My Big Boss

My Big Boss
Extra Part II " I love you pak tua "



" Lalu paman mau aku panggil apa? Kakek?opung?atau oppa?"


" Apa aku terlihat begitu tua di matamu? " Kevin sedikit melotot.


" Hehehe..ma'af pak bos. Aku cuma bercanda. " Qiara pun mengangkat dua jarinya.


" Nah itu lebih baik! " Kevin terlihat setuju dengan panggilan Qiara padanya, " hari ini kamu resmi menjadi pengasuh Cello. Aku tidak mau kamu menjaga anak ku cuma-cuma,jadi aku akan membayarmu,aku tidak mau di anggap memanfaatkan mu, " tuturnya namun Qiara tampak keberatan.


" Ini kemauan ku sendiri pak bos,aku ikhlas ingin menjaga anak pak bos,anggap saja ini sebagai bayaran karena aku sudah tidur dan makan di sini. "


" Tidak, tidak.Tetap saja rasanya aku memanfaatkan mu. "


" Baiklah, terserah pak bos. " Qiarapun tersenyum senang,bagai menyelam sambil minum air.Numpang tidur dan makan dapat bayaran pula,siapa yang tidak mau?


" Cello anaknya mandiri,mengasuhnya tidak terlalu menyusahkan.Hanya saja anaknya terlalu pintar.Jadi kamu perlu sedikit bersabar. "


" Siap pak bos,saya orangnya penyabar, " jawabnya tersenyum garing.Karena Qiara perlu tempat untuk tinggal jadi dia harus pintar mengambil hati bos barunya itu.Walaupun sebenarnya dia kurang suka dengan anak-anak.Mulai hari ini dia akan belajar menyukai anak-anak.


Kamu harus bisa Qiara!


gumamnya yang mulai menyemangati diri sendiri.Namun kini fikiirannya teralihkan.Dia memikirkan ucapan bos barunya tadi.


Terlalu pintar?


Tadi Oma cantik itu juga bilang gitu,sebenarnya apa sih maksudnya?


Qiara terus berfikir hingga suara Cello membuyarkan konsentrasinya.


" Hai kakak cantik,aku ingin makan ikan. Ayo ikut aku! " ajaknya sembari memberikan alat pancing dan juga ember yang ia bawa pada Qiara yang masih loading.


Ini maksudnya apa? Pikirnya sambil menatap ember dan pancing yang ia bawa .


" Ayo! Kakak lelet banget sih! " Cello mulai kesal karena Qiara tak kunjung mengikutinya yang sudah berjalan lebih dulu.


" Iya.Iya." Qiara masih bingung.Haruskah dia benar-benar mengikuti bocah cilik ini? Ia pun menatap Kevin yang tengah duduk membereskan barang-barang dari mama Nita.


" Kamu ikuti saja kemauannya.Ada kolam ikan di samping rumah ini, " tutur Kevin yang seakan tau jika Qiara memang butuh penjelasan darinya.


" Owh,oke.Baik Pak bos. " Qiara pun bergegas mengikuti Cello. Dia masih saja bingung. Mau makan ikan kenapa malah bawa ember sama pancing? Ah sudahlah.Dia pun berlari kecil mengejar Cello.


" Hai anak kecil,katanya mau makan ikan? Kenapa malah kesini? " tannya nya pada Cello yang sudah ada di tepian kolam.


Cello pun kini menoleh dan menatapnya tidak suka.


" JANGAN PANGGIL AKU ANAK KECIL! " ucapnya dengan nada kesal.


" Owh,oke.Oke.Ma'af. " Qiara pun tersenyum garing, " kamu mau kakak panggil apa? " tannya nya kini.


" Panggil aku Pak boss juga! "


Qiara yang aslinya memang kurang suka dengan anak kecil pun mulai kesal. Namun dia harus bisa menahannya.


" Oke Pak boss kecil.Kenapa kita kemari? " tannya nya dengan lembut.


" Kita pancing dulu ikannya habis itu baru kita makan. "


" Owh. " Qiara pun hanya ber'oh ria.


" Kakak ini bodoh banget sih! Gini aja gak tau! " celoteh Cello yang membuat Qiara seketika naik darah.Andai saja dia tidak membutuhkan bantuan daddy dari anak ini mungkin Qiara sudah menyumpal mulutnya pakai ember.


" Iya Ma'af kakak enggak mikir sampai sana, " jawabnya dengan tersenyum lebar ya walau dengan terpaksa.


" Mana pancingnya? " Cello meminta pancing yang masih di pegang oleh Qiara.


" Owh,ini.ini." Qiara pun buru-buru memberikan semua peralatan pancing yang ia bawa.Dari mulai dua joran pancing, ember dan pakan pancingnya.


Cello pun mengerutkan dahinya.


" Satu saja! Yang ini buat kakak! " ucapnya kesal sembari memberikan satu joran pancing pada Qiara, " dan ini ember sama pakannya di taruh sini aja ngapain di kasih ke aku! " imbuhnya lagi.


" Owh, iya ma'af. "


" Kakak kasih air dulu embernya, biar aku yang naruh umpannya ke pengait. " Cello mulai mengambil pakan pancing dan mulai menaruhnya di pengait pancing.Qiara yang tau pun mulai ketir-ketir.


" Eh, anak kecil gak boleh main benda tajam. Biar orang dewasa aja yang masangin, " tuturnya ngeri.


" Ya sudah. Ini kakak pasang! " Cello pun menyodorkan pengait dan pakan pancing di hadapan Qiara.


" Eh kenapa kakak? " Qiara yang takut melihat pengait pancing pun menjauh.


" Ya kan di sini orang dewasanya kakak? "


" Iya, tapi aku enggak bisa.Gimana kalau minta bantuan pak boss besar saja. Aku panggilin pak bos besar ya? " Qiara semangat empat lima.


" Gak perlu. Jangan ganggu daddy! " Cello pun kembali menaruh pakan ikan pada pengait pancingnya.


" Eh, tapi nanti_"


" Udah kakak diem aja!Kalau gak diem aku kait nih bibir kakak! " Cello yang memotong ucapan Qiara mulai menakuti.Sementara Qiara yang takut pun reflek menutup mulutnya.Ini adalah pengalaman pertama Qiara,seumur hidupnya dia belum pernah memancing, memegang alat pancing pun baru kali ini. Dia dengan perasaan ketar-ketir hanya bisa diam melihat Cello memasang pakan pancing pada pengaitnya.


" Eh, kamu beneran bisa? " Qiara pun takjub dengan Cello yang benar-benar bisa memasang umpan pada pengait pancingnya.Menurutnya ini sungguh luar biasa.


" Kakak aja yang terlalu payah! " Dengan santainya Cello pun mulai melempar mata pancingnya ke tengah kolam.Di ikuti Qiara yang ikut-ikutan saja memasukan mata pancingnya ke dalam air dengan sembarangan.


Belum juga lima menit Qiara sudah mulai bosan,ia pun mulai memasukan kakinya ke dalam air. Mengayun-ayunkan kakinya hingga membuat deburan air,Cello pun mendengus kesal melihatnya.


" Kakak bisa diem gak sih! Ikannya kabur gara-gara kakak! " omelnya.


Kapan dapat ikannya sih? gerutunya pelan.


Tak lama suara sorakan Cello pun menggema.Umpannya di makan ikan, ia pun buru-buru menarik pancingnya.


" Horeee... Aku dapat ikan kak, " soraknya girang.


" Waaaaah.. Kamu hebat sekali, " Qiara pun tak kalah girang.


" Iya lah! " Cello pun menyombongkan diri, " ayo kak isi embernya dengan air, " surutnya kini.


" Oke. Oke. " Qiara pun manut begitu saja. Dia mulai mengisi ember itu dengan air.


" Sudah nih, " ucapnya sembari menaruh embernya di hadapan Cello.


" Ya udah sekarang kakak lepas pengait itu dari mulut ikannya. "


" Eh gimana? Aku enggak bisa.Nanti kalau jari aku di gigit gimana? "


Cello pun membuang nafasnya kasar. Pengasuh barunya ini benar-benar tidak bisa di andalkan.


" Ya sudah ayo kita bawa kedalam biar daddy yang lepas. "


Siap! " Qiara pun siap empat lima,jadi dia tidak perlu susah-susah melepasnya.Diapun membawa pancing bersama ikannya kedalam rumah.


" Hai dad, " sapa Cello yang kini sudah berada di dalam rumah. Dia menghampiri daddy nya yang masih sibuk merapikan perabotan pemberian mama Nita tadi.


" Yes boy,what's wrong? " jawabnya masih sibuk merapikan perabotan.


" Can you help me? " Cello berucap sambil memperlihatkan hasil pancinganya.Kevin yang melihatnya pun takjub.


" Kau mendapatkannya boy? " ucapnya bangga.


" Yeah. " Cello dengan bangganya pun menjawab.


" Ayo kita bawa ke dapur. " Kevinpun mulai membawa ikan itu, dia mulai melepas pengait pancing dari mulut ikan dan menaruh ikan itu kedalam washtafe yang ada di dapur.


" Kamu bisa memasaknya untuk kami? " tannya nya kini pada Qiara.


" Emmm... ssssaya... saya. " Qiara tampak berfikir dia bingung harus bagaimana.


" Enggak bisa masak? " tannya Kevin.


" Emmm, bisa kok. Bisa! " Dengan semangat Qiara menjawab.


" Ya sudah,tolong kamu masakin untuk kita, malam ini kita makan ikan goreng. "


" Siap pak bos! "


" Ya sudah aku lanjut beres-beres lagi. "


" Oke! "


Qiara pun kini terdiam melihat kepergian Kevin dan Cello dan kini ia mulai memelas memandangi ikan di hadapannya ini.


Harus aku apakan kamu wahai ikan?


Ucapnya sembari mengelus sisik ikan itu.


Seumur hidup dia belum pernah memasak.Nyalain kompor saja dia tidak tau bagaimana.


Qiarapun mulai mundar-mandir. Dia harus bisa melakukannya.Untuk tetap bisa tinggal di sini dia harus bisa melakukan sesuatu yang tentunya menguntungkan bagi pemilik rumah.


Oke semangat Qiara!


Semangat!


gumamnya pelan.


Dia pun mulai mempelajari kompor di hadapannya itu.Sebuah kompor listrik yang berukuran cukup besar.Dia mulai menaruh wajan di atasnya dan mulai membaca satu persatu fungsi dari tombol. Akhirnya Qiara pun berhasil dia bisa mengatur suhu kompor. Di pegangnya wajan yang ia taruh untuk mengecek apakah panas atau tidak namun Aaaaaawwwww... Panas! teriaknya,Qiara pun mulai megibas-ngibaskan tangannya dan meniupnya beberapa kali.Ini tidak akan menyurutkan niatnya.Dia pun mulai memasukkan ikan itu ke dalam penggorengan, namun naas sesuatu yang tidak pernah ia duga terjadi.


" Huaaaaaaaaaa.... Pak bos tolong, " teriaknya yang kini bersembunyi di kolong meja. Dia menutup kepalanya menggunakan penutup panci sementara tangannya masih memegang spatula.


Kevin yang mendengar teriakan dari dapur pun bergegas lari.


" Kiki ada apa? " ucapnya yang kini menghampiri Qiara di bawah kolong meja.


" Ikannya terbang pak bos.Nggak mau di goreng. " Qiara masih sibuk menutup kepalanya memakai penutup panci.


Kevin pun kini memperhatikan ikan yang ada di lantai,bergerak ke sana kemari namun tubuhnya sudah penuh dengan minyak.Ia pun membuang nafas beratnya dan bergegas mematikan kompor yang masih dalam keadaan hidup.


" Kamu goreng ikannya hidup-hidup? " tannya nya kini pada Qiara.


Qiara pun hanya mengangguk ria.


" Harusnya kamu potong dulu,di bersihin, di bumbuin baru di goreng! "


" Itu terlalu tragis pak bos! " Qiara pun mulai menatap Kevin dengan wajah memelasnya.


Kevin hanya bisa membuang nafasnya kasar,dia tidak habis fikir dengan jalan fikir gadis di hadapannya ini.


" Yang namanya tragis ya ini! Kamu goreng dia hidup-hidup!Boocah! " ucapnya sambil menahan kekesalannya.


Qiara pun hanya meringis kuda.