
Regan dan Bintang yang sudah selesai bersiap pun mulai memasuki mobil, kini Regan pun mulai melajukan mobilnya menuju kediaman Bintang yang ada di Desa.
Di dalam perjalanan Regan berhenti di sebuah toko oleh-oleh,karena tidak akan lama Regan pun menyuruh Bintang tetap diam di mobil, tak lama Regan pun keluar dengan membawa banyak paper bag yang berisi oleh-oleh di tangannya.
" Tuan, untuk apa beli sebanyak itu? " tanya Bintang yang terkejut melihat banyaknya oleh-oleh yang di beli Regan.
" Aku membeli semua karena tidak tau selera ibumu, " ucapnya yang kemudian melajukan mobilnya.
" Harusnya tuan tadi mengajak saya, " gerutu Bintang.
" Sudahlah ini tidak akan membuat ku jatuh miskin, " ucapnya yang mulai fokus mengemudi.
Setelah dua jam lebih kini mobil Regan sudah memasuki Desa di mana Bintang tinggal. Tampak perkebunan teh yang sangat luas di kanan dan kiri jalan, tampak juga pegunungan dan bukit nan jauh di sana yang melengkapi pemandangan alam yang begitu indah,suara burung berkicau yang terdengar saling bersahutan,udara yang begitu segar dan jauh dari polusi membuat Regan begitu menikmati perjalanan ini.
" Apa masih jauh," tanya Regan pada Bintang yang duduk di sampingnya. Namun tak ada jawaban yang Regan dengar, Regan pun menoleh ke arah Bintang yang ternyata tengah tertidur entah dari kapan.Regan pun tersenyum tipis melihatnya sambil membelai rambut Bintang yang terurai.
" Kau sangat cantik, " ucap Regan pelan yang kini memilih menghentikan laju mobilnya, ia pun kini keluar dari mobil untuk menikmati pemandangan yang jarang-jarang bisa ia lihat.
Hamparan kebun teh dengan para petani yang sedang memetik daun teh dapat ia lihat dengan jelas dari tempatnya berdiri.
" Tuan sedang apa di sini? " tanya Bintang yang kini sudah berdiri di sampingnya.
" Menikmati alam,kenapa bangun? " tanya Regan sambil menaruh tangannya di bahu Bintang.
" Karena mobilnya berhenti jadi saya fikir sudah sampai, ma'af saya ketiduran, " ucap Bintang yang merasa tak enak hati.
Regan pun hanya tersenyum dan mengacak-acak rambut Bintang.
" Apa rumahmu masih jauh ? " tanya Regan lagi.
" Tidak, sekitar lima belas menit lagi sampai, " ucap Bintang yang tampak raut wajahnya kini mulai sedih.Regan yang melihatnya pun mengerutkan dahinya.
" Kenapa? apa ada masalah, " ucapnya sambil memegang kedua bahu Bintang hingga kini pandangan mereka bertemu.
" Tidak, " ucap Bintang dengan senyum yang di paksakan.
" Aku tau kau sedang berbohong, " ucap Regan yang kini mulai mengacuhkan Bintang.
" Saya hanya sedih melihat kebun teh ini yang sudah tak lagi menjadi milik keluarga saya, " ucap Bintang pelan.
" Owh, jadi kebun seluas ini milik keluargamu, wah.. kau kaya juga ya, dulu! " ucap Regan yang sengaja mengejek Bintang.
" Terus saja menghina!
Tuan tau kenapa saya bisa bertahan menjadi sekretaris Tuan selama ini walau Tuan suka seenaknya sendiri,suka menindas, marah-marah gak jelas, tapi saya tetap diam dan menerima perlakuan tuan dengan lapang dada,itu karena saya ingin mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya dari gaji saya sebagai sekretaris Tuan untuk membeli perkebunan teh ini kembali, "
" Nona Regan sepertinya puas sekali mengucapkannya, " ucap Regan sambil mencubit hidung Bintang, " kenapa perkebunan ini harus di jual? " ucap Regan lagi.
" Mama terpaksa menjualnya,untuk biaya pengobatan almarhum papa selama sakit, dan juga untuk membantu biaya kuliah saya, "
" Owh, kisah mu menyedihkan juga, tapi harapanmu untuk membeli kebun teh ini sepertinya harus kau kubur dalam-dalam karena pemilik kebun tidak ingin menjualnya, dia ingin menghadiahkan kebun ini pada istrinya, "
" Benarkah? dari mana Tuan tau? apa Tuan mengenal pemilik kebun ini? tolong kenalkan saya pandanya Tuan, saya akan melakukan negosiasi agar dia mau menjual kebunnya, "
" Ya, aku sangat mengenalnya, berapa uang yang kau punya sekarang? apa sudah cukup untuk membeli kebun ini? "
" Belum, setengah dari harga jual dulu saja belum sampai, " ucap Bintang pelan.
" Kau kumpulkan saja dulu uangmu, baru aku akan mengantarmu padanya, "
" Apa Tuan tidak ingin meminjamkan sedikit uang Tuan? "
" Tidak, " ucapnya yang kemudian masuk kedalam mobil.
" Saya tau itu nominal yang sangat kecil bagi Tuan, " ucap Bintang sambil mengedip-ngedipkan mata berharap Regan akan meminjamkan uang padanya.
" Saya tidak akan meminjamkan uang sepeserpun pada nona Regan, " ucap nya penuh penekanan.
" Aish, dia pelit sekali sama calon istrinya sendiri, " gerutu Bintang pelan namun masih bisa di dengar Regan, Regan pun tersenyum tipis dan kembali melajukan mobilnya.
Lima belas menit berlalu, kini mobil Regan berhenti tepat di depan rumah Bintang.
" Kenapa kau bisa tinggal di desa se pelosok ini ? " ucap Regan yang kesal karena jalan untuk masuk ke rumah Bintang yang sangat jelek.
" Ini tempat lahirnya calon istrimu Tuan, tolong berhentilah menghina, " ucap Bintang ketus.
Regan tersenyum tipis mendengarnya,
" Rumahmu paling besar di sini, " ucapnya yang mulai memperhatikan rumah Bintang.
" Iya, itu berkat kerja keras almarhum papa, " Jawab Bintang yang mulai masuk ke dalam rumah.
Kedatangan Bintang pun di sambut bahagia oleh ibu Dewi mama dari Bintang, karena sudah beberapa minggu Bintang tidak pulang karena kesibukannya.
" Sayang, kenapa kau pulang tidak memberitahu Mama? ini juga masih hari kerja, apa kau tidak kerja? " tanya bu Dewi.
" Bintang hari ini tidak kerja ma, Bintang tidak mengabari mama karena sengaja ingin memberi kejutan pada mama, " ucap Bintang sambil memeluk mamanya itu.
Sedangkan di sisi lain Regan sedang kewalahan membawa semua oleh-oleh yang ia bawa.
" Aish! aku salah datang ke sini sendiri, harusnya tadi aku mengajak David kesini, " ucap Regan yang kesal harus membawa semua oleh-oleh yang ia beli tadi.
Regan pun masuk kedalam dengan raut wajahnya yang kesal membuat Bintang tersenyum melihatnya, karena selama menjadi sekretaris nya Bintang belum pernah melihat Regan mau serepot itu.
Bu Dewi pun menoleh ke arah Bintang seakan ia bertanya siapa orang yang kini berada di hadapannya.
" Kenalkan Ma, ini Tuan Regan atasan Bintang, "
" Sekaligus calon mantu, " sahut Regan yang membuat Bintang dan mama Dewi membuka mulut lebar-lebar.
" Nih orang kenapa to the point banget sih! apa nggak bisa basa basi dulu, " gerutu Bintang dalam hati.
Mama Dewi pun menatap Bintang seakan meminta penjelasan.
" Kita duduk dulu yuk ma, " ucap Bintang sambil menuntun bu Dewi, ia mengerti jika mamanya itu butuh penjelasan.
" Mari Tuan,silahkan duduk, " ucap bu Dewi yang menyuruh Regan untuk duduk.
" Terimakasih,ini ada sedikit oleh-oleh untuk tante, " ucap Regan yang kini duduk di dekat Bintang sambil memberikan semua oleh-oleh untuk ibu Dewi.
" Jangan panggil tante,Panggil saja saya bibi, " ucap bu Dewi dengan tersenyum manis, "seharusnya Tuan tidak perlu serepot ini, " ucapnya lagi.
" Itu sama sekali tidak merepotkan saya bi," jawab Regan dengan senyum manisnya.
" Apanya yang gak repot tadi aja tu muka kesel banget karena bawa itu semua sendiri, " gumam Bintang dalam hati.
" Sayang buatkan minum gih untuk Tuanmu, " ucap bu Dewi yang menyuruh Bintang untuk membuatkan minum untuk Regan.
" Baik Ma, " kini Bintang pun mulai beranjak dari kursinya.
Kini tinggal bu Dewi dan Regan yang ada di ruang tamu itu.
" Oh ya Tuan, apa Bintang selama ini bekerja dengan baik? " tanya bu Dewi pada Regan.
" Iya, dia sangat cekatan dan juga pekerja keras, "
" Syukurlah, saya khawatir anak itu akan menyusahkan tuan karena sifatnya yang pemberani itu, "
" Dia sama sekali tidak menyusahkan saya, " ucap Regan yang sengaja menutupi sifat Bintang yang selama ini sering membantahnya dan membuatnya sering merasa kesal, " sebenarnya niat saya ke sini ingin meminta Bintang dari bibi untuk menjadi istri saya, saya menyukai putri bibi, apa bibi mengizinkannya? " ucap Regan lagi.
" Apa anda serius Tuan? "
" Kenapa bibi bertanya seperti itu, apa saya tampak tidak serius? "
" Bukan seperti itu, Bintang dari keluarga biasa bukan dari keluarga terpandang seperti Tuan, apa itu tidak akan menimbulkan masalah nantinya? "
" Keluarga saya sangat menyayangi Bintang,mereka tidak memandang dari mana Bintang berasal,itu tidak akan menjadi masalah, "
" Kalau seperti itu, saya serahkan semua pada Bintang Tuan, " ucap bu Dewi sambil melirik ke arah Bintang yang kini sedang menaruh secangkir teh di hadapan Regan. Bintang yang tidak mengerti pun mengerutkan keningnya seakan bertanya ada apa sebenarnya.
" Tuan Regan ingin memintamu dari mama untuk menjadi istrinya, apa kau bersedia? " ucap bu Dewi mencoba menjelaskan pada Bintang.
Bintang pun menatap Regan, ia tak percaya jika Regan benar-benar meminta restu dari mamanya.
Sedangkan Regan yang menunggu jawaban Bintang pun menatap Bintang sambil menggerak-gerakkan kedua alisnya, seakan ia menanyakan bagaimana jawaban Bintang. Bintang pun tersenyum tipis dan dengan malu-malu ia menganggukan kepala.
" Apa itu artinya, aku tidak mengerti, " ucap Regan yang pura-pura tidak mengerti arti anggukan kepala Bintang.
" iya, saya mau jadi istri Tuan, " ucapnya kesal.
" Nah gitu kan jelas, " sambil mencubit hidung Bintang. Regan begitu bahagia mendengarnya karena ini pertama kalinya ia mendegar jawaban Bintang.Begitupun bu Dewi yang juga tampak bahagia, ia percaya jika putrinya tidak akan memilih laki-laki yang salah untuk menjadi imamnya.
" Ya sudah mama siap kan dulu makan siang untuk kalian, " ucap Bu Dewi yang mulai melangkah pergi.
" Bintang bantu ya ma, "
" Tidak perlu kau temani saja calon mantu mama, " teriak bu Dewi yang sudah berada di dapur.
Regan yang mendengarnya pun tersenyum senang, entah apa yang sekarang ada di otaknya.
" Tuan kenapa senyum-senyum! jangan mikir yang engak-enggak, " ucap Bintang yang mulai mencerna arti senyuman Regan.
" Otakmu yang mulai kemana-mana! " ucapnya sambil menyentil kening bintang.Kini Regan pun berjalan keluar rumah untuk menikmati udara sejuk dari pedesaan yang ada di berbukitan itu.
" Apa iya? ah..ini pasti pengaruh kebanyakan nonton drakor, " gerutu Bintang sambil menutup wajahnya sendiri dengan kedua telapak tangannya karena malu.
Sedangkan di sisi lain, seorang wanita cantik yang tampak sangat angkuh sedang menerobos masuk ke kantor Atmaja grup, ia terus berjalan menuju ruangan Regan tanpa menghiraukan resepsionis yang terus melarangnya.
David yang melihatnya pun mengepalkan tangannya karena geram. Ia pun menghampiri wanita itu.
" Untuk apa Nona kesini! " ucap David dengan sorot matanya yang tajam.
" Menemui Regan, dia ada di ruangannya bukan? " ucap wanita itu dengan angkuhnya.
" Beliau tidak ada di kantor,cepat lah keluar Nona tidak di perkenankan ada di kantor ini, "
" Aish! kau masih saja sama seperti dulu, lalu di mana Regan? "
" Saya tidak tau, cepatlah keluar! " ucap David yang mulai naik darah.
" Mana mungkin kau tidak tau, ya sudahlah aku tidak membutuhkan bantuan mu! aku akan mencarinya sendiri " ucapnya yang kemudian keluar dari kantor Atmaja Grup.
David pun memperhatikan sosok wanita tadi yang sedang berjalan keluar.
" Nona Stella, sejak kapan dia kembali dari luar negeri, " gumam David yang mulai memikirkan sesuatu di otaknya.