
Alviro benar-benar panik melihat keadaan Jihan, ia tidak bisa mendekat dan menenangkan istri nya sendiri.
Rasa kemarahan Alviro semakin memuncak, ia sudah tidak bisa menahannya lagi.
"Kak, gue gak bisa melihat Jihan dalam keadaan seperti ini"
"Gue tahu, tapi apa yang bisa lo lakukan?.
Lidia masih belum sadar, kita tidak tahu siapa yang, melakukan semua ini pada Jihan. " kata Lea menghela nafas gusar, jika ia tahu siapa pelaku nya, akan di pastikan Lea akan menghancurkan orang itu dengan tangannya sendiri.
"Mau kemana? " tanya Lea ketika Alviro tiba-tiba pergi begitu saja.
"Aku harus kembali ke rumah sakit, aku harus memastikan Lidia sadar dan mengetahui semuanya! " jawab Alviro tanpa menoleh ataupun menghentikan langkah nya.
Lea hanya bisa menatap ke pergian adik ipar nya, ia merasa menyesal pernah memaki Alviro dan sempat melarang nya untuk berdekatan dengan adiknya.
"Maafin gue Al" lirih Lea, ia kembali menatap pada adiknya yang masih terisak di pelukan bundanya.
"Kenapa semua ini lo yang tanggung sih ji, kenapa lo yang merasakan penderitaan yang serumit ini" batin Lea.
...----------------...
Rasya baru saja selesai mengeluarkan darah nya sebanyak 3 kantong. Tubuhnya benar-benar terasa seperti tidak berdaya. Rasya merasa sangat lemas.
"Kamu istirahat saja yah, nanti setelah tubuh kamu pulih, baru bisa keluar dari ruangan ini" kata suster. Rasya mengangguk pasrah.
Lagi-lagi Eldi kembali menghampiri nya. Ekspresi yang di perlihatkan Eldi masih sama, tidak bisa di tebak.
"Kamu ke sini lagi? " tanya Rasya, ia tidak berusaha bangkit dari tidurnya karena masih sangat lemas.
"Apa kamu baik baik saja? " selalu kalimat itu yang keluar dari bibir Eldi. Memang benar yah gosip yang beredar tentang anak anak wolf. Eldi terlihat sangat dingin, berbeda dengan Babas dan Albi.
"Seperti yang lo lihat, gue baik baik saja" jawab Rasya ketus karena pertanyaan nya di abaikan oleh Eldi.
"Aku kamu aja, biar enak di dengar" balas Eldi sukses membuat mata Rasya hampir copot. Ia berpikir keras, maksud dari sikap Eldi ini apa.
"Kamu harus istirahat penuh, agar bisa segera pulih" ujar Eldi lagi.
"Tanpa kamu suruh pun, aku pasti bakalan istirahat" balas Rasya ketus.
Cup.
Mata Rasya membulat, Eldi mengecup singkat keningnya kemudian berlalu begitu saja.
"Dia mencium ku? " gagu Rasya mengusap kening nya. Pipi nya seketika memerah ketika melirik suster yang ternyata masih ada di dalam ruangan itu.
"Itu pacar nya yah dek? " goda suster.
Rasya tidak menjawab, ia memilih menutup wajahnya dengan selimut. Rasya terlalu malu untuk sekedar menjawab pertanyaan suster itu
Dasar pria gila!!! awas saja nanti!.
Maki Rasya di dalam hati, ia akan memastikan Eldi mendapat hukuman dari nya nanti.
Sementara itu Eldi berjalan ringan di lorong rumah sakit. Bibirnya tersenyum ngembang mengingat apa yang baru saja ia lakukan pada Rasya. Eldi merasa malu sendiri, tanpa ia sadari lorong ke kantin rumah sakit sudah terlewat.
Tadi Eldi pamit ke kantin rumah sakit pada Ringgo dan yang lainnya, tetapi Eldi malah pergi melihat Rasya. Walaupun sebenarnya Eldi memang juga ingin ke kantin untuk membeli beberapa minuman.
"Eldi! " panggil Alviro. Ia heran melihat Eldi yang terus berjalan sembari senyum senyum sendiri.
"Woi, " teriak Alviro sedikit lebih keras karena Eldi tidak mendengar nya. Alviro setengah berlari agar bisa menggapai Eldi.
"Astaga, Alviro. Lo bikin kaget gue aja" sungut Eldi yang memegangi dadanya.
"Udah kaya banci aja lo, gitu aja bisa kaget! " cibir Alviro.
"Emang lo dari mana? " tanya Alviro penasaran.
"Gye baru saja dari kantin membeli minuman" jawab Eldi sesuai dari drama yang ia buat di depan teman temannya tadi.
Alviro melirik kedua tangan Eldi, tidak terdapat apa pun di sana.
Eldi langsung melirik ke tangan nya.
"Astaga, gue lupa mampir ke kantin. Kok gue bego banget sih!!! " maki Eldi di dalam hati.
"Udah deh, lo gak usah bohong. Lo dari mana tadi? " desak Alviro yang tahu jika Eldi sedang berbohong.
Eldi tidak bisa mengelak lagi, ia tidak bisa beralasan jika minuman yang ia katakan tadi tertinggal di kantin. Karena Eldi merupakan orang yang paling teliti. Yah meskipun manusia tak luput dari dosa.
Tapi, terlalu aneh jika Eldi melakukan hal itu.
Dua orang suster lewat di samping keduanya. Suster itu melirik Eldi dengan senyum malu malu.
"Itu anak remaja yang dengan romantis nya mengecup pacaranya"
"Memang yah, anak zaman sekarang"
Alviro melotot mendengar bisikan bisikan dua suster yang baru saja melewati mereka.
"Mereka ngomongin lo? " tanya Alviro tidak percaya.
"Ah sudah kah gue masuk ke kantin! " ucap Eldi berbalik dan berjalan cepat menuju ke lorong menuju kantin.
"Hei... Lo belum menjawab pertanyaan gue" teriak Alviro mengulum senyum. Akhirnya sahabat nya Eldi menemukan tambatan hatinya.
Ringgo, Alviro jadi teringat dengan sohib nya itu. Ia merasa jika Alviro gee tarik pada Anonim, mantan anak buah Mirna.
Sekarang anak anak wolf yang masih jumlah terpisah Liem seorang. Hanya pria itu yang belum mendapatkan tambatan hati.
"Ahhh... Kalo begini, bencana berbuah berkah namanya" kekeh Alviro sembari melangkah menuju ke ruang ICU.
Terlihat di depan ruangan ICU Zidan terlihat sangat lesu. Ia masih betah berdiri berjam jam di depan kaca ruangan itu tanpa merasakan kelelahan.
Alviro menghampiri Zidan, mengusap bahu Zidan agar lebih tegar lagi.
"Kak, lo harus istirahat. Lo juga harus jaga kesehatan lo kak" bujuk Alviro.
"Gak Al, gue mau di sini melihat Lidia" tolak Zidan.
"Tapi kak. Kakak sudah berjam jam berdiri di sini. Apa kakak tidak kasian sama tubuh kakak? "
"Gue masih bisa bernafas dan membuka mata ku sesuka hati gue.
Lihat dia, untuk menggerakkan kelopak matanya saja ia tidak bisa.
Kami tahu semua itu karena siapa?
Karena gue!! jika bukan karena menyelamatkan gue, Lidia gak akan mengalami hal ini! "
Zidan mulai terisak, ia merasa sangat bersalah atas apa yang menimpa Lidia.
"Setidaknya kakak bersyukur! " Alviro mulai emosi, ketegangan terjadi di antara keduanya.
"Kakak lihat gadis yang terbaring lemah itu. Dia mengorbankan dirinya demi kakak terlihat sehat dan bersemangat.
Tapi, apa yang kakak lakukan? kakak menyiksa diri kakak sendiri. Kakak menyia nyiakan apa yang sudah Lidia lakukan!
Apa kakak pikir Lidia akan senang dengan apa yang kakak lakukan ini?
Tidak! dia akan marah, sangat marah!! "
Alviro meluap kan semua emosi nya. Ia sudah tidak tahan melihat Zidan terus terusan seperti ini.
"Trus gue harus apa??, coba katakan sama gue!! "
Liem dan yang lain hanya terdiam menyaksikan perdebatan kedua iparan itu.
"Kakak makan sekarang, istirahat di kursi itu jika kakak tidak mau jauh jauh dari Lidia. Kakak gak boleh nyiksa diri kakak! " ujar Alviro memegang bahu Zidan. Saat ini Zidan benar-benar terlihat seperti laki-laki yang sangat rapuh.