My Big Boss

My Big Boss
Jeritan hati David



" Aku baik-baik saja, kau tak perlu mengkhawatirkan ku ",


imbuhnya lagi sambil mengacak-acak rambut Bintang.


Bintang pun tersenyum tipis sambil merapikan rambutnya yang berantakan.


Bagaimana aku harus menyikapi sikapmu yang mudah sekali berubah.


gumam Bintang dalam hati.


Bintang masih saja tersenyum karena sikap Regan yang sedikit manis padanya.Jarang-jarang Regan menatapnya hangat seperti itu, karena biasanya ia selalu memasang wajah dingin dan tatapan yang selalau tajam padanya.Tanpa Bintang sadari orang yang tadi berdiri di sampingnya sudah kembali berbaring di ranjangnya.


"Sampai kapan kau akan terus berdiri disitu! ",


suara Regan yang membuat ekspresi Bintang mendadak datar.


Harusnya aku tak terbuai dengan sikap manisnya tadi!


gerutu Bintang bergegas menghampiri Regan.


" Ma'af Tuan, ada yang perlu saya lakukan? ",


menahan kekesalannya dan pura-pura manis di hadapan Regan yang kini kembali bersikap dingin.


" Pijit kakiku sekarang! ",


Ucap Regan datar tanpa ekspresi.


" Baik Tuan ",


ucap Bintang yang mulai memijat Kaki Regan dengan wajah masamnya.


" Jangan memasang wajah seperti itu! kau tak ikhlas melakukanya! ",


ucap Regan sedikit kesal.


Bintang pun menoleh kearah Regan dengan senyum yang di paksakan.


" Saya ikhlas Tuan ",


sambil terus memijat dan tersenyum garing.


Regan pun mulai sibuk bermain game di ponselnya, sambil sesekali memperhatikan Bintang yang memijat kakinya.


" Bukankah kau tadi sudah makan begitu banyak, kenapa pijatan mu tak bertenaga? ",


ucap Regan yang tetap fokus pada layar ponselnya.


Bintang yang mendengar pun kesal dan sengaja menguatkan pijitannya hingga membuat Regan meringis kesakitan.


" Awww..


Kau sengaja ingin mematahkan kakiku! ",


bentak Regan dengan wajah kesalnya.


" Ma'af Tuan,mungkin saya terlalu bersemangat ",


menahan tawa.


Siapa suruh kau bilang pijatan ku tak bertenaga!


gumam Bintang dalam hati.


" Pijtlah seperti semula ",


ucap Regan kembali fokus pada ponselnya.


Bintang pun kemabli memijat kaki Regan,


Bagus sekali,sekarang aku merangkap menjadi suster juga tukang pijat!


mentertawakan dirinya sendiri.


Satu jam, dua jam, hingga tiga jam berlalu. Kini jari-jari Bintang serasa ingin lepas dari tangannya, bagaimana tidak selama tiga jam ia terus memijat kaki Regan tanpa henti hingga membuat si empunya tertidur pulas.Bintangpun mulai meregangkan tangannya untuk mengurangi rasa pegal yang ia rasakan.


Kini pukul sudah menunjukkan jam lima sore dimana jam kantor sudah selesai dari satu jam lalu.Bintang hanya meratapi nasibnya karena yang ia harapkan bisa terbebas dari Regan malah terjebak dalam situasai yang memaksanya untuk merawat Regan.


Kini Bintang berdiri di samping jendela menikmati semilir nya angin dan suasana senja yang begitu teduh,burung-burung yang akan kembali ke sarangnya melengkapai indahnya sore ini.Bintang mengedarkan pandangannya,ia melihat ada taman kecil yang ada di halaman belakang rumah sakit,ia pun berinisiatif untuk berjalan-jalan sebentar di taman untuk mengurangi rasa jenuhnya.Ia mulai meninggalkan Regan yang masih tertidur pulas.


Bintang pun berjalan menyusuri koridor rumah sakit tak lama ia sampai di taman yang ia tuju,banyak pasien yang di dampingi keluarganya menghabiskan waktu disana. Bintang yang baru saja akan duduk di bangku taman di kagetkan dengan suara ponselnya yang berdering.Wajah yang tadinya begitu ceria kini berubah menjadi datar tanpa ekspresi setelah membaca nama yang terpampang di layar ponselnya.Siapa lagi yang mampu merubah mood Bintang secara tiba-tiba kalau bukan Tuanya Regan Atmaja.Bintang pun segera mengangkat panggilan Tuanya,


" Apa yang kau lakukan disana! ",


ucap Regan yang memperhatikan Bintang dari jendela ruangannya.


Apa dia ada disini?


celingukan mencari sosok Regan.


" Kenapa kau malah celingukan seperti orang bodoh!",


ucap Regan kesal.


" Ma'af Tuan, kenapa Tuan cepat sekali bangun? ",


kesal karena baru saja ingin menikmati waktu luangnya.


" Jadi kau ingin aku tidur selamanya! ",


" Tidak Tuan, bukan seperti itu ",


" Cepat kemari! ",


ucap Regan kesal yang kemudian memutus telponya.


Bintang pun bergegas menuju ruang dimana Regan di rawat.


" Permisi Tuan ",


ucap Bintang yang sudah berada di ruang rawat Regan.


Regan yang masih berdiri di dekat jendela pun menatap tajam pada Bintang,


" Kemari! ",


ucapnya dingin.


Bintang pun mendekat ke arah Regan dengan wajah yang terus ia tekuk.


" Apa ini caramu menghadapku! ",


mengangkat dagu Bintang hingga tatapan mereka saling beradu.


Dug_dug_dug..


suara jantung Bintang pada mode tak beraturan,


Aish! kenapa jantungku selalu berdetak seperti ini setiap kali dia menatapku!


gumam Bintang dalam hati.


Sedangkan Regan masih bergelut dengan perasaannya sendiri, mulai ada rasa yang berkecamuk di hatinya yang membuatnya tak mengerti.


Ada rasa yang begitu dalam untuk wanita di hadapannya,tapi entah kenapa ia begitu sulit mengakui perasaannya sendiri.Mungkinkah karena cintanya pada Tania yang begitu besar hingga ia menutup hatinya untuk orang lain?


Entahlah, yang jelas saat ini ia memilih menepis perasaannya sendiri.


Aisssh!


Kenapa aku ingin sekali mencium bibir mungil ini setiap kali melihatnya!


membuang muka dan melepas tanganya dari dagu Bintang.


Kini Regan kembali menghadap ke jendela dan membelakangi Bintang.


Bintang yang melihat sikap Tuanya pun buru-buru meminta ma'af.


" Ma'af kan saya Tuan ",


" Pergilah! aku muak melihatmu! ",


ucap Regan tanpa menoleh.


Bintang pun mulai mengambil tasnya dan berjalan keluar, ada rasa kecewa di hatinya.Kenapa ia harus merasa sedih saat kata-kata itu terucap dari mulut Regan, bukankah harusnya ia merasa senang karena bisa terbebas dari Regan? Entahlah, akhir-akhir ini Bintang mulai tak mengerti dengan perasaannya sendiri.


Sedangkan Regan yang sudah berada di ranjangnya mulai menyesali ucapannya sendiri.


Kenapa tadi aku mengusirnya?


Kenapa sekarang aku begitu menginginkan dia terus bersamaku?


Perasaan apa ini? mungkinkah aku benar-benar mulai mencintainya?


******


" Nona Bintang, kenapa kau ada disini?


Bukankah tugas mu belum selesai? ",


tanya David yang berpapasan dengan Bintang di koridor rumah sakit.


" Tuan menginginkan saya pergi, jadi tugas saya selesai ",


jawab Bintang dengan wajah datarnya yang berlalu di hadapan David tanpa menoleh.


David menatap Bintang yang berlalu begitu saja,David merasa aneh dengan sikap Bintang, karena tak biasanya Bintang seperti itu saat berhadapan dengannya.


David pun kembali melangkahkan kakinya menuju ruang rawat Regan.


David yang sudah berada di dalam ruang rawat Regan pun di suguhkan dengan pemandangan yang sama, bagaimana tidak sekarang raut wajah Regan pun sama datarnya dengan Bintang, bahkan Regan pun tak menyadari jika David sudah berada di sampingnya karena terus melamun.


" Ma'af Tuan, apa anda baik-baik saja? ",


suara David yang menyadarkan Regan dari lamunannya.


Reganpun segera menatap David,


" Apa kau tadi melihat gadis itu? ",


ucapnya.


" Maksud Tuan Nona Bintang? ",


tanya David balik.


" Iya ",


jawabnya datar.


" Tadi saya berpapasan dengannya di koridor rumah sakit Tuan ",


" Kenapa kau membiarkannya pergi!


cepat bawa dia kembali kesini! ",


ucap Regan yang mulai naik darah.


" Baik Tuan ",


tanpa sadar menaruh barang-barang yang di bawanya di atas pangkuan Regan,kemudian David langsung bergegas untuk menyusul Bintang.


Reganpun menatap tajam pada David yang kini hanya tampak punggungnya yang mulai menjauh.


David mulai berjalan menyusuri koridor, ia mulai mencari sosok Bintang.


Kenapa aku harus membawa Nona Bintang kembali jika Tuan sudah menyuruhnya pergi?


Sebenarnya siapa yang benar di sini!


Apa mungkin Nona Bintang yang berbohong?


Ah..!itu tidak mungkin! Nona Bintang tak akan seberani itu!


Kenapa aku yang selalu di susahkan disini!


gerutu David yang terus berjalan mencari Bintang.


Kini Bintang sudah berada di pinggir jalan raya,ia menghentikan taxi dan mulai melangkah masuk namun teriakan David berhasil mencegahnya.


" Nona Bintang tunggu! ",


teriak David sambil berlari menghampiri Bintang.


Bintang pun menoleh ke arah sumber suara berasal,


" Kenapa Tuan, apa ada sesuatu? ",


tanya Bintang pada David yang kini sudah berdiri di hadapannya.


" Tuan Regan menyuruh saya membawa Nona kembali ",


jawab David khas dengan sorot matanya yang tajam.


" Tapi kenapa?


Bukankah Tuan Regan sudah menyuruhku pergi? ",


tanya Bintang heran.


" Kau bisa tanyakan nanti ",


jawab David yang mulai membalikan badan dan mulai melangkah masuk kembali ke rumah sakit.


Bintang pun meminta ma'af pada supir taxi dan mulai mengikuti langkah kaki David dari belakang.


Bukanya dia sudah mengusir ku!


kenapa sekarang menyuruhku kembali!


Dasar manusia aneh,mudah sekali berubah fikiran!


gerutu Bintang yang terus mengekori David.


Kini David dan Bintang pun sudah berada di ruangan Regan.


" Permisi Tuan, saya sudah membawa Nona Bintang kembali ",


ucap David menunduk hormat.


" Hmmm ",


jawab Regan yang masih fokus pada laptopnya yang telah David bawakan.


Regan mulai melirik tajam ke arah Bintang yang berdiri di sampingnya.


" Duduk ! ",


perintah Regan singkat yang kembali fokus pada laptopnya.Regan sengaja mengacuhkan Bintang karena dirinya sendiri merasa malu karena tadi sudah mengusir Bintang dan kini menyuruhnya kembali, ia tak tau harus bagaimana selain mengacuhkan Bintang.Kini ia hanya merasa senang karena Bintang sudah berada di dekatnya.


Tanpa bersuara Bintang mengikuti perintah Regan,ia bingung dengan sikap Tuanya,kenapa menyuruhnya kembali jika hanya di suruh duduk dan melihatnya sibuk dengan laptopnya.


Bintang mulai melirik ke arah David,seakan ia menanyakan apa yang harus ia lakukan, David yang mengerti maksud lirikan Bintang pun mengedipkan kedua matanya seakan ia mengintruksikan lakukan saja apa yang diperintah.


David yang melihat sikap Tuannya memijat keningnya sendiri,


Sebenarnya apa yang sedang merasuki mu Tuan, jangan membuatku terus tersiksa dengan sikap anehmu ini!


gerutu David yang kesal dengan sikap Regan, bagaimana tidak,baru datang sudah kena marah,capek-capek mencari Bintang dan kini hanya diacuhkan.


Jadi untuk apa kau memarahiku dan menyuruhku mencarinya...


kau tahu ! aku sudah sangat lelah dengan semua masalah kantor kenapa kau masih merepotkan ku dengan masalah kalian berdua yang akupun tak tahu masalahnya apa..!


jerit David dalam hati yang melihat Tuanya tetap mengacuhkan Bintang dan memilih sibuk dengan laptop yang ada di pangkuannya.