My Big Boss

My Big Boss
Bingung



Sedangkan di tempat lain, Regan kini membuang nafasnya kasar, ia terpaksa harus membohongi istrinya hanya karena ingin mendapatkan sebuah penjelasan.


Regan pun kini menatap wanita paruh baya yang duduk di sampingnya.


" Apa tante bisa menjelaskan padaku?kenapa kalian melakukan ini semua? " tanya nya kini.


" Ma'af Rey,ma'af kan tante karena sudah membohongi mu, tante hanya menuruti kemauan Tania, pasca Tania sadar dari koma dan mendapati jika kakinya lumpuh dia begitu terpukul, dia tidak bisa menerima kenyataan itu dan dia semakin depresi saat mengetahui jika dia mengalami gagar otak, dia menyuruh tante untuk memberikan kabar padamu bahwa dirinya sudah meninggal, dia tidak ingin menyusahkan mu dengan kondisi nya yang seperti itu, dan setelah tante mendapatkan jenazah korban kecelakaan tanpa identitas itu, tante langsung menghubungi mu yang saat itu sedang di luar kota, tante sengaja mempercepat pemakaman


agar kau tak melihat siapa sebenarnya wanita yang di makamkan,waktu itu tante menggunakan seribu alasan agar kau bisa menerima, ma'af kan tante Rey, ma'af kan tante, " jelas wanita paruh baya itu penuh penyesalan.


" Sekarang tante sangat menyesali perbuatan tante,seharusnya tante tidak pernah menuruti kemauan Tania karena itu membuat tante seperti menyiksa putri tante sendiri.Tania harus merasakan sakit di sekujur tubuhnya dia juga merasakan sakit karena harus rela kehilangan mu, setelah kejadian itu tante tidak pernah melihat senyuman dari wajahnya,kebahagiaannya seakan sudah sirna dan tak lagi menghampirinya,dia hanya tersenyum saat memperhatikan mu di setiap kali kau datang ke makam,senyuman yang selalu di iringi tangis yang membuat nya harus kembali terbaring lemah di rumah sakit, " tutur wanita itu dengan air mata yang tak bisa lagi ia tahan.


" Jadi wanita yang ku lihat setiap kali ke makam itu kau Tania, " gumam Regan dalam hati.


Kini wanita paruh baya itupun mengusap airmata yang membasahi pipinya, ia pun kini berusaha menenangkan dirinya sendiri.


" Terkadang tante berfikir kenapa Tania harus memilih jalan seperti ini? kenapa dia lebih memilih untuk menyiksa dirinya sendiri, padahal jika saja dia membiarkan mu tau kondisi dirinya yang sebenarnya mungkin dia tidak akan merasakan rasa sakit seperti ini bukan? "


Regan yang mendengar ucapan wanita paruh baya itupun kini tersenyum miris.


" Ternyata disini kaulah yang lebih tersiksa Tania bukan aku, " gumamnya pelan.


Setelah satu jam menunggu kini dokter yang memberi penanganan khusus pada Tania pun keluar.


Tante Nia yang merupakan ibu Tania pun langsung beranjak dari kursi dan mulai menghampiri dokter yang selalu menangani Tania itu.


" Bagaimana dok, apa putri saya baik-baik saja? " tanya nya.


" Putri ibu baik-baik saja,saya harap nona Tania tidak mendapatkan tekanan lagi karena itu akan membuat kondisi nya semakin parah dan akan mengancam nyawanya, " tutur dokter itu.


" Baik dok. " Terlihat senyuman yang begitu lega dari tante Nia setelah mendengar kondisi putrinya baik-baik saja.


" Apa kita boleh masuk dok? " tanya Regan.


" Boleh,nona Tania masih dalam pengaruh obat penenang,pengaruh obatnya akan membuat nona Tania tertidur sampai besok pagi, jadi tolong jangan membuat keributan. "


" Baik dok, " jawab Regan.


Kini dokter itupun berlalu pergi, sementara Regan dan tante Nia kini mulai memasuki ruangan dimana Tania di rawat.


Tampak Tania yang kini terbaring lemah di atas ranjang, wajahnya pucat namun tak menutupi kecantikan nya.


Regan yang melihatnya pun merasa sangat iba, dia yang berfikir bahwa selama ini dirinyalah yang paling tersiksa, ternyata itu salah, nyatanya disini Tania lah yang paling tersiksa.


" Kenapa kau harus melakukan ini semua Tania? " Regan pun masih tak habis fikir dengan jalan yang di pilih Tania.


" Rey... Regan...


Regan tolong jagan pergi.. jangan pergi... ma'af kan aku..., " ucap Tania dengan suara yang sangat lirih,matanya masih terpejam namun bibir pucatnya terus memanggil nama Regan.


Regan pun kini menatap tante Nia penuh arti.


Sementara Tante Nia kini tersenyum tipis padanya.


" Dia selalu seperti itu, selalu mengigau dan memanggil namamu jika sedang seperti ini, " ucapnya yang terlihat tetap tenang.


" Lalu apa yang harus kita lakukan? "


" Tidak ada,selain memanggil dokter agar menambah lagi obat penenang nya."


Regan pun mengerutkan dahinya.


" Bukankah obat penenang itu tidak baik jika di berikan terlalu sering?" ucapnya tak suka.


" Tidak ada pilihan lain,jika dia terus seperti ini akan membuat keadaannya semakin parah dan itu akan mempersingkat nyawanya,obat penenang paling tidak akan membuatnya bertahan hidup tapi entah sampai kapan. "


Air mata itu pun kembali mengalir dari pelupuk mata tante Nia, ia pun kini bergegas keluar untuk memanggil dokter.


Sementara Regan yang melihat Tania terus memanggil namanya pun merasa tak tega, hatinya serasa teriris melihat penderitaan orang yang pernah ia cintai itu.


Kini Regan pun berjalan mendekati Tania.


" Tenanglah Tania, aku disini, aku tidak akan pergi, " ucapnya pelan.


Tania yang dari tadi terus memanggil namanya itu pun kini diam, matanya pun perlahan terbuka menatap wajah Regan yang kini berdiri di sampingnya.


" Rey, itu benar kau! tolong jangan pergi, tetaplah bersama ku, " ucapnya seraya menggenggam tangan Regan dengan erat.


" Iya, ini benar aku, beristirahat lah aku akan tetap disini. "


Kini tampak senyuman yang mengembang di wajah Tania sebelum kini ia tertidur lagi.Entah sadar atau tidak Tania tadi mengucapkan nya, yang jelas ia masih dalam pengaruh obat penenang.


Sementara di sisi lain dokter dan tante Nia yang melihatnya pun merasa senang.


" Siapa dia bu? " tanya dokter itu pada tante Nia.


" Dia dulu kekasih putri saya dok. "


" Apa nama yang setiap kali Nona Tania panggil itu adalah nama kekasih nya ini? " tanya dokter itu lagi.


" Iya dok. "


" Sepertinya Tuan ini bisa membuat Nona Tania semangat menjalani terapi." Dokter itupun tersenyum tipis dan mulai menghampiri Regan.


" Sepertinya nona Tania begitu tenang berada di dekat anda, saya harap Tuan mau membantu kesembuhan nona Tania, " ucap dokter itu yang kini berbicara pada Regan.


" Dia menjadi seperti ini karena bertemu saya, sekarang dia masih dalam pengaruh obat mungkin dia tidak sadar jika sekarang bersikap seperti ini, " ucap Regan.


" Tuan benar dia masih dalam pengaruh obat, mungkin dia juga akan lupa dengan kejadian saat ini, tapi ketenangan itu benar-benar nona Tania rasakan karena kehadiran tuan, mungkin di awal nanti akan ada sedikit penolakan tapi sebenarnya tuan lah yang di inginkan nona Tania karena selama ini saya belum pernah melihat nona Tania setenang ini, saya harap tuan mau menemani nona Tania dalam menjalani perawatan dan terapinya,paling tidak itu akan membuat nya semangat untuk berobat.Saya sudah lama menangani nona Tania,dia seperti tidak mempunyai semangat untuk sembuh,kasihan dia sudah cukup menderita,semoga Tuan mau membantu untuk kesembuhannya, " tutur dokter itu.


Regan pun kini tampak diam, dia kini berada di posisi yang sangat sulit.Jika dia membantu Tania maka itu akan membuatnya terus bertemu Tania,lalu bagaimana dengan perasaan istrinya jika tau dia selalu bersama mantan kekasihnya, sementara jika dia menolak dia tak tega jika harus melihat orang yang dulu pernah ada di hatinya terus tersiksa seperti ini.


Regan kini semakin bingung,di dalam hatinya ia ingin sekali membantu Tania,tapi di sisi lain dia tidak boleh egois karena dia juga harus memikirkan perasaan istri tercintanya.Apa yang sekarang harus ia lakukan?


" Saya perlu memikirkan ini terlebih dulu, " ucap Regan kini.


" Baiklah,saya rasa Nona Tania tidak perlu obat penenang lagi, saya permisi. " Dokter itupun kini berlalu pergi.


Sementara tante Nia kini menghampiri Regan yang kini tengah duduk di samping Tania.


" Rey, tante harap kau mau membantu Tania, " ucapnya kini.


" Ma'af tan, Regan tidak bisa memastikan itu. "


" Kenapa? apa perasaan mu sudah berubah pada Tania? Tania masih sangat mencintai mu Rey, apa kau tidak ingin bersamanya seperti dulu lagi? "


" Regan tidak mungkin bersamanya lagi Tan. "


" Kenapa? apa karena kau tau kondisi tania yang seperti ini? "


" Bukan,tapi karena saya sudah menikah."


" Apa! " tante Nia pun begitu terkejut mendengar pengakuan Regan, " kau bercanda kan Rey, kau tidak mungkin sudah menikah, tante tau kau begitu mencintai Tania, tidak mungkin kau bisa begitu saja melupakan Tania dan menikah dengan wanita lain, " ucap tante Nia yang tidak bisa percaya begitu saja dengan ucapan Regan.


" Saya memang pernah sangat mencintai Tania tapi itu dulu,sekarang saya memiliki istri yang sangat saya cintai di rumah. "


Tante Nia pun menghela nafasnya pelan.


" Tante tidak bisa menyalahkan mu karena memang ini kesalahan Tania karena memilih melepaskan mu,kau berhak mendapatkan kebahagiaan mu, tante tidak berharap kau kembali pada Tania, tapi tante berharap kau mau mempertimbangkan permintaan tante dan dokter untuk membantu kesembuhan Tania. "


" Saya akan mempertimbangkan nya. "


Tampak raut wajah tante Nia yang kini bisa sedikit tersenyum.Apalagi Melihat Regan tak melepas genggaman tangan Tania membuatnya mengerti bahwa Regan masih peduli dengan putrinya,ia masih memiliki harapan bahwa Regan akan menyetujui permintaannya.


Regan yang kini memperhatikan Tania pun kembali merasa iba.


" Kenapa kau melakukan ini Tania, jika saja kau membiarkan ku tau kondisi mu yang sebenarnya mungkin kita masih bersama,aku bisa menjagamu,merawatmu,dan memberikan pengobatan yang terbaik untuk mu hingga kau sembuh dan bisa kembali seperti sedia kala,tapi sekarang keadaannya berbeda, aku sudah mempunyai istri, aku tidak bisa terus berada di sini untuk menemanimu, aku sangat mencintai istri ku, aku tidak ingin dia terluka karena melihatku bersamamu, jadi ma'af jika aku tidak bisa membantu mu Tania. "


Regan pun kini berusaha melepas tangan Tania yang dari tadi mengenggam tangannya tapi semakin ia mencoba melepas,Tania semakin mengeratkan genggamnya dan kembali mengigau memanggil namanya.


Regan pun kini menghela nafasnya pelan, waktu sudah semakin malam dan dia tidak mungkin terus berada di sini.Ponselnya yang kini kehabisan batrai membuatnya tidak bisa mengubungi istri tercintanya,Regan pun kini tampak tak tenang karena ia tau pasti istrinya tengah menunggunya.


Kini terpaksa Regan harus menunggu Tania sampai melepas tangannya.


Sementara di disisi lain tante Nia yang melihatnya pun mencoba mengerti.


" Pulanglah Rey,istrimu pasti sudah menunggu,biar dokter yang menangani Tania jika dia kembali memanggil namamu."


" Saya akan menunggu sampai Tania melepas tangannya, " ucapnya kini.


Tante Nia pun kini hanya bisa memandangi wajah calon mantunya dulu.Wajah yang tak bisa menyembunyikan kegelisahan nya mungkin karena memikirkan istrinya di rumah.


Sementara Bintang yang kini berada di kamarnya terus menatap ponselnya menunggu suami tercinta menghubungi nya.


Namun hingga sampai larut malam Regan pun tak kunjung menghubungi nya.Ini benar-benar diluar kebiasaan Regan, walau sesibuk apapun selama ini Regan selalu menghubunginya setiap satu jam sekali ya walaupun terkadang hanya bilang hallo sayang.Tapi kenapa seharian ini suaminya tak menghubungi nya sama sekali?


Bintang pun kini berdiri di pinggiran jendela, menatap keluar berharap melihat mobil suaminya memasuki gerbang, namun sampai saat ini tidak ada siapa pun di sana kecuali satpam penjaga.


Bintang pun kini benar-benar resah, kemana sebenarnya suaminya itu, kenapa dia sampai-sampai tak menghubungi nya, apa yang sedang Regan lakukan di luar sana? semua itu membuat hati Bintang semakin khawatir, khawatir jika suaminya melakukan hal yang tidak-tidak di luar sana.


Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam, tapi kenapa suaminya tak kunjung pulang?


Bintang pun kini mulai berjalan keluar, ia pun kini menunggu Regan di depan pintu utama, Bintang yang berjalan mondar-mandir membuat mama nita yang akan mengambil minum di dapur mengahampirinya.


" Sayang, kau belum tidur? kenapa ada di sini? apa Regan belum juga pulang? " ucap mama Nita yang membrondongnya dengan berbagai pertanyaan.


" Belum ma, mas Regan belum pulang,dia bilang masih ada pekerjaan yang harus di selesaikan,mama tidak perlu khawatir. " Bintang pun terpaksa berbohong karena tak mau membuat ibu mertuanya itu khawatir.


" Laku kenapa kau disini? "


" Emmm, itu tadi Bintang seperti mendengar mobil mas Regan, ternyata setelah Bintang cek tidak ada siapapun, " ucapnya lagi berbohong.


" Ya sudah,kembalilah ke kamar,di sini dingin nanti biar pak jang yang membukakan pintunya. "


" Iya ma. " Bintang pun kini kembali kekamarnya.


Jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam namun Regan tak kunjung pulang juga.


Tampak Bintang yang kini berdiri di balkon kamarnya menatap indahnya bulan yang tampak terang benderang,dinginya angin malam pun mulai menerpa dan menyusup kedalam pori-porinya.Sesekali ia pun memejamkan matanya,berfikir apa yang sebenarnya sedang terjadi.


Di sisi lain tampak Regan yang mulai memasuki rumahnya dengan penampilan yang tampak berantakan,ia pun kini melangkahkan kakinya menuju kamarnya.


" Baru pulang Rey? " tanya mama Nita yang sengaja menunggu anak laki-laki nya itu di ruang tamu.


" Iya ma, mama kenapa di sini? "


" Menunggu mu, tadi istrimu yang menunggu mu disini, tapi mama menyuruhnya untuk kembali kemar,apa kalian sedang ada masalah Rey? "


Regan pun memicingkan matanya.


" Kenapa mama tanya seperti itu, kita baik-baik saja tidak ada masalah," ucapnya yang membuat mama Nita kini tersenyum lega.


" Syukurlah, firasat mama salah. "


Regan pun kini mengerutkan keningnya.


" Firasat apa ma? " tanya nya.


" Sepulang dari rumah sakit sikap istrimu tidak seperti biasanya, dia terus diam dan terlihat murung, mama fikir kalian sedang ada masalah tapi syukurlah ternyata fikiran mama salah, sekarang cepat temui istrimu dia sudah menunggu mu dari tadi. "


" Baiklah ma, Regan ke kamar dulu, mama cepatlah istirahat. "


Kini Regan pun bergegas ke kamar untuk bertemu dengan istri cantiknya.


Saat memasuki kamar Regan tak mendapati siapapun di sana, namun saat melihat pintu ke arah balkon terbuka kini Regan pun tersenyum tipis.Regan pun mulai melangkahkan kakinya dan kini melihat wanita yang ia cintai berdiri di sana.


" Kenapa ada disini, angin malam tidak baik untuk kesehatan mu, " ucapnya sambil memeluk tubuh istri nya yang sudah terasa dingin akibat terpaan angin malam.


Bintang yang terkejut pun kini membalikkan tubuhnya.


" Kau sudah pulang? "


" Iya, ma'af sudah membuatmu menunggu sampai selurut ini. " Regan pun mencium kening istrinya itu.


" Tidak papa,kau sudah makan? "


" Sudah. "


Jujur Bintang ingin sekali membrondong banyak pertanyaan pada suaminya,tapi entah kenapa melihat wajah suaminya yang tampak lelah ia tak sanggup untuk mengatakannya.


" Baiklah aku akan menyiapkan air hangat untuk mu, " ucapnya kini yang mulai berlalu meninggalkan suaminya.


Regan pun kini menatap punggung sang istri.


Ia bingung bagimana harus mulai mengatakannya,apa mungkin dia abaikan saja Tania? tapi bagaimana jika tania sampai meninggal?rasa bersalah pasti akan terus menghantui nya.


Regan pun kini terdiam menatap rembulan tanpa Bintang.


Sementara Bintang yang sudah selesai menyiapkan air hangat pun berdiri di pinggiran pintu yang terhubung dengan balkon.


" Airnya sudah siap, cepat mandi gih! " ucapnya pada Regan.


Regan pun tersenyum dan kini mulai menghampiri istrinya.


" Terimakasih sayang, " ucapnya seraya merangkul bahu Bintang.


Bintang pun kini menatap suaminya, ia ingin tau suaminya itu akan berkata jujur padanya atau tidak.


" Kau tidak ingin menceritakan sesuatu padaku? " tanya nya kini.


Deg,


Wajah Regan pun seketika panik.


" Soal apa? " tanya nya balik.


" Apa yang kau lakukan seharian ini ? "


" Owh, tentu saja aku sibuk di kantor, " ucapnya yang kembali berbohong padahal jelas-jelas seharian ini dia berada di rumah sakit.


Bintang pun kini memicingkan mata.Kenapa suaminya kembali berbohong? pikirnya saat ini.


" Kau yakin tidak kemana-mana? " tanya nya lagi.


Regan pun terdiam, dia tidak mungkin terus membohongi istrinya, tapi bagaimana jika istrinya marah setelah tau apa yang ia lakukan seharian ini?


" Aku akan menceritakan sesuatu padamu tapi kau berjanjilah setelah kau mendengar ceritaku kau hanya boleh marah sebentar. " ucapnya kini.


" Baiklah aku akan mendengar kan cerita mu setelah kau mandi. "


Bintang pun kini membaringkan tubuhnya di atas ranjang.


Sementara Regan Kini bergegas mandi.


Setelah selesai Regan pun mendekati Bintang yang tengah tiduran di atas ranjangnya.


" Kau belum mengantuk? " tanya nya.


" Belum aku menunggu cerita mu. "


Regan pun diam terpaku.Ia bingung harus cerita dari mana, bagaimana jika istrinya marah?


Sementara Bintang kini menjadi tak tega setelah melihat wajah suaminya.


" Kau terlihat sangat lelah hari ini, tidurlah aku akan menagih cerita mu besok. "


Bintang pun kini tidur memunggungi Regan,ia tak bisa menahan amarahnya jika terus melihat wajah suaminya yang sudah membohongi nya itu.Dia akan menunggu penjelasan suaminya besok.


Sementara Regan kini terlihat sedikit lega paling tidak malam ini dia tidak tidur di luar.Kini ia pun memeluk tubuh istrinya.


" Aku tidak bisa tidur jika tidak melihat wajah mu! " protesnya karena tak suka Bintang memunggungi nya.


Bintang pun menghala nafasnya kasar,jujur dia sangat kecewa dengan suaminya tapi dia tidak mungkin egois membiarkan suaminya yang terlalu banyak akalnya itu tidak tidur semalaman.Kini Bintang pun membalikkan tubuhnya.


" Sudah,sekarang tidurlah, " ucapnya kesal.


Regan pun tersenyum senang,ia pun kini mencium kening istrinya dengan penuh kasih sayang.


" Aku mencintaimu, aku mohon jangan marah setelah aku menceritakan semaunya besok. " gumamnya dalam hati.


Kini Reganpun memeluk tubuh Bintang erat-erat, entah apa yang akan terjadi besok, yang terpenting malam ini dia masih bisa memeluk orang yang ia cintai.