I HATE YOU, BUT I LOVE

I HATE YOU, BUT I LOVE
EPISODE 99



Siang yang sangat panas. Lidia memakirkan mobilnya ke sebuah Cafe. Tenggorokannya terasa sangat kering, seperti nya minum segelas jus jeruk bukanlah ide yang buruk.


"Selamat datang nona, silahkan duduk di meja yang nona suka" sambut pelayan yang bertugas menyambut pelanggan masuk.


Lidia tidak menghiraukan nya, ia menatap datar pelayanan itu dan berlalu pergi mencari meja kosong. Lidia bukanlah tipe gadis yang pemilih milih tempat duduk, ia akan duduk di mana saja asalkan tempat itu bersih dan tidak milik orang lain.


Seorang pelayan menghampiri meja yang Lidia tempati, ia bersiap untuk mencatat makanan yang akan Lidia pesan.


"Silakan nona, katakan apa pesanan anda"ucap pelayan itu dengan senyum ramah.


" Berikan saya jus Jeruk" balas Lidia. Pelayan itu langsung mencatat pesanan Lidia.


"Apa hanya itu nona? " tanya pelayan itu lagi dengan nada yang lembut, agar pelanggannya merasa sangat nyaman.


"Tidak ada, saya hanya mau itu"


"Baiklah nona, pesanan anda akan segera tiba. Mohon tunggu sebentar" pelayan itu menunduk sopan, kemudian berlalu pergi.


Sembari menunggu pesanannya datang, Lidia membuka ponselnya dan membaca pesan singkat yang Mirna kirimkan padanya.


"Sial! Dia selalu memerintah ku! " maki Lidia menghempaskan ponselnya ke atas meja. Bersamaan dengan itu, pelayan datang membawa minuman yang Lidia pesan.


"Ini nona, pesanan nya" ujar pelayan itu sopan, pada meletakkan jus jeruk ke atas meja Lidia.


"Terimakasih" balas Lidia menatap pelayan itu, lalu meraih gelas jus nya. Ketika ia melirik ke sisi samping gelas jus nya, kening Lidia mengerut Ada sebuah surat kecil yang ia pikir sengaja di tinggalkan oleh pelayan tadi.


"Mas.. " panggil Lidia pada pelayqn yang mengantar minumannya. Kebetulan sekali pelayan itu kembali lewat di samping nya ketika Lidia mendapati secarik kertas yang ia tidak tahu apa.


"Apa ada yang bisa saya bantu lagi nona? " tanya pelayan itu menghampiri Lidia lagi.


"Kamu meninggalkan kertas ini. " Lidia menggeserkan kertas itu ke sisi meja dekat pelayan itu. Tapi pelayan itu malah tersenyum dan menggeser kembali kertas itu ke hadapan Lidia.


"Ada seorang pemuda menitipkan kertas ini kepada saya untuk nona" jelas pelayan itu. Kening Lidia mengerut, siapa yang memberikan kertas yang di lipat kecil.


"Siapa ya? " tanya Lidia penasaran, ia menatap kertas kecil itu heran.


"Maaf nona, tapi saya tidak tahu" jawab pelayan itu menggeleng pelan.


"Kalau begitu saya permisi nona" pamit pelayan itu sembari menunduk memberikan hormat. Lalu pelayan itu pergi dari sana. Meninggalkan Lidia yang kebingungan


"Apa isinya? siapa coba yang memberikannya? " gumam Lidia melirik ke sekeliling cafe. Tidak ada satupun orang terlihat mencurigakan di matanya.


Lidia memberanikan diri untuk membentangkan kertas kecil yang berubah menjadi bentangan lembaran kertas.


Hai, lama tidak jumpa. Kamu makin cantik. Tapi sayang licik dan menjijikan


"Dia! " Lidia kali menatap ke sekeliling cafe, berharap menemukan seseorang yang ada di pikirannya ada di hadapannya.


"Aku yakin, surat ini dari dia" cepat cepat Lidia membayar jus jeruk yang ia pesan, meskipun jus itu belum ia minum sedikit pun. Lidia membiarkan jus nya begitu saja,menemukan pria itu jauh lebih penting baginya. Pria yang sudah pergi dari hidupnya, seperti di telan bumi,Lidia tidak bisa menemukan pria itu di manapum. Namun pria itu akan muncul di sela sela waktu Lidia, ia hanya muncul sekilas seperti imajinasi.


"Dimana dia??" Pria itu tidak terlihat di mana pun, ia sudah mencari di sekitar cafe, di luar maupun di dalam. Tapi tetap saja ia tidak menemukannya.


Tanpa ia sadari, seorang pria tersenyum miring memperhatikan Lidia berlari kesana kemari mencari dirinya. Pria itu memakai hoodie hitam, wajahnya tertutup oleh topi hoodie yang hampir menutupi seluruh wajahnya.


"Permainan akan segera di mulai, aku harap kamu sudah siap" Gumam pria itu terjeda, matanya menatap lekat wajah manis Lidia dari jauh.


...----------------...


Jihan sudah bersiap untuk pergi ke rumah Fela, siang ini Ria akan menjemput dirinya. Mereka berencana akan menginap dirumah Fela, sesuai janji mereka dulu. Jika setiap diantara mereka menikah, maka sahabat nya harus menginap di rumah si pengantin.


"Sayang.... " rengek Alviro bergelayut di lengan Jihan seperti anak kecil. Alviro membujuk Jihan agar tidak pergi, atau memberinya sedikit kegiatan hot. Tapi Jihan menolaknya, ia takut Ria keburu datang dan membuatnya menunggu lama karena jika melakukan itu Jihan harus kembali mandi.


"Aku mau pergi loh, nanti keburu Ria datang" ucap Jihan. Namun Alviro tidak menyerah begitu saja, ia tetap membujuk istrinya.


"Ayolah, sebentar saja. Sebagai ganti tidur sendiri nanti malam" bujuk Alviro.


"Tidak, tetap tidak bisa. Yang kemarin saja masih sakit" Jihan menepis tangan suaminya kesal, ia masih merajuk pada Alviro. Karena dirinya ia harus menanggung malu pada seluruh anak Wolf. Alviro dengan sengaja memamerkan tanda tanda yang tercipta oleh Jihan ketika pergulatan panjang mereka malam itu. Sehingga anak anak Wolf terus terusan menggodanya.


"Yahh.. Sayang, kok gak bisa sih"


Jihan tidak mendengarkan Alviro lagi, ia melenggang keluar dari kamar.


Drrrttt.....


Ponsel Jihan berdering, dan itu adalah panggilan dari Ria. Jihan langsung mengambil tas selempang nya, Ria memberitahu nya bahwa dirinya sudah berada di depan apartemen Jihan.


"Aku pergi sekarang" pamit Jihan.


"Gak mau! " ketus Alviro. Namun Jihan tampak tidak peduli, rasa kesalnya lebih besar di bandingkan dengan rasa bersalah seorang istri.


"Yah yah... Kok beneran di tinggal sih" Alviro menatap nanar istri nya yang benar-benar tega meninggalkan dirinya sendiri di rumah.


"Yah, gak ada yang belai deh malam ini. padahal baru dapet" desah Alviro pasrah.


Di luar Apartemen, Jihan tersenyum pada Ria yang menunggu dirinya di dalam mobil. Tanpa banyak babibu, Jihan langsung masuk ke dalam mobil Ria.


"Udah pamit kan sama suami lo? " tanya Ria setelah Jihan duduk di samping nya.


"Udah kok, yuk jalan"


Ria pun menghidupkan mesin mobilnya, lalu mereka mulai meninggalkan basement apartemen yang di tempati Jihan.


Selama perjalanan ke rumah Fela, jihan dan Ria membahas persoalan gaun yang akan mereka pakai. Jihan juga memperlihatkan foto gaun yang sudah ia pesan.


"Kita harus menjadi peri peri cantik di pesta pernikahan Fela dan Babas"


"Yaiyalah Ria, kita harus menjadi bidadari cantik untuk Fela. " Sahut Ria.


Setelah menempuh perjalanan selama 45 menit, akhirnya mereka tiba di rumah besar Fela. Mereka di sambut girang oleh Fela.


Di rumah Fela memang tidak terlihat seperti ada pesta, karena semua nya sudah di atur oleh keluarga nya dan juga keluarga Babas. Fela tinggal mempersiapkan diri dan mentalnya saja untuk besok pagi.


Semua acara akan di laksanakan di hotel berbintang milik keluarga nya sendiri. Beruntung semua aset yang di miliki oleh papa dan mama Fela, di beri setengahnya atas nama mama Fela dan akan di turunkan pada Fela.


Malam yang panjang, ketiga gadis itu menghabiskan malamnya dengan menonton drakor kesukaan mereka. Hingga mereka bertiga tertidur tak beraturan di ranjang kamar Fela.


...----------------...