
Wajah Bintang dan Regan pun kini sama-sama datar tanpa ekspresi, Regan pun kini menoleh ke arah pintu dengan tatapan membunuh.
" Ma'af, saya akan menutup kembali pintunya, " dengan nyawa yang terasa sudah di ubun-ubun David bergegas menutup pintu.
" Dosa apa yang kau lakukan Dav,semoga setelah ini kau bisa pulang hidup-hidup, " do'a David di balik pintu.
Sedangkan di dalam ruangan Bintang mulai mengomel.
" Kau sih! pasti Tuan David sekarang mikir yang enggak-enggak ! " mendorong tubuh Regan dan mulai berjalan keluar dengan bibir manyun nya.
" Otaknya tidak akan sempat mikir yang enggak-enggak,panggil David kesini! " ucap Regan datar.
Bintang yang sudah berada di mejanya pun segera menghubungi David melalui telepon interkom, tak lama kini David sudah berjalan berlalu di hadapan mejanya dengan wajah putih pucat memasuki ruangan Regan.
" Apa dia sakit ? " batin Bintang yang melihat wajah pucat David.
Didalam ruangan David mulai menghadap Regan, dalam Do'anya semoga ia masih di beri umur panjang karena kini ia berhadapan dengan orang yang siap mencabut nyawanya kapan saja .Dengan wajah putih pucat ia berdiri menunduk di hadapan Regan.
" Ma'af Tuan, tadi saya tidak ada niat untuk mengganggu kebersamaan Tuan dengan nona Bintang, " ucapnya dengan gemeter.
" Hmmm..lupakan saja masalah tadi, sekarang siapkan beberapa orang untuk mengawal Bintang,jangan sampai Bintang tau, " ucap Regan dengan sorot matanya yang tajam.
" Baik Tuan, tapi kenapa Nona Bintang harus di kawal, apa ada yang berniat buruk padanya? " tanya David.
" Stella, dia belum berubah, "
" Baik Tuan, saya akan segera menyuruh orang-orang kita untuk mengawal Nona Bintang, "
" Sekarang kembalilah ke ruangan mu, "
" Permisi Tuan, " pamit David yang sekarang bisa bernafas lega setelah dari tadi dadanya terasa sesak.
" Syukurlah.. aku masih bisa menghirup oksigen , " batinnya.
Tampak Regan yang mulai menundukkan kepala dengan dua jari yang menyangga keningnya,terlihat jelas ia sedang memikirkan sesuatu.
" Aku harus bergerak lebih cepat dari pada Stella,aku pastikan dia tidak akan mempunyai ruang untuk menganggu hubungan ku dengan Bintang, dan jika dia yang membuat Bintang jatuh ke kolam aku tidak akan segan lagi untuk menjebloskannya ke penjara, " gumam Regan yang teringat kejadian dua tahun lalu yang membuatnya kini harus berhati-hati dengan Stella.
Hari semakin sore tak terasa kini langit sudah berwarna jingga keemasan, tampak kantor Atmajaya Grup mulai sepi tanda bahwa semua karyawan sudah pulang, termasuk Regan dan Bintang yang kini dalam perjalanan pulang. Pekerjaan yang tidak terlalu banyak membuat mereka tidak harus lembur hari ini, mereka juga bisa pulang lebih awal dari biasanya.
" Nanti malam kau harus mentraktir ku makan malam, " ucap Regan dengan senyum menyeringai.
" Kenapa aku harus mentraktir mu makan malam ? "
" Hukuman untuk mu jadi tidak ada penolakan, " ucapnya dengan tegas.
" Hukuman? aku salah apa? " tanya Bintang bingung.
" Kau ini amesia atau emang sudah pikun, kau tadi bagi sudah membuatku kehilangan beberapa investor, apa kau lupa? "
" Tadi aku kan udah jelasin kalau itu semua karena nenek sihir! jadi itu bukan salahku,kau hukum saja si nenek sihir ! " ucap Bintang kesal.
" Tapi kau yang menumpahkan air dalam gelas, jadi kau tetap salah, " ucap Regan yang sengaja mencari-cari kesalahan Bintang.
" Percuma aku terusin perdebatan ini,aku juga tidak akan menang jika berdebat dengannya, " batin Bintang pasrah.
" Hmmmm... iya, iya..., aku terima hukumannya, " ucapnya malas.
" Nona Regan memang selalu pintar dalam memilih jawaban, " ucapnya tersenyum menang.
Bintang pun hanya bisa membuang nafasnya kasar.
Regan pun tersenyum menang kini tampak ia mulai menghubungi seseorang melalui ponselnya.
Tak lama kini mobil Regan berhenti tepat di depan rumah Bintang, seperti biasa Regan selalu mengawal Bintang sampai depan pintu rumahnya.
" Aku masuk dulu, sana cepatlah pulang, " suruh Bintang agar Regan cepat pergi karena dari tadi terus menatapnya.
" Yakin nyuruh aku pulang? nggak mau nerusin yang tadi ? " jawabnya dengan senyum menyeringai.
" Yang tadi apa? " ucap Bintang yang tak mengerti maksud Regan.
" Tadi di kantor, "
" Udah ah aku nggak ngerti, aku capek mau istirahat,udah sana cepet pulang, " alibi Bintang yang pura-pura nggak ngerti padahal sekarang ia tau maksud Regan yang ingin melanjutkan ciuman yang tadi gagal.Bintang pun mendorong tubuh Regan untuk menjauh dari rumahnya.
Regan hanya tersenyum tipis menerima kelakuan calon istrinya itu, ia pun mulai memasuki mobilnya.
" Nanti malam aku jemput jam tujuh,jangan lupa dandan yang cantik aku nggak mau melihat wajah kusam mu itu! " ucapnya pada Bintang yang akan menutup pintu rumah.
Bintang pun hanya membalas dengan wajah datarnya karena Regan suka sekali menghinanya ia pun mulai menutup pintu saat mobil Regan sudah melaju.
Kini Bintang tiduran di ranjangnya ia memegang dadanya yang bergemuruh.
" Aaaaaa...otak suci ku ternodai....kenapa sekarang aku malah terus membayangkan bibir lemesnya itu....,jangan sampai aku tertular otak mesumnya itu ya Allah, kuatkan imanku saat bersamanya, " langsung beranjak dari ranjangnya dan bergegas mandi agar otaknya kembali bersih.
Di tempat lain,
kini Regan sudah memasuki rumahnya dengan bersiul-siul ria, tampak senyuman terus mengembang di pipinya.Ia kembali merasakan yang namanya jatuh cinta setelah sekian lama terpuruk karena masa lalunya.
" Sore Ma, Pa, " sapa Regan yang melewati kedua orang tuanya yang sedang duduk di ruang keluarga.Ia pun berlalu dan mulai naik ke lantai atas dengan senyum yang masih mengembang di pipinya.
Tuan Williams dan Mama Nita yang melihat sikap Reganpun tersenyum tipis.
" Lihatlah lah Pa, anakmu benar-benar sedang jatuh cinta, " ucap mama Nita.
" Iya,sudah lama kita tidak melihatnya seperti itu, "
" Mama gak sabar pingin cepet-cepet gendong cucu, "
" Mama ini, tunangan aja belum udah mikir cucu, mending kita buatin aja Regan adik, " ucap Tuan Williams dengan senyum menyeringai.
" Ingat umur Pa,uban udah banyak tuh! apa pingin mama fotoin biar papa gak lupa? " ucap mama Nita yang kesal dengan suaminya yang mulai genit.Mama Nita pun melangkah pergi meninggalkan suaminya.
Sedangkan Tuan Williams hanya terkekeh mendengar ocehan istrinya.
Waktu berjalan begitu cepat kini Regan sudah berada di depan rumah pujaan hatinya.
Tak lama Bintang pun keluar, ia menggunakan baju yang tertutup karena Regan pasti akan memarahinya jika ia memakai baju kurang bahan.Bintang memilih menggunakan blouse berwarna merah, rambutnya yang terurai dan make up yang natural membuatnya semakin tampak cantik alami membuat Regan tak berkedip melihat calon istrinya itu.
" Ehem.., " suara batuk Bintang yang menyadarkan Regan karena terpana akan kecantikan pujaan hatinya itu.
Regan yang tersadar pun bergegas membukakan pintu mobil untuk Bintang.
" Mari silahkan masuk Tuan putri, " ucapnya yang membuat wajah Bintang merah merona.
Bintang pun kini duduk di bangku depan, di susul Regan yang duduk di bangku kemudi. Regan sengaja membawa mobilnya sendiri karena ia ingin menghabiskan malam ini hanya berdua dengan Bintang.Kini Regan pun mulai melajukan mobilnya,selama perjalanan Regan sesekali melirik pujaan hatinya itu hingga membuat sangat pujaan hati tak nyaman dan salah tingkah.
" Fokuslah mengemudi jangan terus melirik ku, " ucap Bintang ketus.
" Bagaimana aku bisa fokus mengemudi jika ada bidadari di sampingku, "
" Tuan Regan pintar sekali ngegombal, nggak inget tadi sore bilang wajahku kusam! "
" Tadi aku hanya bercanda, jangan di ambil hati, " jawabnya sambil mengelus kepala Bintang.
" Kita makan di sana aja ya,menunya enak-enak kok, " ucap Bintang sambil menunjuk sebuah restoran di tepi jalan.
" Karena ini hukuman, jadi aku yang menentukan di mana kita makan, "
" Aish! menyebalkan,dia pasti akan memilih restaurant mewah lagi, " gumam Bintang yang mengingat dulu Regan pernah minta di traktir di salah satu restaurant termewah di kota itu.
Kini mobil Regan berhenti tepat di depan salah satu butik terkenal di kota itu,Bintang yang melihat memicingkan matanya.
" Kita mau makan malam kenapa berhenti di sini? "
" Kostum bidadari ku kurang matching dengan pakaian yang ku pakai jadi aku ingin kau mengganti pakaian mu, " ucapnya mencari alasan,entah apa yang sedang di rencanakan Regan kali ini, Regan pun kemudian turun dari mobil, tak lupa Regan pun membukakan pintu untuk Bintang.Malam ini Bintang benar-benar di perlakukan seperti ratu oleh Regan.
Masih dengan otak yang penuh dengan tanda tanya Bintang sudah di gandeng Regan untuk masuk ke butik itu.
" Aish! mau makan malam aja ribet banget! " gerutu Bintang dalam hati.
Regan dan Bintang sudah berada di dalam butik, Regan pun menyerahkan Bintang pada pemilik butik langsung agar memilihkan gaun yang pas untuk Bintang,sudah beberapa kali Bintang berganti gaun tapi tetap saja tidak ada yang cocok menurut Regan hingga gaun yang terakhir yang membuat Regan tak berkedip melihatnya, gaun berwarna biru turkhis yang membuat Bintang tampak semakin cantik dan anggun.
" Bagaimana Tuan, apa Tuan suka? ini gaun terakhir yang ada di butik ini, " ucap pemilik butik itu.
" Bidadari ku samakin cantik menggunakan gaun ini, " ucapnya tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah cantik Bintang.Bintang yang mendengar ucapan Regan pun tersenyum malu pada pemilik butik, ia pun kini memukul bahu Regan.
" Kau membuat ku malu,berhentilah bilang aku bidadari kau sangat berlebihan," ucapnya berbisik.
" Calon istri ku malu karena ku bilang dia mirip bidadari, padahal dia benar-benar cantik seperti bidadari bukan? " ucap Regan yang malah bicara pada pemilik butik.
" Iya, calon istri Tuan memang benar-benar cantik seperti bidadari, " jawab pemilik butik itu yang membuat wajah Bintang kini merah merona karena malu.
" Dasar si mulut lemes! " gerutu Bintang kesal
" Sekarang siapkan tuxedo untuk ku yang senada dengan gaunnya, " ucap Regan pada pemilik butik yang membuat Bintang bingung.Sedangkan pemilik butik langsung menyiapkan apa yang di minta Regan.Tak butuh lama, kini mereka keluar dari butik menggunakan pakaian yang serasi.
" Kenapa kita harus memakai pakaian seperti ini sih! kita cuma mau makan malam nanti kita di ketawain orang, " ucap Bintang kesal karena Regan mendadaninya bak seorang putri dengan gaun panjang yang menjuntai kebawah yang lebih cocok di pakai saat pesta pernikahan.
" Tidak akan ada yang berani mentertawakan kita, " jawab Regan yang kini sudah mengemudikan mobilnya.
" Dia memang selalu seenaknya sendiri, " gerutu Bintang pelan yang mulai pasrah dan melihat ke arah luar jendela.