My Big Boss

My Big Boss
rumah makan



Tanpa mereka sadari di sudut lain ada dua pasang telinga yang mendengar ucapan Bintang.


" Uhuk.. uhukk.., "


suara batuk Regan karena tersedak.


" Ma'af Tuan, apa anda baik-baik saja, "


tanya Davit yang khawatir dengan Tuanya.


Regan hanya menjawab dengan anggukan kepala tanda bahwa ia tidak papa.


sejujurnya Regan tersedak karena mendengar ucapan Bintang yang akan menjambak nya hingga botak.


*G*adis itu ternyata sangat mengerikan, aku harus berjaga-jaga jika berada di dekatnya bisa-bisa rambutku benar-benar akan botak karenanya.


gumam Regan sambil mengelus-elus kepalanya sendiri.


" Apa Tuan ingin saya menegur Nona Bintang?"


tanya Davit yang juga mendengar ucapan Bintang tadi.


" Tidak, kau lanjutkan saja makanmu, "


ucap Regan datar tanpa ekspresi.


Karena begitu banyak pengunjung Bintang dan teman-temannya tak menyadari bahwa Regan dan Davit berada di rumah makan yang sama dan mereka duduk tak jauh dari meja yang di tempati Bintang. sehingga semua percakapan mereka pun bisa terdengar jelas oleh Regan dan Davit.


Di sisi lain Bintang dan teman-temannya masih saja membicarakan Regan.


" Apa kau akan seberani itu? "


tanya Livia yang tertawa melihat kekesalan Bintang.


" Tentu saja! kalau ada kesempatan aku pasti akan menjambak nya, "


ucap Bintang percaya diri.


" Kau tak perlu melakukan itu!bersabarlah badai pasti berlalu..., "


ucap Rita karena tak mau orang yang ia idolakan di sakiti.


" Aiish...!kau ini! "


ucap Livia sambil mendorong kursi Rita.


" Sudahlah,ayo cepat makan! jangan sampai kita terlambat lagi, "


ucap Bintang yang mulai memakan-makanan yang sudah datang.


mereka bertiga pun mulai menikmati makanan masing-masing.


Waktu istirahat hampir selesai, Bintang dan teman-temannya pun bergegas kembali ke tempat kerja.


" Bi kau duluan saja aku mau ke toilet dulu, "


ucap Livia dan Rita bersamaan.Mereka sekarang sudah sampai di tempat kerja mereka.


" Baiklah, " ucap Bintang yang berjalan menuju lift.


Bintang pun masuk lift kemudian di susul oleh Regan dan Davit yang baru datang.


Bintang melangkah mundur, membiarkan dua Manusia itu untuk berdiri di depannya.


Entah kenapa Regan merasa tak tenang dengan posisinya sekarang. Regan pun mulai melangkah mundur. sedangkan Bintang yang melihat tuanya mundur pun bergeser ke arah samping dengan raut wajah yang penuh tanda tanya.


" Kau pindah ke depan! "


ucap Regan datar tanpa ekspresi.


Bintang yang tak mengerti maksud Tuanya pun hanya mengikuti saja perintah Tuanya.


*Ni*h orang kenapa sih?


gumam Bintang dalam hati sambil mengangkat kedua bahunya tanda ia tak mengerti.


Davit yang melihat tingkah Tuanya pun hanya tersenyum tipis.


Saat pintu lift mulai terbuka Bintang mulai melangkah keluar dan berhenti menunggu Regan berjalan duluan.


" Kenpa berhenti! kau jalan di depan!"


tanya Regan yang sudah berada di luar lift.


" Ma'af Tuan, itu kurang sopan, biar saya berjalan di belakang Tuan, "


Jawab Bintang dengan tenang.


Regan pun mulai berjalan karena semua mata sudah memperhatikan mereka bertiga. tapi Regan masih saja tidak tenang dengan posisinya sekarang.


" Jau jangan terus mengekoriku! berjalanlah di sampingku! "


ucap Regan dengan tatapan tajamnya.


Bintang pun hanya mengikuti walau sebenarnya dia tak mengerti dengan sikap Tuannya itu.


*N*ih orang kenapa ribet banget sih timbang jalan doang!


gerutu Bintang dalam hati.


Bintang merasa punggung nya sangat gatal ia pun mengangkat tangannya ingin menggaruk punggungnya.sedangkan Regan yang melihat Bintang mulai mengangkat tangan seketika menjauhkan tubuhnya dari Bintang.


" Ma'af,Tuan kenapa? "


tanya Bintang yang bingung melihat tingkah Regan.


" Tidak, aku hanya merasa ada yang ingin menjambak rambutku! "


jawab Regan yang sengaja menyindir Bintang.


Bintang malah tertawa terbahak-bahak.


" Ma'af Tuan, saya kelepasan, "


ucap Bintang sambil menutup mulutnya.


Regan hanya diam melihat tawa Bintang.karena ini pertama kalinya Bintang bisa tertawa lepas didekatnya.


" Saya rasa tidak akan ada yang berani melakukannya Tuan, "


ucap Bintang yang tak sadar bahwa dirinya lah yang di maksud Regan.


Apa kau lupa!kau yang baru saja mengatakanya!


Gumam Regan dalam hati yang langsung bergegas masuk kedalam ruangannya.


Sedangkan Davit yang sedari tadi mengekori dua manusia tadi hanya menyembunyikan tawanya.


Kini semua sudah di sibukan dengan pekerjaan masing-masing.


pukul sudah menunjukkan jam tiga sore.


Tok.. tok.. tok..


Suara ketukan pintu Bintang,


" Permisi Tuan, boleh saya masuk? "


tanya Bintang dari luar pintu.


" Hmmmm..., "


jawab Regan tanda mengizinkan.


" Ma'af Tuan mengganggu,saya hanya ingin menyampaikan nanti jam tujuh malam Tuan ada undangan makan malam di restaurant XXX dari Tuan Andrew sebagai ucapan terimakasih,karena sudah bersedia menerima kerja sama dengan perusahaan beliau, "


ucap Bintang sejelas mungkin.


Regan yang sibuk dengan pekerjaannya pun mulai menanggapi ucapan Bintang.


" Dav, nanti malam kau temani aku, "


" Ma'af Tuan, hari ini saya harus ke kantor cabang karena ada sedikit masalah, mungkin saya baru selesai malam nanti, "


ucap Davit yang sedari tadi sudah ada di ruangan Regan.


" Baiklah, kau temani aku nanti malam !"


ucap Regan menatap Bintang datar tanpa ekspresi.


" Baik Tuan, "


ucap Bintang yang terpaksa menerima ajakan Tuanya.


Bintang pun kembali ke mejanya karena tidak ada lagi yang perlu ia kerjakan di ruangan itu.


Bintang mulai sibuk dengan pekerjaannya hingga jam pulang kantor tiba.


" Bi, kita duluan ya, "


ucap Livia dan Rita bersamaan.


" Ya,kalian hati-hati, "


ucap bintang tersenyum manis.


Bintang masih membereskan semua berkas yang ada di mejanya sambil menunggu Regan keluar dari ruangannya.


" Kau belum pulang Bi? "


tanya Doni yang baru kembali dari kerja lapangannya.


" Belum Don, kau kenapa kembali ke kantor? "


tanya Bintang ramah.


" Ada berkas yang harus segeraku selesaikan hari ini, "


jawab Doni berjalan menuju mejanya.


" Apa kau butuh bantuan? "


tanya Bintang mencoba menawarkan bantuan.


" Tidak,kau pulanglah saja!"


jawab Doni mulai membuka laptopnya.


" Aku tidak bisa pulang sebelum Tuan Regan pulang, "


jawab Bintang dengan wajah memelas dihadapan Doni.


" Aahh..!jangan pasang wajah memelasmu di hadapanku!"


ucap Doni dengan wajah cemberut.


" Apa kau yakin tak mau aku bantu?"


jawab Bintang dengan menyilangkan tangan di dada.


" Baiklah jika kau memaksa, "


jawab Doni yang mulai sibuk mengetik di laptopnya. sesungguhnya Doni senang jika Bintang mau membantunya karena pekerjaannya akan cepat selesai.


Bintang pun berpindah tempat ke meja Doni.


mereka bekerja sambil terus bergurau, Regan yang kini sudah keluar dari ruangannya pun tak suka melihat kedekatan Bintang dan Doni.


" Ehem! "


suara batuk Regan yang sengaja dibuat-buat untuk menyadarkan Bintang dan Doni yang sedang asik bergurau bahwa dirinya sudah berada di depan mereka.


Seketika Bintang pun memutarkan kursinya ke asal suara,


" Ma'af Tuan, apa Tuan butuh bantuan, "


tanya Bintang dengan menundukkan kepalanya.


" Kenapa kau membantu pekerjaannya! apa sekarang juga kau ingin berhenti menjadi sekertaris ku! "


tanya Regan dengan tatapan tajamnya.


" Ma'afkan saya Tuan, saya hanya sekedar membantu karena semua pekerjaan saya sudah selesai. Bukanya wajar jika kita saling membantu Tuan,kita disini satu Tim, "


ucap Bintang masih menundukan kepala.


" Kau jangan menggurui ku! siapa bosnya disini! "


tanya Regan dengan tatapan tajam.


" Tuan Regan Atmaja, "


jawab Bintang masih menundukkan kepala.


Sedangakan Doni duduk mematung di kursinya, ia berharap Tuanya tidak memarahinya sekarang.


*D*uh! kumat dah tu penyakitnya...


jangan lihat aku... anggap aku tidak ada..


jangan lihat aku... anggap aku tidak ada..


benak hati Doni yang terus berdo'a agar Regan tak melihat ke arahnya.


" Cepat bereskan semua barang milikmu,ikut aku sekarang! "


ucap Regan pada Bintang dengan tatapannya yang tajam.


Doni pun membuang nafasnya kasar,ia begitu lega setelah Regan berjalan meninggalkan mejanya.


" Baik Tuan, "


jawab Bintang sambil memasukan barang milik nya kedalam tas.


disaat seperti itu Bintang masih sempat berpamitan kepada Doni walau hanya dengan berbisik.


" Aku duluan ya, "


ucap Bintang tersenyum manis sambil berlari mengikuti Regan.


Doni hanya membalas dengan acungan jempol tanda bahwa ia menjawab iya.


Kini Bintang pun terus berjalan mengekori Regan.


Saat mereka sudah sampai di area parkir Bintang pun memberanikan diri untuk bertanya.


_


_


_


_


_


_


_


Nungguin ya.... 😁


kita lanjut besok aja ya guys...


jari-jari Author butuh tidur ... πŸ˜…


tunggu episode selanjutnya ya...


jangan lupa tinggalkan jejak kalian.. πŸ˜‡


happy Reading😊