My Big Boss

My Big Boss
Menahan tawa



" Aku tidak mengusir,aku hanya menyuruh mereka pulang, "


jawab Regan datar dengan wajah tanpa dosa.


Kau!


ingin sekali aku membakar mu hidup-hidup!


gerutu Bintang menahan kekesalannya.


Kini Bintang hanya diam menyilangkan tangan di dada, ia begitu kesal dengan sikap Regan yang seenaknya.


" Kenapa kau diam?


apa kau marah, "


tanya Regan yang sengaja mendekatkan wajahnya tepat di hadapan Bintang.


Bintang hanya diam mengerucutkan bibirnya dan membuang muka.


" Jadi sekarang kau sudah berani membuang muka di hadapanku! "


ucap Regan yang terus mendekatkan wajahnya.


Bintang tak berani menjawab ia hanya menatap Regan dan terus melangkah mundur yang terus di ikuti oleh langkah kaki Regan hingga tubuh Bintang terbentur tembok.


Kini Bintang hanya bisa diam dan menatap Regan yang terus menatapnya tajam.


Oh Tuhan..


apa dia akan membunuhku sekarang.


gamam Bintang dalam hati.


Regan mulai menaruh kedua tangannya di tembok hingga membuat Bintang terkunci didalamnya.Dengan tatapannya yang tajam Regan mulai memegang tengkuk Bintang dan seketika mengecup bibir mungil milik Bintang.


Bintang yang terkejut pun membulatkan matanya sempurna, ia tak pernah menyangka jika Regan akan menciumnya.Regan ******* bibir manis bintang dengan rakus, awalnya Bintang mencoba menolak tapi entah kenapa Bintang mulai hanyut dalam permainan Regan dan mulai menikmati ciuman dari Regan hingga mereka berdua kehabisan nafas.


Regan mulai melepas ciumannya, ia sadar bahwa tindakannya salah, Regan pun memegang kedua bahu bintang, menatapnya lekat dan kemudian memeluknya.


" Ma'afkan aku ! "


ucap Regan yang masih memeluk Bintang.


Bintang hanya diam,ia masih terpaku dengan tatapan kosongnya,Regan pun mulai melepas pelukannya dan memegang kedua bahu Bintang.


" Beristirahatlah, aku akan pulang! "


ucap Regan yang terus berlalu di hadapan Bintang.


Sedangkan Bintang masih saja tak menjawab ia masih diam terpaku dengan tatapan kosongnya,ia merasa ada yang aneh pada dirinya, kenapa dirinya ikut hanyut dalam permainan Regan, kenapa tubuhnya tak bisa menolak ciuman Regan dan kenapa hati ini merasa senang mendapatkan ciuman dari Regan,bukankah seharusnya aku membencinya karena ia telah mengambil ciuman pertamaku?saat ini Kata-kata itulah yang terus membayangi fikiran Bintang.


Sedangkan Regan yang sudah berada di kamarnya mengutuki kesalahannya sendiri.


Aishh..!


kenapa tadi aku tak bisa menahanya!


kenapa aku begitu ingin menciumnya, apa setelah ini dia akan membenciku?


Ssitttth... !


kenapa aku harus takut dia membenciku!


ucap Regan sambil memukul meja dengan keras.


Saat ini Regan tak bisa memahami dirinya sendiri, kenapa ia begitu takut Bintang akan membencinya.Bukan kah selama ini Regan tak pernah peduli dengan sikap orang lain padanya? Entahlah saat ini Regan memilih memejamkan matanya untuk menenangkan diri.


Sedangkan di kamarnya Bintang terus memegangi bibir mungilnya dengan tatapan kosong,ia masih saja terbayang kejadian saat Regan memciumnya yang masih terasa hangat di bibirnya.


ini salah..


ini salah Bintang...


ini salah...


ini salah...


ini salah...


Kata-kata yang terus terucap dari mulut Bintang hingga ia terlelap tidur.


***


Tiga hari sudah berlalu, ini hari pertama Bintang mulai bekerja setelah libur cutinya.


Dengan parasnya yang cantik Bintang berangkat menaiki blue motornya sehingga membuat setiap mata tak henti memandangnya.Seperti biasa Bintang membeli setangkai mawar untuk ia teruh di vas bunga di meja kantornya.


Kini Bintang sudah berjalan menuju lantai atas di mana ruanganya berada.


" Bi... tunggu! "


suara teriakan dari belakang.


Bintang pun menghentikan langkahnya dan menoleh,


Rita..


gumam bintang dalam hati. Bintang mulai canggung karena teringat bagaimana perlakuan Rita terakhir kali padanya.


" Cepat sekali kakimu sembuh Bi, pasti kau telah menjaganya dengan baik, "


ucap Rita dengan senyum hangatnya.


" Iya ini semua karena bantuan Tuan Regan yang telah memberikan aku perawatan yang sangat baik, "


ucap Bintang keceplosan dan seketika menatap Rita penuh arti.


Haduh! nih mulut kenapa gak bisa di jaga


gumam Bintang dalam hati, ia berfikir pasti Rita akan tambah marah lagi padanya.


" Ma...maksud aku .., "


mencoba menjelaskan tapi Rita sudah menyela omongan Bintang.


" Sudahlah, kau tak perlu menjelaskannya aku sudah melihat semua kemarin, "


ucap Rita sambil tersenyum.


" Tapi yang kau lihat kemarin tak seperti yang kau fikirkan, "


ucap Bintang dengan wajah paniknya mulai mengejar langkah Rita.


" Kita sudah sama-sama dewasa, jadi kau tak perlu menutupinya, "


ucap Rita sambil tertawa.


Kenapa Rita tertawa?


bukankah ia seharusnya marah dengan kejadian kemarin.


gumam Bintang dalam hati.


" Itu hanya kecelakaan, aku dan Tuan Regan tak melakukan apapun, percayalah padaku! "


ucap Bintang yang terus mencoba menjelaskan dengan wajah paniknya.


" Iya, aku percaya padamu! "


jawab Rita tersenyum hangat.


" Apa kau tak marah padaku? "


tanya Bintang dengan suara pelan.


" Kenapa aku harus marah padamu, aku yang seharusnya meminta ma'af karena kemarin sudah memarahimu gak jelas, ma'afin aku ya Bi, "


" Kenapa kau cepat sekali berubah?


kau sungguh-sungguh kan Rit? "


ucap Bintang yang tak percaya dengan perubahan sikap Rita.


" Apa wajahku tampak kurang serius, "


memelototi Bintang.


" Emmmm...


iya, iya... aku percaya, "


ucap Bintang dengan senyum hangatnya.


" Aku sudah merelakan Tuan Regan untukmu, jadi kau harus menjaganya dengan baik! "


ucap Rita sambil merangkul bahu Bintang.


" Hubungan ku dengan Tuan Regan hanya sebatas atasan dan bawahan jadi aku tak perlu menjaganya, "


ucap Bintang dengan bibir manyunnya.


" Eits...!


aku tahu Tuan Regan mulai menyukaimu, jadi kau harus menjaganya untuk ku! "


ucap Rita berbisik.


Kau lebih baik menyuruhku menjaga singa daripada harus menjaga iblis itu !


gerutu Bintang pelan sambil terus berjalan.


Rita yang masih bisa mendengarnya pun tersenyum tipis.


Akhirnya mereka berdua sampai di lantai atas dan menuju meja masing-masing.


Bintang yang telah sampai di mejanya tertegun ketika melihat vas bunga miliknya penuh dengan bunga mawar merah yang begitu indah.


Kau begitu indah, siapa yang menaruhmu disini


ucap Bintang yang terus memeluk dan menciumi beberapa bunga mawar dalam vas itu.


" Apa kau suka! "


suara Regan yang berhasil mengagetkan Bintang.


Bintang yang mendengarnya pun Seketika menaruh vas bunga yang ia pegang dan berdiri menunduk hormat.


" Iya Tuan, "


jawab Bintang yang terus menunduk, kali ini Bintang begitu malu untuk menatap Regan karena kejadian kemarin.


Apa semua bunga ini dia yang menaruhnya?


eh! mana mungkin dia saja baru datang.


gumam Bintang dalam hati.


" Kenapa kau terus menunduk, apa wajahku begitu mengerikan sehingga kau tak mau menatapku! "


ucap Regan dengan nada juteknya.


" Tidak Tuan, "


ucap Bintang yang sekitika menatap Regan dengan wajahnya yang memerah seperti udang rebus dan dengan senyum yang dipaksakan.Kali ini Bintang benar-benar menahan malu hingga wajahnya memerah.


Regan yang melihatnya pun tersenyum tipis.


" Ada apa dengan wajahmu! "


ucap Regan yang kembali dingin.


kenapa kau menahan tawamu!


sekarang tertawalah sesukamu!


nikmati wajah konyolku ini!


aku tau kau sedang ingin mentertawakan aku!


gerutu Bintang lagi.


" Saya salah make-up Tuan, " ucap Bintang mencari alasan.


" Kau tampak lebih cantik seperti ini, "


ucap Regan mengejek dengan senyum yang mengembang di pipinya.


Bintang yang mendengarnya pun hanya merespon dengan mengerucutkan bibirnya, ia kesal karena Regan telah mengejeknya.


Ingin sekali ku cakar wajah sok tampanmu itu!


gerutu Bintang dalam hati.


" Jangan mengumpat ku! "


ucap Regan yang seakan tau isi fikiran Bintang.


" Ma'af Tuan, saya tidak berani, "


jawab Bintang dengan suara pelan.


Kenapa dia selalu tahu isi fikiran ku!


gumam Bintang dalam hati.


" Untuk apa kau masih menyimpan bunga dari kekasih pelitmu itu!bukanya vas bungamu itu sudah penuh,itu tak akan muat jika kau memaksa menaruhnya, "


ucap Regan yang tak suka melihat Bintang masih memegang setangkai bunga yang tadi ia beli.


Bintang yang di ajak bicara tak mengerti maksud Tuannya, ia memilih mengacuhkannya dan mulai mencari akal untuk bisa menaruh bunga yang ia beli kedalam vas,belum selesai Bintang menaruh bunganya Regan sudah merebut vas bunga yang ia pegang.


" Aku tidak setuju jika kau menaruh bunga dari kekasih pelitmu itu di sini!


jika kau ingin menyimpanya cari tempat lain!"


bentak Regan sambil memegang vas bunga milik Bintang.


Bintang pun dibuat bingung dengan sikap Regan.


" Ma'af Tuan ,vas bunga itu milikku?bukankah seharusnya itu terserah saya ingin menaruhnya dimana, "


jawab Bintang dengan wajah bingungnya.


" Kantor ini adalah milik Atmaja Grup jadi saya sebagai Presdir memiliki hak atas semua barang yang ada di dalamnya, "


ucap Regan mencari alasan.


Sejak kapan peraturan itu dibuat, kenapa aku tak pernah tau ada peraturan seperti itu!


gumam Bintang dalam hati.


Bintang pun memilih mengalah karena ia tak kan pernah menang jika melawan Regan, akhirnya Bintang menaruh bunga yang ia beli di keranjang tempat pensil dengan wajah kesalnya.


Regan yang melihatnya pun tersenyum menang dan berlalu memasuki ruangannya.


Sedangkan Davit yang sedari tadi ada di samping Regan hanya menahan tawanya.ia tak habis fikir kenapa Tuan yang selama ini dia kenal sadis bisa bersikap seperti anak kecil yang sedang rebutan barang.


" Kau hebat Nona bisa membuat mayat hidup tersenyum, "


ucap Davit pelan yang terus berlalu di hadapan Bintang menyusul Regan ke dalam ruangannya.


Bintang hanya tersenyum garing menanggapi ucapan Davit.