
David yang melihat Regan sudah berada di tempat parkir pun bergegas mengejar dan membantu membukakan pintu.Reganpun membaringkan tubuh Bintang di bangku belakang.
" Kau handle acara ini bersama Kevin, pastikan acara tetap berjalan lancar, " ucap Regan yang kini mulai masuk ke dalam mobil dan melajukannya.David pun berjalan kembali ke dalam.
Kini Regan sudah berada di rumah sakit, ia sedang menunggu dokter yang kini sedang memeriksa Bintang.Regan tak sendiri karena Rita dan Livia menyusul ke rumah sakit.
" Apa yang sebenarnya terjadi, kenapa Bintang bisa jatuh ke kolam? " tanya Regan pada kedua teman Bintang itu.
" Ssaa.. ssaya tidak tau Tuan, " ucap Livia yang gugup karena kini Regan menatapnya dengan tajam.
" Bukankah kau tadi ada di dekat Bintang, " tanya Regan lagi yang mulai mengintimidasi.
" Rita yang lebih dekat Tuan, mungkin dia tau kenapa Bintang bisa jatuh ke kolam, " ucap Livia sambil menyenggol Rita dengan sikunya.Rita yang merasa di umpan kan pun melotot ke arah Livia.
" Ss..ssaya juga tidak tau Tuan, " ucapnya pelan.
" Bagaimana bisa kalian tidak tau jika teman kalian jatuh ke kolam! apa yang kalian lihat! " ucap Regan yang mulai naik darah.
" Tuan, " ucap Rita dan Livia kompak yang tanpa sadar mengucapkannya.Mereka pun kini memukul mulut masing-masing karena kebodohannya.
Regan yang mendengarnya pun membuang nafasnya kasar dan kemudian meninggalkan kedua manusia yang ada di hadapannya.
" Siapa suruh Tuan terlalu tampan, kita hanya memanfaatkan pemandangan gratis itu mana sempat noleh ke Bintang! " gerutu Rita dalam hati.
Kini Regan pun menemui dokter yang telah selesai memeriksa Bintang.
" Bagaimana keadaannya Dok? apa terjadi sesuatu padanya? " tanya Regan yang begitu khawatir.
" Istri Tuan hanya terlalu syok,ini terjadi karena trauma yang di alaminya,tuan tidak perlu khawatir sebentar lagi istri tuan akan sadar dan besok pagi istri tuan sudah boleh pulang, " ujar Dokter itu yang mengira Regan dan Bintang adalah suami istri.
" Apa saya sudah boleh menemuinya? "
" Silahkan Tuan, " ucap dokter itu yang kemudian berlalu pergi.
Kini Regan pun memsuki ruangan di mana Bintang di rawat.
Tampak Bintang sedang berbaring disana dengan jarum infus yang menempel di tangannya,raut wajah yang selalu ceria kini tampak putih pucat yang membuat Regan sangat mencemaskannya.
" Kau membuatku takut, cepatlah buka matamu, aku lebih senang melihatmu mengoceh di depanku dari pada aku harus melihat mu diam seperti ini, " ucap Regan yang kini membelai pipi putih Bintang yang masih belum sadarkan diri.
Sedangkan disisi lain, Rita dan Livia sama-sama ragu untuk masuk kedalam ruangan karena ada Regan di sana.
" Gimana nih Vi, kita masuk atau enggak? " tanya Rita pada Livia.
" Apa kau masih berani masuk setelah Tuan Regan menatapmu seperti tadi! "
" Aish! benar! bisa-bisa kita di cincang di dalam, kita tunggu saja di sini, " ucap Rita yang kemudian duduk di kursi tunggu yang ada di depan ruang rawat Bintang.
Di sisi lain Regan masih setia menemani Bintang. Ia terus menatap wajah cantik Bintang yang masih sedikit pucat.Tiga puluh menit sudah berlalu namun Bintang masih belum sadar juga, Regan yang melihatnya pun mulai khawatir.
" Kau belum juga membuka matamu, bagaimana bisa dokter itu bilang tidak perlu khawatir, " gumam Regan yang kini mulai beranjak dari kursinya.
Regan yang kini mulai keluar ruangan pun melihat Rita dan Livia yang menunggu di luar.
" Kalian, temani Bintang di dalam, " ucapnya ketus yang kemudian berlalu pergi.
Rita dan Livia pun hanya menganggukkan kepala kini mereka berdua pun masuk ke ruangan Bintang dirawat.
" Untung tampan, kalau enggak udah aku plintir tuh mulut pedasnya, " gerutu Rita kesal dengan sikap Regan.
" Bisa juga kesel sama tuan Regan? " ucap Livia yang menyindir Rita, karena selama ini Rita tidak pernah marah atau kesal saat Regan menegurnya.
Sedangkan Rita hanya merespon dengan memanyunkan bibirnya.
Di sisi lain Regan sudah berada di ruangan dokter yang memeriksa Bintang.Ia pun masuk tanpa permisi dan menatap dokter tadi dengan tajam.
" Ikut saya sekarang! " ucapnya dengan tatapan membunuh.
Dokter itupun langsung beranjak dari kursinya, tanpa berani bertanya ia pun mengikuti langkah Regan yang kini menuju ruangan Bintang di rawat.
" Kau bilang tidak perlu khawatir, tapi kenapa dia belum juga sadar, " ucap Regan yang kini sudah berada di samping Bintang.
Dokter itupun kembali memeriksa Bintang.
" Istri Tuan hanya tertidur, dia masih dalam pengaruh obat, " ucap dokter itu menjelaskan.
" Baiklah, anda boleh keluar! "
Dokter itu pun membuang nafasnya pelan, ia begitu lega mendengar ucapan Regan.
" Dok, masih kuat berjalan kan? atau perlu saya bantu? " bisik Rita yang mulai menyindir dokter itu karena ia melihat jika dokter itu sedang ketakutan.
Dokter itupun hanya menggeleng-gelengkan kepala dan mempercepat langkahnya.
Sedangkan Livia yang masih bisa mendengar ucapan Rita pun sengaja menginjak kaki Rita hingga Rita meringis kesakitan.
" Kalian pulanglah, " suara Regan yang membuat wajah Rita datar.
" Tapi Tu.., " belum juga Rita selesai bicara Regan sudah menyeka ucapannya.
" Tugas kalian akan bertambah besok, jadi kalain sekarang pulanglah, "
" Baik Tuan, " ucap Rita dan Livia yang kini mulai beranjak keluar.
Kini hanya ada Regan dan Bintang di ruangan itu, Regan pun kembali duduk di kursi yang ada di sebelah ranjang Bintang.
" Tidurlah yang nyenyak, aku akan menjagamu disini, " ucap Regan sambil menyibakkan rambut Bintang yang sedikit menutupi wajah cantiknya.Regan yang seharian ini sangat sibuk membuat tubuhnya sangat lelah, ia pun mulai menyandarkan kepalanya di kursi dan memejamkan mata.
Tak lama Bintang mulai mengerjapkan matanya, kepalanya yang masih pusing membuatnya memijat kepalanya sendiri.
" Owh..,kenapa pusing sekali, " ucap Bintang yang mulai membuka matanya dan melihat sosok Regan yang tengah duduk di sampingnya, Bintang pun tersenyum manis melihatnya.
Regan yang hanya memejamkan matapun bisa mendengar ucapan Bintang, ia pun kini menggenggam tangan Bintang erat-erat membuat Bintang membelalakkan matanya karena terkejut, karena ia mengira orang yang ada di sampingnya itu tengah tertidur.
Regan pun menatap Bintang yang seakan sulit sekali untuk bicara.
" Kau sudah membuatku khawatir jadi gajimu bulan ini aku potong, " ucap Regan yang tetap menggenggam tangan Bintang.
" Hah, " ucap Bintang tak percaya, " tuan, mana ada peraturan seperti itu! " ucap Bintang tak terima.
" Ada, karena aku yang membuatnya,selama aku tidak ada di sampingmu kau harus menjaga dirimu baik-baik, jangan pernah membuatku khawatir lagi, kau mengerti! "
" Mulai kan seenaknya sendiri! " gerutu Bintang dalam hati.
Kini Bintang pun menjawab dengan anggukan kepala.
Regan yang melihat wajah Bintang masih tetap pucat pun mulai cemas.
" Apa masih ada yang sakit? " tanya Regan yang khawatir.
" Hanya sedikit pusing, " ucap Bintang pelan.
" Kenapa dokter itu tidak benar-benar menyembuhkanmu! " ucap Regan mulai beranjak dari kursinya,Bintang yang melihat ekspresi wajah Regan mulai marah pun segera menarik tangan Regan.
" Tuan, saya tidak papa, pusingnya sedikit demi sedikit nanti hilang, " ucap Bintang yang tau jika Regan akan memarahi dokter yang memeriksanya.
" Kau yakin? "
" Iya, di waktu kecil saya pernah tenggelam itu membuat saya trauma,karena itulah saya tadi pingsan saat terjatuh di kolam, jadi tuan tidak perlu khawatir, " ucapnya sambil berusaha untuk duduk.
" Tetap saja aku khawatir jika melihatmu seperti tadi, " ucap Regan sambil membantu Bintang duduk.
" Kenapa tuan begitu mengkhawatirkan saya, "
" Karena aku mencintaimu, " jawabannya datar.
" Tuan, apa Tuan sedang mengungkap kan perasaan Tuan! " ucap Bintang menatap tajam Regan.
" Kau kan bisa mendengarnya,kenapa kau masih bertanya? berhentilah menatap ku seperti itu! " ucapnya lagi yang tak suka dengan cara Bintang menatapnya.
"Aish! mana ada orang yang mengungkapkan perasaannya seperti itu, Tuan harusnya mengatakannya dengan romantis bukan seperti tadi, datar bin lempeng kaya jalan tol! bisakah Tuan sedikit romantis? " ucap Bintang kesal karena Regan tetap saja dingin.
Regan yang mendengar ucapan Bintang pun seketika menarik pinggang Bintang, hingga tak ada jarak diantara mereka dan kini pandangan mereka pun saling beradu.
" Tu.. tuan saya hanya bercanda, " ucap Bintang tersenyum garing.
" Nih mulut kenapa nggak bisa di rem " gumam Bintang dalam hati,kini jantung Bintang pun dalam mode tak beraturan karena Regan terus menatapnya lekat.
" Kau wanita terunik yang pernah aku temui. Entah kenapa aku bisa jatuh cinta pada gadis sepertimu,hidup ini terlalu singkat,namun bumi terlalu luas,jika aku meminta,bisakah kau temani aku untuk keduanya? " ucap Regan dengan lembut namun Bintang hanya bisa diam menatap wajah Regan tanpa bisa menjawab karena lidahnya seakan kaku tak bisa ia gerakkan.
" Jika ada seseorang yang tak sempurna, dia mencintaimu dan ingin selalu menjagamu, apa kau mau menikah dengannya? " ucap Regan lagi karena Bintang yang tak kunjung menjawab.
Bintang yang mendengar semua ucapan Regan hanya bisa menggerakkan matanya untuk berkedip, jantungnya semakin berdebar, entah kenapa mulutnya kini susah sekali untuk bicara, serasa tubuhnya kaku tak bisa ia gerakkan.
" Satu kedipan, dua kedipan, tiga kedipan, empat kedipan, lima kedipan lebih,oke! itu tandanya kau mau menikah denganku, " ucapnya lagi yang mengambil keputusan sendiri,membuat Bintang yang tadinya begitu tertegun kini tersenyum sendiri.
" Tuan, saya belum menjawab, "
" Aku sudah tidak butuh jawabanmu, kau terlalu lama berfikir, mulai besok dosis sup penutrisi otak di tambah, kau harus makan sup penutrisi otak satu hari tiga kali, " ucap Regan yang membuat wajah Bintang seketika datar.
" Hanya ada kita di ruangan ini, sebelum ada orang lain, ayo kita lakukan...," ucap Regan yang mulai bingung mengatakannya.
" Lakukan apa? " tanya Bintang datar.
" Antara kita berdua, " ucap Regan.
" Iya, kenapa dengan kita? "
" Ya sudahlah kau tidur saja, " ucap Regan putus asa karena Bintang nggak konek.
Sedangkan di luar,David, tuan Williams dan mama Nita sedang berdiri di luar pintu.
" Gimana ma, apa mereka sudah ciuman? " tanya tuan Williams pada mama Nita yang dari tadi sedang mengintip Bintang dan Regan yang ada di dalam ruangan.
" Hih, papa jangan dorong-dorong mama, nanti kita ketauan, " ucap mama Nita.
" Papa kan juga pingin lihat? "
Kreeeek...
Suara pintu terbuka yang membuat mama Nita, tuan Williams, dan David membulatkan mata sempurna.
" Kalian sedang apa? " suara Regan yang kini berdiri di depan mereka.
_
_
_
_
_
* ada orang yang di tembak tapi request dulu? ada, Bintang 😆*
Jangan lupa jempolnya guys.... 😉
Happy Reading 😊