I HATE YOU, BUT I LOVE

I HATE YOU, BUT I LOVE
EPISODE 78



"Loh, kak Lea? " ujar Jihan menunjuk kakaknya yang baru saja keluar dari dalam lif bersama Advan, ketua OSIS yang menjabat sebagai kakak iparnya.


"Kalian milih apartemen ini juga? " balas Lea.


"Huh? maksudnya? " Jihan menoleh pada Alviro, untuk meminta kejelasan.


"Begini Jihan, aku sama Arvan. Bakalan tinggal di sini. Dan, tahunya Alviro juga memilih tempat ini" jelas Lea.


"Ayo masuk! " ajak Arvan datar, ia menarik lengan istri nya menuju ke apartemen Nya yang berjarak 2 pintu dari apartemen Alviro dan Jihan.


"Dasar, ketos es batu! " maki Jihan menahan kekesalan.


"Gue mendengar nya! " kata Arvan tanpa menoleh.


"Sudah sudah sayang, ayo kita pergi" lerai Alviro menarik lengan Jihan masuk ke dalam lift.


...----------------...


Drrrtttt


Babas yang tengah menonton film bersama Fela di bioskop meronggoh sakunya, ada sebuah getaran dari sana.


Ringgo


[Berkumpul di basecamp sekarang, ada yang harus di bicarakan! ]


Alis Babas mengerut membaca pesan dari ringgo. Ada masalah apa lagi, mengapa Ringgo meminta mereka untuk berkumpul.


"Ada apa? " tanya Fela yang menyadari gerak gerik Babas.


"Ringgo menyuruh ngumpul di basecamp" jawab Babas.


"Yaudah ayok" Fela langsung turun dari bangku penonton.


"Ini dia marah, atau bagaimana sih? " pikir Babas bingung. Fela sangat susah untuk di tebak, dan selalu membuat seorang Babas merasa penasaran.


Setelah tiba di luar podium, Babas menarik lengan Fela yang terus berjalan lurus.


"Lo marah? " tanya Babas merasa bersalah.


"Tidak, gue tidak marah. Gue juga sudah bosan berada di bioskop. Seperti nya berkumpul dengan yang lain jauh lebih seru" jelas Fela dengan senyum mengembang.


"Ah gue bersyukur banget, tadi gue pikir lo marah" kekeh Babas, ia langsung memeluk tubuh Fela erat. Sampai sampai Fela merasa sangat sesak, saking eratnya pelukan Babas.


"Bas.. Bas.. Sewaktu nafas gue! " ujar Fela memukul mukul bahu Babas.


"Hehe, maaf maaf. Kelepasan" Babas tercengir melepaskan dekapannya.


"Yuk! " Babas menggandeng tangan Fela, mereka keluar dari mall dengan senyum mengembang.


Di tempat yang berbeda dan orang yang berbeda pula. Tetapi mengalami hal yang sama. Albi dan Ria sedang duduk di taman sembari menikmati eskrim.


Sebuah getaran terasa di saku jaket Albi. Dengan cepat pria itu Meronggoh saku jaketnya.


Ringgo_Wolf


[Berkumpul di basecamp sekarang, ada yang harus di bicarakan! ]


"What? ada apa lagi? " gumam Albi setelah membaca pesan dari Ringgo.


"Ada apa? " tanya Ria.


"Ini sayang, Ringgo meminta kita berkumpul di basecamp sekarang" sahut Albi menunjukkan layar ponselnya pada Ria.


"Yaudah, kesana aja" ujar Ria. Tapi, Albi sedikit ragu. Ia merasa tidak enak dengan Ria. Jarang jarang mereka bisa menghabiskan waktu bersama. Eh malah harus di hentikan setengah jalan.


"Gak papa kok, siapa tahu itu penting" kata Ria mengerti, ia tahu Albi merasa bersalah padanya Namun, Ria meyakinkan Albi bahwa dirinya baik baik saja. Tidak ada permasalahan untuk yang seperti ini.


"Yaudah deh, yuk" ajak Albi, Ria pun langsung mengangguk dan menautkan tangannya dengan tangan Albi.


Sementara di basecamp, Ringgo, Eldi dan Liem menunggu tidak sabaran kedatangan ketiga temannya yang lain. Mereka sudah tidak sabar untuk membahas permasalahan yang sedang mengincar mereka.


"Kok mereka lama banget sih" gerutu Eldi. Ia terus mondar mandir di depan Ringgo dan Liem.


Tak lama kemudian, Albi bersama Ria dan Babas bersama Fela tiba di basecamp. Mereka langsung di sambut oleh omelan dari Liem.


"Kalian kok lama banget sih, sejak tadi kita menunggu kalian! "


"Jalan juga dulu Liem. Belum lagi macetnya" ucap Fela angkat bicara.


"Ssyuttt.... Syuttttt Udah diem! perdebatan kalian gak penting! " Seru Albi menghentikan mereka semua.


Albi membawa Ria duduk di sofa, begitu juga dengan Babas. Kini mereka sudah berkumpul. Hanya Alviro dan Jihan yang tidak ada.


"Sebenarnya ada apa sih? " tanya fela pada Ringgo yang sejak tadi hanya diam saja.


"Kita tunggu Alviro dulu, baru membahasnya" sahut Ringgo.


Sementara itu di kediaman Rafier, Jihan tengah menyusun seluruh pakaian yang sering ia pakai ke dalam koper.


Alviro mengerut heran, Jihan tidak banyak membawa pakaian untuk keluar. Jihan malah banyak membawa pakaian rumah nya dan juga baju tidur.


"Loh, kok kebanyakan baju tidur di bandingin baju baju keluar? " kata Alviro.


Jihan menoleh sebentar pada suaminya yang berbaring di atas ranjangnya. Lalu, Jihan tersenyum dan kembali melanjutkan kegiatannya.


"Gue itu, lebih sering di rumah Dari pada pergi keluar. Yah, palingan ketika Ria ataupun Fela ngajak nongkrong. " kata Jihan sembari mengunci kopernya.


"Jadi, gue gak butuh baju baju itu terlalu banyak" sambungnya.


Alviro mengangguk paham, ia beruntung mendapatkan seorang istri seperti Jihan. Seperti nya Alviro juga akan ketularan seperti Jihan. Ia akan banyak menghabiskan waktu di rumah dibandingkan nongkrong bersama geng wolf. Bahkan rasa buas untuk tawuran dan balapan liar tak lagi di rasakan oleh Alviro.


Setelah selesai mengemasi barang barangnya, Jihan dan Alviro turun kebawah. Disana sudah ada Tia dan Burhan.


"Sayang... " lirih Tia, matanya sudah mulai berkaca kaca.


"Bunda.. " balas Jihan memeluk bundanya. Mereka saluran memeluk, Tia mulai merasakan kesepian.


"Jangan sedih dong bunda, Jihan bisa gak pergi kok, serius. " kata Jihan menghapus air mata bundanya. Tapi, Tia malah menggeleng kuat. Jihan harus ikut dengan suaminya, Jihan harus belajar mandiri.


"Bunda senang sayang, Bunda menangis haru. Bunda gak nyangka anak anak Bunda udah besar, sudah bersuami" jelas Tia.


"Bunda... " Jihan kembali memeluk Tia.


"Nak Alviro, ayah titip putri ayah sama kamu yah" pesan Burhan menepuk bahu Alviro bentar.


"Iya yah, Alviro pasti akan jaga Jihan. Bertaruh nyawa pun akan Alviro lakukan" jawab Alviro penuh keyakinan. Tidak ada keraguan di ucapan nya.


"Terimakasih" Burhan tersenyum lega, ia mendapat menantu yang tepat, yang bisa menjaga anak nya.


Jihan merasakan sesuatu yang aneh mendengar penuturan Alviro pada ayahnya. Ada rasa bersalah karena sudah berkata kasar dan mendiamkannya.


"Ya sudah yah, Alviro sama Jihan pergi dulu. " Jihan dan Alviro mengecup punggung tangan kedua orang tua Jihan secara bergantian.


"Bunda akan sering mengunjungi kalian" gumam Tia.


"Jihan juga bakal sering kunjungi Bunda" jawab Jihan.


Tia dan Burhan mengantar anak dan menantunya ke depan. Antara senang dan sedih, Tia menguatkan hatinya untuk menerima takdir secepat ini.


"Jangan lupa buatkan cucu yang banyak! " kekeh Burhan membakar suasana sedih. Air muka Jihan langsung berubah. Ia teringat akan ucapan Alviro di hotel ketika Lea datang membangunkan mereka.


Semua orang pasti mengira Jihan sudah melakukan hubungan suami istri dengan Alviro. Pipi Jihan memera, bahkan ketika mereka sudah ada di dalam mobil pun Jihan masih diam dan menyembunyikan pipinya yang terasa memanas.


"Kenapa? " tanya Alviro heran.


"Ha, kenapa apa? " ucap Jihan bertanya balik.


"Kamu melamun sayang? " Alviro mengusap pipi Jihan.


"Gak kok, aku gak melamun" jawab Jihan mengelak. Alviro hanya tersenyum, meskipun Jihan tidak mengakuinya. Ia tetap tahu jika istrinya sedang melamun.


...----------------...