
Bintang yang sudah turun dari mobil pun tak lupa mengucapkan terimakasih kasih kepada Davit yang sudah berada di dalam mobil.
" Terimakasih Tuan, "
ucap Bintang dengan menunduk hormat.
Davit hanya menjawab dengan anggukan kepala dan melajukan mobilnya menuju kantor.
Bintang yang sudah berada di dalam rumah mulai melihat dua kantong plastik yang ditaruh Davit di atas meja ruang tamu.
Sepertinya barang yang aku catat tadi tak sebanyak ini
gumam Bintang yang mulai membongkar belanjaanya, ia mengambil satu persatu barang yang ada di dalam kantong plastik,setelah kantong plastik yang pertama selesai ia pindah ke kantong plastik kedua yang ukurannya lebih besar,betapa terkejutnya Bintang ketika melihat isi kantong plastik kedua yang semua isinya adalah pembalut dengan beberapa merk dan bentuk.
Untuk apa dia membeli pembalut sebanyak ini, apa dia pikir aku mau buka toko?
Jadi penasaran gimana mukanya tadi pas ngambil nih pembalut..
hahahahaha...
aku dosa gak sih..
ah..!salah siapa tadi nyuruh aku nulis semua barang yang akan aku beli.
gumam Bintang sambil terus tertawa membayangkan bagaimana wajah Davit .
Tak lama terdengar suara ketukan pintu yang membuyarkan lamunan Bintang, ia pun mulai berjalan untuk membuka pintu.
" Ma'af apa benar ini kediaman Nona Bintang Ariana Putri?"
tanya wanita itu yang berpakaian ala dokter.
" Iya, Ma'af anda siapa? "
tanya Bintang yang berdiri di depan pintu.
" Perkenalkan, saya Dokter Lia,saya kesini atas utusan Presdir Atmaja Grup untuk mengontrol kaki Nona Bintang Ariana Putri.
Apakah Anda yang bernama Nona Bintang Ariana Putri?"
tanya wanita itu yang ternyata adalah dokter utusan Regan.
" Iya, itu saya. Mari silahkan masuk dok, "
ucap Bintang yang mempersilahkan dokter Lia masuk.
Kini mereka sudah duduk di kursi sofa yang ada di ruang tamu, dokter Lia meminta Bintang untuk menyelonjorkan kakinya di atas kursi agar memudahkan ia saat akan memeriksa.
" Apa masih sakit Nona ?"
tanya dokter itu yang mulai melepas perban elastis pada kaki Bintang.
" Tidak Dok, hanya masih sedikit nyeri saja , "
ucap Bintang.
" Selama Nona menjaganya dengan baik, kaki Nona akan segera sembuh, Saya akan memberikan obat untuk Nona Bintang minum, "
ucap dokter itu yang mulai menyiapkan beberapa obat untuk Bintang.
" Terimakasih dok, "
jawab Bintang sambil menurunkan kakinya dari atas kursi.
" Anda beruntung mendapatkan perhatian lebih dari Tuan Regan Nona, karena setahu saya Tuan Regan adalah manusia berdarah dingin yang tak pernah peduli dengan siapapun itu, "
ucap dokter Lia sambil membereskan peralatannya.
" Mungkin dokter yang menanggapinya terlalu berlebihan, Tuan Regan memperlakukan saya sama dengan karyawan lain, "
ucap Bintang sambil tersenyum hangat.
" itu karena Nona Bintang yang kurang peka, "
ucap dokter Lia dengan senyum hangatnya.
" Cepat sembuh Nona, saya izin undur diri, "
imbuhnya lagi.
" Terimakasih banyak dok, "
ucap Bintang yang mengantar Dokter Lia sampai teras depan.
Apa mungkin benar dia mulai perhatian padaku?
ah...! kau jangan kepedean Bintang, ingat Kata-katanya kemarin...
ini semua hanya bentuk tanggung jawabnya karena sudah membuat kakimu terkilir.
ucap Bintang pelan sambil terus berjalan memasuki rumah.
Sedangkan di kantor Davit sedang berada di ruangan Regan.
" Apa dokter Lia sudah memberimu kabar? "
tanya regan datar.
" Sudah Tuan, menurut Dokter Lia kondisi Nona Bintang sudah membaik, mungkin besok rasa nyeri di kakinya akan hilang jika Nona Bintang benar-benar menjaganya, "
ucap Davit yang berdiri tepat di hadapan Regan.
" Aku tidak yakin dia bisa menjaga kakinya dengan baik! "
ucap Regan yang mulai fokus dengan laptopnya.
Davit hanya diam tak merespon ucapan Tuannya.
" Kau kembalilah keruanganmu dan bawa semua berkas ini, "
imbuhnya lagi.
" Baik Tuan, "
jawab Davit mulai mengambil tumpukan berkas dan bergegas keluar ruangan.
Sedangkan di ruangan lain Rita sibuk mengirim pesan untuk Livia dari mejanya.
π² Pulang nanti kita jenguk Bintang dulu,ok!
pesan Rita untuk Livia.
π² Siapπ
balas Livia.
Diruangan itu tidak ada yang berani beranjak dari mejanya kecuali waktu jam makan siang dan ketoilet karena selama Bintang cuti Regan suka marah-marah gak jelas dan memberi pekerjaan yang tak masuk akal, sehingga mereka harus rela pulang larut malam untuk menyelesaikan pekerjaannya.
Tak terasa waktu berjalan begitu cepat kini langit biru menjadi jingga tanda sudah memasuki sore hari. Regan yang tak pernah pulang lebih awal hari ini ia sengaja memberikan beberapa pekerjaannya kepada Davit agar bisa pulang lebih awal.
Sebelum ia meninggalkan kantor ia sempatkan untuk ke ruangan Davit.
" Dav! "
ucap Regan datar.
Davit yang sedari tadi fokus dengan laptopnya pun terkejut mendengar suara Regan, ia pun seketika berdiri.
" Iya Tuan, "
jawab davit menunduk hormat.
" Apa kau tau bagaimana cara mendekati wanita? "
tanya Regan dengan wajah datarnya.
" Ma'af Tuan, saya kurang ahli dalam hal itu, "
jawab Davit dengan menundukkan kepala.
" Kau memang tak bisa di andalkan dalam hal wanita ",
ucap Regan yang berlalu pergi.
Bagaimana aku tau cara mendekati wanita jika kau setiap hari terus membuatku sibuk dengan kertas-kertas ini !
gerutu Davit sambil melihat berkas-berkas yang bertumpukkan di mejanya.
Sedangkan Livia dan Rita mulai membereskan mejanya, mereka sangat berusaha keras agar bisa pulang lebih awal.
" Akhirnya kita bisa pulang lebih awal Vi, "
ucap Rita sambil memutar pinggangnya ke kanan dan kiri.
" Iya Rit, dua hari ini sikap Tuan Regan sangat keterlaluan, "
jawab Livia dengan wajah letihnya.
" Doni masih meninjau proyek baru,trus kita ke rumah Bintang naik apa Vi? "
tanya Rita sambil terus berjalan.
" kita cari taxi di depan aja Rit, "
jawab Livia yang sudah berjalan mendahului Rita.
Akhirnya mereka berdua pun menunggu taxi di depan kantor.
Sedangkan di rumahnya Bintang sedang berusaha memasang foto keluarga di dinding rumahnya, ia menggunakan kursi untuk pijakannya, karena Bintang yang begitu ceroboh saat menatanya,kursi yang ia pijaki menjadi tak stabil dan membuatnya terhuyung kedepan, Regan yang saat itu sudah berada di rumah Bintang pun dengan gesit menangkap tubuh Bintang.Karena pertahanan Regan yang kurang kuat akhirnya Regan pun jatuh kebelakang dengan posisi Bintang menindihnya.
Mereka berdua yang sama-sama terkejut pun saling menatap dengan tatapan yang begitu dalam.
Tuhan, semoga dia tak mendengar detak jantungku sekarang.
gumam Bintang dalam hati.
Bintang yang mulai sadar pun segera bangun dengan wajah paniknya,namun karena kondisi kakinya yang salah posisi membuatnya terjatuh lagi menindih Regan.
Please...
bekerja samalah dengan tuanmu jangan berdetak sekencang ini!
gerutu Bintang mengutuki dirinya sendiri karena jantungnya yang terus berdetak kencang.
Sedangkan Regan hanya tersenyum tipis, ia pun mulai menggoda Bintang.
"Apa kau begitu rindu, hingga kau terus ingin memeluku? "
ucap Regan dengan senyum yang tak dapat di artikan.
Benar-benar super pede!
siapa juga yang merindukanmu!
gerutu Bintang dalam hati.
Sedangkan di sisi lain Rita dan Livia yang sudah sampai pun langsung masuk karena melihat pintu rumah Bintang yang sudah terbuka,mereka begitu terkejut melihat pemandangan di depannya dan seketika mereka membalikan badan.
" Bagimana ini Vi? "
tanya Rita panik.
" Kita pura-pura saja tidak melihat, "
jawab Livia dengan suara berbisik.
Sedangkan Bintang yang melihat kedua temannya pun terkujut dan segera bangun dari tubuh Regan dengan wajah paniknya.
Sial!
mereka pasti sudah berfikir yang aneh-aneh
gumam Bintang dalam hati.
Sedangkan Regan ia tetap dengan wajah datarnya, seakan tidak pernah terjadi apa-apa.
" Ada apa kalian kesini! "
tanya Regan dengan tatapan tajam.
" Kita hanya ingin menjenguk Bintang Tuan, "
ucap Livia berbalik badan.
" Kalian pulanglah Bintang sudah baik-baik saja! "
ucap Regan datar.
Kenapa kau harus mengusir Teman-teman ku!
gerutu Bintang tak Terima.
" Baik Tuan, "
ucap Livia menunduk hormat.
Dengan hati kesal Rita dan Livia terpaksa menuruti perintah Tuanya.
mereka berdua pun mulai melangkahkan kakinya keluar.
" Terimakasih kalian sudah mengunjungi ku, "
ucap Bintang dengan senyum yang mengembang di pipinya.
Rita dan Livia hanya membalas dengan senyuman.
" Kenapa Tuan mengusir teman-teman saya! "
ucap Bintang kesal.
" Kapan aku mengusir temanmu! "
jawab Regan datar tanpa ekspresi.
" Baru saja tuan mengusir mereka! "
ucap Bintang semakin kesal.
" Aku tidak mengusir,aku hanya menyuruh mereka pulang, "
jawab Regan datar dengan wajah tanpa dosa.
Kau!
ingin sekali aku membakar mu hidup-hidup!
gerutu Bintang menahan kekesalannya.
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
Karena Pandemi, Author jadi guru dadakan jadi Mohon ma'af baru bisa Up πππ
jangan bosan dukung Novel ini ya,
beri Vote, like, dan saran kalian...
jangan lupa klik favorit π
Terimakasihππ€
Happy Reading π