My Big Boss

My Big Boss
Mengantarkan pulang



Rita hanya diam mencerna semua ucapan temannya.Kini ia sadar bahwa ia sudah salah menilai Bintang, Rita pun mulai menyusul kedua temannya yang sudah berjalan lebih dulu.


" Vi, ma'af. Aku memang salah, " ucap Rita sambil menundukkan kepalanya.


" Kau tak perlu meminta ma'af padaku, meminta ma'af lah pada Bintang, "


ucap Livia tersenyum sambil merangkul bahu Rita.


" Kau memang teman terbaik Vi, "


ucap Rita yang mulai tersenyum.


kini mereka pun berjalan bersama menuju mobil Doni dan pulang bersama.


Sedangkan di sisi lain Regan sudah menunggu Bintang sambil bersandar di mobilnya dengan masukkan kedua tangannya kedalam saku celananya.


" Sudah ku bilang jangan membuatku menunggu! kenapa kau masih saja melanggar perintah ku! "


ucap Regan dengan sorot matanya yang tajam.


" Ma'af Tuan,kaki saya sedang sakit jadi saya tidak bisa mengikuti langkah tuan yang begitu cepat, " ucap Bintang yang baru sampai.


" Cepatlah masuk! "


ucap Regan yang mulai memasuki mobil tentunya dengan bantuan pak jang yang membukakan pintu untuknya.


Bintang pun mengikuti ucapan Regan walau dengan hati kesal.Baru saja ia membuka pintu mobil bagian depan Regan sudah mengagetkanya lagi dengan ucapannya.


" Duduklah di sampingku! "


ucap Regan datar.


Bintang hanya diam menatap Regan dengan bingung.


" Apa kau akan terus berdiri di situ dan terus menatapku! "


ucap Regan dengan tatapan tajam.


" Ma'af Tuan, "


ucap Bintang yang langsung bergegas masuk mobil dan duduk di samping Regan.


Pak Jang yang melihat dua manusia itu sudah berada di tempatnya pun langsung mengemudikan mobilnya.


" Kita antarkan gadis ini dulu pak, "


ucap Regan datar.


" Baik Tuan, " jawab oak Jang singkat.


Bintang yang sudah duduk di samping Regan mulai merasa Canggung ,ia memilih memainkan ponselnya dan mulai mengirim pesan untuk Rafa agar tak menjemputnya.


sedangkan Regan yang melihat Bintang sibuk dengan ponselnya merasa tidak senang.


" Aku menyuruhmu duduk di sampingku bukan untuk sibuk memainkan ponselmu! "


ucap Regan tanpa menoleh.


" Ma'af Tuan, "


ucap Bintang menundukkan kepala sambil bergegas memasukkan ponselnya kedalam tas.


" Aku ingin bertanya padamu! "


Ucap Regan tetap fokus menghadap depan.


" Silahkan Tuan, apa yang ingin Tuan tanyakan ? "


ucap Bintang semanis mungkin.


" Apa kau pernah merasakan kehilangan orang yang kau sayang ? "


tanya Regan tanpa menoleh.


" Kenapa Tuan menanyakan itu? "


tanya Bintang yang mulai bingung.


" Aku hanya ingin mendengar pendapatmu, "


ucap Regan datar.


Bintang pun mengangguk-anggukan kepalanya.


" Ya, saya pernah merasakannya Tuan, "


ucap Bintang pelan.


" Apa dia orang yang paling kau sayang? "


ucap Regan yang masih saja tak mau menatap Bintang.


" Iya Tuan, bahkan ia orang yang paling berharga dalam hidup saya, "


ucap Bintang dengan suara lirih.


" Apa kau bisa mengikhlaskannya? "


tanya Regan yang tetap fokus kedepan.


" Awalnya sulit Tuan tapi lambat laun saya bisa mengikhlaskannya, "


Ucap Bintang dengan senyum manisnya.


" Apa karena kau sudah menemukan pengganti nya? "


ucap Regan datar tanpa ekspresi.


" Tidak Tuan, "


ucap Bintang singkat.


" Terus apa yang membuatmu bisa mengikhlaskannya? "


tanya Regan yang mulai melirik Bintang.


" Karena saya yakin itu semua takdir yang sudah direncanakan Tuhan untukku.


Saya yakin Tuhan tidak akan membiarkan kita kehilangan sesuatu apapun di dalam hidup ini tanpa IA tukar dengan sesuatu yang jauh lebih indah, "


ucap Bintang dengan senyum manisnya.


Regan diam dan mulai mencerna ucapan Bintang.


" Apa aku boleh tahu siapa orang yang paling berharga dalam hidupmu itu? "


tanya Regan yang mulai ingin tahu siapa orang yang pernah Bintang sayangi.


" Beliau ayah saya Tuan, "


ucap Bintang yang tanpa sadar air matanya jatuh mengalir karena teringat sosok ayahnya.


Regan yang melihatnya pun merasa bersalah karena sudah menanyakan hal itu pada Bintang, ia mulai merangkul bahu Bintang mencoba untuk menenangkan Bintang.


" Ma'af aku tidak bermaksud membuatmu menangis, "


ucap Regan yang mulai mendekap Bintang.


Bukanya bertambah tenang Bintang semakin menagis tersedu-sedu dalam dekapan Regan.


" Menangislah jika itu membuatmu lebih tenang, "


ucap Regan yang ingin mengelus rambut Bintang tapi ia urungkan niatnya.


Kenapa aku tak pernah menolak saat bersentuhan dengannya?


kenapa sekarang aku ingin terus memeluknya seperti ini ?


gumam Regan dalam hati.


Bintang yang mulai tenang kembali ke posisi awal, ia menjauhkan tubuhnya dari Regan.


" Ma'af Tuan, saya tidak bermaksud lancang terhadap Tuan, "


ucap Bintang yang tak enak hati sambil mengusap airmatanya.


" Anggap saja itu tidak pernah terjadi, "


ucap Regan yang kemabali dengan sikap dinginnya.


Bintang hanya mengangguk dan mulai menghadap keluar jendela. Kini kedua manusia itu saling membuang muka karena


mereka benar-benar canggung.


Sedangkan pak Jang yang terus memperhatikan dari sepion mobil hanya tersenyum tipis.


Tak berapa lama kini mobil mewah Regan berhenti tepat di halaman rumah Bintang.


Bintang pun bergegas keluar dan mengucapkan terimakasih kepada Regan.


" Terimakasih banyak Tuan sudah mau mengantarkan saya pulang, "


ucap Bintang sambil menundukkan kepala.


" Hmmmm.., "


jawab Regan singkat.


" Aku sangat haus, apa kau tak ingin menawarkan aku minum? "


imbuhnya lagi.


" Oh... ya..


mari Tuan, saya akan membuatkan tuan minum, "


ucap Bintang terpaksa.


ucap Bintang tulus menatap pak Jang.


" Terimakasih Nona, saya menunggu disini saja, "


ucap pak Jang sopan.


Akhirnya Bintang mengekori Regan yang sudah berjalan lebih dulu.


Kenapa kau harus berpura-pura haus Tuan?


bilang saja jika kau ingin mampir ke rumah Nona Bintang.


gumam Pak Jang yang melihat Bintang dan Regan dari mobil.


Sedangkan Bintang masih saja menggerutu di belakang Regan.


Siapa pemilik rumah disini!


kenapa kau berjalan lebih dulu dari pada aku!


" Kau benar-benar penyuka bunga? "


tanya Regan yang mengedarkan pandangannya ke sekeliling halaman Bintang dan berjalan menuju taman kecil yang ada di samping rumah Bintang.


" Iya Tuan, "


jawab Bintang malas.


" Ini semua kau yang menanam? "


tanya Regan yang menaruh tangannya dia atas bunga-bunga yang sedang bermekaran.


" Tidak Tuan, hanya beberapa saja, "


ucap Bintang dengan ekspresi yang tak enak di lihat.


" Kenapa kau sangat menyukai bunga? "


tanya Regan yang masih fokus pada bunga-bunga yang ada di taman itu.


" Itu karena saya menjadi lebih tenang jika melihatnya Tuan, "


ucap Bintang semanis mungkin.


Regan mendengarnya sambil memetik beberapa tangkai bunga dan ia ikat hingga menjadi satu buket bunga.


" Indah bukan, "


ucap Regan memperlihatkan rangkaian bunga yang telah ia buat kepada Bintang.


" Iya Tuan itu begitu indah, saya rasa Tuan sangat berbakat dalam merangkai bunga, "


puji Bintang yang ingin muntah mengucapkannya.


" Ini untukmu!


kau tak perlu membayar jasa ku yang sudah merangkainya ! "


ucap Regan sambil memberikan bunga kepada Bintang.


Kini Regan berjalan berlalu begitu saja di hadapan Bintang dengan wajah datarnya.


Sedangkan Bintang menahan kekesalannya.


Untuk apa juga aku membayar bunga yang jelas-jelas kau ambil dari tamanku!


gerutu Bintang kesal.


" Jangan terus menggerutu di situ!


cepatlah buka pintumu!aku mau masuk, "


ucap Regan yang sudah berdiri di depan pintu rumah Bintang.


Sebenarnya siapa pemilik rumah disini!


kenapa kau yang lebih galak dariku!


seenaknya memerintah.


Gerutu Bintang lagi yang mulai melangkah menghampiri Regan.


" Mari silahkan masuk Tuan, "


ucap Bintang menahan kekesalannya.


Regan pun mulai masuk dan mengedarkan seluruh pandangannya.


" Kenapa kau bisa hidup di rumah sekecil ini?


bahkan ini lebih kecil dari kandang kucingku ku! "


ucap Regan dengan senyuman sinis.


Terus saja menghinaku!


gumam Bintang dalam hati.


" Saya sudah terbiasa hidup seperti ini Tuan, "


ucap Bintang semanis mungkin.


Regan pun mulai duduk di ruang tamu dengan santainya.


Bahkan kau duduk sebelum aku menyuruhmu!


dasar tamu tak punya adap!


gerutu Bintang dalam hati.


" Ma'af,Tuan ingin minum apa?


biar saya buatkan ".


ucap Bintang yang pura-pura manis di hadapan Regan.


" Saya sudah tidak haus! "


ucap Regan santai.


Bintang benar-benar kesal mendengarnya.


Terus untuk apa kau masih disini!


enyahlah dari rumah ku...!


Tuhaaaan...


beri aku kekuatan untuk mengusirnya...


gumam Bintang dalam hati.


" Kenapa!


apa kau sekarang ingin mengusir ku ! "


ucap Regan yang tak suka dengan tatapan Bintang.


" Ti.. tidak Tuan, mana mungkin saya berani mengusir Tuan, saya sangat merasa terhormat karena Seorang Presdir dari Atmaja grup bersedia mampir ke gubuk kecil saya ini, " ucap Bintang gelagapan.


" Apa kau akan terus berdiri di situ! "


ucap Regan dengan tatapan tajamnya.


Bintang tak menjawab ia pun bergegas duduk dengan wajah kesalnya.


" Kau tinggal bersama siapa di sini! "


tanya Regan dengan wajah datarnya.


" Saya tinggal sendiri Tuan, "


jawab Bintang malas.


" Apa kekasihmu sering kesini! "


tanya Regan datar tanpa ekspresi.


" Maksud Tuan? "


tanya Bintang tak mengerti.


" Kekasih pelitmu itu! "


tanya Regan yang mulai kesal.


" Ma'af Tuan saya tidak mengerti, "


ucap Bintang yang memang tak mengerti maksud Regan.


Kenapa juga kau harus menanyakan itu Regan!


gumam Regan dalam hati.


" Sudahlah kau abaikan saja pertanyaan ku tadi, "


ucap Regan yang beranjak dari kursinya dan berjalan keluar untuk pulang.


Bintang yang melihat sikap Reganpun merasa kesal.


Nih orang benar-benar ga punya adap ya! main nyelonong pulang tanpa pamit!


gerutu Bintang pelan.


Sedangkan pak Jang yang melihat Tuanya sudah berada di bangku belakang pun segera melajukan mobilnya.