
Kini ruangan itu menjadi hening,walau ada tiga manusai di dalamnya.
Tak lama kemudian terdengar suara pintu terbuka yang mampu memecahkan keheningan yang ada.
Cekreeeeeek...
Satu perawat dan seorang dokter masuk kedalam ruangan itu.
Ketiga manusai itupun secara bersamaan menatap ke arah dokter yang baru saja masuk hingga membuat dokter itu pun tak nyaman dengan tatapan Regan dan David.
" Ma'af, Apa kedatangan saya mengejutkan anda Tuan ",
" Tidak dok, silahkan lakukan pekerjaan anda ",
ucap David ramah.
Walaupun dengan ramah David mengucapkannya tetap saja dokter itu tak nyaman,karena wajah sadis dan sorot matanya itu tetap tak bisa hilang dari parasnya.
" Permisi Tuan, saya akan mengecek tekanan darah anda ",
ucap perawat yang akan memasang tensi meter pada lengan Regan.
Reganpun hanya menjawab dengan anggukan kepala.
Perawat dan dokter itu melakukan tugasnya masing-masing,dokter menanyakan keluhan-keluhan yang masih di rasakan oleh Regan dan Regan pun menjawabnya dengan detail.Akhirnya perawat yang melakukan beberapa pemeriksaan menyelesaikan tugasnya,perawat itupun memperlihatkan catatan medisnya pada dokter.
Dokter yang telah melihat catatan medis pun tersenyum tipis.
" Ada pulih cepat sekali Tuan,dari pengalaman pasien-pasien yang pernah saya tangani mereka butuh waktu dua hingga tiga hari untuk opname, ini semua di luar prediksi saya ",
ucap dokter itu tersenyum ramah.
" Karena kondisi Tuan yang sudah membaik kita lepas infusnya ya Tuan, kita coba semalam ini(perawat mulai melepas selang infus dari tangan regan),tapi kalau kondisi Tuan melemah tanpa infus kita akan memasangnya lagi, jadi Tuan harus banyak makan dan minum biar tetap fit jangan sampai drop lagi,untuk rasa mual yang Tuan rasakan itu akan berkurang namun bertahap. Jika sampai besok kondisi Tuan terus membaik, besok pagi Tuan sudah bisa pulang, jangan lupa obat harus diminum tepat waktu",
imbuh dokter itu,
" Terimakasih dok ",
ucap Bintang dengan wajah berseri.
Dokter menganggukan kepala dan tersenyum ramah, kemudian melangkah keluar ruangan bersama perawat yang terus mengekorinya.
" Cepatlah mandi!
Aku ingin muntah mencium aroma tubuhmu! ",
ucap Regan yang kembali fokus pada laptopnya.
Benarkah? ku rasa aroma tubuhku tak sebau itu !
mulai menciun aroma tubuhnya sendiri.
masih wangi,
ucapnya lagi pelan yang telah mencium aroma tubuhnya sendiri.
" Tapi saya tidak membawa baju ganti Tuan ",
" David sudah menyiapkanya,cepatlah mandi! ",
jawab Regan santai karena memang dirinyalah yang sudah meminta David untuk menyiapkan baju ganti untuk Bintang.
Bintang pun mulai berjalan menuju kamar mandi dengan membawa baju ganti yang telah di siapkan untuknya.
Tak berapa lama kini Bintang keluar dari kamar mandi,ia melangkah keluar dengan rambut basah yang masih terurai,ia mengibaskan rambutnya dan mulai mengeringkannya dengan handuk kecil,wajah Bintang tampak bersih berseri tanpa polesan make up yang memancarkan aura kecantikan alaminya.
Regan dan David dibuat terpana dengan wajah Bintang yang benar-benar cantik alami.Mereka berdua sampai tak mengedipkan mata saat melihatnya,Regan yang sadar David ikut menatap Bintang pun mulai kesal.
" Berhenti menatapnya seperti itu! ",
ucap Regan menatap tajam David.
" Ma'af Tuan ",
ucapnya sambil menundukkan kepala.
Bintang yang sudah selesai dengan aktifitasnya pun kembali duduk bergabung dengan dua manusia yang menurutnya sangat mengerikan, siapa lagi kalau bukan Regan dan David.
Bintang terus memperhatikan dua manusia di hadapannya, Regan yang tetap fokus pada laptopnya dan David yang sibuk dengan berkas yang ada di tangganya.Walaupun tak berada di kantor mereka tetap saja sibuk dengan pekerjaannya.Regan sebagai seorang Presdir tak mau begitu saja lepas tangan walau dirinya sedang sakit.
" Tuan, apa tidak sebaiknya Tuan istirahat,jangan terlalu di forsir kondisi Tuan belum benar-benar pulih ",
ucap Bintang pelan takut Regan marah.
" Sebentar lagi ",
jawab Regan yang tetap sibuk dengan laptopnya.
ucap petugas pengantar makanan yang sudah masuk dengan membawa nampan berisi makanan.
Dua manusia itu tidak ada yang menghiraukan, tetap fokus dengan pekerjaan masing-masing.Bintang yang melihatnya membuang nafas kasar,ia pun segera meyodorkan tangan untuk menerima nampan,setelah diterima petugas itupun bergegas pergi.
" Tuan, sebaiknya Tuan makan dulu ",
ucap Bintang pelan.
Regan mulai melirik makanan yang di pegang Bintang,
" Baru melihatnya saja aku ingin muntah,jauhkan makanan itu dariku! ",
ucap Regan yang mulai mual.
" Tapi Tuan harus tetap makan, kondisi Tuan akan memburuk lagi jika Tuan tidak mau makan ",
ucap Bintang memaksa.
" Aku bilang jauhkan makanan itu dariku! ",
ucap Regan penuh penekanan.
David yang melihta sikap Tuanya hanya menggelengkan kepala,ia mulai gusar karena tidak yakin Bintang bisa bertahan merawat manusia keras kepala itu!
Ia pun mulai berfikir untuk mencari perawat cadangan jika Bintang mundur.
Bintang yang sedari tadi menahan emosinya kini mulai naik darah,entah kenapa saat ini ia tak bisa lagi membendung emosinya,Bintang beranjak dari kursinya,membuat Regan yang tadi fokus pada laptop kini menatapnya heran,
" Ahli gizi sudah membuatnya kusus untuk Tuan,kenpa Tuan terus menolak untuk makan!
Apa Tuan mau terus terbaring sakit seperti ini hah!
Jadi sekarang cepatlah makan! ",
ucap Bintang dengan emosi yang meluap-luap,sambil menyodorkan makana yang sudah ia sendok ke arah mulut Regan.
Sungguh saat ini Bintang sudah kehilangan kesadarannya entah bagaimana nanti ia pun tak memikirkannya.
Ekspresi Regan menjadi datar, ia tak percaya ada orang yang berani membentaknya seperti itu,sekarang wajah Bintang sungguh mengerikan di mata Regan, ia pun melahap makanan yang sudah ada di depan mulutnya tanpa komentar.Regan memakan habis makanan itu karena Bintang yang terus menyuapinya.
" Kenapa kau terus memasang wajah seperti itu, aku sudah memakan makanannya sampai habis ",
gerutu Regan yang tak suka dengan Bintang yang terus menatapnya penuh amarah.
Bintang pun mencoba menenangkan dirinya dan merubah ekspresinya menjadi semanis mungkin,ia mulai sadar akan kesalahan yang ia lakukan, ia hanya berharap Regan tak memecatnya saat ini juga.
" Sekarang minum obat ya Tuan ",
ucapnya semanis mungkin sambil menyiapkan obat untuk Regan.
" Ini di minum Tuan ",
dengan semanis mungkin menyodorkan beberapa tablet obat dan segelas air putih.
" Beraninya tadi kau membentak ku! ",
menggerutu sambil minum obat.
" Ma'af Tuan, itu karena saya terlalu peduli dengan kesehatan Tuan ",
ucap Bintang tersenyum manis pada Regan.
Lagi-lagi ia mencoba mengambil hati Regan agar tak marah dengan sikapnya tadi.
" Hanya karena itu, tak ada lagi! ",
ucapnya berharap Bintang mengkhawatirkannya.
Bintang menatap Regan dengan mengangkat kedua alisnya tanda tak mengerti.
" Sudah, lupakan saja! ",
menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
Aneh!
gumam Bintang dalam hati.
Sedangkan David sedari tadi hanya menjadi penonton setia dari drama antara Tuan dan sekretarisnya.
Ia tak percaya Seorang Bintang Ariana Putri gadis dari desa bisa menjinakkan manusia keras kepala itu.Niatnya untuk mencari perawat cadangan pun ia urungkan.
Bukankah ini momen yang perlu di abadikan?
gumam David dalam hati.