
Dalam posisi yang sama, Lea tidak berani mengangkat wajahnya. Ia menyembunyikan wajahnya di balik ceruk leher Arvan. Ia merasa malu karena menikmati permainan Arvan tadi.
Arvan keluar dari mobil, ia menggendong Lea dan membawanya masuk ke dalam apartemen nya. Lea tidak tahu kemana Arvan membawanya, ia tidak berani membuka matanya.
Ketik mereka sudah berada di dalam apartemen, Arvan menyuruh Lea untuk turun. Mereka perlu bicara, jika di dalam apartemen nya, Lea tidak akan bisa kabur lagi.
"Turun! " titah Arvan. Namun Lea tetap tidak bergeming. Membuat Arvan tersenyum menyeringai.
Ceklek. Arvan membawa Lea masuk ke dalam kamar apartemen nya.
Bruk~
"Aww.... " Lea membuka matanya. Pikiran nya melayang kemana mana. Lea melihat sekeliling nya, ia berada di dalam sebuah kamar. Berbagai ekspresi terlihat di wajah Lea.
"Bagaimana? " Arvan menaiki ranjang, membuat Lea bersikap was was.
"Apa yang lo mau?, dasar brengsek! " maki Lea, ia beringsut mundur menjauhi Arvan yang terus mendekat padanya.
Hub...
Arvan menarik tangan Lea, ia mengurung Lea dalam kungkungan lengannya.
"Lo yang buat gue seperti ini Lea, lo yang buat gue bersikap seperti ini" Arvan menatap lekat pada Lea.
"Arvan... " Lea menggeleng kuat.
"Lo selalu bersikap sesuka hati lo, Lo selalu memikirkan apa yang lo pikirkan, tidak pernah lo berpikir tentang gue!! tidak pernah Lea!! " Cengkraman tangan Arvan semakin menguat.
"Hiks.. Hiks.. " tiba-tiba Lea terisak, membuat Arvan mengerut bingung.
"Lo kenapa? "
Lea semakin histeris, tangisnya semakin pecah. Arvan panik, ia langsung bangkit dan menarik Lea masuk ke pelukan nya.
"Udah, lo jangan nangis lagi. Gue gak serius kok marahnya. "
"Udah dong Lea, jangan nangis lagi" bujuk Arvan, namun Lea tak kunjung berhenti menangis.
"Lo brengsek, masa lo bawa gue ke kamar. Entar lo apa apain gue gimana? abis itu, lo pergi sama cewe lain. huaaaa..... " Lea semakin histeris.
"Ssttt.... Lea tenang yah. Gue gak pernah seperti itu Lea. Syuuuttttt. " Arvan menepuk nepuk bahu Lea agar lebih tenang.
"Lo tega sama gue"
"Gak Lea, gue gak pernah deketin cewek lain selain lo. Seharusnya lo mikir, gue yang sibuk dengan urusan sekolah, dan urusan sama lo. Mana sempet gue deket cewe lain. Lo juga ada di sisi gue setiap gue ada urusan keluar sekolah" jelas Arvan panjang lebar. Lea terdiam, otaknya mulai berpikir.
"Memangnya, lo dapat info dari siapa sih" heran Arvan. Posisi Lea masih belum berubah, ia masih di dalam pelukan Arvan.
"Lika, dia liatin foto dan video lo sedang memeluk Arsi, sekertaris lo"
"What? lo gila? percaya sama nene lampir begitu?. Lo tau kan siapa pacar arsi? seharusnya lo gak perlu percaya sama Lika"
Lea kembali terdiam. Iya juga sih, lika kan sangat jahat orang nya, bahkan dia sudah sering jahatin adiknya. Kok bisa bisanya Lea termakan omongan Lika.
"Lagian ni yah, kemarin itu. Kita lagi masangin spanduk, trus si Arsi kepleset, jadi gue nangkep dia. Dan itu ada pacarnya loh di sana. Mana mungkin gue macam macam sama dia. Pacar dia sahabat gue! " jelas Arvan lagi, membuat Lea menunduk malu.
"Tapi, gue tetap marah sama lo. " cicit Lea. Kening Arvan mengerut, ia tidak merasa berbuat salah apapun pada Lea.
"Marah kenapa? gue buat salah apa? " Arvan menarik dagu Lea, mereka saling menatap.
"Lo berbuat sesuka hati lo, tanpa persetujuan dari gue" Lea mengerucutkan bibirnya, ia merasa kesal dengan Arvan. Untuk sejenak, Lea melupakan masalah tentang kebenciannya pada Arvan dan Alviro.
Cup.
"Tuh kan" sungut Lea.
"Kenapa? apa gue gak boleh mencium wanita gue sendiri? " goda Arvan. Lea kembali menundukkan kepalanya, ia merasa sangat malu. Lea yakin, pipinya mulai merona sekarang.
Arvan meraih kedua tangan Lea, di genggamnya erat dan di keduanya secara bergantian.
"Lea, lo itu wanita special di mata gue. Lo itu satu satunya wanita yang buat jantung gue berdegup kencang. "
Lea melongo. Ia tidak tahan lagi, ucapan Arvan mampu menyihir dirinya. Entah apa yang sedang ia pikirkan, Lea malah merengkuh tubuh Arvan dan memeluknya erat.
"Jangan pernah minta gue buat jauhin lo, gue sayang dan cinta sama lo Lea" ungkap Arvan semakin mengeratkan pelukan nya.
Karena Lea tidak merespon apapun, selain memeluk erat. Membuat Arvan kembali melepaskan pelukannya. Di tatapnya wajah Lea lekat.
"Jangan tatap gue seperti itu" ujar Lea menunduk.
"Gue suka lihat wajah cantik lo, tapi lebih cantik lagi ketika... " Arvan menggantung ucapannya.
Lea mendongak "Ketika apa? "
"Ketika lo berada di bawah gue tanpa sehelai benang" kekeh Arvan. Wajah malu Lea, berubah menjadi wajah kesal. Di dorong nya tubuh Arvan, lalu beranjak turun dari ranjang.
"Minggir lo! " ketus Lea.
"Hahahaha.... Dasar Lea oon" cibir Arvan tertawa puas, ia berhasil mengerjai Lea.
Sementara itu di rumah keluarga Nugrah, Alvido sedang di introgasi oleh kedua orang tuanya. Ia tidak melawan, dan hanya menundukkan kepalanya.
Sejak tadi Brian melontarkan berbagai pertanyaan, namun Alvaro hanya menjawab nya dengan anggukan kepala, atau dengan gelengan kepala saja. Namun, hal itu tidak membuat emosi Brian terpancing. Karena, Alviro sudah sangat berubah. Tidak ada lagi masalah masalah yang menjatuhkan martabat keluarga.
"Minggu depan adalah acara tunangan kamu" ujar Brian singkat.
"Huh? " Alviro langsung mengangkat wajahnya. Ia menatap kedua orang tuanya secara bergantian.
"Pa, ma? beneran? tunangan sama jihan? " Alviro tak bisa mempercayai ini. Ia akan segera menikah dengan Jihan.
Brian dan Leni mengangguk bersamaan, mereka ikut senang melihat binaran kebahagiaan dari mata putranya.
"Pa, ma, gak usah tunang. Nikah aja langsung, Alviro gak mau menunggu terlalu lama" ujar Alviro.
Leni dan Brian saling menatap. Putra mereka memang tidak sabaran orang nya. Leni tertawa, Alviro terlihat sangat lucu.
"Ma, pa. Ini beneran? gak becanda kan? " ulang Alviro meyakinkan dirinya lo. Ia takut kedua orang tuanya hanya mengerjai nya.
"Iya Alviro, kalian akan menikah di hari yang sama dengan kakak kamu"
"What?? " lagi lagi kabar menggembirakan dari kedua orang tuanya.
"Kami memutuskan untuk menikahkan kalian. Apalagi Mirna melarikan diri. Jadi, lebih baik kalian menikah dan melindungi kedua gadis itu. Mama takut, mereka mengincar, Lea dan Jihan sebagai titik kelemahan kalian" jelas Leni, begitu besar kekhawatiran di hatinya untuk anak anaknya.
Berbeda reaksi, di tempat yang berbeda pula. Saat ini Jihan dan kedua orang tuanya tengah duduk di ruangan keluarga. Setelah makan siang tadi, Burhan pulang dari kantor. Ia meminta Jihan untuk berbicara dengan nya. Jihan tampak kaget dengan apa yang di sampai kan oleh ayah nya. Burhan berharap putrinya bisa mengerti dan mau menuruti apa yang mereka inginkan.
...----------------...
Halo guys, jangan lupa yah like komen dan vote. Dukung terus yah cerita aku. jangan lupa tinggalkan jejaknya. aku pasti mampir kok, kita saling dukung 😘