My Big Boss

My Big Boss
Sendal jepit



Pak jang yang melihat raut wajah Bintang pun tersenyum tipis, ia tahu bahwa Bintang sedang menahan kekesalannya karena sikap Regan yang berlebihan.


Saat di perjalanan Bintang dan Regan sama-sama melihat ke arah luar jendela, mereka saling ber punggungan.


" Pak kita mampir dulu ke toko sendal ".


ucap Regan datar.


" Baik Tuan, "


ucap pak Jang sopan.


Bintang tetap menatap ke arah luar jendela tak menghiraukan ucapan Regan.


Saat sampai di toko Regan mulai turun dan membeli satu pasang sendal jepit wanita, setelah membayar ia pun keluar dan masuk kedalam mobil.


Pak Jang yang melihat Tuanya sudah duduk di tempatnya, mulai melajukan mobilnya menuju kantor Regan.


beberapa menit berlalu kini mobil Regan berhenti tepat dihalaman kantor.


Regan pun turun dengan membawa sendal jepit yang ia beli tadi,sedangkan Bintang turun secara perlahan dari mobil.


Regan berdiri di depan Bintang dengan tatapan datarnya.


" Pakai ini !"


ucap Regan yang menjatuhkan sendal jepit tepat di depan Bintang.


" Ma'af Tuan, tidak mungkin saya memakai sendal jepit saat bekerja, apa kata karyawan lain? itu tidak sesuai dengan peraturan di kantor Tuan, "


ucap Bintang yang sebenarnya malu jika harus masuk memakai sendal jepit.


" Apa kau lupa siapa bos di sini! "


ucap Regan dengan sorot matanya yang tajam.


" Ma'af Tuan, "


ucap Bintang mulai memakai sendal pemberian Regan.


" Itu sebagai pengganti sepatu mu yang telah ku buang! "


ucap Regan datar dan berlalu meninggalkan Bintang.


"Haaaah! "


ucap Bintang membulatkan matanya sempurna dengan mulut menganga.


Kau menggantinya dengan sendal jepit?


ini yang kau bilang akan mengganti sepatuku seratus kali lipat lebih bagus?????


gumam Bintang tak percaya.


Bintang pun hanya bisa menerima tanpa berani menolak, ia hanya berani protes di benaknya saja tanpa berani mengungkapkannya.


Bintang mulai melangkahkan kakinya untuk masuk namun pak Jang menghentikan langkahnya untuk memberikan sebuah tongkat penyangga/kruk.


Bintang yang masih dengan ekspresi bingung tidak langsung menerima tongkat yang di berikan pak Jang.


" Pakailah untuk membantu Nona berjalan, Tuan Regan sudahnmenyiapkannya untuk Nona, "


ucap pak Jang memberikan tongkat penyangga pada Bintang.


" Pasti dia akan menyuruhku membayar dua kali lipat, bahkan bisa lebih dari itu! ini pak, aku tidak membutuhkanya! "


ucap Bintang dengan mengembalikan tongkat penyangga itu pada pak Jang karena ia tak mau begitu saja percaya dengan Regan.


Pak Jang pun tersenyum tipis melihat Bintang.


" Kenapa Nona selalu berprasangka buruk pada Tuan Regan? "


ucap pak Jang tenang.


" Bagaimana aku tak berprasangka buruk padanya jika dia selalu menyusahkanku! manusia iblis itu sudah membuat kakiku hampir patah, membuang sepatuku dan menggantinya dengan sendal jepit jelek ini! dia bahkan sengaja mempersulit ku dalam bekerja! "


gerutu Bintang yang meluapkan semua kekesalannya pada pak Jang.


" Tuan Regan tak seburuk yang Nona kira, " ucap pak Jang dengan tenang.


" Pakailah tongkat ini Nona, kalau tidak Tuan akan marah,saya yakin Tuan tidak akan menyuruh Nona menggantinya, " imbuhnya lagi.


Bintang pun mulai mencerna ucapan pak Jang.


Benar apa yang di ucapkan pak Jang, pasti Regan marah jika tau aku tak memakainya, sudahlah... semoga saja kali ini dia benar-benar memberikannya padaku.


gumam Bintang dalam hati.


Akhirnya Bintang pun menerima tongkat penyangga itu, ia mulai memakainya untuk membantunya berjalan memasuki kantor.Saat Bintang sampai di lobby kantor, ia di bingungkan dengan semua karyawan perempuan yang kini tak lagi memakai sepatu hak mereka melainkan memakai sendal jepit.


Bintang pun terus memandang kesemua kaki yang ada,


Kenapa semua karyawan perempuan sekarang memakai sendal jepit ?


gumam Bintang dalam hati.


Bintang pun terus berjalan menuju ruangannya dengan bantuan tongkat penyangga yang menempel pada ketiaknya.


Livia yang melihat Bintang pun bergegas menghampiri.


" Kau baik-baik saja Bi? "


tanya Livia khawatir.


" Tenanglah,aku baik-baik saja.


kau juga memakai sendal jepit Vi? kenapa semua karyawan perempuan sekarang memakai sendal jepit? "


tanya Bintang dengan suara pelan.


" Tadi saat kau keluar kantor bersama Tuan Regan,Tuan Davit memerintahkan semua karyawan perempuan untuk memakai sendal jepit hingga waktu yang belum ditentukan"


" Benarkah? "


ucap Bintang dengan tertawa lepas.


" Kenapa kita bisa punya dua Tuan yang sama anehnya? "


imbuhnya lagi sambil tertawa.


" Kau tahu?


bahkan Tuan Davit rela mendatangkan sendal dari pabriknya langsung,agar kita cepat memakainya sebelum Tuan Regan kembali, " ucap Livia dengan wajah kesalnya.


" Jadi semua atas perintah Tuan Regan?


kenapa ia memberi perintah seperti itu?"


ucap Bintang bingung.


" Entahlah, kita semua dilarang menolak, di larang protes dan di larang menanyakan alasannya! kau kesal ga sih dengernya! "


ucap Livia dengan muka cemberut.


Bintang hanya tersenyum kecut,ia mulai mencerna ucapan Livia.


Apa ia sengaja melakukan ini karena tak mau karyawan lain menggunjing ku?


aishh..!kenapa kau bisa berfikir seperti itu Bintang...


kau jangan kepedean ....


gumam Bintang sambil memukul keningnya.


" Apa kalian akan terus mengobrol di situ ! "


Tegur pak Radit dari mejanya.


Bintang dan Livia yang mendengar pun langsung pergi kemeja masing-masing.


sebelum pergi Livia berbisik ke telinga Bintang.


" Kau hutang cerita padaku!"


ucap Livia berbisik.


Bintang hanya diam,ia memperlihatkan wajah masamnya pada Livia, Bintang tau jika temanya itu penasaran tentang kejadiannya tadi bersama Regan.


Bintang pun mulai berjalan ke mejanya,saat melewati meja Rita, Bintang menyempatkan untuk menyapa dan tersenyum namun Rita membalasnya dengan membuang muka.


Bintang pun hanya tersenyum masam dan duduk di mejanya, ia mulai di sibukan dengan pekerjaannya.


Sedangkan Davit yang baru kembali langsung masuk kedalam ruangan Regan.


" Permisi Tuan, " ucap Davit yang berada di hadapan Regan.


" Apa kau sudah menyelesaikan semua tugasmu! "


ucap Regan dengan sorot matanya yang tajam.


" Sudah Tuan, ini obat untuk Nona Bintang, "


ucap Davit yang memberikan obat yang telah ia tebus.


" Berapa lama kakinya akan membaik, "


tanya Regan datar tanpa ekspresi.


" Selama Nona Bintang menghindari kegiatan yang membuat kakinya tidak nyaman, nyeri dan bengkak pada kakinya akan segera berkurang Tuan, "


jawab Davit yang berdiri dengan wajah datarnya.


" Apa menurutmu aku perlu memberikannya cuti? "


tanya Regan dengan tatapan datarnya.


" Itu lebih baik Tuan, " ucap Davit sopan.


" Hari ini kau hendel semua pekerjaannya! "


ucap Regan dengan sorot matanya yang tajam.


" Baik Tuan, "


ucap Davit singkat.


Aku lagi kan yang jadi korban


nasib... nasib...


gerutu Davit dalam hati.


" Kau kembalilah ke mejamu dan bawa semua berkas ini ! "


ucap Regan datar.


" Baik Tuan,saya permisi, "


jawab Davit yang langsung bergegas keluar.


Davit pun mulai sibuk di ruanganya dengan setumpuk kertas yang ada di hadapannya.


Ia harus menyelesaikan semua tugasnya hari ini dan di tambah ia yang harus menghendel semua pekerjaan Bintang.


Aku bahagia jika kau bahagia Tuan..


Tapi kenapa kau tak membiarkanku bahagia...


gerutu Davit yang mulai mengacak-acak rambutnya sendiri.