My Big Boss

My Big Boss
Semangkuk berdua



Bintang yang sudah tak mendengar suara Regan pun mulai membuka pintu pelan, ia mulai mengintip melihat ke sekeliling, memastikan bahwa Regan sudah tak lagi berada di kamarnya.


Dirasa sudah aman Bintang pun segera keluar dan berlari ke arah pintu kamarnya, ia segera mengunci pintu kamar, berjaga-jaga jika tiba-tiba Regan masuk lagi.


Bintang pun mulai memakai pakaiannya, ia mulai mengeringkan rambutnya dengan handuk karena tak ada hair dryer di sana.


Setelah selesai Bintang mulai membuka ponselnya, ia membuka mata lebar-lebar saat tau jam yang terpampang di layar ponselnya.


Apa...!


Sudah jam delapan?


Aku tertidur selama itu di buthup?


Pantas saja sekarang tubuhku terasa meriang..


Bintang mulai berjalan keluar, ia melihat Regan yang sudah duduk di meja makan.


Aku belum menyiapkan makan malam untuknya, dia sudah makan atau belum ya..


gumam Bintang dalam hati.


Bintang pun berjalan ke arah Regan sambil bersin-bersin dan sesekali mengucek hidungnya yang terasa gatal.


Regan yang melihat nya pun sedikit khawatir.


" Kau kenapa? " tanya Regan


" Enggak papa, mungkin karena tadi ketiduran di air, Tuan sudah makan? "


" Belum, tidak ada yang memasak untukku! " memasang wajah memelas.


" Baiklah, saya akan menyuruh bibik memasak untuk Tuan, "


" Kenapa harus bibik, bukankah tadi kau bilang akan menyiapkan makan malam untuk ku?"


" Ya, saya hanya akan menyiapkan bukan memasak, bukankah tadi siang Tuan tidak menyukai masakan saya, jadi biar bibik saja yang memasak makanan untuk Tuan, "


" Bibik sudah tidur, " ucapnya berbohong.


" Sudah tidur?


Mana mungkin?


Ini baru jam delapan, bibik pasti belum tidur, " berjalan ingin mencari bik Inah.


" Sudah ku bilang bibik sudah tidur,


! jadi kau jangan mengganggunya! " ucap Regan meninggi, " Masaklah apa saja yang kau bisa, aku akan memakannya, " ucapnya lagi dengan nada datar.


Kenapa jadi marah-marah?


gumam Bintang menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


" Baiklah,saya akan memasak untuk Tuan," Bintang pun mulai mengambil semua bahan di kulkas. Bintang yang tak bisa membawa semua bahan pun di bantu Regan yang mulai menghampirinya.


" Sini Biar aku bantu, " ucapnya sambil mengambil beberapa bahan yang ada di dekapan Bintang. Bintang pun tersenyum tipis, ia tak menyangka Regan yang tadi begitu marah padanya sekarang berubah lagi bersikap hangat.


Bintang mulai mengupas kentang dan wortel, Regan yang melihatnya pun segera membantu,ia mengambil semua kentang dan wortel yang ada di depan Bintang.


Bintang pun mulai menyiapkan bahan yang lain.


" Pisau ini terlalu tajam, kau harus hati-hati memakainya, " ucap Regan yang masih mengupas satu buah kentang dari tadi tapi tak kunjung selesai.


Bintang yang melihatnya pun menjadi kesal, ia mengambil semua kentang dan wortel yang ada di depan Regan.


"Kenapa kau mengambilnya semua? " ucap Regan kesal.


" Kalau Tuan yang mengupas nya, bisa-bisa taun depan baru bisa makan,Tuan potong saja kentang dan wortel yang sudah saya kupas, " Bintang mulai mengupas dengan alat kupas bukan dengan pisau, membuat Regan yang melihatnya menjadi kesal.


" Kenapa dari tadi kau tak memberikan alat itu padaku! "


" Karena tuan gak minta, " tersenyum garing.


Reganpun mencubit hidung Bintang karena kesal.


" Sakit Tuan, " ringis Bintang.


" Salah sendiri, " memajukan bibir bawahnya sambil melotot.


" Hahaha... Tuan jelek sekali kalau seperti itu," tawa Bintang lepas yang membuat Regan tersenyum tipis melihatnya.Merekapun memasak sambil bercanda gurau.


Regan yang masih memegang pisau mulai memotong kentang dan wortel yang sudah di kupas Bintang dengan asal.Bintang yang melihatnya hanya membuang nafas kasar, ia hanya pasrah entah akan tampak seperti apa masakannya nanti.


Kini Bintang memilih memotong daging, dan menyiapkan bumbu-bumbu yang akan ia pakai.


" Awww..., " ringis Bintang kesakitan karena tak sengaja jarinya teriris pisau saat memotong daging.


Regan yang melihatnya pun segera menghisap darah yang keluar dari jari Bintang, membuat pemilik jari tertegun melihat sikap Regan. Bintang terus memperhatikan Regan yang mengisap darah pada jarinya, membuat hatinya terasa meleleh.


" Sudah ku bilang hati-hati, kenapa kau tak mendengarku! " ucap Regan kesal.


" Ini hal biasa di dapur Tuan, "


" Kau bilang ini biasa! lihatlah jarimu hampir putus karena pisau itu, kita harus segera obati lukamu ini, " mulai panik sendiri padahal hanya luka kecil.


" Tuaan... jariku tidak papa, lihatlah ini hanya luka gores, "


" Jika tidak segera di obati jarimu ini akan infeksi,apa kau mau jarimu..., " mencoba menakuti.


" Membusuk dan di amputasi?


Tuan...percayalah luka ini tak akan membuat jariku di amputasi," ucap Bintang kesal yang menyeka omongan Regan.


" Baiklah, aku akan mengambilkan plester untuk menutupi lukamu ini, " Regan pun mulai meninggikan Bintang di dapur sendiri.


Bintang pun melanjutkan aktivitas memasak nya.


Sedangkan di sisi lain Neni dan bi Inah sedang memperhatikan Tuan dan sekretaris nya itu.


" Bik,lihatlah Tuan Regan begitu khawatir padahal itu hanya luka kecil?


hahahaha...


Tuan Regan juga rela berbohong kalau bibik sudah tidur karena hanya ingin makan masakan Nona Bintang, " ucap Neni sambil tertawa kecil.


" Sssst...


Sudah,ayo kita kebelakang saja, " menarik neni dari tempatnya.


" Bukankah momen ini perlu di abadikan? jadi bibik saja yang kebelakang, " ucap Neni tersenyum garing.


Bi inah hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan Neni, ia pun pergi meninggalkannya.


Tak lama Regan pun kembali dengan membawa plester di tangannya.


" Mana tanganmu, " ucap Regan yang seketika menghentikan aktivitas Bintang yang sedang memasak.


Bintang pun mengulurkan tangannya, dengan hati-hati Regan memasang plester


bergambar binatang pada jari Bintang.


Bisa perhatian juga..


ucap Bintang pelan namun dapat di dengar Regan.


" Ini tidak gratis, kau harus mengganti uang plester nya, " ucap Regan tersenyum tipis kemudian meninggalkan Bintang.


Aishh..!


Mana pernah dia ikhlas melakukannya!


gerutu Bintang mencoba memukul Regan tapi ia urungkan.


Bintang pun mulai menyiapkan makanan untuk Regan dengan wajah kesalnya.


" Ini, makanlah Tuan, " ucapnya sambil menaruh semangkuk sup dan nasi halus.


Awas saja kau bilang masakanku tidak enak, ku kotok kepalamu biar otakmu geser sekalian!


gerutu Bintang dalam hati.


" Enak, tapi sayang tampilannya jelek banget! " ucapnya santai sambil terus makan.


Woooooiii!....


Kau amesia atau emang pikun?


Tampilannya jelek itu karna ulahmu!


Kau yang memotongnya asal-asalan tadi....


jerit Bintang dalam hati dengan raut wajah yang menahan kekesalannya.


" Kenapa dengan raut wajahmu! " menoleh ke arah Bintang, "duduklah disini, " ucapnya lagi sambil menepuk bangku kosong di sampingnya.


Bintang pun menuruti perintah Regan, ia duduk dengan wajah cemberut nya.


" Kau juga belum makan,bukan?


Kau juga harus makan,ini cepatlah makan, " menyodorkan satu sendok makanan ke arah mulut Bintang.


Bintang membulatkan matanya, ia tak menyangka Regan akan menyuapi nya.


" Tuan saja yang makan, saya akan makan nanti, " ucapnya berusaha menolak.


" Tidak ada penolakan di sini! " ucap Regan dengan tatapan tajamnya.


Akhirnya dengan perlahan Bintang pun melahap satu suapan dari Regan.Kini Bintang malah jadi salah tingkah.


Reganpun kembali menyendok untuk ia makan,


" Tunggu Tuan, " suara Bintang yang seketika menghentikan Regan saat akan melahap makanan yang sudah di hadapannya.


" Kenapa? kau mau lagi? bukankah yang ada di mulutmu belum kau telan? "


" Tidak, bukan seperti itu, biar saya ambilkan sendok baru untuk Tuan, " ucapnya dengan mulut yang masih penuh makanan.


" Tidak perlu, " melahap makanan yang sudah berada di sendoknya.


Bukankah dia paling tidak suka bekas orang lain?


gumam Bintang heran.


" Ini makanlah lagi, " ucap Regan menyuapi Bintang.Bintang pun tak bisa menolak karena Regan terus menatapnya tajam,akhirnya mereka makan semangkuk berdua.


" Ma'af Tuan, sini biar saya bereskan, "


" Tidak perlu, biar bibik saja nanti yang membereskan, "


" Bukankah tadi tuan bilang bibik sudah tidur? jadi biar saya saja yang membereskan, " ucap Bintang yang membuat Regan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, Regan pun hanya diam dan membiarkan Bintang membereskan meja makan.


Saat Bintang berjalan ke dapur bi inah menghampirinya.


" Sini Non, biar bibik saja yang membawanya ke belakang, " suara bi Inah yang mengagetkan Bintang dan seketika membuat wajah Regan panik.


" Bibik kenapa bangun, apa suara saya terlalu berisik hingga membangunkan bibik? " ucap Bintang tak enak hati.


" Tidak Non, saya haus jadi saya pergi ke dapur untuk minum, " jawab bi Inah berbohong yang membuat Regan bernafas lega.


Akhirnya Bintang pun kembali menghampiri Regan yang msih duduk di meja makan dengan membawa beberapa obat yang harus di minum Regan.


" Ini Tuan,minumlah, "


"Hmmmm.. iya, " jawab Regan mulai sibuk dengan ponselnya. Bintangpun memilih meninggalkan Regan menuju kamarnya, ia mengambil tas miliknya dan kembali lagi menghadap Regan.


" Saya pamit pulang Tuan, "


" Hmmmm, iya" jawab Regan tanpa melihat Bintang.


Bintang pun berjalan keluar dengan kesal,


Dasar tak punya hati, harusnya kau mencegahku pulang ..


bisa-bisa nya kau membiarkan seorang gadis pulang selarut ini...


gerutu Bintang kesal.


Neni yang sedari tadi menjadi penonton setia pun kecewa dengan sikap Tuannya.


" Kenapa kau malah membiarkan Nona Bintang pulang Tuuaan..., " dengus Neni kesal yang kemudian pergi dari tempat persembunyiannya.


Di tempat lain, David baru saja keluar dari ruang kerjanya, ia berjalan menuju kamarnya sambil meregangkan otot-otot nya, tubuhnya begitu lelah karena selama Regan tidak bekerja, ialah yang harus menghandle semua pekerjaannya.Baru saja ingin membaringkan tubuh,terdengar suara panggilan masuk diponselnya yang membuat dirinya langsung beranjak dari ranjangnya setelah melihat nama kontak yang terpampang di layar ponselnya.David pun segera mengangkat panggilan telepon itu,


' Cepat kerumahku sekarang! ' suara dari seberang sana.


' Baik Tuan, ' jawab David menahan kekesalannya.Bagaimana tidak baru saja ia ingin mengistirahatkan tubuhnya, Regan sudah memanggilnya untuk segera datang ke rumahnya.


David pun langsung mengambil kunci mobilnya, ia langsung berjalan ke garasi,masuk kedalam mobilnya dan melajukannya secepat kilat, David menyalip semua mobil yang melaju di depannya, hingga kini ia sampai di kediaman Regan.


Saat mobilnya akan memasuki gerbang rumah Regan, David melintasi Bintang yang akan naik ojol, Bintang yang melihat mobil David melintasinya pun menunduk hormat walau David tak membuka kaca mobilnya.


Kini David sudah turun dari mobilnya, ia bergegas menemui Tuanya di dalam rumah.


" Malam Tuan, " ucap David menunduk hormat.


" Hmmmm..


Apa kau tadi sempat melihat gadis bodoh itu!"


" Nona Bintang?


Iya saya melihatnya tadi,Nona Bintang baru saja naik ojol Tuan"


" Pastikan dia pulang dengan selamat, " ucap Regan datar.


" Haaah! " wajah David menjadi datar tanpa ekspresi.


" Apa kurang jelas! " nada Regan sedikit meninggi.


" Tidak Tuan, saya permisi, " jawab David yang langsung berlari ke mobilnya, David melajukan mobilnya pelan sambil mengedarkan pandangannya mencari sosok Bintang.David tak mungkin membantah perintah Regan,karena mengapdi pada Regan adalah bentuk balas budinya terhadap keluarga Atmaja yang dulu terlalu banyak membantu keluarganya.


Kenapa kau tidak bilang dari tadi Tuan...


Harusnya kau bisa bilang saat kau menelfon ku tadi,paling tidak aku tak perlu mencari nona Bintang,sekarang bagaimana aku bisa menemukan Nona Bintang jika jalanan macet seperti ini!


Lebih baik kau bunuh saja aku sekarang Tuan......


Kau tak tau betapa lelahnya tubuh ku....


gerutu David sambil mengacak-acak rambutnya sendiri dengan wajah yang tampak sangat kusut.


_


_


_


_


_


_


_


_


_


_


Author juga punya kesibukan lain ya guys..


Jadi mohon ma'af kalau Upnya rada lama


πŸ™πŸ™πŸ™


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian..


Happy Reading😊