My Big Boss

My Big Boss
Menahan malu



Sedangkan pak Jang yang melihat Tuanya sudah berada di bangku belakang pun segera melajukan mobilnya.


Tak butuh waktu lama kini Regan sudah sampai di rumah mewahnya.Bik Inah asisten rumah tangga yang selalu setia membukakan pintu untuknya.


" Malam Tuan Muda, "


sapa bi Inah


Regan hanya menjawab dengan anggukan kepala dan berlalu di hadapan bi Inah.


Regan berjalan menuju kamarnya di lantai dua.


saat melewati ruang keluarga Tuan Williams memanggilnya.


" Kau sudah pulang Rey, "


ucap Tuan Williams yang tetap duduk di kursi empuknya.


Regan tak menjawab ia hanya berlalu melewati Tuan Williams.


" Sampai kapan kau akan memusuhi papa, "


ucap Tuan Williams yang mulai berdiri.


Seketika Regan pun menghentikan langkahnya,ia hanya berdiri mematung di tempatnya.


" Papa tidak akan memaksamu lagi untuk menerima perjodohan itu, tapi kau harus segera membawa calon istri mu dalam waktu dekat ini sebelum Papa berubah fikiran, "


ucap Tuan Williams penuh penekanan.


Regan masih saja diam tak menjawab ucapan Tuan Williams.


" Papa tau kau tak banyak waktu untuk mendekati wanita, jadi papa akan menyuruh Kevin untuk kembali untuk membantumu mengurus perusahaan agar kau ada sedikit waktu luang, "


ucap Tuan Williams yang tetap tenang walau Regan tak mau menjawab ucapannya sedikitpun.


Regan yang mendengarnya masih tetap tidak menjawab ia memilih melangkahkan kakinya menaiki tangga menuju kamarnya.


Sedangkan Tuan Williams yang masih berdiri melihat sikap anaknya itu hanya membuang nafasnya kasar.


" Tenanglah Pa, anak mu itu memang tak mau menjawab semua ucapanmu tapi Mama yakin ia tidak mengabaikan semua ucapan mu tadi, " ucap Mama Nita yang menghampiri suaminya.


" Ya Ma,semoga saja Regan benar-benar tidak mengabaikan ucapanku tadi, "


ucap Tuan Williams yang kembali duduk di ruang keluarga.


Kini Tuan Williams mulai menghubungi Kevin untuk segera kembali ke Indonesia.


📞 Haloo Vin..


ucap Tuan Williams.


📞 Iya Paman...


ma'af Paman disini sedikit bising, karena saya sedang berada di lokasi penambangan.


ucap Kevin sedikit keras.


📞 Kau jam segini masih ada di lokasi penambangan vin?


kau sungguh pekerja keras.


puji Tuan Williams pada Kevin.


📞 Ini semua berkat didikan Paman.


ada perlu apa Paman menghubungiku?


tanya Kevin dari seberang sana.


📞 Kau bisa saja memuji Paman.


Paman ingin kau segera kembali ke Indonesia untuk membantu Regan mengurus perusahaan.


ucap Tuan Williams ramah.


📞 Apa ada masalah disana Paman?


tanya Kevin pada Tuan Williams.


📞 Tidak, Paman hanya ingin Regan tidak terlalu sibuk agar dia punya waktu untuk mencari istri.


ucap Tuan Williams sambil tersenyum.


📞 Hahaha...paman benar,manusia berdarah dingin itu harus cepat menikah.


mungkin dua minggu lagi Kevin baru bisa kembali ke Indonesia Paman, karena ada pekerjaan yang harus Kevin selesaikan terlebih dulu.


ucap Kevin sopan.


📞 Baiklah, Paman tunggu kedatangan mu.


ucap Tuan Williams yang kemudian menutup teleponnya.


" Bagaimana Pa,apa Kevin bersedia? "


tanya Mama Nita pada Tuan Williams.


" Tentu,anak itu tidak pernah menolak perintahku, "


ucap Tuan Williams tersenyum manis.


Waktu berjalan begitu cepat kini sinar rembulan mulai menyinari.


Regan yang sedari tadi sibuk di ruang kerjanya kembali ke kamarnya untuk beristirahat,ia membaringkan tubuhnya yang penat di atas kasurnya yang empuk.Regan melipat kedua tangannya ke belakang untuk menjadi tumpuan kepalanya,ia masih saja memikirkan ucapan Tuan Williams yang menyuruhnya segera membawa calon istri.


Bagaimana bisa dalam waktu dekat ini aku mendapatkan calon istri?


gumam Regan dalam hati.


Arghhh...!


kenapa wajah gadis bodoh itu yang muncul dalam bayangan ku!


ucap Regan sambil mengusap wajahnya sendiri.


Regan pun menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya.


Sedangkan di tempat lain Bintang juga masih belum bisa memejamkan matanya, ia masih terus memikirkan kejadian tadi sore bersama Regan.


Kenapa aku tidak menolak saat dia mendekapku ?


kenapa sekarang aku malah merasa senang?


oh Tuhaaan... perasaan apa ini?


iblis itu pasti sudah meracuni fikiranKu...!


Ucap Bintang yang kemudian menutupi wajahnya dengan bantal.


Malam semakin larut,Davit baru saja menyelesaikan semua pekerjaannya hari ini,akhirnya ia bisa juga beranjak dari kursi kebesarannya untuk pulang.


Owh..


mereka begitu tega meninggalkan aku sendiri disini!


gerutu Davit yang menyusuri koridor kantor yang sunyi.


Malam berjalan begitu cepat, kini sinar rembulan mulai terganti dengan sinar mentari yang mulai menyinari bumi.


Hari ini adalah hari pertama Bintang cuti, semua orang sudah di sibukan dengan pekerjaannya masing-masing, begitupun dengan Regan.


Hari ini Regan menghabiskan waktunya di dalam ruangannya karena memang tak ada janji di luar.


Sedangkan Davit harus bekerja ekstra karena harus menghandle semua pekerjaan Bintang.Hari berganti begitu cepat kini memasuki hari kedua Bintang cuti.Pagi ini Bintang berencana untuk pergi ke supermarket di dekat rumahnya, ia memilih untuk berjalan kaki karena jarak yang tidak terlalu jauh.


Bintang berjalan masih dengan kaki yang terbalut perban elastis dan tongkat penyangga yang ada ditangannya.


Bintang berjalan sambil menikmati segarnya udara di pagi hari.


ucap Bintang sambil menghirup udara pagi yang segar.


Tinggal beberapa langkah lagi Bintang sampai di supermarket namun suara klakson mobil yang ada di belakangnya memaksanya untuk menghentikan langkahnya.


Tin... tin... tiiinnn..


suara klakson mobil mewah di belakang Bintang.


Bintang pun melirik dan memperhatikan mobil itu.


Bukankah itu mobil Tuan Davit?


sedang apa dia disini?


apa dia sengaja memata-matai ku!


ah... Pura-pura tidak tau saja lah!


ucap Bintang yang akhirnya melangkahkan kakinya lagi.


" Apa yang Nona lakukan disini!


Bukankah saya sudah peringatkan bahwa Nona harus istirahat dan menghindari semua kegiatan yang akan membuat kaki Nona tidak nyaman! "


ucap Davit yang mulai emosi.


Seketika Bintang menghentikan langkahnya.


ia di buat terkejut oleh suara Davit yang sudah berada di belakangnya.


" Emmm... itu Tuan... saya mau ke supermarket depan, lagian kaki saya sudah sedikit membaik mungkin besok sudah tidak perlu bantuan tongkat lagi untuk berjalan, "


ucap Bintang gelagapan.


" Cepat masuklah! "


ucap Davit yang menyuruh Bintang masuk dalam mobilnya.


Bintang pun tak berani menolak, ia pun bergegas masuk ke dalam mobil Davit.


Dari suaranya saja sudah sangat mengerikan!


oh Tuhaaan...


kenapa dia lebih mengerikan dari pada Tuan Regan


gumam Bintang dalam hati.


Davit pun bergegas masuk ke mobil dan duduk di kursi kemudi,


ia mulai melajukan mobilnya dan berhenti tepat di depan supermarket.


" Kau tulislah semua barang yang akan kau beli di sini Nona! "


ucap Davit memberikan kertas dan bolpoin pada Bintang.


Bintang pun hanya menurut karena Davit yang terus menatapnya tajam.Setelah selesai menulis Bintang memberikan catatannya pada Davit.


" Ini Tuan, "


ucap Bintang singkat.


" Kau tetap disini!


jangan keluar!tunggu hingga aku kembali! kau mengerti Nona! "


ucap Davit penuh penekanan.


Bintang hanya menjawab dengan anggukan kepala.


Davitpun berjalan masuk kedalam supermarket dengan sorot matanya yang tajam hingga membuat orang yang melihatnya merasa takut, ia menuju kasir dan langsung menaruh daftar belanjaan Bintang ke atas meja.


" Cepat siapkan sekarang! "


ucap Davit dengan tatapan tajamnya.


" Baik Tuan, "


ucap salah satu petugas supermarket itu yang langsung bergegas mengambil semua barang yang ada di catatan.


Tak butuh waktu lama akhirnya petugas itupun kembali dengan barang yang Davit pesan.


" Ma'af Tuan, ada satu barang yang belum ada di sini! saya perlu menanyakan dulu pada Tuan, "


ucap petugas supermarket itu.


" Ya katakan saja, "


ucap Davit cuek.


" Untuk pembalut nya Tuan mau beli yang merk apa?yang bersayap atau tidak karena di catatan ini tidak tertera, "


ucap petugas itu yang menahan tawa.


" Apa itu pembalut? Apa itu untuk membalut luka? "


tanya Davit yang benar-benar tidak tahu.


" Bukan Tuan, Pembalut itu benda yang digunakan wanita saat menstruansi, "


ucap petugas dengan raut wajah yang menahan tawa.


" Owhh.., "


ucap Davit dengan wajah yang mulai memerah karena menahan malu.


" Ambil saja semua merk dan semua bentuk, "


imbuhnya lagi.


" Baik Tuan, "


ucap petugas itu yang mulai menyelesaikan semua tugasnya.


Tak lama kini Davit sudah keluar dari supermarket dengan membawa semua barang Bintang.


Aku bahkan rela menahan malu karena kau Nona!


gerutu Davit dengan membawa semua barang dalam kantong plastik.


Davit pun kembali masuk kedalam mobil dan menaruh semua barang di kursi belakang.


" Kau sebaiknya benar-benar menjaga kaki anda Nona, jangan membuat saya terus menghandle pekerjaanmu di kantor! "


ucap Davit yang mulai melajukan mobilnya.


" Jadi selama ini Tuan menghandle pekerjaan saya? "


tanya Bintang pada Davit.


" Emmm..., "


jawab Davit singkat.


Mana mungkin dia melakukannya dengan ikhlas,ternyata dia bersikap seperti itu karena ingin aku segera masuk kantor!


gerutu Bintang dalam hati.


Akhirnya mobil Davit pun berhenti tepat di halaman rumah Bintang, Davit mulai turun dan membawakan semua barang belanjaan Bintang kedalam rumah.


Bintang yang sudah turun dari mobil pun tak lupa mengucapkan terimakasih kasih kepada Davit yang sudah berada di dalam mobil.


" Terimakasih Tuan, "


ucap Bintang dengan menunduk hormat.


Davit hanya menjawab dengan anggukan kepala dan melajukan mobilnya menuju kantor.