
Bintang terus berjibaku dengan pekerjaannya hingga jam makan siang.
" Ehemm.. ".
Suara batuk Regan yang sengaja di buat-buat untuk mengagetkan Bintang yang masih sibuk dengan Berkas-berkas di hadapannya.
Bintang yang sedari tadi memang tak menyadari bahwa Tuanya itu sudah berdiri disampingnya pun beranjak bangun dari kursinya.
" Ma.. ma'af Tuan ada yang bisa saya bantu?".
tanya Bintang gelagapan.
kenapa dia bisa tiba-tiba muncul ? apa dia benar-benar iblis berkedok manusia?gumam Bintang Bergidik ngeri.
Regan yang melihat ekspresi Bintang pun merasa kesal.
" Hei!
kenapa kau menatapku seperti itu?".
ucap Regan dengan tatapan tajamnya.
" Ma'af Tuan ".
jawab Bintang menundukan kepala.
" Ayo! " .
ucap Regan melangkahkan kakinya meninggalkan Bintang.
Bintang masih berdiri terpaku, dia tak mengerti apa maksud ajakan Tuanya itu.
" Hei kau ! apa telingamu bermasalah? ".
tanya Regan geram karena Bintang masih saja diam di tempat.
" Ma'af Tuan ".
ucap Bintang beranjak lari menghampiri Tuanya .
Bintang terus mengekori Tuanya, ia masih bingung sebenarnya ia akan di ajak kemana, ia pun memberanikan diri untuk bertanya.
" Ma'af Tuan, sebenarnya kita akan kemana? ".
tanya Bintang ragu karena takut Tuanya marah.
" Apa kau lupa dengan hutangmu padaku? " jawab Regan tanpa menoleh.
Bintang diam sejenak dia memikirkan sesuatu.
hutang.. hutangku padamu? sejak kapan aku punya hutang padamu wahai raja iblis? gumam bintang dalam hati.
Tapi Bintang masih mencoba mengingat apa benar dia punya hutang pada Tuanya itu dan Bintangpun mulai mengingatnya, ia pun langsung melihat jam tangannya.
Astaga...aku harus mentraktir nya makan siang ... kenapa aku bisa tidak ingat ?
Ucap Bintang dalam hati.
" ingatanmu sungguh buruk Nona ".
Ucap Regan dengan senyum meremehkan.
Bintang yang masih terus mengekori Regan hanya tersenyum kecut mendengar ucapan Regan.
" Apa lukamu sudah kau obati? ".
tanya Regan tanpa menoleh.
"Nanti akan saya obati Tuan".
jawab Bintang pelan.
" jadi kau belum mengobati lukamu! dasar gadis bodoh! ".
Ucap Regan emosi sambil menarik tangan Bintang kembali ke ruangannya.
kau mengatai ku bodoh lagi,dasar laki-laki gila! kau mau apakan aku sekarang ?.
gumam Bintang dalam hati.
Bintang tak menolak saat Regan menarik tangannya. ia terus mengikuti langkah Regan.
" Duduk! ".
perintah Regan saat mereka sudah sampai di ruangan Regan.
Bintang pun hanya menuruti perintah Regan, ia hanya memperhatikan Regan yang mengambil kotak P3K dari tempatnya.
Regan yang sudah membawa kotak P3K berjalan mendekati Bintang dan duduk di sampingnya.
" Kau ini memang gadis bodoh! kau mau lukamu ini iritasi ! ".
ucap Regan marah sambil membersihlan luka Bintang dengan telaten.
" Ini hanya luka kecil Tuan ".
ucap Bintang sambil meringis kesakitan karena lukanya begitu perih saat Regan mulai membersihkan lukanya dengan cairan alkohol.
" Kau bilang ini hanya luka kecil ! jika kau biarkan lukamu ini akan iritasi dan membusuk kau mau tangan dan kakimu di amputasi! ". ucap Regan marah karena Bintang menyepelekan lukanya.
kau saja yang terlalu dramasir Tuan, mana mungkin tangan dan kakiku di amputasi hanya karena luka lecet seperti ini ! .
geruru Bintang dalam hati.
Bintang terus memperhatikan Tuanya yang begitu telaten mengobati lukanya.
Aku sudah salah menilaimu, ternyata kau masih punya hati, aku tarik kata-kata ku yang selalu mengataimu Iblis . gumam Bintang dalam hati.
Regan yang sadar bahwa Bintang terus memperhatikanya pun tersenyum tipis.
" Jangan terus menatapku! aku tau aku tampan.Dan jangan anggap karena sikap ku ini aku sudah memaafkan kesalahanmu!. Aku hanya tak ingin suatu hari nanti kau menuntutku karena lukamu ini!.
Dasar kau memang iblliiiis....! kau manusia tak punya Hati! ku tarik lagi kata-kata ku tadi, tunggu saja aku akan menjahit mulutmu dan akan kucakar-cakar wajah sok tampanmu itu!. gerutu Bintang kesal .
Bintang yang mulai sadar bahwa Regan sudah berada jauh dari sisinya pun berlari kembali mengekori Regan.
Sesampainya di depan pintu lift mereka bertemu Davit yang memang sudah lebih dulu disana,Davit yang melihat kedatangan Tuanya pun langsung menunduk hormat .Regan hanya cuek memang seperti itulah sikap Regan selama ini,setelah pintu lift terbuka mereka bertiga pun masuk secara bergiliran.Tentunya Tuan Reganlah yang masuk terlebih dulu.
" Dav, kau makan siang lah bersama kami ".
ucap Regan datar.
" Baik Tuan ".
Ucap Davit mengiyakan ajakan Tuanya. Davit tak pernah menolak setiap perintah Regan walaupun raganya terpaksa melakukan.Semua ucapan Regan adalah perintah yang harus di lakukan dan tak boleh di bantah.
Bintang yang mendengar ucapan Regan pun membuang nafas kasar.
hei! disini aku yang mentraktir mu kau seenaknya saja mengajak orang sesukamu! siapa nanti yang akan membayar makanannya? apa aku juga? ya pastilah aku yang kau suruh membayar semua.
gerutu Bintang dalam hati.
kini mereka sudah sampai di lantai paling bawah dan berjalan keluar Kantor menuju mobil. kini mereka menaiki mobil Davit dan Davit lah yang mengemudikannya. tak lupa Davit membukakan pintu untuk Tuanya itu. sedangkan Bintang duduk bersebelahan dengan Davit di kursi depan.
" Kita makan di restaurant biasa Dav! " .
Ucap Regan sambil memainkan ponselnya.
" Baik Tuan ".
Jawab Davit sambil mengemudikan mobilnya.
aku yang mentraktir mu kenapa kau yang menentukan tempatnya! ".
Dengus Bintang kesal.
Di perjalanan mereka hanya diam tak ada percakapan. Bintang sedari tadi hanya pasrah Tuannya akan membawanya kemana namun di hatinya ia terus berdo'a semoga uangnya cukup untuk membayar tagihan makanan nanti.
" Kita sudah sampai Tuan ".
ucap Davit bergegas turun dan membukakan pintu untuk Tuannya.
ish.. dasar manja! untuk membuka pintu saja kau menunggu orang membukakanya ! apa semua orang kaya sepertimu?.
gerutu Bintang kesal melihat sikap Davit memperlakukan Tuannya yang di anggap Bintang berlebihan.
mereka bertiga melangkah masuk. namun langkah Bintang sedikit berat untuk berjalan masuk.
kenapa kau kaki ? kenapa kau sulit sekali ku ajak melangkah masuk ? apa kau tau bahwa isi dompet tuanmu ini tak kan cukup untuk membayar makanan disini ?.
Gumam Bintang yang memang lagi sibuk memegang kakinya yang ia rasa sangat berat untuk melangkah.
"kau tak apa Nona? ".
Tanya Davit yang bingung melihat tingkah Bintang.
" i.. iya Tuan saya tidak papa".
jawab Bintang salah tingkah.
sedangkan Regan tak menghiraukan Bintang ia terus berjalan dan memilih meja makan. saat ini Regan dan Davit sudah duduk dan menunggu Bintang yang tak kunjung sampai.
Bintang masih berjalan dengan langkah yang begitu berat entah kenapa dengan kakinya ini.
" Kau lelet sekali ! apa kau tak bisa lebih cepat,kau membuatku menunggu lama ! ".
bentak Regan karena kesal melihat Bintang yang berjalan begitu pelan.
" ma'af Tuan ".
Jawab bintang menundukan kepala sambil menarik kursi untuk ia duduki.
Regan pun mulai memesan makanan, begitu juga dengan Davit dan Bintang. tidak ada percakapan disana kerena memang tidak akan ada yang berani berbicara kecuali Regan yang memulai pembicaraan. Tak butuh lama makanan yang mereka pesan pun datang. semua yang ada di meja itu mulai menikmati makanannya masing-masing.
Drrtt.. Drrtt..
suara getar handphone Bintang tanda ada panggilan masuk.
Bintang hanya melirik Handphonenya dan sesekali melirik ke arah Regan yang tetap makan dengan santainya,Bintang tak berani mengangkat telfonnya ia hanya menggenggam handphone nya hingga panggilan itu berakhir dan ia meletakkan kembali handphone nya di atas meja.
Drrtt.. Drrt.. panggilan masuk untuk kedua kalinya di handphone milik Bintang.
aishh.. dasar kucing buluk! kenapa kau terus menelfonku,kau menelfon disaat tidak tepat ! dengus Bintang kesal karena dari tadi Rafa lah yang menelfonya.
Regan mulai terganggu dan menatap Bintang tajam.
Bintang yang tau maksud tatapan Regan pun langsung mematikan handphone nya.
sedangkan di tempat lain Rafa merasa kecewa karena Bintang tak mau mengangkat telfonnya, bahkan sekarang handphone Bintang tidak dapat di hubungi.
saat semua sudah selesai makan Regan pun memanggil salah satu pelayan.
"Permisi Tuan, ada yang bisa saya bantu? ".
tanya pelayanan itu ramah.
"tolong billnya".
jawab Regan tanpa menoleh.
Pelayanan itu hanya diam tak mengerti ia pun langsung melirik ke arah Davit.
Davit yang sadar dengan lirikan pelayanan itu pun menjawab dengan anggukan kepala tanda bahwa pelayanan itu harus menuruti perintah Regan.
sekarang ini mereka bertiga sedang makan di restaurant mewah milik Regan, Regan memang tak pernah meminta bill saat ia makan dan selalu mentraktir siapa saja yang satu meja dengannya, mereka boleh memilih menu sesuka hatinya tanpa membayar.
akhirnya pelayanan itupun memberikan selembar kertas kecil kepada Regan.
"ma'af Tuan ini bill yang Tuan minta".
ucap pelayanan itu dengan ketakutan, karena sedikit saja ia melakukan kesalahan di depan Regan maka ia harus rela kehilangan pekerjaannya.