My Big Boss

My Big Boss
Tidak bisa tidur



David, Maura, Regan dan Bintang kini sudah berada dalam perjalanan pulang ke kediaman keluarga Atmaja.Tampak Regan yang kini merangkul tubuh ramping istrinya sembari mengelus perut rata milik istrinya itu.


" Cepatlah keluar sayang, daddy tidak sabar ingin melihatmu, " ucapnya yang membuat Bintang kini memicingkan matanya.


" Daddy? " ucapnya nya dengan tersenyum tipis.


" Iya,kenapa? kau tidak suka jika anak kita nanti memanggilku daddy? "


" Tidak.Aku hanya keinget Cello, gimana ya kabar anak itu.Hemm jadi kangen. " Bintang pun mulai mengingat-ingat kebersamaannya bersama Cello.Sementara Regan kini malah bermuka masam mendengar nama Cello.


" Sayang, nanti kau jangan nakal seperti bocah tengil itu ya, kau harus jadi anak baik, penurut seperti daddy, " ucapnya sambil mengelus-elus perut Bintang lagi.


Bintang pun kini tersenyum tipis.


" Iya daddy, " Bintang pun menjawab ucapan suaminya itu dengan suara layaknya anak kecil membuat Regan gemas dan kini mencubit kedua pipinya.


" Cepatlah lahir sayang, kau harus melihat betapa menggemaskan momy mu ini, " ucap Regan yang terus mencubit kedua pipi Bintang.


" Kau suka sekali mencubit pipiku, sakit tau! " Bintang pun melepas tangan suaminya itu dari pipinya.


" Benarkah? aku tadi tidak terlalu keras mencubit nya. "


" Kau bilang tidak terlalu keras?lihat nih pipi ku sampai merah gini! " Bintang pun menunjuk kedua pipinya membuat Regan kini langsung mencium pipi mulus istrinya itu.


" Gimana? sekarang sudah tidak sakit kan? " ucap Regan yang membuat Bintang kini memukul bahunya pelan.


" Mana ada di cium sakitnya hilang! "


" Kalau enggak hilang berarti dosisnya perlu di tambah. " Regan pun kini mulai mencium lagi kedua pipi Bintang, kening, hidung dan terakhir bibir mungil istrinya itu yang membuat Bintang kini mencubit kecil perut suaminya.


" Malu tuh sama David dan Maura! " ucapnya kesal.


" Tenang nona, anggap saja kita tidak ada, " sahut Maura yang menangis dalam hati.


" Kenapa malah uwu-uwuan sih! gak sadar apa kalau yang di sini masih jomblo! hiks.. hiks.. hiks..nasib..nasib, " gerutunya dalam hati.


" Ma'af ya Maura membuatmu tidak nyaman, " ucap Bintang yang sebenarnya malu akan tindakan suaminya yang tidak tau tempat itu.


" Tidak papa nona. " Maura pun tersenyum getir,ia pun kini menatap David yang tetap fokus mengemudi itu.


" Bisakah manusia kaku ini romantis? ah! bicara apa aku? sampai monyet-monyet pada lebaran juga manusia kaku ini gak bakalan bisa romantis.Oh Tuhan,kenapa tuan Regan sempurna sekali? " gumamnya dalam hati.


Wajah Maura pun kini tampak begitu kesal, berbeda dengan wajah David yang tetap biasa saja.


Sementara Regan kini tampak tersenyum tipis melihat istrinya yang kini sedang memelototinya.Ia yang tau istrinya itu kesal karena ulahnya pun kini merangkul erat bahu istrinya.


" Jangan cemberut nanti cepet tua, " bisiknya pelan yang membuat Bintang kini tersenyum masam.


Regan pun tersenyum melihat istrinya itu, ia pun kini mulai mengamati sekeliling dan di lihatnya penjual rujak pinggir jalan yang membuatnya kini menelan ludahnya sendiri.


" Berhenti Dav! " perintah Regan yang membuat David kini menghentikan laju mobilnya.


" Sayang rumah masih jauh kau mau apa? " tanya Bintang bingung karena suaminya itu menyuruh David berhenti tiba-tiba.


" Kau lihat penjual rujak itu? sepertinya enak, kita makan rujak dulu ya? "


" Hah? " Bintang pun terkejut dengan ajakan suaminya itu.


" Ayo sayang, " ajak Regan yang kini mulai turun dari mobil.Dengan sedikit bingung Bintang pun menerima ajakan suaminya itu.


" Dav, Maura ayo turun kita makan rujak dulu, " ucap Regan yang kini mengajak Maura dan David.


Reaksi Davidpun sama dengan Bintang,ia tak. kalah terkejutnya,benarkah tuannya ini akan makan di pinggir jalan? pasalnya selama bertahun-tahun bersama Regan David tidak pernah melihat satu kalipun tuannya itu makan di pinggir jalan.Apa lagi sekarang mengajak makan rujak pinggir jalan, menurutnya ini sangat mustahil di lakukan oleh Regan Atmaja.


" Bagaimana tuan?kita ikut turun? " tanya Maura pada David.


" Iya, kita ikuti saja. " David pun kini terun dari mobil dan mulai mengikuti tuannya yang sudah berjalan lebih dulu.


" Pak rujak nya empat ya? " ucap Regan yang kini berbicara pada penjual rujak.


" Iya tuan, mau di bawa pulang atau makan disini? "


" Makan di sini.Ini yang bulet-bulet ijo buah apa pak? " tanya Regan sambil menujuk buah yang ia maksud.


" Oh,ini buah kedondong tuan, " jawab bapak penjual rujak itu sambil meracik rujaknya.


" Buah kedondong rasanya gimana pak? "


" Asam tuan. "


" Owh." Regan pun kini manggut-manggut, " yang punyaku banyakin buah kedondong nya ya pak, " ucapnya lagi.


" Baik tuan. "


" Di sini yang asam lagi buah apa pak? " tanya Regan lagi.


" Ini ada mangga muda sama nanasnya juga sedikit asam tuan. "


" Ya sudah yang punyaku di banyakin ya pak mangga muda sama nanasnya. "


" Baik tuan. "


" Pak? "


" Apa lagi tuan? " Bapak penjual rujak itu pun sepertinya mulai kesal karena Regan terus bertanya.


" Itu bumbunya gak pedas kan? "


" Tergantung selera tuan. "


" Yasudah punyaku jangan pedas-pedas ya, manis saja terus punya istri ku juga manis.Dav, Maura kalian mau pedas atau manis? " tannya kini pada David dan Maura.


" Sedang saja tuan, " jawab David dan Maura kompak.


" Cih! mereka kompak sekali, " gumamnya pelan," milik mereka sedang ya pak? " ucapnya kini pada bapak penjual rujak.


" Baik tuan. "


Sementara Bintang yang melihat suaminya ternyata begitu cerewet pun tak berkedip melihatnya.


" Sejak kapan dia jadi cerewet gini? biasanya juga apa-apa nyuruh David, " gumamnya dalam hati.


Kini Regan pun ikut bergabung dengan Bintang, David dan Maura yang sudah lebih dulu duduk. Mereka yang kini menatapnya tak berkedip pun membuatnya memicingkan matanya.


" Ada apa?kenapa melihatku seperti itu? "


tannya nya heran.


" Ti...tidak tuan, " jawab David sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia tidak percaya dengan apa yang ia lihat tadi karena itu jauh dari Regan yang ia kenal selama ini. Regan pun kini duduk di depan istrinya.


" Sayang kau punya riwayat penyakit lambung,kenapa malah pesan buah yang asam-asam! " ucap Bintang tak suka.


"Sekarang aku ingin sekali makan buah-buahan itu,cuma kali ini aja besok enggak lagi. "


" Tetap saja itu tidak boleh! kau tidak ingat bagaimana dulu kau di rawat dirumah sakit! kau mau itu terulang lagi! " Bintang pun mulai naik darah membuat Regan kini membuang nafasnya kasar,wajahnya kini tampak masam, dari pada mendengar istrinya terus mengomel lebih baik dia menurut saja. Kenapa wanita begitu berisik? pikirnya kini.


" Yasudah iya nanti cuma ngicip sedikit, " jawabnya kemudian.


Tak lama rujak yang sudah di tunggu-tunggu Regan pun akhirnya datang juga.Terlihat Regan yang begitu antusias ingin segera menikmati rujak yang sudah di hadapannya itu,namun tidak untuk Bintang,ia malah merasa mual setelah melihat rujak yang sudah tersaji di hadapannya.


" Sayang kau kenapa? " tanya Regan khawatir.


" Sepertinya aku tidak bisa memakannya, aku tunggu di mobil aja ya, inget jangan makan buah yang asam! " ucap Bintang yang kini bergegas kembali ke mobil.


" Kau benar tidak papa? " tanya Regan lagi.


" Iya,kau makan saja. "


Kini Regan pun mulai menikmati rujak pesanannya,karena alasan kesehatan ia pun benar-benar hanya mencicipi buah yang berasa asam itu secuil,menyebalkan sekali padahal Regan sebenarnya ingin sekali memakan semuanya.Sementara Maura kini menatap Regan penuh tanya.


" Ini yang hamil sebenarnya siapa sih? kenapa yang kepingin makan rujak malah tuan Regan? " gumamnya dalam hati.


Setelah makan memakan rujak itu selesai kini Regan, David dan Maura pun menuju mobil. Mereka pun kembali melanjutkan perjalanan mereka.


" Sayang, kau benar tidak papa? " tanya Regan pada Bintang.


" Iya aku tidak papa.Gimana rujak nya,enak? " tannya Bintang kini.


" Tidak karena kau tidak ikut memakannya. "


" Ish! kau ini! "


Tak lama kini mobil yang di kemudikan David pun berhenti tepat di depan rumah Regan.


" Maura apa hari ini masih ada jadwal pertemuan yang harus aku temui? " tanya Regan yang kini mulai turun dari mobil.


" Tidak tuan. "


" Baiklah aku hari ini tidak kembali ke kantor, jika ada berkas penting yang harus aku tandatangani kau taruh saja di mejaku,aku akan menyelesaikannya besok. "


" Baik tuan. "


" Ya sudah kalian kembalilah ke kantor. "


" Kami permisi tuan, " pamit Maura yang kini kembali masuk kedalam mobil bersama David.Kini David pun mulai melajukan mobilnya.


Sementara Regan dan Bintang kini berjalan masuk ke rumah.


" Kalian sudah pulang tumben sekali? " tanya mama Nita yang melihat Regan dan Bintang kini sudah berada di rumah.Tidak biasanya kedua anaknya itu siang hari sudah berada di rumah.


" Iya ma,Bintang harus banyak istirahat , " jawaban Regan yang membuat mama Nita kini tampak khawatir.


" Apa Bintang sakit Rey? " tanya nya.


" Tidak ma, Regan ada berita gembira untuk mama, " ucap Regan seraya merangkul bahu mamanya itu.


" Berita gembira? apa itu Rey? " mama Nita pun mulai penasaran.


" Bintang hamil ma, " ucap Regan yang membuat mama Nita tampak begitu terkejut.


" Benarkah? " ucapnya tak percaya, " kau benar hamil sayang? " tanya nya kini pada bintang.


" Iya ma, " jawab Bintang yang kini membuat mama Nita tersenyum lebar.


" Jadi mama sebentar lagi punya cucu? "


Bintang pun mengangguk dengan senyuman tipis di bibirnya, ia bahagia melihat kebahagiaan yang terpancar dari wajah ibu mertuanya itu.


" Terimakasih ya sayang, " ucap mama Nita yang kini memeluk Bintang.


" Ma jangan erat-erat nanti anak Regan kegencet! " protes Regan yang kini menarik tubuh mama Nita.


" Apanya yang kegencet sih Rey! " Mama Nitapun membuang nafasnya kasar, ia tak habis fikir dengan sikap putranya yang berlebihan itu.


" Ya kan bisa saja ma nanti anak Regan yang masih di dalam perut itu susah nafas karena mama peluk-peluk! "


" Aish! kau ini Rey? " mama Nita pun memukul pelan bahu Regan.


" Regan bawa Bintang istirahat dulu ya ma. "


" Iya sayang istrimu harus banyak istirahat.Mama cari papa dulu di halaman belakang. "


" Iya Ma. "


Mama Nita pun kini tampak berlari kecil menuju halaman belakang.


" Papaaaaaa... Bintang hamil pa... kita bentar lagi gendong cucu, " teriakan mama Nita yang terdengar menggema di seluruh ruangan.


Bintang pun tersenyum lebar melihat tingkah ibu mertuanya yang tampak kegirangan itu.


" Mama Dewi juga pasti sangat bahagia setelah mendengarnya. " Bintang pun kini menatap suaminya penuh arti.


" Kau benar sayang,aku harus segera memberi tahu mama, " ucapnya tersenyum tipis.


" Ya kau bisa hubungi mama sambil istirahat di kamar, " ajak Regan yang kini mulai merangkul bahu istrinya.Mereka pun kini berjalan menuju kamar.Tampak raut wajah keduanya kini begitu bahagia.


Sedangkan di tempat lain tampak David yang kini tengah fokus mengemudi.Tidak ada percakapan di sana. Maura yang biasanya terus menggoda David kini memilih diam karena masih kesal mengingat sikap David waktu di rumah sakit.


Sementara David yang melihat Maura terus diam pun merasa ada yang kurang dalam dirinya.David pun kini melirik Maura.


" Kenapa dia terus diam? kenapa tidak berisik seperti biasanya?ah! kenapa aku malah berharap dia bertingkah seperti biasanya? bukankah dia diam lebih baik? ini kan yang aku harapkan?Shiiiit! ada apa dengan ku! " David pun kini memukul kemudinya membuat Maura terkejut dan menatapnya heran.


" Kenapa? " tanya Maura.


" Hah! tidak. " David pun berusaha tetap bersikap dingin, sementara Maura kini mengangkat bahunya tak mengerti.Maura pun kini memilih memainkan ponsel nya.


" Maura, " panggil David.


" Iya,ada apa? "


" Emmmm.., bisakah kau naik taxi?aku harus kembali ke rumah sakit menemui nona Tania. "


" Owh, oke baiklah. "


David pun begitu terkejut mendengar jawaban Maura. Kenapa dia tidak menolaknya? pikirnya saat ini.


David pun kini menghentikan laju mobilnya. Raut wajahnya tampak kecewa melihat Maura yang kini benar-benar turun dari mobilnya.


" Sadar Dav sadar! kau ini kenapa! " David pun memukul-mukul keningnya dan kini mulai melajukan mobilnya berlalu begitu saja di hadapan Maura.


" Dasar manusia super tega! bisa-bisanya kau benar-benar meninggalkan aku disini! " teriak Maura kesal.


David yang kini sudah sampai di rumah sakit pun bergegas menuju ruangan Tania tadi berada.Namun tidak ada siapapun yang ia lihat. kini David pun mulai menghampiri perawat yang tengah berjaga.


" Ma'af Sus, pasien yang ada diruangan itu dimana ya? " tanya nya.


" Pasien tadi tiba-tiba saja di temukan pingsan di kursi roda, karena kondisinya kritis sekarang di pindah ke ruangan ICU, " tutur perawat itu.


" Terimakasih Sus, " David pun kini bergegas menuju ruangan ICU.Ia pun kini bisa melihat dokter sedang melakukan tindakan dari balik jendela kaca.David pun kini menunggu dokter itu keluar dan tak berapa lama kini dokter yang memeriksa Tania itu pun keluar.


" Ma'af dok bagaimana kondisi pasien? " tanya David pada dokter yang kini sudah berada di hadapannya.


" Apa anda keluarganya? " tanya dokter itu.


" Bukan dok, saya temannya saya yang membawanya kesini. "


" Owh, kondisi pasien sudah membaik, sekarang pasien akan di pindah ke ruangan perawatan, " tutur dokter itu.


" Syukurlah, terimakasih dok. "


Dokter itupun kini berlalu pergi dan kini tampak wanita paruh baya berjalan tergopoh-gopoh menuju ruangan ICU.Wajahnya tampak begitu khawatir.


" Dav kau ada di sini? " tanya wanita itu yang kini melihat David berdiri di ruangan ICU.


" Ya, saya yang membawa nona Tania kesini. "


" Bagaimana kondisi Tania? kenapa dia bisa kembali drop? "


" Saya tidak tau apa alasannya tapi nyonya tidak perlu khawatir sekarang kondisi nona Tania sudah membaik dan bisa di pindah ke ruang perawatan, " jelas David.


" Syukurlah, terimakasih Dav. "


David pun menundukkan kepala dengan senyuman tipisnya.


" Karena nyonya sudah ada disini jadi saya pamit undur diri karena masih banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan di kantor.Semoga nona Tania cepat sembuh dan tolong ucapkan salam saya pada nona Tania, " ucapnya kemudian.


" Iya saya akan sampaikan salam dari mu, sekali lagi terimakasih Dav. "


" Sama-sama Nyonya. " David pun kini berlalu pergi.


" Tania sayang? kenapa kau sampai seperti ini? " ucap wanita paruh baya itu yang tak lain adalah tante Nia.Kini tante Nia pun mulai memasuki ruangan Tania kini di rawat.Tante Nia pun mengusap lembut wajah putrinya yang kini sudah berada di hadapannya.Tampak Tania yang tampak diam termenung.


" Kenapa tiba-tiba kondisi mu seperti ini,kemarin kondisimu baik-baik saja bahkan semakin membaik, apa yang terjadi sayang? " tanya tante Nia pada putrinya itu.


" Regan ma. "


Tante Nia pun mengernyitkan dahinya, mungkinkah putrinya seperti ini karena tau Regan sudah menikah?


" Kenapa dengan Regan sayang? " tanya nya kini.


" Regan ternyata sudah menikah. " ucapan Tania yang membuat tante Nia kini membelalakkan matanya.


" Jadi kau sudah tau? " tanya nya yang membuat Tania kini menatap ibunya itu penuh arti.


" Maksud mama apa? jangan bilang mama sudah mengetahui ini semua dari awal. "


" Ma'af kan mama sayang. "


" Mama kenapa tidak memberi tahu Tania!kenapa kalian semua menyembunyikan ini semua dari ku! " Tania pun kini tampak begitu kecewa.


" Ma'af kan mama sayang, kita semua melakukan ini karena tidak ingin kau jatuh sakit lagi seperti ini.Sekarang kau sudah tau kebenarannya,itu berarti mulai detik ini kau harus melupakan Regan,jangan fikirkan dia lagi, itu akan lebih baik untuk kesehatan mu. "


" Tidak ma,Tania tidak bisa melihat Regan bersama orang lain."


" Sayang ini semua dampak dari keputusan yang kau ambil dulu harusnya kau sudah siap untuk ini. "


" Tania tau ma, tapi Tania tidak bisa mengikhlaskan Regan bersama orang lain. "


Tante Nia pun kini mengusap lembut kepala Tania,ia tau bagaimana perasaan anak perempuan nya saat ini.


" Kau pasti bisa sayang, kau harus mencobanya, perlahan kau pasti bisa melupakan Regan, " ucapnya kini.


Tania pun terdiam, haruskah dia melupakan Regan dan merelakannya bersama orang lain?


Senyuman tipis pun kini terlihat di sudut bibirnya.Tidak! sepertinya tidak.Aku harus mengambil apa yang aku miliki dulu. itulah pikirnya saat ini.


Tak terasa hari pun semakin gelap, malampun semakin larut, terlihat Regan yang tidak bisa tidur dan kini terus berjalan mondar-mandir di kamarnya, entah apa yang membuatnya kini tidak bisa tidur.


Sementara di tempat lain tampak David yang kini baru saja keluar dari kantor. Malam ini ia harus lembur karena banyak pekerjaan yang memang harus segera ia selesaikan.


David pun kini mulai melajukan mobilnya,saat melewati gerbang depan ia melihat Maura yang kini tengah berdiri di pinggiran jalan.Entah apa yang membuat tangannya kini membawa mobilnya berjalan ke arah Maura, yang jelas David pun tidak sadar dengan apa yang ia lakukan kini.


" Maura, kau sedang apa? " tanya David dari dalam mobilnya.


" Saya sedang menunggu taxi tuan. "


" Masuklah! aku akan mengantarkanmu! "


" Hah! benarkah? " Maura pun kini tampak tersenyum kecil.


" Iya, cepatlah sebelum aku berubah fikiran. "


Maura pun kini bergegas masuk ke dalam mobil David.


" Terimakasih tuan, " ucapnya kini.


" Iya.Ngomong-ngomong di mana mobil mu? kenapa kau tidak membawanya? " tanya David yang kini mulai melajukan mobilnya.


" Mobil saya ada di bengkel tuan. "


" Owh."


Jujur saja Maura kini tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan nya.Ia pun terus tersenyum menatap David.


" Sejak kapan dia jadi peduli padaku? " gumamnya dalam hati.


Tak lama kini mobil yang di kemudikan David pun berhenti tepat di depan gang kecil.Rumah Maura yang berada dalam gang kecil itu membuatnya terpaksa harus meninggalkan mobilnya di sana.


" Ayo! aku akan mengatrkanmu sampai depan rumah, " ajak David yang kini mulai turun dari mobilnya.Sementara Maura kini hanya diam terpaku, benarkah manusia kaku yang selama ini mengacuhkannya mulai peduli padanya? Maura pun kini tampak tersenyum lebar dan mulai mengejar David yang lebih dulu berjalan itu.


" Tuan tau rumahku dari mana? jangan-jangan tuan mengikuti ku ya selama ini? " tanya nya menyelidik.


" Untuk apa aku mengikuti mu, aku tau rumahmu karena sebelum menerima mu menjadi sekretaris tuan Regan aku harus memastikan bahwa kau benar-benar layak diterima,jadi aku harus tau asal usul mu dan kehidupan mu. Aku hanya ingin memberikan yang terbaik untuk tuan Regan. "


" Owh. " Maura pun kini manggut-manggut.Ia pun berjalan mensejajarkan jalanya dengan David.


" Biasanya kau selalu berisik di dekat ku, kenapa sekarang cuma menjawab owh? " ucap David sambil melirik Maura yang berjalan di sampingnya itu.


Maura pun kini terseyum tipis.


" Tuan merindukan ku ya? tuan rindu kan aku godain? " ucapnya yang membuat David kini salah tingkah.


" Ja.. jangan terlalu percaya diri, aku hanya heran saja sikapmu seharian ini tidak seperti biasanya, seharian ini kau lebih banyak diam " ucapnya terbata, entah kenapa David kini merasa salah tingkah.


" Tuan mau tau kenapa aku seharan ini diam? "


" Tentu saja, memangnya kenapa? "


" Karena aku kesal dengan manusia kaku yang sudah bilang mau menikahiku tapi malah bilang kalau aku salah dengar! " teriak Maura kesal yang membuat David kini menutup kedua telinga nya.


" Dia juga ninggalin aku di pinggir jalan apa coba maksudnya! " teriak Maura lagi dengan kesalnya.


" Kenapa kau harus terika-tetiak! " protes David yang masih menutup kedua telinganya itu.


" Biar manusia kaku itu bisa mendengar nya! " teriak Maura lagi.


" Berhentilah berteriak,aku sudah mendengarnya. " David pun kini menutup mulut Maura.Maura yang melihat tangan David tak bergetar memegangnya pun tersenyum tipis.Ia pun kini melepas tangan David dan menggenggam nya.


" Tidak bergetar, apa tuan sudah mulai nyaman dengan ku? " tanya Maura dengan senyuman genitnya.


" Hah! kau bicara apa! " David pun bergegas melepas tangannya dari genggaman Maura.


" Tuan sudah menyukai ku ya? " goda Maura kini.


" Jangan terlalu percaya diri,kapan aku bilang menyukai mu! "


" Sudah ngaku aja,ini buktinya tuan mau mengantarkan ku sampai depan rumah. "


" Kau jangan mengartikan lain,aku..aku hanya ingin memastikan kau aman sampai rumah,ini bentuk ucapan terimakasih ku karena kau sudah banyak membantu ku di kantor. " ucap David yang tampak bingung mengatakannya.Apa benar itu alasanya? rasanya tidak hhee


Maura pun kini menatap mata tajam itu lekat-lekat.


" Tapi kenapa aku melihat nya karena tuan menyukai ku? " ucapnya kini yang membuat David semakin salah tingkah.


" Jangan berfikir yang tidak-tidak!cepatlah masuk! " David pun kini terlihat gugup membuat Maura kini tersenyum melihat tingkah manusia kaku itu.


" Tuan kemarilah! " ucap Maura sambil melambai-lambiakan tangannya seakan menyuruh David sedikit menundukkan wajahnya karena postur tubuh David yang tinggi.


Bukannya menurut David malah memicingkan matanya.


" Apa! " ucapnya kini.


" Menunduklah! " ucap Maura kesal.


David pun kini sedikit menundukkan wajahnya,dengan wajah masamnya kini ia menatap Maura.


" Untuk apa kau menyuruh ku seperti ini! " tanya nya yang tampak kesal.


" Untuk ini! " Maura pun kini memberikan kecupan kecil di bibir manis David. membuat David kini diam terpaku.


" Anggap saja itu ucapan terimakasih ku.Selamat malam tuan sampai bertemu lagi besok pagi. " Maura pun kini berlari masuk kedalam rumah.


Sementara David yang masih diam terpaku kini memukul pelan dadanya sendiri.


" Kenapa kau berdegup begitu kencang , " gumamnya sambil berjalan menuju mobil. David pun kini mengusap lembut bibirnya.Terlihat senyuman yang kini mengembang di pipinya,kecupan kecil Maura tampaknya akan membuat nya tidak bisa tidur malam ini.