My Big Boss

My Big Boss
Bertamu pagi-pagi



Pak Jang hanya diam dan mencerna maksud perkataan Tuannya yang tak bisa ia mengerti. Pak Jang lalu bergegas masuk di bangku kemudi dan mulai melajukan mobilnya.


Dalam perjalanan Bintang masih memikirkan perkataan Regan yang mengatainya jelek, akhirnya Bintang pun meminta penilaian pak Jang atas penampilannya hari ini.


" Pak Jang , apa penampilanku hari ini sangat buruk? "


tanya Bintang berbisik sambil mendekatkan tubuhnya ke bangku kemudi yang ada di depannya.


" Tidak,Nona Bintang hari ini sangat cantik "


ucap Pak Jang yang tetap fokus mengemudi.


" Terimakasih pak, "


jawab Bintang dengan senyum manisnya.


*M*ungkin matanya benar-benar rabun, bisa-bisanya bilang aku jelek!


gumam Bintang sambil melirik ke arah Regan.


Sedangkan Regan yang duduk di samping Bintang masih bisa mendengar pembicaraan Bintang dengan pak Jang namun ia Pura-pura tak mendengar dan tetap memandang ke arah luar jendela.


*D*asar gadis bodoh!


gumam Regan saat mendengar Bintang menanyakan hal bodoh itu.


" Pak kita ke apotik dulu, "


ucap Regan yang mulai sibuk dengan ponselnya.


" Baik Tuan, "


ucap pak Jang.


Bintang yang mendengar ucapan Regan hanya cuek, ia tetap pada pandangannya keluar jendela.


Mobil pun berhenti tepat di depan apotik.


Regan pun bergegas keluar mobil dan berjalan masuk ke dalam Apotik. Tak butuh waktu lama Regan pun keluar dan kembali ke mobil dengan membawa kantong plastik yang sudah berisi obat dan minyak oles.


" Kita antar pulang gadis ini dulu pak! "


ucap Regan yang sudah duduk di samping Bintang.


*C*ihh!


kau bahkan tak mau menyebut namaku!


gumam Bintang yang pura-pura tidak mendengar ucapan Regan.


Tiga puluh menit pun berlalu, kini mobil Regan sudah sampai tepat di depan rumah Bintang.


Sebelum Bintang keluar Regan memberikan kantong plastik yang ia bawa dari apotik tadi.


" Oleskan ke kakimu sebelum tidur! dan minum obat anti nyerinya, "


ucap Regan dengan wajah datarnya yang memberikan kantong plastik tadi tanpa menoleh.


" Terimakasih Tuan, "


ucap Bintang yang mengambil kantong plastik itu dengan bibir manyun karena kesal melihat ekspresi Regan.


" Untuk besok kau boleh datang terlambat, kau pergilah kedokter, periksakan kakimu itu!"


ucap Regan datar tanpa ekspresi.


" Baik Tuan, terimakasih, "


ucap Bintang yang kemudian keluar dari mobil.


Harusnya kau meminta ma'af ,ini terjadi atas kesalahanmu !


gerutu Bintang yang sudah berada di luar mobil.


Sebelum mobil kembali melaju Regan menoleh ke arah Bintang dan menatapnya lekat.


Eits..! kenapa dia menatap ku seperti itu,apa dia bisa mendengar fikiranku lagi?


gumam Bintang yang takut Regan tau isi fikiranya.


" Apa kau butuh bantuan ku untuk masuk kedalam rumah? "


tanya Regan dengan tatapan mautnya.


" Tidak Tuan Terimakasih "


ucapan Bintang dengan senyum yang di paksakan,ia tak mungkin membiarkan Regan menggendongnya lagi.


" Beristirahatlah, "


ucap Regan datar lalu menutup kaca mobilnya.


Sedangkan Bintang hanya membalas dengan menunduk hormat.


Mobil Regan pun kembali melaju hingga Bintang tak dapat melihat lagi.


Malam berlalu begitu cepat, kini sinar mentari mulai menyapa, Bintang pun memulai aktivitasnya.Tak seperti biasa, Bintang harus melakukan aktivitas pagi ini dengan menahan rasa sakit pada kakinya.


Ma...


Bintang butuh Mama...


rengek Bintang manja yang sedang memasak untuk sarapannya sendiri.


Bintang sekarang sedang memasak nasi goreng dengan telur ceplok sebagai pelengkap.


Bintang yang telah selesai memasak pun mulai menyiapkan makanannya sendiri di atas piring, saat ia akan menyendokkan makanan ke mulutnya terdengar suara ketukan pintu yang menghentikan Bintang untuk melanjutkan makanya.


*A*ishh..!


siapa pagi-pagi begini sudah bertamu !


gerutu Bintang sambil berjalan menuju pintu.


*C*ekreek..


suara Bintang membuka pintu,


" Hmmmm... siapa ya?


ada perlu apa? "


tanya Bintang malas, Bintang mengedarkan pandangannya namun tak ada satu orang pun disana.


Bintang pun kembali menutup pintunya.


" Woi... woii... wooiii!


jangan ditutup! "


suara Rafa yang baru saja memindahkan mobilnya.Rafa pun berlari ke arah Bintang.


" Jadi kau yang bertamu sepagi ini?"


" Kau dari mana? "


imbuh Bintang yang mulai berjalan menuju meja makan dengan kaki yang sedikit pincang karena menahan sakit.


" Aku baru saja memindahkan mobilku yang katanya menghalangi mobil tetanggamu itu!


eits..! kakimu kenapa Bi?


kenapa bisa bengkak segede ini?"


ucap Rafa yang langsung memapah Bintang menuju meja makan.


" Aku hanya terkilir, "


ucap Bintang yang mulai duduk di kursi nya.


Bintang pun mulai menyendokkan nasi goreng ke mulutnya tanpa menawari Rafa yang sudah duduk di depannya.


" Kau tega sekali memakannya sendiri! "


ucap Rafa sambil menelan ludahnya sendiri.


Bintang tetap tak menghiraukan Rafa dan terus makan dengan lahapnya.


" Bagi dong! satu suap! "


imbuh Rafa yang langsung menggeser piring Bintang ke hadapannya.


Rafa mulai menyendok nasi goreng satu sendok penuh kedalam mulutnya, ia pun begitu menikmati nasi goreng milik Bintang.


" Kembalikan,itu punyaku! "


ucap Bintang kesal dengan kelakuan sahabatnya itu.


" Sebentar-sebentar,satu suap lagi, "


ucap Rafa yang masih ketagihan dengan nasi goreng buatan Bintang.


" Dua suap lagi ya... eh! tiga suap.. tiga suap, "


ucap Rafa yang masih makan dengan lahapnya yang sesekali memandang ke arah Bintang.Rafa makan dengan lahapnya, tak terasa kini tinggal satu suapan terakhir.


Bintang yang melihatnya pun begitu kesal.


" Kau bahkan tak menyisakan untuk ku!"


ucap Bintang menyilangkan tangan ke dada dengan bibir manyun.


Rafa hanya terkekeh melihat tingkah Bintang.


" Aku akan mengambilkan untukmu!


masih ada kan? "


ucap Rafa yang langsung mencari di dapur tanpa menunggu jawaban dari Bintang.


Rafa mulai menyiapkan sisa nasi goreng buatan Bintang ke piring,Rafa yang tidak menemukan telur ceplok pun membuatkan yang baru untuk Bintang.Kini Rafa kembali dengan membawa sepiring nasi goreng dan telur ceplok buatanya.


" Ini makanlah, kau harus makan banyak, "


ucap Rafa dengan tersenyum nyengir.


Bintang menerimanya dengan memanyunkan bibir karena geram dengan kelakuan Rafa.


Sedangkan Rafa masih saja nyengir di hadapan Bintang, karena ia tau saat ini Bintang benar-benar kesal karenanya.


Tanpa basa-basi Bintang pun mulai memakannya dengan lahap.


" Bi, apa kau sudah mengobati kakimu? "


tanya Rafa yang memperhatikan Bintang makan.


" Nanti aku akan meminum obatnya, "


ucap Bintang yang masih menikmati makanannya.


" Kenapa kakimu bisa terkilir? "


tanya Rafa yang terus memperhatikan Bintang.


" Ceritanya panjang Fa,


tolong anterin aku pergi ke kantor ya..


tak mungkin kan aku menaiki blue dengan kaki ku yang seperti ini, "


ucap Bintang yang kini mulai beranjak bangun dari kursinya.


" Kau yakin akan kerja dengan kaki gajahmu itu? "


tanya Rafa yang meledek kaki Bintang.


Bintang yang mendengarnya pun ingin memukul Rafa, tapi dengan gesit Rafa menghindar dengan tawa yang menggema.


" Ingatlah!


jika sembuh akan ku tendang kau dengan kakiku ini! "


ucap Bintang kesal sambil menunjuk kakinya yang bengkak.


Sedangkan Rafa masih saja tertawa melihat tingkah Bintang.


" Kau tunggu disini aku Siap-siap dulu, "


imbuhnya dengan nada yang kesal.


Tak berapa lama Bintang pun keluar dengan paras yang cantik.Bintang mengikat rambutnya yang panjang, ia memakai kemeja putih dengan rok pendek berwarna hitam dengan belahan tinggi di belakang,tak lupa ia tetap memakai high heels nya.


" Kau yakin akan menggunakan sepatu itu Bi?


lihatlah,kau menyiksa kakimu! "


tanya Rafa yang khawatir dengan kaki Bintang yang bengkak namun tetap di paksakan menggunakan high heels.


" Sudahlah!


kau tak tau bagaimana peraturan kantor ku Fa!


aku sudah meminum obat anti nyeri,itu sedikit membantuku mengurangi rasa sakit.


ayo kita jalan! "


ucap Bintang mulai berjalan menuju mobil.


" Kau memang keras kepala, "


ucap Rafa yang mulai membantu Bintang menuju mobilnya.


Rafa tak bisa berucap banyak,karena sifat Bintang yang memang keras kepala.


Bintang dan Rafa pun sudah duduk di tempat masing-masing. Rafa yang duduk di kursi kemudi pun melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.Rafa memasang earphone di telinganya dan tetap fokus mengemudi sedangkan Bintang mulai sibuk dengan ponselnya.