
Mobil Mirna berhenti di sebuah bangunan yang tidak layak di sebut sebuah rumah. Jihan melihat area sekitar, ia tidak menemukan satupun rumah masyarakat sekitar di sana. Hanya terdapat sebuah bangunan yang menyerupai rumah, atau sebuah bangunan tua yang sudah lama tidak di huni.
Jihan mulai merasa takut, ia tidak mau keluar dari mobil Mirna. Ia membiarkan Mirna keluar sendiri.
"Loh, kenapa kamu tidak keluar jihan? " tanya Mirna. Jihan tidak menjawab, ia hanya menatap area sekitar. Membuat Mirna ikut memperhatikan area sekitar juga. Sekarang, ia mengerti mengapa Jihan tidak mau keluar.
"Jihan, kamu gak perlu takut. Di sini aman kok" jelas Mirna untuk mengurangi kecemasan di hati Jihan.
Aman apanya, kalau aman. Mana mungkin dia meminta gue untuk menemaninya kemari.
"Jihan!! " panggil Mirna lagi, membuyarkan lamunan Jihan.
"Maaf Bu, saya menunggu di sini saja" jawab Jihan menolak.
"Apa kamu yakin, akan tetap di sini? " tanya Mirna lagi untuk meyakinkan Jihan. Lagi lagi jihan menolaknya, ia tidak akan keluar dan masuk bersama Mirna ke dalam bangunan tua itu.
"Baiklah Jihan, ini pilihan mu" ucap Mirna, kemudian berlalu dari mobilnya. Ia meninggalkan Jihan sendiri di sana.
Hufff.. Jihan mulai menyesali keputusan nya untuk menemani Mirna. Ia merasa sesak di dalam mobil, apa lagi desa yang persis seperti hutan ini mulai terlihat menggelap karena hari semakin sore.
Jika boleh di ulang kembali, Jihan akan memilih untuk menolak permintaan Mirna tadi. Ia tidak akan memperdulikan rasa kasihan nya pada wanita itu.
Cukup lama Mirna masuk ke dalam bangunan menyeramkan itu, dan beberapa saat kemudian 2 orang bertubuh besar keluar dari bangunan tua itu. mereka menghampiri mobil yang hanya dihuni oleh Jihan sendiri. Jihan pun mulai ketakutan, ditambah lagi wajah Mereka terlihat sangat menyeramkan.
" Siapa Mereka, Mengapa mereka menghampiri mobil ini ? " gumam Jihan bergerak gelisah di dalam mobil, ia bergerak cepat untuk mengunci pintu mobil. Namun, orang itu lebih cepat dari Jihan. Mereka lebih dulu membuka pintu sebelah Jihan.
"Apa yang kalian inginkan? " tanya Jihan dengan nada suara bergetar.
"Maaf nona, tuan kami memanggil anda" ucap salah satu pria yang membuka pintu mobil Jihan tadi. Meskipun mereka berkata dengan nada pelan, tetap saja Jihan mendengar nya sangat menyeramkan.
"Maaf, kalian salah orang. Bukan aku yang tuan kalian maksud! " jelas Jihan. Tangannya memegang erat sabuk pengaman yang menyilang di tubuhnya.
"Tidak mungkin nona, Kami tidak mungkin salah" balas pria itu lagi, ia bergerak hendak menyentuh tngan Jihan.
"Jangan sentuh Aku!! " teriak Jihan menjauhkan tangannya dari jangkauan pria itu.
Plak!
"Kami sudah bersikap lembut pada mu!, tapi kau malah membuat urusan kami menjadi tertunda! " bentak pria berbadan besar itu pada Jihan. Ia langsung, menarik tubuh Jihan keluar dari dalam mobil setelah memutuskan tapi sabuk itu secara paksa dengan belati tajam. Jihan semakin ketakutan, apa lagi melihat belati itu dengan mudah memutuskan tali sabuk pengaman yang cukup tebal.
Wajah Jihan yang terkena tamparan kuat itu terasa memanas. Kini pergelangan tangannya mulai terasa perih, karena cengkraman kuat dari kedua pria yang kini menyeretnya masuk ke dalam bangunan tua itu.
"Lepaskan aku!! kalian salah orang!!! "
"Hei!! "
Jihan terus memberontak, ia tidak mau masuk ke dalam bangunan itu. Ia berusaha melepaskan tangannya dari cengkraman mereka, namun dengan sangat mudahnya kedua pria itu mengangkat tubuh langsing Jihan dan melemparnya masuk ke dalam.
Ahsk... " Jihan tersungkur di atas lantai yang di penuhi oleh pasir dan debu yang bercampur. Jihan segera bangkit dan melihat sebuah kaki berdiri di depannya titik Jihan mendongakkan kepalanya untuk melihat Siapa yang tengah berdiri di depannya.
Jihan kaget melihat Siapa yang berdiri di depannya. dia adalah ibu Mirna, wanita yang bawahnya datang ke Gedung Tua ini.
"Bu Mirna? " Jihan segera bangkit, ia mendekati Mirna. Tetapi langkah Jihan terhenti, wajah Jihan tidak lah selembut yang ia lihat tadi. 2 orang pria tadi berdiri di belakang Mirna.
"Apa semua ini rencana ibu? " ujar Jihan melangkah mundur, ia sudah tidak bisa berdiri di sini. Ia harus segera pergi dan meninggalkan tempat ini.
"Apa sebenarnya yang ibu mau? kenapa ibu melakukan ini kepada ki? . Apa kesalahan ku pada, mu? "
"Diam!!!!! "
"Tutup mulut mu!! jangan pernah berteriak dan mwmwrintah ku! " bentak Mirna dengan sorot mata tajam pada Jihan.
"Tapi kau sudah tidak waras!!!!! biarkan aku pergi sekarang??! " teriak Jihan.
Plak!!!!
Jihan tersungkur ke samping, kedua pipinya terasa memanas.
"Sudah ku katakan! tetap diam!, jangan berteriak pada, ku?? " bentak Mirna, tangannya tergerak mejambak rambut Jihan, sehingga gadis itu menengadah ke atas.
"Kau tahu!!! penderitaan yang kau rasakan saat ini, tidak sebanding dengan penderitaan ku! "
"Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan!! dan aku tidak peduli itu! " balas Jihan.
Mendengar jawaban Jihan, semakin membuat Mirna di sulut emosi. Ia menyeret rambut Jihan dengan paksa. Jihan meringis menhan sakit di kepalanya dan juga tubuhnya yang bergesekan dengan lantai.
"Kau akan merasakannya, semuanya!!! " teriak Mirna penuh amarah.
"Kau salah orang!!! aku tidak terlibat dengan masalah mu!?! tapi kenapa kau malah membawa ku!!! " teriak Jihan, ia mendorong tubuh Mirna kuat, sehingga jambaka di rambutnya terlepas.
Jihan memaksa kakinya melangkah menuju pintu masuk ke ruangan yang sudah semakin gelap.
"Lepaskan aku!!!! Aku tidak mau terkurung di tempat ini, aku tidak ada hubungan nya dengan kalian!! " teriak Jihan histeris, ia terus memberontak ketika kedua pria itu memegangi kedua tangannya.
"Kau berani melawan ku!!!! " geram Mirna.
"Kau jahat Mirna!!! aku menyesal mengasihani mu!!!! kau iblis!!!! " teriak Jihan pada Mirna yang sudah berdiri di hadapan nya dengan wajah yang sulit di artikan.
"Kau mau tahu apa hubungan mu dengan semua ini??? "
"Alviro!!! itulah hubungan nya!!, Aku harus membuat keluarga Nugra hancur!!! aku akan membuat mereka merasakan apa yang aku dan keluarga ku rasakan!! "
Jihan menatap tajam pada Mirna, semua ini tidak ada hubungan nya dengan dirinya. Tapi mengapa Mirna malah menyeretnya ke dalam masalah ini.
Alviro? pria itu adalah orang asing yang baru saja masuk ke dalam kehidupan nya. Tapi malah pria itu yang membuat hidupnya menjadi seperti ini. Jihan menggeleng pelan, ia tidak bisa menerima semua ini begitu saja.
"Kau salah Mirna!!! Kau salah telah menyeret ku kedalam masalah mu yang tidak penting ini!!! "
Plak!!!
Lagi lagi Jihan merasakan pipinya merasakan panas dan juga perih. Ia memejamkan matanya menahan betapa sakitnya pipinya saat ini.
"Belum saatnya kau tahu apa hubungan mu dengan semua ini. Jika sudah waktunya, kau pasti akan tahu nantinya! " ujar Mirna tersenyum. Senyum nya semakin mengerikan di mata Jihan.
"Boss"
Mirna menoleh pada anak buahnya yang berjaga di luar tiba-tiba masuk ke dalam gedung. Matanya nya melebar ketika melihat kode yang anak buahnya isyarat kan.