My Big Boss

My Big Boss
Kediaman Regan Part II



Kini Regan mulai mengambil tisu,mengusap darah yang masih melekat di tangan Bintang dengan pelan.


"Lain kali ketuk pintu dulu, kau mengerti!"


ucap Regan yang masih membersihkan darah pada tangan Bintang.


Eh!


Tumben enggak marah, kenapa sikapnya jadi manis gini?


Bintang hanya menganggukan kepala tanda mengerti.


" Apa itu makanan untukku? "


tanya Regan yang melihat nampan yang berisi semangkuk bubur ayam di atas meja kerjanya.


" Iya Tuan, sekarang sudah waktunya makan siang, Tuan harus segera makan, " ucap Bintang dengan manis.


" Karena hidungku sakit jadi kau harus menyuapiku, " ucap Regan yang sengaja mencari-cari alasan agar Bintang menyuapinya.


Bilang saja kalau kau ingin aku suapi!


Enggak usah pakai alasan hidung sakit!


gerutu Bintang menaikan sebelah sudut bibirnya.


" Kau keberatan! " ucap regan yang tak suka dengan cara Bintang menatapnya.


" Tentu Tidak Tuan, dengan senang hati saya akan melakukannya," jawabannya dengan senyum yang di paksakan.


Tenang Bintang... turuti saja...


Kau harus banyak bersabar dan mengalahkan di sini..


Anggap saja ini penebus dosamu karena membuat hidungnya terluka,


gumam Bintang mencoba menenangkan dirinya sendiri.


Bintang mulai menyuapi Regan yang mulai kembali fokus pada laptopnya.


Enak,


puji Regan dalam hati saat memakan bubur ayam dari Bintang.


" Siapa yang memasaknya? " tanya Regan yang mulai menikmati bubur buatan Bintang.


" Saya Tuan, " jawab Bintang singkat.


Seketika ekspresi Regan berubah datar.


" Pantas saja tidak enak! " ucapnya ketus.


" Wah...Tuan hebat sekali, mampu memakan makanan tidak enak sampai habis." jawab Bintang dengan senyum garingnya.


" Uhuk... uhukk. uhuuk.., " suara batuk Regan yang tersedak karena merasa tersindir dengan ucapan Bintang.


" Pelan-pelan Tuan, ini minum dulu, " ucap Bintang menyodorkan segelas air putih pada Regan.


Regan pun langsung meneguk segelas air putih itu.


" Aku hanya mengikuti saran dokter, makan banyak agar cepat pulih,jadi kau jangan kepedean, " ucap Regan mencari alasan.


Bintang tertawa kecil mendengar alasan Regan.


Ha.. ha.. ha..


Bilang saja kalau kau menyukai masakanku!


Susah banget**!


" Jangan mentertawakan ku! " ucap Regan menatap Bintang.


" Tidak Tuan, " jawabannya sambil menahan tawa.


" Ini obatnya di Minum Tuan, " imbuhnya lagi sambil menyodorkan obat pada Regan.


Regan pun segera meminum obat itu.


" Emmmm.. Tuan, hidung Tuan bengkak biar saya kompres dengan air hangat, " ucapnya pelan,mulai beranjak dari kursinya.


" Tidak perlu, " ucap Regan cuek.


" Tapi Tuan, lihatlah hidung Tuan sekarang benar-benar bengkak paling tidak dengan di kompres air hangat akan sedikit mengurangi bengkak dan rasa sakitnya, " ucap Bintang terus memaksa.


" Apa ini mengurangi kadar ketampanan ku? " tanya Regan yang muali mendekati Bintang.


" Ti.. tidak Tuan, " ucap Bintang terbata karena jarak diantara mereka begitu dekat membuat Bintang kembali salah tingkah.


" Kalau begitu kau tak perlu mengompresnya," jawab Regan dengan senyum manisnya.


Mana mungkin aku barani bilang kalau hidungmu sudah seperti hidung badut, tapi benar ,itu semua sama sekali tak mengurangi kadar ketampanan mu... apalagi kalau tersenyum seperti ini...


gumam Bintang yang mulai terpana dengan senyuman Regan.


Kriiiiiuuuk.... kriiiiiuuuk...


Bunyi perut Bintang yang seketika membuat ekspresi Bintang datar.


Kenapa kau harus bunyi di saat seperti ini..


Bintangpun tersenyum garing saat Regan menatapnya.


" Kau belum makan? " tanya Regan hangat.


Bintang hanya menggelengkan kepala.


" Apa Bibik tak mengantar makanan untukmu!" tanya Regan lagi.


Bintang pun kembali menggelengkan kepala.


Regan pun langsung melangkah keluar dengan wajah emosi.


" Tuan jangan marah, Bibik belum mengantar makanan karena tau saya masih mengantar makanan untuk Tuan, " ucap Bintang pelan.


Namun bukan Regan namanya jika mau mendengar ucapan Bintang begitu saja, Regan tetap melangkahkan kakinya menuju dapur dengan wajah dinginnya.


Bintang pun bergegas mengekori Regan dengan membawa mangkuk bekas bubur tadi.


" Apa sebenarnya pekerjaan kalain! kenapa belum menyiapkan makanan untuknya!" ucap Regan pada bik Inah dan Neni yang saat ini sedang sibuk di dapur.


" Ma'af Tuan, " jawab bik Inah menunduk hormat.


" Sekarang cepat siapkan makanan untuknya!"


ucap Regan dengan emosi.


Bik inah dan Neni pun mulai menyiapkan makanan yang telah mereka masak tadi sambil berbisik.


" Bik, kenapa dengan hidung Tuan Muda? " tanya Neni pa bik Inah.


" Mana aku tahu, dari tadi kan aku bersamamu di sini! sudah jangan bicara saat bekerja, Tuan muda paling tidak suka melihat orang bekerja sambil mengobrol, " ucap bi Inah dengan suara berbisik.


Neni pun hanya menyimpan rasa penasarannya.


Sedangkan Bintang merasa bersalah melihat Regan memarahi dua asisten rumah tangganya.


" Jangan terus berdiri di situ,kau mengotori pandanganku,cepatlah duduk! " ucap Regan ketus.


gerutu Bintang pelan.


Bintang pun duduk tepat di hadapan Regan.


" Silahkan Nona, " ucap bi inah yang menyiapkan makanan di atas meja untuk Bintang.


" Terimakasih banyak bik, ma'af merepotkan bibik, " ucap Bintang yang tak enak hati.


" Ini sudah tugas saya Nona, saya permisi, " jawab bi Inah dengan senyum ramahnya.


Bi Inah pun kembali ke dapur.


" Makanlah yang banyak, agar tubuhmu sedikit berisi ! " ucap Regan dengan tatapan hangatnya.


" Memang tubuhku kurang berisi?menurutku ini ideal, " ucap Bintang pelan yang masih bisa di dengar Regan.


" Tubuh seperti cacing kremi kau bilang ideal! Ku rasa kekasih mu itu tak pandai merawatmu, harusnya ia lebih memperhatikan asupan makanmu! " ucap Regan muali kesal sendiri.


Bintang hanya merespon dengan memutar bola matanya dan membuang nafasnya kasar, ia malas menanggapi ucapan Regan.


Mulai deh bicara gak jelas, mana ngatain tubuhku seperti cacing kremi lagi!


gerutu bintang yang mulai memakan makanan di hadapannya.


Sedangkan di dapur Neni mulai berisik sendiri melihat Tuannya bersama Bintang.


" Bik,bukankah ini pertama kalinya Tuan Muda mau duduk di meja makan?" ucap Neni yang mengelap piring tapi tatapannya fokus pada Tuanya.


" Hmmmm... iya kau benar Nen, selama di rumah Tuan muda hanya menghabiskan waktunya di kamar dan di ruang kerjanya,untuk makan pun menyuruh kita mengantarkannya ke atas,"ucap bi Inah yang melihat kebersamaan Regan dan Bintang di meja makan.


" Lihat deh bik cara Tuan muda menatap sekretarisnya,kalau aku yang ada di situ pasti udah mencair dari tadi, " ucap Neni senyum-senyum sendiri.


" Ssstt.. kau ini berhenti memperhatikan Tuan muda, apa kau sudah bosan kerja disini! "


ucap Bi Inah .


Neni hanya mengerucutkan bibirnya dan kembali fokus pada piringnya.


Sedangkan di sisi lain Regan memang sedang menatap lekat Bintang yang sedang makan di hadapannya, ia tak mengalihkan pandangannya sekalipun.


" Jangan terus menatapku Tuan, " ucap Bintang yang masih fokus makan namun tau jika Regan terus menatapnya dari tadi.


Regan pun seketika mengalihkan pandangannya.


" Aku hanya memperhatikan caramu makan sudah benar atau belum, jadi jangan kepedean, " ucap Regan mencari alasan yang mulai beranjak dari kursinya.


" Benarkah? " ucap Bintang dengan senyum menyeringai.


" Sudahlah cepat selesaikan makanmu!


jika sudah selesai cepat susul aku ke ruang kerja, " ucap Regan yang sengaja menghindar karena mulai salah tingkah.


Memang kau fikir aku percaya?


Bilang saja kau terpana melihat wajah cantik ku!


ucap Bintang sambil tertawa kecil.


Kini Bintang mulai membereskan semua piring yang ada di meja makan dan membawanya ke dapur.


" Nona, seharusnya Nona tidak perlu membereskannya, ini tugas bibik, " ucap bi Inah tak enak hati yang langsung mengambil piring-piring yang Bintang bawa.


" Enggak papa bik, saya sudah biasa melakukannya,ma'af kan saya sudah membuat kalian kena marah, " ucap Bintang tak enak hati.


" Itu sudah makanan kita sehari- hari Non, jangan di fikirkan, " sahut Neni dengan senyum ramahnya.


" Tetap saja kalian di marahi karena saya,biar saya bantu cuci ya bik, " ucap Bintang menghampiri bik Inah yang hendak mencuci piring, ini memang sudah menjadi kebiasaannya dari kecil Bintang jika makan harus mencuci sendiri piringnya.


" Tidak... tidak.., ini tugas bibik, tugas Nona hanya merawat Tuan Muda saja tidak lebih, " ucap bi Inah ramah yang mulai menuntun Bintang menjauh dari tempat cuci piring.


" Nona sekretaris udah cantik, baik, ramah, terus masih mau pula ke dapur, Tuan muda sungguh beruntung mengenal Nona, " sahut Neni yang melihat Bintang memang tak seperti banyak wanita yang ia lihat saat sudah punya jabatan tinggi.


" Wah... si embak terlalu berlebihan memuji saya, " ucap Bintang sambil tersenyum ramah.


" Oh ya, saya belum memperkenalkan diri, saya Bintang, panggil saja saya Bintang jangan Nona sekretaris, " tersenyum ramah sambil mengulurkan tangan untuk berjabat tangan dengan Neni yang usianya memang seumuran dengannya.


Neni sibuk mengelap tangannya yang tidak kotor, Bintang yang melihatnya pun langsung menyahut tangan Neni,


" Bintang, " ucapnya sambil menjabat tangan Neni.


Neni yang kaget pun menjawab dengan terbata,


" Sa...sa..saya Neni Nona, " sambil membuka mulutnya lebar-lebar, tak percaya jika Bintang mau berjabat tangan dengan dirinya yang seorang asisten rumah tangga.


" Jangan panggil Nona, panggil Bintang saja, kita seumuran bukan? " ucap Bintang ramah.


" Tidak Nona, itu tidak sopan, bagaimanapun Nona Bintang adalah sekretaris Tuan Muda, " ucap Neni tersenyum.


" Yah terserah kamu saja, " jawab Bintang ramah.


" Sampai kapan kau akan di situ! ",


suara Regan dari lantai atas yang mengagetkan tiga orang yang ada di dapur itu.


Orang itu selalu mengganggu waktuku!


gerutu Bintang dalam hati.


" Saya ke atas dulu, " ucap Bintang tersenyum ramah sebelum meninggalkan dua orang di hadapannya.


Neni dan Bik inah tersenyum ramah dan menunduk hormat.


" Lihatlah bik, Nona Bintang tidak sombong sama sekali padahal ia sudah mempunyai jabatan tinggi,beda dengan wanita-wanita yang pernah jadi sekretaris Tuan Muda, mana mau mereka berjabat tangan dengan kita,harusnya semua orang itu seperti Nona Bintang ya bik? yang bisa menghargai orang lain walau berbeda kasta.Hmmmmm....dulu aku fikir Nona Tania adalah wanita terbaik ternyata masih ada yang lebih baik darinya, " ucap Neni yang mendadak jadi Bala Bintang (Fans Bintang yang akan terus mendukung Bintang dengan Regan🤣)


" Sssttt... jangan bilang seperti itu! " ucap bik Inah.


" Memang kenyataannya kan bik, Nona Tania memang baik tapi apa pernah bibik di ajak berjabat tangan, di ajak bicara pun jarang, " ucap Neni kesal sendiri.


" Jangan membicarakan orang yang sudah tidak ada, enggak baik, " ucap bi Inah.


" Semoga Nona Bintang bisa mendapatkan hati Tuan muda, " do'a yang begitu saja terucap dari mulut Neni sambil menengadahkan tangannya.


Bi inah yang melihatnya hanya geleng-geleng kepala.


_


_


_


_


_


_


_


_


Mohon ma'af baru bisa up🙏🙏🙏


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian😉


Happy Reading 😊