
Setelah selesai membersihkan diri, Zidan bersikeras kembali ke ruang UGD tempat Lidia di tangani.
"Bagaimana paman, apa dokter sudah keluar? "
"Belum, Dokter masih menangani Lidia" jawab Burhan.
Zidan menghela nafas berat, ia duduk di bangku tunggu bersama Eldi dan Liem.
"Gue yakin kok kak, Lidia pasti akan sembuh" kata Liem.
Alviro berdiri tak jauh dari Zidan, ia menatap iba kepada Zidan. Ia pernah merasakan hal ini, bahkan saat ini Alviro kepikiran pada Jihan.
Burhan dan Brian berjalan mendekat pada Alviro.
"Pa, yah" lirih Alviro.
"Nak, sebaiknya kamu pulang terlebih dahulu. " Burhan.
"Iya Alviro, papa yakin Jihan sangat membutuhkan kamu sekarang " sambung Brian.
"Tapi pa Yah, apa tidak apa apa aku pulang lebih dulu? " kata Alviro tidak enak pada Zidan.
"Tidak apa apa nak, di sini biar papa sama mertua kamu yang urus" kata Bria meyakinkan Alviro.
"Yaudah deh, kalau begitu Alviro akan lihat Jihan dulu. Setelah itu baru Alviro ke sini lagi"
Brian dan Burhan mengangguk. Alviro pamit kepada semua teman temannya termasuk Zidan. Mereka setuju dengan keputusan Alviro. Walaupun di sini sedang tidak baik baik saja. Namun Alviro memiliki sebuah tanggung jawab pada Jihan.
Alviro membawa mobil dengan kecepatan sedang, jalanan terlihat sangat ramai. Apalagi saat ini hujan lebat, terjadi macet yang sangat panjang.
1 jam perjalanan, Akhirnya Alviro tiba di rumah. Alviro dengan tergesa-gesa masuk ke dalam rumah. Ia sangat merindukan istri nya dan Alviro juga sangat penasaran dengan kondisi Jihan saat ini.
"Loh Alviro, kamu sudah kembali? " kaget Tia melihat Alviro memasuki rumah, dan salim kepadanya.
"Jihan mana bun? " Alviro melirik sisi rumah mencari ke beradaan istri nya Ia hanya melihat Fela dan Ria menuruni anak tangga.
Terlihat Fela dan Ria sedikit kaget melihat kehadiran Alviro.
"Al, lo udah balik? gimana Lidia? "
"Apa dia baik baik saja? "
Berbagai pertanyaan keluar dari bibir Fela dan Ria, bahkan mereka menanyakan keadaan Babas dan Albi.
"Al, bagaimana kondisi suami gue? " tanya Fela khawatir.
"Semuanya baik baik saja kok Fela, hanya saja Lidia terkena tembakan di perutnya. Saat ini Lidia sedang di tangani oleh dokter" jelas Alviro.
"Astaga" Rasya syok mendengar penuturan Alviro yang tak sengaja ia dengar ketika melewati ruang tamu dari dapur.
Rasya berjalan cepat, mendekat pada Alviro.
"Jadi Lidia terluka?
Dimana dia sekarang Alviro, gue mau melihat nya" Rasya mulai menangis.
Alviro merasa tidak enak hati, ia menjelaskan dan mengatakan di mana Lidia di tangani.
"Sekarang papa dan yang lain sedang menunggu hasilnya.
Gue pulang untuk melihat istri gue, baru nanti gue akan ke sana lagi" ujar Alviro.
"Ya ampun.. " Tia gemetar mendengarnya.
"Bun, Alviro, mau liat Jihan dulu yah" kata Alviro berlalu menaiki tangga.
Fela dan Ria langsung mendekat pada Rasya. Mereka memeluk Rasya agar lebih tegar.
"Gue mau ke sana sekarang! " putus Rasya, ia menghapus air matanya kasar.
"Gue temenin yah" kata Fela
"Gue juga ikut" sahut Ria. Mereka sangat kasihan melihat Rasya pergi sendirian, walau bagaimana pun Rasya dan Lidia adalah korban dari Mirna. Rasya juga pernah di teror oleh Mirna agar menjauh dari Lidia.
Dan yang lebih membuat mereka care pada Lidia adalah, karena gadis itu yang menyelamatkan Jihan.
"Baiklah, kalian boleh pergi ke rumah sakit, tapi supir tante yang akan mengantar kalian" ujar Tia.
"Baiklah tante" sahut Fela mengangguk setuju.
Mereka akhirnya pergi ke rumah sakit, Fela juga sudah menghubungi Babas untuk memberitahu keberangkatan mereka ke rumah sakit itu.
Ia melihat Jihan tengah tertidur di atas ranjang. Lea yang ada di dalam kamar Jihan melihat kedatangan Alviro. Ia langsung, memberikan isyarat agar Alviro tidak berisik.
"Lo gak boleh berisik, Jihan baru saja tidur setelah mengamuk" bisik Lea.
"Mengamuk? " Alviro membeo, ia kaget mendengar keterangan Lea.
"Gue saranin lo gak usah liat Jihan dulu, karena dia sekarang tidak baik baik saja. Jihan masih trauma" jelas Lea dengan suara yang sangat pelan.
"Maksud lo apa kak? " tanya Alviro semakin bingung.
"Lo lihat aja Jihan dulu, gue akan keluar.
Setelah lo selesai melihat nya, temui gue di bawah" lanjut Lea lagi. Alviro pun mengangguk paham.
Setelah Lea keluar, Alviro kembali mendekat pada ranjang. Di tatapan nya Jihan yang tertidur dengan ekspresi yang sangat tenang.
Maafin gue ji, gue gak sempat menyelematkan lo. Maafin gue ji, maaf
Alviro meraih tangan Jihan kemudian menggenggamnya erat. Seakan akan takut tangan itu terlepas dan tidak bisa di bapaknya lagi.
"Gue janji Ji, apapun yang terjadi gue gak akan ninggalin lo. Gue gak akan biarin lo menderita lagi" mengecup punggung tangan Jihan.
Hal itu membuat tidur Jihan sedikit terganggu. Matanya mengerjap ngerjap menata seseorang mengecup punggung tangannya.
Jihan masih setengah sadar, kilasan kejadian menyakitkan bagi nya kembali terulang kembali di benak nya.
"BUNDA!!!!!
PERGI!!!! JANGAN SENTUH GUE!!!
BUNDA!!! "
Jihan histeris, ia mendorong tubuh Alviro agar menjauh dari nya. Jihan merasa sangat marah pada Alviro.
Mendengar teriakan Jihan, Lea dan Tia kembali berlari masuk ke dalam kamar Jihan.
"PERGI!!!!! "
"Jihan, ini gue. Suami lo. Kenapa lo jadi gini sayang" kata Alviro.
"PERGI!!!!
PERGI!!!
AAARKKKKK!!! "
Jihan kembali mengamuk, ia memukul mukul dirinya. Jihan mencakar cakar tubuhnya.
"Sayang, tenang yah. kamu baik baik saja sayang.
Ini bunda, tenang yah"
Tia memeluk putrinya, ia berusaha menenangkan Jihan.
Sementara Alviro masih tidak percaya dengan apa yang terjadi pada Jihan. Istri nya terlihat sangat trauma pada sentuhan laki-laki.
"Lea... Sebenarnya apa yang terjadi? " tanya Alviro, mata nya masih menatap lurus pada istri nya.
Hufff....
Lea menghela nafas dalam, kemudian membawa Alviro keluar dari kamar Jihan.
"Ikut gue, gue bakalan jelasin. " Lea berjalan lebih dulu, di ikuti oleh Alviro dari belakang.
"Sayang, tenang yah. Di sini gak ada orang jahat. Di sini ada bunda, kamu tenang yah sayang"
"Bunda, Jihan takut bun. Dia datang lagi bun. Jihan takut" rancau Jihan ketakutan.
"Gak sayang, bunda ada di sini, bunda gak akan biarin kamu kenapa kenapa"
Hikss... Hiks...
Jihan mulai menangis, ia mencakar cakar tubuhnya sendiri.
"Kotor bun, tubuh Jihan kotor"
"Gak sayang, cukup. Jangan sakiti diri kamu lagi"
"Gak bun hikss.... Kotor bun. Jihan jijik. Jihan gak kuat lagi bun" lirih Jihan masih mencakar cakar tubuhnya seolah olah ia ingin menghapus jejak jejak orang yang melecehkan dirinya dari tubuhnya.