Regan menatap Bintang datar menahan kekesalannya.


" Tu... Tu.. Tuan, hidungmu berdarah, "


ucap Bintang tanpa dosa.


Reganpun mengusap darah pada hidungnya tanpa mengalihkan pandangannya dari Bintang.


Tamat riwayatmu Bintang...


gumam Bintang dalam hati.


" Tuan jangan menatapku seprti itu, "


tersenyum garing sambil mengusap darah yang masih mengalir dari hidung Regan dengan tangannya.


" Apa kau tak bisa ketuk pintu dulu sebelum masuk! " ucap Regan datar.


" Ma'af Tuan, " ucap Bintang merasa bersalah.


Reganpun kembali ke meja kerjanya mengambil tisu dan mengusap kembali darah yang masih saja mengalir.


" Kemari, " ucap Regan yang sudah duduk di kursi kerjanya.


Bintang pun mendekat ke arah Regan masih dengan nampan yang berisi makanan yang ada di tangannya.


" Mana Tanganmu, " ucap Regan dengan tatapan datar.


Bintang menaikan kedua alisnya,tubuhnya panas dingin, tak mengerti apa yang akan di lakukan Tuanya,ia hanya berharap tangannya akan baik-baik saja.


Bintang pun segera menaruh nampan yang ia pegang di atas meja dan menyodorkan tangannya pada Regan dengan gemetar,sekarang Bintang memilih untuk mengalihkan pandangan karena tak kuasa melihat nasib tangannya yang sudah berada di genggaman Regan.


Sedangkan Regan yang memegang tangan Bintang tersenyum tipis saat tau tangan Bintang yang begitu dingin dan gemetar.


Kini Regan mulai mengambil tisu,mengusap darah yang masih melekat di tangan Bintang dengan pelan.


" Lain kali ketuk pintu dulu, kau mengerti! "


ucap Regan yang masih membersihkan darah pada tangan Bintang.


Eh!


Tumben enggak marah, kenapa sikapnya jadi manis gini?


Authoooor.... Please! jangan buat aku di PHP in teruuus...


_


_


_


_


_


_


_


_


_


_


_


_


Buat readers ku tersayang...


Ma'af, baru bisa up ๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™


**Jujur Author pingin banget bisa up banyak , bahkan kalau bisa sampai 10 episode sekaligus๐Ÿ˜ tapi apalah daya๐Ÿ˜Œ nulis seribu kata per bab Author sampai guling-guling mikirnya๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚


Di mohon dengan sangat, jangan bosan dukung novel ini ya๐Ÿ˜‰


jangan lupa Vote, Vote, Vote,dan Vote nya๐Ÿ˜


Happy Reading ๐Ÿ˜Š**