
Regan pun kini mulai melangkah meninggalkan Bintang.Ia mulai berjalan menuju tempat di mana Tania menunggunya.
Sementara Bintang kini kembali termenung.Jujur dia gelisah.Dia bisa saja ikut namun semua itu hanya akan membuat suasana menjadi canggung.Dia tau suaminya juga butuh privasi dalam menyelesaikan masalah masa lalunya itu mungkin akan ada banyak hal yang ingin di bicarakannya nanti.Bintang kini berusaha yakin dan percaya sepenuhnya terhadap suaminya.
Di sisi lain Regan yang sudah berada di dalam mobilnya mulai melajukan mobil yang tadi pagi di kemudikan oleh David itu.Dia fokus mengemudi tanpa menghiraukan wanita yang kini tengah duduk di sampingnya.
" Rey kau mau mengajak ku makan di mana? " tanya Tania karena Regan sudah melewati beberapa rumah makan yang biasa mereka kunjungi dulu.
" Sebentar lagi kita sampai. " Regan hanya menjawab seperlunya. Bisa dirasakan oleh Tania bahwa sikap Regan kini benar-benar acuh terhadapnya.Tania pun diam dan memilih mengikuti.
Tak lama mobil yang di kendari Regan berhenti tepat di halaman rumah sakit membuat Tania membelalakan matanya.
" Rey, kenapa kita berhenti disini? " tanya nya heran.
" Aku rindu makanan di kantin rumah sakit ini, " jawabnya yang kemudian turun dari mobilnya.
" Owh. " Wajah Tania masih sedikit bingung.
" Kenapa? Keberatan? " tanya Regan yang sudah berdiri di sisi luar mobil.
" Emmmm, tidak. " Tania mulai merasa tidak nyaman.Tapi ya sudahlah yang penting dia bisa menghabiskan siang ini bersama Regan.
" Rey kau bisa membantuku turun dari mobil? " pintanya kini.
" Ya tunggu sebentar David akan segera membantu mu. "
Apa David? Tania terkejut.
Manusia itu ada di sini?
" Mari nona saya bantu. " Suara David yang berhasil mengejutkan Tania.Ternyata manusia serba guna itu benar-benar ada di sana. Tapi bagaimana bisa? Ternyata tanpa sepengetahuan Tania Regan menyuruh David segera menyusulnya.
Dengan perlahan David pun membantu Tania turun dan duduk di kursi rodanya.Dan dengan sigapnya dia mulai mendorong kursi roda Tania mengikuti langkah Regan.
Sesampainya di kantin rumah sakit David meninggalkan dua manusia itu.Dan memilih duduk sendiri di pojokan sembari mengawasi tuannya dari kejauhan.
" Bicaralah,hal penting apa yang ingin kau bicarakan." Reganpun mulai membuka percakapan dengan dinginnya.
Sejenak Tania terdiam.Dia tidak akan berbohong lagi.
" Jujur saja tidak ada hal penting yang ingin aku bicarakan.Aku hanya ingin menghabiskan siang ini bersama mu. Aku mohon kamu jangan marah, " jelasnya memelas.
Reganpun membuang nafas beratnya.Jujur saja dia begitu kecewa.
" Baiklah, jika memang tidak ada hal penting yang ingin kamu sampaikan biarkan aku yang menyampaikan hal penting ini padamu, " tuturnya yang membuat Tania menaikan sebelah alisnya.
" Hal penting apa? " tanyanya.
" Aku sudah menikah Tania. " Jujur saja sedikit berat Regan mengatakannya.
Tania pun terdiam.Ternyata Regan ingin memberitahukan tentang status pernikahannya.Tapi Kenapa?Kenapa dia tidak menyembunyikannya lagi?Apa Regan sudah tidak mengkhawatirkan kondisinya lagi?Ini tidak boleh terjadi.Regan harus tetap peduli padanya.Tania pun kembali pura-pura tidak mengerti.
" Kamu jangan bercanda deh Rey, ini tidak lucu! " ucapnya sambil tersenyum.
" Aku tidak bercanda Tania.Aku memang sudah menikah, wanita yang selama ini kau anggap sekretaris ku dia sebenarnya adalah istriku."
" Rey, berhenti! Ini tidak lucu! "
" Aku memang sudah menikah Tania.Aku harus menjelaskan ini semua padamu.Aku tidak mau kau terus berharap padaku.Aku tau kau masih sangat mencintaiku,kau selalu berusaha untuk mendekati ku, tapi ma'af perasaan ku sudah lama berubah.Aku sama sekali tidak punya perasaan apapun terhadap mu.Aku tidak mau melukaimu terlalu lama.Kau wanita yang baik, lupakan aku Tania,carilah kebahagiaan mu. "
Tidak,aku tidak siap untuk ini.Airmata Tania pun mulai mengalir.Tania mulai memegangi kepalanya yang mulai sedikit pusing.Dia sudah tau yang sebenarnya tapi entah kenapa kenyataan dihadapannya terasa begitu pahit.Ternyata mendengar penjelasan langsung dari orang yang kita cintai itu terasa begitu menyakitkan.
" Kebahagiaan ku ada pada mu Rey, " ucapnya lirih.
" Tidak Tania, kau punya kebahagiaan lain yang harus kau cari, bukan aku. "
" Tidak! Tidak Rey. Aku tidak bisa! " Suara Tania sedikit meninggi,kepalanya semakin terasa pusing.Kenyataan yang ia dapat sungguh sangat pahit.Dia tidak bisa menahannya.Kepalanya terasah ingin pecah, ini di luar kendalinya.Tanaipun terus memegangi kepalanya yang semakin sakit, pandangannya mulai kabur namun ia masih bisa melihat Regan yang tampak khawatir dan terus memanggil namanya sebelum dia benar-benar tak sadarkan diri.
" Tania... Tania.... " Regan terus memanggil nama Tania, dia tau ini pasti terjadi untuk itu dia sengaja memilih rumah sakit untuk makan siang. Paling tidak dia bisa cepat memberikan pertolongan pada Tania.
" Dav cepat gendong Tania!Kita bawa dia ke UGD, " titah Regan pada David yang kini sudah berada di hadapannya.
" Baik tuan, " dengan sigap David pun segera menggendong tubuh lemas Tania. Ia berjalan sedikit berlari agar Tania cepat mendapatkan perawatan.
Tak lama berlari sudah ada dua perawat yang sigap menjemput mereka dengan kereta dorong.David pun membaringkan tubuh Tania di atas kereta dorong dan membiarkan dua perawat itu membawa Tania.
Regan dan David pun kini menunggu Tania yang tengah mendapatkan perawatan.
Tak lama terlihat seorang wanita paruh baya berlari tergopoh-gopoh menghampiri mereka.
" Rey apa yang terjadi? Kenapa kalian bisa bersama Tania? " tanya wanita paruh baya itu yang tak lain adalah ibu Tania.Beliau tau karena Reganlah yang menghubunginya.
" Ma'af tan, semua salah Regan.Regan memberi tahu Tania tentang status Regan yang sudah menikah.Tania seperti ini semua karena Regan, " rasa bersalah pun mulai menyelimuti Regan,ia hanya bisa menundukkan kepalanya di hadapan tante Nia.
" Jadi Tania seperti ini hanya karena kau memberitahu status pernikahan mu Rey? "
Regan pun mendongakan pandangannya, menatap tante Nia begitu dalam.Kenapa tante Nia menyepelekan masalah yang menurutnya cukup beresiko ini?
" Hanya? Kenapa tante bilang hanya? " tanyanya.
" Tania sudah mengetahui jika kau sudah menikah,ya awalnya dia drop tapi dengan berjalannya waktu dia bisa menerima,tante bisa melihat dari kondisi nya yang terus membaik.Harusnya tubuhnya tidak merespon berlebihan seperti ini. "
" Jadi Tania sudah tau? " Regan masih tak percaya.
" Iya Rey, apa kau belum tau? "
Regan hanya diam.Dia merasa di permainan kan.Dia sudah seperti orang bodoh.Ia pun tersenyum kecut.Tangannya tampak mengepal menahan emosi, dia benar-benar tak menyangka Tania bisa melakukannya.
Sementara tante Nia kini mulai mengerti. Melihat ekspresi dari Regan jelas putrinya menyembunyikan bahwa dia sudah mengetahui semua.Tante Nia juga tak menyangka, putrinya bisa sepicik itu.
" Rey, ma'af kan tante.Tante tidak tau jika Tania memanfaatkan keadaannya.Apa dia sering menemuimu? "
" Ya.Beberapa kali. " Dengan dinginnya Regan menjawab.Ia sangat kecewa.
" Ma'af kan tante Rey, tante harusnya menjaga Tania agar tidak menganggu keluarga mu. " Tante Nia merasa begitu bersalah.Regan dan Bintang sudah berbaik hati menolong putrinya namun apa yang dilakukan Tania? Dia malah ingin menusuk Bintang dari belakang.
" Sudahlah tan, tidak perlu di bahas lagi! " Regan tampak begitu murka.Ia ingin meninggalkan tempat itu namun langkahnya terhenti saat seorang perawat menyebut namanya.
" Apakah ada yang bernama tuan Regan? "
Regan pun menoleh, menatap datar perawat itu.
" Anda yang bernama Regan? Bisa ikut kami? Pasien terus memanggil nama anda, " tutur perawat itu.
David hanya diam, kini ia menoleh ke arah Regan.
" Saya Regan. " ucap Regan dengan tajamnya.
" Owh, mari tuan ikut saya. "
Regan pun berjalan mengikuti perawat itu.Dia harus segera mengakhiri semuanya sekarang.
Tampak Tania yang terbaring lemah.
" Rey,aku mohon jangan tinggalkan aku, " pintanya dengan suara yang begitu lirih.Namun Regan hanya diam menatap Tania begitu dingin.Rasa kecewa karena di permainan membuat hatinya kini serasa mati rasa,tidak ada lagi rasa peduli terhadap Tania.
" Rey kenapa kau diam? Kau tidak akan meninggalkan ku kan? " Tania mulai meraih tangan Regan namun dengan cepat Regan menarik tangannya.
" Ma'af Tania,aku tidak bisa menemani mu bermain dalam permainan mu.Aku sekarang sudah bahagia,semoga kau segera menemukan kebahagiaan mu sendiri.Mulai sekarang lebih baik kita tidak saling bertemu.Kalaupun bertemu anggap saja kita tidak saling mengenal.Aku berharap ini pertemuan terakhir kita.Semoga kau lekas sehat. " Regan pun kini berlalu pergi.Meninggalkan Tania yang kini terus memanggilnya.
" Aaaaaaaarghhhh..." Tania menangis sejadi-jadinya. Kenapa semua harus berakhir seperti ini? Kenapa tubuhnya juga begitu lemah?
Tania pun memukul-mukul tubuhnya sendiri.Dia begitu benci dengan tubuhnya yang sekarang ini.
" Sayang, mama mohon kamu jangan seperti ini, " mama Nia berusaha menenangkan putrinya. Beliau memeluk erat tubuh lemah Tania.
" Kenapa ma? Kenapa seperti ini? Kenapa Regan semakin jauh? Kenapa Regan sulit sekali di gapai? " Tania menangis tersedu-sedu.
" Sudahlah sayang,lepaskan Regan.Dia semakin jauh itu juga karena kesalahan mu.Kenapa kau harus menutupi jika kau sudah mengetahui status Regan? "
" Tania hanya ingin bersama Regan ma, itu saja. " Tania tampak begitu menyesal. Harusnya dia tidak mempermainkan Regan.
" Sudahlah sayang,ikhlaskan dia.Mama yakin kau akan segera menemukan kebahagiaan mu sendiri. " Mama Nia terus menenangkan putrinya, ia terus memeluk dan mengusap lembut rambut Tania hingga Tania kini merasa tenang.
Sementara di tempat lain Bintang terus saja gelisah. Satu jam sudah dia berpisah dengan suaminya, satu jam sudah dia merasakan kegelisahan itu walau dia sudah berusaha mengubur dalam-dalam rasa gelisah itu namitn tetap saja tidak berhasil.
" Kamu kenapa sih Bi? " tanya Livia khawatir.
" Tidak papa. " Bintangpun tersenyum dengan paksanya.
" Yakin? " Livia masih tidak puas.
" Iya. "
Livia pun diam sambil terus memperhatikan Bintang,dia yakin temannya itu sedang tidak baik-baik saja.
" Oh ya Bi,bagaimana dengan Tania? Aku sudah mendengar semua cerita tentang Tania, dan sekarang aku dengar dia sering menemui suami mu. " Tiba-tiba Rita bertanya.
" Owh itu, ya begitulah. " Bintang enggan menceritakan yang sesungguhnya.
" Kamu tau gak sih Bi,pertama Tania datang ke kantor kami semua tuh lari kocar-kacir.Kita fikir itu hantunya yang sedang gentayangan,eh taunya dia masih hidup.Doni aja dulu sampai pipis di celana." Doni yang tersinggung pun menimpuk Rita dengan kerupuk yang ia pegang.
" Jangan mulai ngegibah deh! Kapan aku pipis di celana! " Doni mulai emosi.
" Hahahhaaa..emang enggak ya? " Rita memang senang sekali menggoda Doni.Membuat Bintang kini tersenyum melihat pertengkaran kecil temannya itu.
" Kamu disini sayang,aku mencarimu dari tadi.Kenapa tidak di angkat telpon ku? " Suara Regan yang membuat Bintang begitu terkejut,begitu juga ketiga temannya.
"Kau menelfon ku? " tanya Bintang yang masih tercengang melihat suaminya sudah berada di hadapannya.
" Iya, coba saja kau lihat. "
Bintang pun segera melihat ponselnya, ternyata benar ada sepuluh panggilan tak terjawab dan beberapa pesan dari Regan.
" Ma'af aku tidak tau kau menelfon ku.Ponselku ada di mode hening.Apa semua sudah selesai? "
" Sudah. " Regan pun tersenyum sambil mengusap lembut rambut Bintang membuat kaum jomblo dihadapannya ngilu melihatnya.
Aaaaaaa... pingiiiin😭
" Kamu sudah makan? " Tannyanya kemudian.
" Sudah. " Bintang pun tersenyum senang.Entahlah dia begitu tenang melihat suaminya sekarang.Semua rasa gelisah itu lenyap entah kemana.
" Apa si boy tidak ingin makan sesuatu? " Regan melirik kearah perut Bintang yang masih rata itu.
" Tidak sayang. "
" Ya sudah,ayo kembali keruangan. " Reganpun merangkul bahu istrinya dan mulai menuntunnya berjalan meninggalkan kantin.
" Aku duluan ya, " pamitnya pada teman-temannya.
Rita,Livia dan Doni pun hanya mengangguk dengan senyuman tipis mereka.
" Kamu sudah makan sayang?
Apa si boy ingin makan sesuatu? " Doni mulai menirukan dialog Regan sambil mengusap lembut rambut Rita hingga membuat Rita geli mendengarnya.
" Cih! Jauh-jauh sana! " Rita pun menepis tangan Doni dan bergegas meninggalkan Doni.Membuat Doni dan Livia tertawa terbahak-bahak.
" Kalian mau tetap di sini? " Suara yang begitu familiar yang seketika membuat Doni dan Livia langsung terdiam.
" I_iya ma'af tuan, kami akan segera kembali. " Livia dan Doni pun bergegas meninggalkan kantin karena waktu istrahat mereka sudah habis sedari tadi.
David pun tersenyum melihat kelakuan para bawahannya itu.
" Puas banget ya? " Suara Maura yang berhasil mengejutkannya.Davidpun hanya tersenyum dan meliriknya sekilas.
" Mereka lucu sekali, bisa langsung diam saat mendengar suara ku. " David kembali tersenyum mengingat tingkah Doni dan Livia tadi.
Sementara Maura tampak menikmati senyuman indah yang sangat jarang ia temui itu.
#jangan lupa like nya dong.Ehe😁
makasih jempooool😏
aku do'a in sehat selalu ya🤗
jauhdeh dari cantengan😆