
Sebelum ke kantin, Ria dan Fela menemani Jihan ke toilet. Mereka tidak ingin membiarkan Jihan sendirian seperti dulu lagi. Walaupun kepala sekolah telah berganti, dan sistem penjagaan sekolah sudah berubah.
Sementara di kantin, Alviro duduk di meja sendirian. Anak anak wolf lainnya pada memesan makanan.
"Hai" sapa Lidia menghampiri Alviro
Alviro tidak merespon, ia malah sibuk dengan ponsel nya. Membuat Lidia yang di kacangin oleh Alviro sedikit menggeram. Anak anak kain menatap aneh padanya.
"Gue boleh duduk di sini gak? " tanya Lidia, ia kembali berusaha untuk dekat dengan Alviro.
"Tidak boleh, itu kursi Jihan! " Fela menarik tubuh Lidia dan sedikit menjauhkannya dari meja. Mereka duduk di kursi masing-masing. Tak lama kemudian rombongan anak wolf pun datang membawa makanan.
"Maaf yah, anak baru. Meja ini sudah kosong. Mungkin lo bisa cari meja yang lain! " usir Fela secara tidak langsung. Ia dengan terang terangan menunjukkan rasa tidak suka nya pada Lidia.
"Ini, makan yang banyak" ujar Alviro menaruh nasi goreng ke hadapan Jihan. Hal itu tak luput dari pandangan mata Lidia.
"Apa masih ada yang lo bicarakan? " tanya Jihan melirik Lidia.
"Oh tidak" jawab Lidia menggeleng pelan.
Lidia pun beranjak dari sana, ia terpaksa menelan rasa malu nya
Mereka pun menikmati makanan mereka dalam diam. Jihan yang masih kesal tidak mau melirik ataupun berbicara dengan Alviro.
"Mereka kok diem aja sih? " bisik Babas pada Fela.
"Gue gak tahu" balas Fela menggidikkan bahunya.
"Sttt.... " Ria melotot pada keduanya, ia mengisyaratkan pada Fela dan Babas untuk diam.
Sementara Ringgo dan Eldi tampak serius menatap layar ponsel nya. Entah apa yang mereka lihat di sana.
Kringgg!!!!!!
Bel masuk pun berbunyi, siswa siswi yang ada di kantin bergegas masuk ke dalam kelas. Anak kelas tiga sudah tidak belajar efektif. Otomatis Arvan sering berpatroli. Dan mereka tidak mau berurusan dengan si ketos dingin itu.
Karena sikap nekat nya yang mencoba mendekati Alviro membuat seluruh siswa siswi menatap aneh pada Lidia. Ada yang menatap iba, dan ada pula yang menatap mengejek.
"Lo anak baru? " tanya seseorang siswi mendekati Lidia.
"Iya" jawab Lidia jutek.
"Lo gak usah bermimpi deh buat dapetin Alviro" tukasnya.
"Maksud lo apa! " Lidia mulai nyolot
"Sini yah gue kasih tahu sama lo, Alviro itu, hanya milik Jihan! seluruh penjuru sekolah juga tahu. So, lo gak usah berusaha buat dapetin dia! " ucap teman siswi tadi.
"kalian ngomong apaan sih! " dengus Lidia kesal. Ingin rasanya ia mencabik cabik mulut kedua siswi ini. Namun, Lidia harus menahan dirinya.
"Eits... " kedua siswi itu kembali menahan lengan Lidia ketika ia hendak pergi.
"Lo gak bisa pergi begitu aja, "
"Apaan sih, lepasin tangan gue! " bentak Lidia menepis kedua tangan mereka yang Manahan.
"Cih, dasar menjijikkan" decak keduanya menatap kepergian Lidia.
"Sial, entah kesialan apa yang membuat gue malu dua kali di hatmri pertama gue masuk sekolah! "maki Lidia di dalam hati. Ia masuk ke dalam kelas. Tatapan aneh kembali tertuju padanya. Namun, Lidia mencoba mengabaikan nya.
" Lidia! " panggil Jihan.
Lidia pun menghentikan Langona, kemudian berbalik menatap Jihan yang berdiri di depan papan tulis kelas.
"Ada apa? " tanya Lidia beranting lembut dan polos.
Jihan melangkah mendekati Lidia, senyum manis terukir di bibir Jihan.
"Lo kok baik sih, sama dia? " bisik Fela.
"Gak boleh gitu, dia baru disini. Dan dia tidak punya siapa siapa" balas Jihan, ia kembali melempar senyum pada Lidia.
"Terimakasih" balas Lidia beranting terharu.
"Jika lo butuh sesuatu, silakan katakan sama gue" ujar Jihan.
Jihan pun beranjak ke kursinya, ia merasa kasihan pada Lidia. Baru sehari di sekolah ini, tapi dia malah di bully. Jihan sempat mendengar cerita anak anak, bahwa Lidia berusaha mendekati suaminya.
"Lo kenapa mau sih deketin dia! " sewot fela.
"Aduh fela, kita tu gak boleh gitu. Dia masih baru, dan gak punya teman! " jawab Jihan.
"Udah deh Fela, lo gak boleh jadi antagonis"timpal Ria. Mereka duduk di kursi masing-masing.
" Nanti, setelah pulang sekolah. Gue mau ajak lo ke suatu tempat! " kata Alviro ketika Jihan sudah duduk di samping nya.
"Gak minat! " balas Jihan ketus.
"Lo kenapa sih, jutek mulu dari tadi sama gue! " heran Alviro. Tadi ketika mengelilingi lapangan Jihan masih baik baik saja.
"Udah deh, berisik! " ketus Jihan.
"Gak, gue gak bakal diem sebelum lo mau menjelaskan apa kesalahan gue! " balas Alviro menantang Jihan. Suara keduanya sedikit lebih kuat, sehingga mereka semua mendengar perdebatan kecil antara Alviro dan Jihan.
"Kalian kenapa? " tanya Liem. Ia sudah tidak tahan mendengarnya, apalagi semua siswa siswi yang ada di kelas memperhatikan mereka.
"Huh? " Jihan melirik semua teman temannya, ia baru sadar jika seluruh mata tertuju padanya.
"Dia ni, nyebelin. Ada yang mau tukeran tempat duduk sama gue? " ujar Jihan. Alviro melebarkan matanya, mendengar lelangan Jihan.
Lidia memperhatikan semua teman teman sekelas nya, tidak ada yang mau menerima tawaran Jihan.
"Lo gak usah tawarin" kata Fela menatap Lidia yang hendak berdiri dari duduknya.
"Huh? " kaget Lidia.
"Mereka itu selalu seperti itu, tidak benar-benar bertengkar" jelas Ria menahan lengan Fela yang ingin menghampiri Lidia.
"Oh begitu" balas Lidia tersenyum kecut. Ia semakin penasaran dengan Alviro dan Jihan.
"Kalian masih sama seperti dulu, Jihan tampak sedikit berbeda. Apa mereka sudah saling mengenal? apa mereka kembali baikan setelah pertengkaran hebat itu? " kata Lidia berbicara dalam hati. Ia melirik Jihan dengan ekor matanya, sesuatu tersirat di senyum polos Lidia.
"Atau, mereka tidak saling mengenal dan kembali dekat dengan status orang asing" kata Lidia lagi. Ini semakin menarik baginya.
Sementara Fela terus merasa dongkol pada Lidia, entah apa yang menyebabkannya. Fela merasa sangat benci pada Lidia. Sama seperti ketika melihat cio dulu. Fela sangat c tidak suka, ternyata benar. Cio memang tidak baik orangnya.
Dari samping nya, Ringgo pun melirik Lidia dengan rasa penasaran yang mendalam. Ia mendapatkan beberapa bukti tentang Lidia. Namun bukti itu belum pasti benar. Ia harus mendiskusikan ini semua terlebih dahulu.
...----------------...
Lea membereskan semua pakaian nya, hari ini ia akan pindah dan ikut dengan Arvan tinggal di apartemen. Mereka tidak mau tinggal bersama orang tua, Lea ingin hidup mandiri.
"Apa semuanya sudah siapa sayang? " Tia menghampiri Lea yang sedang berkemas.
"Eh bunda" kaget Lea tersenyum lebar.
"Bunda masih belum bisa percaya, kedua anak bunda sudah menikah dan memiliki rumah tangga masing-masing" lirih Tia. Setetes air mata haru keluar pada sudut matanya.
"Lo bunda kok nangis, Lea dan Jihan kan gak pergi jauh. Lea janji bakalan sering kunjungin bunda dan ayah" Lea meletakkan pakaiannya, kemudian memeluk bundanya erat.
"Sayang, bunda pasti kesepian tanpa kalian" balas Tia.
"Yaudah, Lea gak perlu pindah. Kita bisa kok tinggal di sini" putus Lea.
Tia menggeleng pelan. "Tidak sayang, tidak boleh seperti itu. Bunda gak papa kok" balas Tia meyakinkan Lea.
"Tapi bun... "
"Gak sayang, kamu harus belajar mandiri" ujar Tia. Lea pun mengangguk.
"Lea janji bakalan sering jenguk bunda" janji Lea.
"Yasudah, seketika kamu lanjutin berkemas nya. Bentar lagi Arvan pulang"
"Iya bun" balas Lea, ia kembali melanjutkan mengemasi baju bajunya dan menaruhnya ke dalam koper. Sebenarnya ia merasa sangat berat meninggalkan bundanya, tapi Lea juga tidak mau menolak ajakan Arvan yang merupakan usulan dari Ayahnya
...----------------...